NovelToon NovelToon
Istri Bisu Tuan Penguasa Cacat

Istri Bisu Tuan Penguasa Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:130.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.

Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.

Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.

Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesuatu yang Mengejutkan

Setelah makan malam selesai, Kirana kembali duduk di dekat meja sambil merapikan ponselnya. Ia kemudian mengetik beberapa kalimat dan menunjukkan layar tersebut kepada Kendra.

‘Apa kau sudah menyiapkan laboratorium kecil untukku?’

Kendra yang sedang mengambil segelas air melirik layar ponsel Kirana. Ia mengangguk santai sebelum menjawab, “Sudah.”

Kirana langsung menatapnya penuh harap.

“Marco akan mengantarmu ke sana,” lanjut Kendra. “Semua perlengkapan yang kau minta sudah disiapkan.”

Kirana mengangguk puas. Ia segera berdiri dan mengambil beberapa barang dari dalam kopernya yang menurutnya diperlukan untuk bekerja di laboratorium.

Tidak lama kemudian, terdengar ketukan dari pintu kamar.

Tok! Tok!

“Masuk,” kata Kendra.

Pintu terbuka dan Marco muncul. Asisten pribadi Kendra itu memang tinggal di mansion karena pekerjaannya mengharuskannya selalu berada dekat dengan tuan mudanya.

Marco menundukkan kepala sedikit. “Tuan.”

Kendra menunjuk ke arah Kirana. “Antarkan Kirana ke laboratoriumnya.”

Marco langsung mengangguk. “Baik, Tuan.”

Ia kemudian berbalik kepada Kirana dan memberikan sedikit ruang agar wanita itu bisa keluar terlebih dahulu. “Silakan, Nona.”

Kirana mengangguk, lalu membawa beberapa barang yang sudah ia siapkan. Ia tidak banyak bicara dan langsung berjalan mengikuti Marco meninggalkan kamar.

Mereka menuju lift yang berada tidak jauh dari kamar utama. Marco menekan tombol lantai satu, kemudian berdiri di samping Kirana dengan sikap tenang.

“Laboratoriumnya berada di bagian belakang mansion,” jelas Marco ketika pintu lift tertutup. “Tuan Kendra meminta agar tempatnya cukup jauh dari ruang utama supaya Nona bisa bekerja dengan tenang.”

Kirana mengangguk.

“Kalau ada sesuatu yang kurang, beri tahu saya atau kepala pelayan,” lanjut Marco.

Pintu lift terbuka setelah beberapa saat. Kirana dan Marco kemudian berjalan melewati lorong panjang mansion yang dihiasi lukisan, lampu dinding elegan, serta beberapa pajangan mahal.

Kirana sesekali memperhatikan sekelilingnya, tetapi tidak menunjukkan kekaguman berlebihan. Perhatiannya justru lebih tertuju pada ruangan yang akan menjadi tempatnya bekerja.

Setelah melewati beberapa lorong, Marco berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna putih. Ia mengambil kartu akses, kemudian menempelkannya pada panel di samping pintu.

Terdengar bunyi bip.

Pintu perlahan terbuka. Di baliknya terdapat sebuah laboratorium pribadi yang cukup luas. Meja kerja tertata rapi, beberapa lemari penyimpanan berdiri di sisi ruangan, sementara berbagai peralatan medis dan penelitian sudah tersusun sesuai kategori.

Marco mempersilakan Kirana masuk. “Silakan, Nona.”

Kirana berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan seluruh ruangan.

“Semua yang ada di sini sudah lengkap sesuai permintaan Nona,” jelas Marco. “Kami juga sudah menyiapkan beberapa perlengkapan tambahan kalau sewaktu-waktu Nona membutuhkannya.”

Kirana mengangguk perlahan. Tatapannya menyapu seluruh ruangan, memastikan tidak ada barang yang terlewat.

Marco memperhatikan ekspresi Kirana. “Kalau ada sesuatu yang kurang, Nona tinggal memberi tahu saya.”

Kirana menoleh kepadanya, lalu mengangguk sebagai tanda terima kasih.

“Kalau Nona membutuhkan sesuatu saat bekerja, panggil saja pelayan atau kepala pelayan,” lanjut Marco. “Mereka akan segera membantu.”

Kirana kembali mengangguk.

Marco kemudian mundur beberapa langkah. “Kalau begitu saya permisi.”

Kirana menatapnya sebentar sebelum kembali menghadap laboratorium.

Setelah Marco pergi, pintu laboratorium tertutup perlahan. Kirana berdiri sendirian di tengah ruangan, lalu meletakkan barang bawaannya di atas meja.

Kirana mengambil salah satu peralatan di meja dan memeriksanya dengan teliti. Tatapan matanya berubah serius.

***

Malam telah semakin larut ketika Kendra masih berada di ruang kerjanya. Beberapa berkas terbuka di atas meja, tetapi perhatian pria itu perlahan beralih kepada jam dinding yang sudah menunjukkan lewat tengah malam.

Kendra mengangkat wajah dan menatap Marco yang berdiri tidak jauh dari meja kerjanya. “Kirana masih berada di laboratorium?”

Marco mengangguk. “Sepertinya begitu, Tuan.”

Kendra mengerutkan kening. “Sepertinya?”

“Saya tadi sempat melewati lorong menuju laboratorium,” jawab Marco. “Lampunya masih menyala, jadi kemungkinan Nona Kirana masih bekerja.”

Kendra melirik jam dinding sekali lagi. “Apa yang dia lakukan sampai selarut itu?”

“Saya juga tidak tahu, Tuan.”

Kendra bersandar di kursinya sambil menghela napas. Sejak Kirana masuk ke laboratorium beberapa jam lalu, wanita itu belum sekalipun meminta bantuan kepada siapa pun.

“Antar aku ke sana,” ujar Kendra akhirnya.

Marco langsung mengangguk. “Baik, Tuan.”

Marco segera menghampiri kursi roda Kendra dan membantunya keluar dari ruang kerja. Mereka kemudian menyusuri lorong mansion yang sudah sangat sepi, hanya diterangi lampu-lampu dinding yang menyala redup.

Tidak lama kemudian, mereka tiba di depan laboratorium. Dari balik pintu, cahaya lampu masih terlihat jelas.

Marco mengetuk pintu. “Nona Kirana?”

Tidak terdengar jawaban.

Marco mengetuk sekali lagi. “Nona?”

Kendra mengerutkan kening. “Buka saja.”

Marco menggunakan kartu akses untuk membuka pintu. Namun, begitu pintu terbuka, keduanya langsung dikejutkan oleh keadaan Kirana di dalam.

Kirana berdiri di dekat meja laboratorium dengan satu tangan bertumpu pada permukaannya. Tiba-tiba ia memuntahkan cairan hitam pekat yang memiliki bau menyengat ke wadah yang sudah berada di hadapannya.

“Kirana!”

Kendra langsung terkejut. Marco pun spontan melangkah maju, tetapi berhenti ketika melihat Kirana mengangkat tangannya, memberi isyarat agar mereka tidak mendekat.

Kirana mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan mulutnya. Setelah itu, ia menatap cairan hitam di dalam wadah dengan tatapan dingin, seolah-olah benda tersebut justru merupakan sesuatu yang sudah ia perkirakan.

Kendra menatapnya dengan wajah serius. “Apa yang terjadi?”

Kirana tidak menjawab. Ia justru mengambil wadah tersebut dan membuang isinya dengan hati-hati. Setelah memastikan tidak ada lagi cairan yang tersisa, ia mencuci wadah itu dan kembali membersihkan mulutnya.

Kendra memperhatikan semua tindakan Kirana dengan penuh kecurigaan. “Kau diracuni?”

Kirana berhenti bergerak.

“Orang yang mengalami hal seperti itu biasanya terkena racun,” lanjut Kendra. “Benar?”

Marco juga menatap Kirana dengan serius. “Nona, kalau memang ada seseorang yang meracuni Anda, kita harus segera mencari tahu siapa pelakunya.”

Kirana terdiam beberapa saat.

Ia kemudian mengambil ponselnya yang terletak di atas meja. Jarinya bergerak cepat mengetik sesuatu.

Setelah selesai, Kirana mengangkat layar ponselnya dan menunjukkannya kepada Kendra.

‘Kebisuanku bukan bawaan lahir.’

Kendra langsung terdiam. Marco menatap layar tersebut dengan mata melebar.

Kirana melanjutkan mengetik. ‘Seseorang sengaja meracuniku ketika aku masih bayi.’

Ruangan mendadak terasa sunyi.

1
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
ohh akhirnya tamat sudah riwayat nya meylan
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
soookorrrr
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
dasar si Kendra
mentang2 duit g abis2 ada2 saja klakuanya
siniin aja duit nya kasih ke aq kan bermanfaat 🤭
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
tuh kan masih sayang
hanya saja tertutup kebodohan mknya menyesal kan
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
wehhh tak tau saja ada yg melihat dan salah cari lawan bumil kok di lawan 🤣🤣🤣
Maysa Maysa
kak, gimana nasip kendra dan para anak buahnya setelah minum ramuan dari Kirana😭.
penasaran sama endingnya 😭😭😭.
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
yg tenang ya Meylan di sana aamiin 🤲 🤲
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Meylan kamu menyesal itu karna sdh di buang sama anak kesayangan mu jd kamu ingat Kirana sebab kl enggak mana mau kamu memohon kayak gitu ke Kirana 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
astaga Kendra bikin ngakak aja 😂😂
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
makanya Sean tunjukan kl kalian itu menyesal 😏☺️
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Kirana selamatkan Arthur jngn sampai kena jebakan mereka walau gimanapun Arthur tetap kakakmu walau nanti kamu gak mau kenal lg 😏😏
juwita
msh janin udh harus sekolah.. pas lahir udh kuliah mrk🤣🤣🤣
juwita
untung keteknya wangi coba klo bau bawang pasti g mau🤣🤣🤣
Ayudya
sabar Sean kirana Uda kalian buat sedih dan luka di hatinya🤣🤣🤣🤣
Ayudya
lah Arthur mau di perkaos. tu
Tiara Bella
tinggal Shania nh yg blm kena ajab....
Tiara Bella
wkwkkwk bayinya blm keluar kendra udh suruh sekolah....
teh tubruk
😂😂😂
teh tubruk
cih dasar sampah
teh tubruk
benar2 wanita yang tidak punya harga diri 😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!