NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Jeratan Daddy

Ibu Tiri Jeratan Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Ibu Tiri
Popularitas:227.7k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

"Bukan aku pelakunya!"

Demi biaya berobat ibunya, Aeris Calythea mengantar ratusan kue ke sebuah rumah mewah. Namun, bukannya uang, ia justru menemukan istri pria kaya tergeletak berlumuran darah. Niat tulus Aeris menolong justru menjebaknya. Sidik jarinya tertinggal, menjadikannya tersangka utama.

Dunia Aeris runtuh saat ibunya meninggal akibat terlambat ditangani. Hilang arah, Aeris bersimpuh pasrah.

"Bunuh aku sekarang! Tujuanku tetap hidup sudah tiada!"

Namun Kaizel Vardan, suami korban yang dibakar dendam, menolak. "Mati terlalu mudah untukmu. Kau harus menggantikan posisi istriku dan menjadi ibu untuk anak kembarku! Tebus dosamu, Aeris!"

Bagaimana nasib Aeris? Di tuduh dan terpaksa menjadi istri serta ibu tiri dari 2 anak kembar? Terlebih dia baru tahu, jika 2 anak kembar Vardan bahkan disiksa di rumah ayahnya sendiri.

"Jangan pukul, kami nda nakal hiks ...,"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penderitaan Aeris

Roda motor tua Aeris melindas dedaunan kering yang berserakan di sepanjang Jalan Kirana. Langit sore yang semula berwarna jingga keemasan perlahan tersapu kegelapan malam. Udara dingin berembus menusuk kulit, membawa aroma tanah basah dan kesunyian yang mencekat.

Aeris melambatkan laju sepeda motornya. Matanya berpindah-pindah, menatap sekeliling dengan ragu. Di kanan dan kirinya, bangunan-bangunan tua tak berpenghuni berdiri bisu berteman ilalang tinggi. Tak ada lampu jalan yang menyala, tak ada lalu lalang kendaraan lain, apalagi lalu lintas manusia.

"Apa aku salah jalan, ya?" gumam Aeris sembari menghentikan motor di tepi jalan yang sepi.

Ia merogoh saku jaketnya, mengambil ponsel tua yang layarnya retak, lalu membuka kembali pesan berisi detail alamat pengiriman. Jalan Kirana No. 04. Angka di plang besi tua yang menggantung miring di ujung pagar sebuah bangunan besar persis cocok dengan tulisan di layarnya.

"Bener kok ini alamatnya. Tapi, apa aku dapet orderan dari setan yah? Apa jaman sekarang setan juga bisa transfer?" Lirihnya pelan. Tapi ia langsung menepuk kepalanya.

"Jangan bodoh-bodoh amat kenapa si Ris," decaknya kesal.

Di balik pagar besi yang berkarat dan setengah terbuka, berdiri sebuah rumah bergaya klasik Eropa yang megah, namun terisolasi dari pemukiman lain. Anehnya, pintu kayu utama rumah itu tidak tertutup rapat. Cahaya lampu temaram dari dalam ruangan membiaskan garis tipis ke teras depan yang sunyi.

Aeris menarik napas panjang, menepis hawa dingin dan ketakutan aneh yang tiba-tiba merayapi tengkuknya. "Mungkin pemiliknya baru pindah atau memang sengaja bikin acara di sini," gumamnya menenangkan diri.

Ia mematikan mesin motor, lalu dengan hati-hati menurunkan beberapa kardus besar berisi Kue Spiku Lapis Mandarin dari jok belakang. Dengan langkah ragu, Aeris menaiki anak tangga teras.

"Permisi ... Selamat malam. Paket kue pesanan Nyonya sudah sampai," panggil Aeris santun dari balik pintu yang sedikit terbuka.

Hening, tidak ada sahutan. Hanya suara angin malam yang meniup dedaunan di halaman, menciptakan desis panjang yang mengerikan.

"Permisi? Nyonya?" panggil Aeris sekali lagi, suaranya kini sedikit bergetar.

Aeris merogoh ponselnya dan menekan nomor sang pemesan. Dari dalam rumah, terdengar suara getar dan dering samar lagu klasik yang bergema di balik kedapnya dinding kayu. Telepon itu aktif, tetapi tidak ada yang mengangkat.

Khawatir terjadi sesuatu atau pemesannya berada di dalam tanpa mendengar kedatangannya, Aeris memberanikan diri mendorong daun pintu kayu tebal itu lebih lebar.

Kreeet!

"Maaf, permisi ... Saya antar kuenya ke ma—"

Kalimat Aeris terhenti seketika. Lidahnya mendadak kelu, suaranya tertahan keras di tenggorokan. Kardus kue di pelukannya terlepas, terhempas keras ke lantai kayu hingga isi di dalamnya berhamburan.

Brak!

Mata jernih Aeris membulat sempurna dalam horor yang tak terbayangkan.

Di tengah ruang tamu yang megah namun remang, sesosok wanita bergaun malam tergeletak miring di atas karpet putih. Cairan merah pekat yang kental menggenang di sekeliling tubuh wanita itu, merembes cepat menodai putihnya karpet dan menebarkan aroma besi yang amat menyengat.

"N-Nyonya?"

Lutut Aeris terasa lemas bagaikan jeli. Ia runtuh, berlutut di dekat ambang pintu dengan napas terengah-engah. Dalam benaknya, bayangan sepuluh juta rupiah yang baru saja ia terima mendadak berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan.

Apakah wanita ini pemesan kuenya? Apa yang terjadi padanya? Naluri kemanusiaan Aeris mengalahkan ketakutannya. Alih-alih melarikan diri, pikiran Aeris hanya tertuju pada satu hal:

wanita itu mungkin masih bisa diselamatkan.

Dengan tubuh gemetaran hebat dan air mata ketakutan yang mulai menetes, Aeris merangkak mendekati tubuh yang tak bergerak itu.

"Nyonya! Nyonya, bangun! Tolong!" teriak Aeris histeris.

Aeris memegang bahu wanita itu, mencoba mengguncangnya pelan. Tubuh wanita itu terasa sangat dingin. Dalam kepanikannya yang meluap, jemari Aeris bergetar meraba leher wanita itu untuk mencari denyut nadi, memastikan apakah napasnya masih ada.

Namun, tidak ada denyut. Kulit halus itu begitu dingin dan kaku.

Saat itulah Aeris menyadarkan pandangannya. Jemari mulusnya kini telah berlumuran cairan merah pekat. Darah kental itu menempel tebal di telapak tangannya, mengaliri sela-sela jarinya, bahkan menodai lengan baju putih hangat yang ia kenakan.

"Aaaagghh! Daraaaaah, tolooooong!" Aeris menjerit ketakutan, mundur terduduk di atas lantai yang basah oleh darah.

Panik luar biasa menguasai seluruh akal sehatnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Di dekat tangan wanita yang tergeletak itu, sebuah ponsel mahal tergeletak dengan layar yang masih menyala terang. Layar tersebut menampilkan daftar panggilan terakhir bertuliskan nama "Suamiku".

Tanpa berpikir panjang, Aeris yang histeris merampas ponsel tersebut dengan jarinya yang bernoda darah. Ia menekan tombol panggil dengan harapan ada orang yang bisa menolong wanita ini.

Panggilan terhubung pada dering kedua.

"Halo, Nayvera? Ada apa malam-malam begini telepon? Belum puas dengan perdebatan kita semalam?" Suara berat, dingin, dan berwibawa terdengar dari balik speaker ponsel.

"To-tolong! Tolong saya!" tangis Aeris pecah, suaranya melengking penuh ketakutan. "Istri Anda ... di rumah ini ... darah! Banyak darah! Tolong datang cepat, dia tidak bernapas!"

"Apa yang kau katakan?! Siapa kau?! Kenapa kau memegang ponsel istriku?!" bentak suara pria di ujung sana, nada bicaranya mendadak dipenuhi kilatan amarah dan keterkejutan.

"Tolong ... cepat datang! Saya tidak tahu harus apa!" cicit Aeris sebelum sambungan itu terputus begitu saja dari seberang.

Aeris memeluk lututnya di sudut ruangan, menangis terisak-isak sembari menatap tangannya sendiri yang memerah oleh darah. Waktu terasa berjalan sangat lambat, menggerogoti jiwanya dalam ketakutan yang membunuh. Ia ingin kabur, tetapi kakinya terlalu kaku untuk berdiri. Ia ingin meminta tolong, tetapi tak ada siapa pun di tempat terkutuk ini.

Sreeek!

Brak!

Suara derit rem mobil yang mengeram keras di halaman luar memecah kesunyian malam, disusul suara pintu mobil yang dibanting kencang. Langkah kaki terdengar terburu-buru menaiki anak tangga teras.

Brak!

Pintu rumah didorong paksa hingga menghantam dinding. Sesosok pria jangkung bertubuh tegap melangkah masuk dengan napas memburu. Ia mengenakan setelan jas hitam elegan yang mencerminkan kedudukannya yang tinggi. Wajah ketampanannya yang tajam seketika pucat pasi begitu matanya menangkap pemandangan di tengah ruangan. Pria itu adalah Kaizel Vardan, suami dari wanita bernama Nayvera itu.

"Nayvera!" Kaizel berteriak pendek, melangkah lebar mendekati tubuh istrinya yang tergeletak tak bernyawa.

Ia berlutut, meraih jemari dingin sang istri dengan tangan yang bergetar hebat. Matanya yang tajam menatap wajah pucat Nayvera dan genangan darah pekat yang membasahi lantai. Kehampaan, duka mendalam, dan amarah yang luar biasa berkecamuk hebat di dalam dada Kaizel, membakar habis seluruh rasionalitasnya dalam hitungan detik.

"Apa ... Apa yang ...,"

Lalu, tatapan matanya yang kelam membara itu beralih. Pandangan Kaizel terkunci pada sosok gadis muda yang meringkuk ketakutan di sudut ruangan, gadis dengan baju dan telapak tangan yang berlumuran darah segar milik istrinya, serta kardus-kardus kue yang berhamburan di sekitar ambang pintu.

Kaizel berdiri Perlahan. Auranya berubah sangat membunuh. Langkah kakinya yang berat dan penuh tekanan melangkah mendekati Aeris yang makin gemetaran.

"K-Tuan ... tolong ... saya tidak— arghh!" Aeris mencoba bersuara dengan bibir pucat tergetar.

Namun, sebelum Aeris sempat menyelesaikan kalimatnya, Kaizel mencengkeram bahu gadis itu dengan sangat kuat, mencengkeramnya hingga Aeris meringis kesakitan. Mata Kaizel menyipit murka, menatap Aeris seolah hendak mengulitinya hidup-hidup.

"Kau ...," suara Kaizel terdengar bagaikan bisikan iblis dari dalam neraka. "Kau membunuhnya?!"

"T-tidak, Tuan ... Saya tidak membunuhnya!" tangis Aeris pecah. Seluruh tubuhnya gemetar hebat di balik cengkeraman kasar Kaizel. "Saya cuma mengantar kue! Saya bersumpah, saat saya datang Nyonya sudah tergeletak begini!"

"Tutup mulutmu!" bentak Kaizel. Suaranya menggelegar, memecah kesunyian malam yang mencekat. Urat-urat di lehernya menegang, membakar rasa bersalah dan duka menjadi dendam yang pekat. "Lalu kenapa darahnya ada di tanganmu?! Kenapa kau memegang ponselnya?! Kau pikir aku buta?!"

"Saya ... saya cuma mau coba tolong ... saya mau periksa nadinya ...," cicit Aeris di antara selak tangisnya.

Belum sempat Aeris menyelesaikan kalimatnya, suara sirine mobil polisi dan ambulans merayap memecah kegelapan dari luar rumah. Beberapa petugas kepolisian menerobos masuk, mengarahkan lampu senter dan senjata mereka ke dalam ruangan.

"Jangan bergerak! Angkat tangan!" teriak salah satu petugas.

Kaizel melepaskan cengkeramannya dari bahu Aeris hingga gadis itu terhempas ke lantai. Ia berbalik menatap polisi dengan napas terengah. "Tangkap dia. Dia pelakunya. Sidik jari dan darah istriku ada di seluruh tangannya."

Tim medis bergegas menghampiri jasad Nayvera, membalikkan tubuhnya dan memeriksa denyut nadi. Seorang dokter menggelengkan kepala perlahan ke arah Kaizel. "Maaf, Tuan Vardan ... Nyonya Nayvera sudah tidak bernyawa."

Kata-kata itu menghantam Kaizel bagaikan godam maut. Wajah ketampanannya makin pucat, matanya memerah menahan lahar amarah. Sementara itu, dua petugas polisi langsung menarik kedua tangan Aeris ke belakang dan memasangkan borgol besi yang dingin.

"Tolong, Pak! Bukan saya! Saya cuma penjual kue!" jerit Aeris histeris saat tubuhnya diseret paksa keluar menuju mobil tahanan. "Tuan, percaya sama saya, Tuan!"

Kaizel sama sekali tidak menoleh. Ia hanya menatap dingin ke arah mobil polisi yang membawa Aeris pergi menembus kegelapan.

Kaizel sama sekali tidak menoleh. Ia berdiri terpaku di ambang pintu, menatap dingin ke arah mobil polisi yang membawa Aeris pergi menembus gelapnya malam. Lampu merah-biru yang berputar di atas mobil patroli itu memantulkan kilau kelam di matanya, menyisakan bara dendam yang kian membakar dada.

.

.

.

.

Beberapa jam kemudian, di ruang jenazah Rumah Medika Utama. Lampu putih terang di ruangan beraroma obat itu menyinari meja otopsi. Kaizel berdiri seorang diri di sisi brankar, menatap lekat-lekat tubuh kaku Nayvera yang telah ditutup kain putih. Dengan jemari yang gemetar perlahan, ia menyingkap kain tersebut, menampakkan wajah pucat istrinya yang kini tak bernyawa.

Tidak ada air mata yang menetes dari mata Kaizel. Ia hanya terdiam seribu bahasa, menatap lurus ke arah wajah wanita yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya. Sorot matanya kosong, menyimpan duka yang teramat dalam hingga berubah menjadi bongkahan es yang membeku.

Di sudut ruangan, asisten pribadi Kaizel, Ravelys berdiri dengan kepala tertunduk hormat, ikut merasakan ketegangan yang menyesakkan dada. Ravelys melangkah perlahan mendekati bosnya.

"Tuan ...," panggil Ravelys dengan suara lirih berhati-hati. "Setelah melihat situasi di tempat kejadian tadi, saya ... sepertinya meragukan kalau gadis penjual kue itu pelakunya."

Kaizel tidak bergeming. Pandangannya tetap terkunci pada wajah Nayvera. "Alasanmu?" tanya Kaizel dingin.

"Tidak mungkin seorang pembunuh berani menelepon nomor suami korban menggunakan ponsel korban sendiri, lalu meminta pertolongan dengan histeris," argumen Ravelys pelan. "Kalau dia pelakunya, dia pasti akan langsung kabur membawa barang bukti, bukan malah menjebak dirinya sendiri di sana."

Kaizel perlahan menoleh. Sudut bibirnya terangkat dalam senyum sinis yang mengerikan. "Tapi sidik jari dan darah di tangan wanita itu membuktikannya, Ravelys. Bukti fisik tidak bisa berbohong."

"Tapi Tuan—"

"Hasil otopsi yang akan keluar nanti pasti juga akan mengarah padanya," potong Kaizel tandas, suaranya sarat akan keyakinan yang kelam. "Jangan tertipu oleh wajah polosnya. Bisa jadi itu adalah taktik murahan untuk mengelabui kita dan menghilangkan jejak."

Ravelys menggelengkan kepalanya pelan, masih merasa ada kejanggalan besar. "Saya tetap ragu jika wanita lemah itu pelakunya, Tuan."

Kaizel kembali menatap wajah kaku istrinya, lalu menarik kain putih itu untuk menutupnya rapat-rapat. Pria itu mengepalkan tangan kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Biarkan hukum yang mengadilinya," desis Kaizel penuh penekanan, matanya memancarkan amarah yang menggelap. "Apapun motifnya, nyawa Nayvera harus dibayar lunas. Dan sebelum dia membusuk di penjara, aku akan pastikan dia menderita seribu kali lipat lebih menyakitkan dari apa yang kulihat hari ini."

.

.

.

.

Di dalam sel tahanan yang dingin dan berbau lembap, Aeris meringkuk di sudut ruangan. Malam berganti pagi, namun bagi Aeris, kegelapan tak pernah pergi. Ia terus berdoa agar ibunya di rumah baik-baik saja dan ada tetangga yang menolongnya.

Namun, di sore hari kedua penahanannya, pintu sel berdecit terbuka. Seorang polisi berdiri di luar dengan tatapan penuh iba.

"Aeris Calythea ...," panggil polisi itu pelan.

Aeris mendongak dengan mata sembap dan penuh harapan. "Pak? Apa saya boleh pulang? Ibu saya—"

"Ibumu ... sudah meninggal dunia."

Brak!

Dunia Aeris seolah runtuh seketika. Pendengarannya mendadak berdenging tajam. "A-apa? Bicara apa, Pak? Ibu saya cuma stroke! Dia cuma butuh obat!"

"Ibumu ditemukan tak bernyawa di kamar oleh warga karena tidak ada yang mengurusnya dan biaya perawatannya menunggak. Pihak rumah sakit menolak melakukan tindakan lebih lanjut," terang polisi itu lirih.

"NGGAK! IBUUUU!"

Jeritan memilukan Aeris bergema di seluruh koridor kantor polisi. Ia mencengkeram besi sel, menangis hingga kehabisan napas. Uang sepuluh juta yang ia perjuangkan, rasa sakit tersengat oven, dan semua penderitaannya berakhir sia-sia. Ibunya meninggal sendirian di kamar yang sepi.

"IBUUUUUUU! IBU AERIS MINTA MAAF, IBUUU!" raingan kesakitannya tak di indahkan, sang ibu memilih untuk meninggalkannya sendirian.

1
ahs@
mengandung anak siapa,hayoooohh...
Susma Wati
clarissa ..... pembunuh nayvera sebenarnya, karena iri dia membunuh nayvera untuk mengganti kan posisi nyonya vardan, dan pura-pura baik didepan nyonya renata, nyonya renata tidak tahu kalau keponakan sangat kejam, tega membunuh nayvera hanya karena ingin menjadi nyonya vardan yang bergelimang harta,
AFPA
Dan digantung....
thor..ayolah 1 lagi please 🙏😁
GiZaNyA
sepertinya mulai ada benih2 jagung ehhh benih2 cinta nih di hati Kaizel untuk Aeris... 😍😍😍
Suci Lutfi
kok aku mikirnya Alistair itu ayah kandungnya areris yh, kan ayahnya aeris GK tau dimana tuh🫢
GiZaNyA
kamu emang bener2 ngga tau apa2 Kaizel tentang anak2 kamu...
AFPA
jangan² clurit pembunuhnya..krn sudah lama menyimpan zuka dengan kezelll
jumirah slavina
S E L I N G K U H 😱😵😮😧🥶
Lala
pasti mengandung anak pria lain
jumirah slavina
halahhhhhh.... halahhhhhh....
dasar biawak menjerat mangsa

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
pppffffff
buahahahahhaaaaa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

biawak mengeluarkan jurus menaklukkan kadal betina

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Masita Masita: sedang opoooo Rav....
Ojo mikir yg ga'² yooo....
🤣🤣🤣
total 2 replies
Lala
ni makondo mau kepetok kepalqx bego
jumirah slavina
tambahin siram air panas Ris..

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
sok perhatian !!!.
Anda tadi kesana tidak ada melihat cucu Anda saat tau Kezel menikah lagi !!
itu yang nama"y perhatian !! hhaahhh !!!!
dyah EkaPratiwi
apalagi ini, sepertinya nayvera selingkuh karena nggak mencintai kaizel
jumirah slavina
lu sape ngurusin harta Kezel... dinas pajak lu !!!

ngatain orang murahan dan jalan9
dia tinggal bersama Suami SAH dia

lha situ mo tinggal d'rumah laki² yang bukan Suami lu., SITU WARAS
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
fakta pertama udah seburuk ini ternyata 😅
jumirah slavina
kau yang murahan !!!
Daulat Pasaribu
apa si navyara selingkuh dari kaizel.dan hamil anak org lain.jgn sampai si aeris jadi sasaran
dyah EkaPratiwi
sebenarnya kematian nayvara ulah siapa ya
Dew666: Nayvara cuma pura2 mati biar bisa lepas dr kazel,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!