"Bukan aku pelakunya!"
Demi biaya berobat ibunya, Aeris Calythea mengantar ratusan kue ke sebuah rumah mewah. Namun, bukannya uang, ia justru menemukan istri pria kaya tergeletak berlumuran darah. Niat tulus Aeris menolong justru menjebaknya. Sidik jarinya tertinggal, menjadikannya tersangka utama.
Dunia Aeris runtuh saat ibunya meninggal akibat terlambat ditangani. Hilang arah, Aeris bersimpuh pasrah.
"Bunuh aku sekarang! Tujuanku tetap hidup sudah tiada!"
Namun Kaizel Vardan, suami korban yang dibakar dendam, menolak. "Mati terlalu mudah untukmu. Kau harus menggantikan posisi istriku dan menjadi ibu untuk anak kembarku! Tebus dosamu, Aeris!"
Bagaimana nasib Aeris? Di tuduh dan terpaksa menjadi istri serta ibu tiri dari 2 anak kembar? Terlebih dia baru tahu, jika 2 anak kembar Vardan bahkan disiksa di rumah ayahnya sendiri.
"Jangan pukul, kami nda nakal hiks ...,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbukanya Pikiran Kaizel
Geram Kaizel rendah, suaranya sarat akan ancaman yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Kau tidak tahu apa-apa tentang bagaimana aku membesarkan mereka! Jangan sok tahu!"
"Aku memang tidak tahu bagaimana cara gila yang kau sebut 'membesarkan' itu," potong Aeris dengan hembusan napas meremehkan.
"Tapi aku menyaksikan sendiri bagaimana kedua putri kandungmu gemetaran hanya karena mendengar kata 'hukum'. Kau tahu apa artinya itu, Kaizel? Kata itu bukan sekadar teguran bagi Ezmira. Kata itu adalah sinyal bahaya yang menyalakan ingatan tentang siksaan, rasa lapar, dan pengurungan yang kerap ia terima dari Avenza dan Orlena setiap kali kau membelakangi mansion ini!"
Kaizel terpaku di tempatnya. Sepasang iris matanya yang semalam penuh dengan lahar dendam kini bergetar samar. Kalimat demi kalimat yang dimuntahkan Aeris menghantam logika dan pertahanannya bagaikan pukulan bertubi-tubi.
Siksaan? Pengurungan? Kamar yang direbut?
"Bualanmu semakin tidak masuk akal," elak Kaizel, mencoba mempertahankan topeng keangkuhannya meski suaranya samar-samar menyisakan sedikit celah keraguan. "Kakak dan ibuku tidak mungkin—"
"Tanya pada dirimu sendiri, Kaizel!" sela Aeris, menyentak dadanya sedikit maju hingga jarak di antara mereka kian terkikis.
"Mengapa Ezmira dan Zara lebih memilih tidur di kamar sayap barat yang dingin, berdebu, dan sepi denganku ketimbang di kamar utama yang mewah bersama keluargamu? Mengapa mereka menangis histeris ketakutan saat kau membentak mereka, padahal kau adalah ayah kandung mereka sendiri? Apa kau sedemikian butanya sampai tidak bisa membedakan antara anak yang membangkang karena nakal ... dengan anak yang menjerit histeris karena ketakutan setengah mati?!"
Kata-kata itu terngiang-ngiang tajam di dalam benak Kaizel, memicu denyut pening di pelipisnya. Bayangan raut wajah Ezmira yang pucat pasi, tubuhnya yang bergetar hebat saat mendengar kata 'hukum', serta tatapan mata Zara yang begitu dingin dan penuh kekecewaan mendadak menari-nari dalam ingatan pria itu.
Aeris mempererat cengkramannya pada pergelangan tangan Kaizel yang berada di dinding, lalu menghentakkannya kasar. Kali ini, Kaizel begitu terenyak hingga lengannya terlepas begitu saja dari dinding, memberikan ruang bagi Aeris untuk melangkah mundur.
"Kau menuduhku mencuci otak mereka," Aeris mengusap pergelangan tangannya sendiri, menatap Kaizel dengan napas yang teratur namun menusuk.
"Padahal kenyataannya sederhana, anak-anak tidak pernah berbohong tentang siapa yang memberi mereka kehangatan dan siapa yang memberi mereka luka. Jika kau memang pebisnis ulung yang membanggakan ketajaman logikanya, buktikan malam ini. Cek CCTV di sudut-sudut lorong yang tak pernah kau perhatikan, atau tanya para pelayan tanpa didampingi oleh Orlena dan Avenza. Kalau otakmu masih berfungsi dengan baik, kau pasti tahu siapa iblis sebenarnya di rumah ini."
Aeris berbalik dengan gerakan anggun dan dingin. Tanpa menunggu balasan atau makian dari Kaizel, ia melangkah lebar keluar dari ruangan remang itu, membiarkan pintu berderit pelan saat meninggalkan Kaizel sendirian dalam keheningan yang menyesakkan.
Brak!!
Kaizel berdiri mematung di dalam ruangan kosong itu untuk beberapa saat. Dadanya naik-turun menahan gejolak emosi yang bercampur aduk antara amarah, gengsi tinggi, dan kecurigaan yang kini mulai merayapi akal sehatnya.
Dengan langkah menghentak penuh tensi tinggi, Kaizel melangkah keluar dari sayap barat dan berjalan lurus menuju ruang kontrol keamanan yang terletak di ruang bawah tanah mansion. Beberapa petugas keamanan yang sedang bertugas terperanjat kaget tatkala pintu ruang kontrol terbuka kasar, memperlihatkan sosok sang pemilik mansion dengan aura membunuh yang sangat pekat.
"T-Tuan Kaizel ... Ada yang bisa kami—"
"Buka seluruh rekaman CCTV lorong tengah, kamar utama si kembar, dan area dapur selama tiga bulan terakhir," perintah Kaizel dingin, suaranya tak menerima bantahan sedikit pun.
Para petugas keamanan tergagap, dengan gemetar jemari mereka menari di atas papan ketik sistem pengawas. Puluhan layar monitor yang tadinya menampilkan pemandangan real-time seketika berganti menjadi arsip rekaman video beberapa minggu yang lalu.
Kaizel menyilangkan kedua tangannya di dada, berdiri tepat di belakang kursi operator dengan mata menyipit tajam. Pria itu menyapu setiap detail layar.
Dan di situlah ... kehancuran pertahanannya dimulai.
Layar monitor memperlihatkan rekaman sebulan lalu saat Kaizel sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Di layar itu, terlihat Avenza menarik kasar lengan mungil Zara di lorong utama, menyeret anak itu hingga hampir tersungkur hanya karena Zara tak sengaja menjatuhkan cangkir. Tak berhenti di situ, layar lain memperlihatkan Orlena yang menyuruh pelayan menyajikan sisa makanan basi di piring plastik kecil untuk si kembar di sudut dapur, sementara Lala menikmati sarapan mewah di meja makan utama.
Bahkan di layar ketiga, nampak jelas momen ketika Avenza membawa keluar seluruh pakaian dan mainan si kembar dari kamar utama mereka, lalu memindahkan Lala ke kamar tersebut, membuktikan ucapan Aeris bahwa kamar putri kandungnya memang telah direbut secara paksa.
BRAK!
Kaizel menghantamkan kepalan tangannya ke atas meja kontrol hingga layar monitor bergetar hebat. Para petugas keamanan spontan tertunduk ketakutan, tak berani bernapas keras.
Napas Kaizel memburu tajam, matanya memerah pekat dipenuhi amarah yang membakar dada. Seluruh pertahanan dan prasangkanya runtuh seketika. Setiap kata yang diucapkan Aeris, setiap cemoohan dan tuduhan wanita itu ternyata adalah kenyataan pahit yang selama ini sengaja ditutup-tutupi oleh keluarga kandungnya sendiri di balik punggungnya.
"Kurang ajar! Berani menyentuh putriku ...,"
Rasa bersalah yang teramat pekat, bercampur dengan rasa murka pada dirinya sendiri karena telah abai dan dibutakan oleh dendam, kini menghantam batin sang penguasa Vardan Group tanpa ampun.
anehh bgt ini bpak satu....seberapa lama nggak pulangnya sih emang skpe gk tau kondisi anak2 nya sndiri
tapi Neva gak mau., maka'y d'bvnvh