Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.
Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.
Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.
Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.
Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.
Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 5
Emma sibuk menghitung pizza yang akan diantar mulai pagi ini. Ia tumpuk satu persatu ke meja disamping dapur. Tepatnya ditempat khusus pengambilan pesanan.
Ada pengantaran tiga puluh kotak pizza yang harus ia selesaikan hari ini. Pengantaran itu dibagi dua kali perjalanan. Setiap pengantaran ia harus bawa lima belas kotak pizza.
"Emma, kamu dipanggil ke ruangan Pak Hudson," ucap salah satu temannya yang berada di dapur.
"Sekarang ?" tanya Emma.
"Iya," jawab temannya. "Sepertinya Pak Hudson akan memberi tugas baru untukmu," lanjutnya.
Emma pun meninggalkan kesibukannya dan segera menuju ke ruangan Pak Hudson dilantai dua.
Ia mengetuk pintu. Terdengar suara Pak Hudson yang mempersilahkannya masuk. Ia pun membuka pintu dan menghampiri meja Pak Hudson.
"Pak Hudson memanggil saya," ucap Emma. Ia berdiri didepan meja.
"Iya Emma," jawab Pak Hudson. "silakan duduk dulu," lanjutnya.
Saat menggeser kursi, ia tak sengaja beradu pandang dengan Dave yang sejak tadi duduk dikursi depan meja.
"Kamu ?" ucap Emma. Dave tak menjawabnya. Ia hanya menatap bingung.
"Ada apa Emma ?" tanya Pak Hudson setelah melihat reaksi perempuan itu.
Emma duduk dikursi. "Pak Hudson, pria ini, tadi didepan buang sampah sembarangan," ucapnya.
"Dasar pengadu," gumam Dave sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
"Hei !, memang kenyataannya seperti itu," balas Emma. "Dasar laki-laki sombong," lanjutnya.
"Sudah, sudah, cukup," ucap Pak Hudson. Ia menghentikan adu argumen mereka. "Sekarang kalian berdua dengarkan saya baik-baik," lanjutnya.
Walaupun adu argumen telah berakhir, tapi masih tampak ada jarak diantara Dave dan Emma.
"Emma sebelumnya perkenalkan, ini Dave. Mulai hari ini, dia akan bekerja disini sebagai kurir pengantar pizza. Emma, kamu saya beri tugas untuk mendampinginya selama beberapa hari, sampai Dave lancar melakukan pekerjaan," jelas Pak Hudson.
"Paman, saya tidak mau didampingi oleh seorang perempuan pengadu seperti dia," sahut Dave dengan sesaat melirik Emma sinis.
Emma menatap sikap Dave. Tangan pria itu masih menyilang di dada. Dasar pria sombong dan tidak tahu diri, batinnya.
"Pak Hudson, ada banyak pengantaran pizza yang harus saya antar hari ini. Boleh saya kembali ?" kata Emma. Ia tidak betah duduk terlalu lama dekat Dave.
"Tunggu dulu, Emma," kata Pak Hudson. Ia lalu menatap Dave. "Dave, kamu harus merubah sikapmu. Kamu bukan lagi bekerja dikantor. Turunkan ego kamu dan hargai teman kerjamu," ucapnya.
"Paman, tolonglah pikirkan kembali. Pekerjaan ini tidak pantas untukku," kata Dave penuh harap.
"Dengarkan sekali lagi Dave, paman tidak akan berubah pikiran. Sekarang lebih baik kamu mulai pekerjaan barumu. Nanti juga perlahan kamu pasti akan terbiasa," jelas Pak Hudson. "Emma kamu boleh kembali," lanjutnya. Emma pun bergegas melangkah keluar ruangan.
Dave tak bergeming dari kursi. Ia masih menyilangkan tangannya di depan dada dan menunjukkan wajah kesalnya.
"Dave," ucap Pak Hudson. "Lebih baik kamu mulai pekerjaanmu. Semakin lama terdiam disini, rasanya akan semakin berat bagimu," lanjutnya.
Dave tak menjawabnya. Ia menghela napas pasrah lalu berdiri. Perlahan ia berjalan keluar ruangan.
...----------------...
Ponsel Pak Hudson berdering. Ternyata panggilan dari Pak Thomas masuk. Ia pun segera mengangkatnya.
"Ya, Thomas."
"Apa Dave sudah sampai ?"
"Sudah."
"Gimana ? Apa dia mau bekerja kepadamu ?"
"Yaaah...terpaksa tapi mau. Dia hanya perlu diberi pengertian sedikit dan dia juga belum terbiasa bekerja diluar ruangan."
"Aku menyadari soal itu. Maaf merepotkanmu."
"Tidak masalah, Thomas. Aku sangat senang bisa membantumu."
"Semoga dengan cara ini. Dia mau merubah sikap arogannya dan memahami kehidupan orang lain."
"Aku akan pantau dia. Aku sudah pasangkan dia dengan karyawan terbaikku. Aku yakin dengan mereka berdua bekerja sama, pasti sikap anakmu akan berubah."
"Terima kasih, Hudson. Ku percayakan anakku denganmu. Tolong kabari aku tentang perkembangan Dave."
"Tentu, tentu, kamu tenang saja."
...----------------...
"Apa yang harus aku lakukan hari ini ?" tanya Dave didekat Emma. Ia berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana panjangnya.
Perempuan itu memang tidak menyadari kehadiran Dave atau ia pura-pura tak tahu kalau pria itu berdiri didekatnya. Emma tampak mengabaikan Dave. Ia sibuk berjalan bolak balik menata kotak-kotak pizza kedalam delivery box di belakang skuter.
Reaksinya, memancing emosi Dave. Saat Emma berbalik untuk mengambil kotak pizza, seketika Dave berdiri di depannya. Hal itu membuat Emma langsung terhenti dan menabrak badan kokoh pria itu.
"Aduh," ucap Emma. "Kenapa kamu berdiri didepanku ? Aku sedang sibuk," lanjutnya.
"Kamu tidak paham apa yang dikatakan Pak Hudson, kamu harus mendampingiku," ucap Dave dengan tatapan dingin.
"Malas sekali." Emma menghindar dari Dave. Namun pria itu terus menghalanginya. "Tolong minggir dari depanku," ucapnya dengan kesal.
"Aku akan minggir, kalau kamu bilang mau mendampingiku," jawab Dave.
Karena tidak mau pekerjaannya terhambat, Emma pun menghela napas pasrah. "Iya, aku akan dampingimu," ucapnya. Akhirnya Dave menyingkir dari hadapannya.
"Apa yang harus aku lakukan ?" tanya Dave.
"Lebih baik kamu ganti jasmu dengan seragam kurir," jawab Emma sambil membawa lima tumpuk kotak pizza di kedua tangannya untuk dimasukkan ke delivery box. "Ada seragam baru di dalam loker nomor lima, ambilah dan segera pakai," lanjutnya.
Dave pun segera menuju ruang istirahat karyawan. Ia lalu buka loker nomor lima. Satu bungkus rompi berwarna oranye bertulis Hudson's Pizza dan topi ada di dalamnya. Ia lalu melepas jasnya, kemudian memakai seragam itu. Setelah itu kembali menghampiri Emma.
"Kamu yang kendarai skuternya," kata Emma.
"Aku ?" jawab Dave. Ia seumur-umur belum pernah menaiki kendaraan beroda dua itu. Sejak dulu ia terbiasa dengan mobil.
"Iya, kamu," ucap Emma. "Kamu bisa kan bawa skuter ini ?" lanjutnya.
"Eeeeeh..."
"Bisa atau tidak ? Kita sudah hampir terlambat ini," tegas Emma.
"Aku orang kaya, tidak terbiasa..."
"Intinya kamu tidak bisa," potong Emma. Ia lalu berjalan ke skuter. "Bilang aja langsung, tidak usah banyak basa basi," lanjutnya.
"Ayo naik," ajak Emma setelah ia menyalakan skuter. "Kamu duduk di belakang dan bawa ponsel ini untuk melihat rute pengantaran," ucapnya lagi saat Dave mendekat.
Dave menerima ponsel yang diberikan Emma. Namun, sekarang ia ragu untuk duduk dibelakang perempuan itu. "Ini terlalu sempit untukku duduk," ucapnya.
"Jangan banyak mengeluh !" jawab Emma kesal. "Cepat duduk ! kita sudah mengabiskan banyak waktu disini. Jangan sampai gara-gara dirimu, aku mendapatkan penilaian buruk dari pembeli," lanjutnya.
"Tapi ini memang sempit. Kalau delivery box dilepas, cukup untukku duduk," ucap Dave.
Pria itu benar-benar menghabiskan kesabaran Emma. Rahangnya bergetar geram. "Cepatlah Dave !" ucapnya dengan tatapan tajam.
"Oke, oke," jawab Dave. "Kamu bisa duduk lebih kedepan ?," ucapnya lagi.
"Sudah," kata Emma setelah duduk bergeser lebih maju sedikit.
Dave pun akhirnya duduk di belakang. Walaupun masih terasa sempit, tapi lebih longgar sedikit. Emma pun segera melajukan skuter.