NovelToon NovelToon
Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Ku Sadari Cintaku Setelah Kamu Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: rini sya

Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.

Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.

Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.

Hati Jihan hancur.

Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.

Jihan hanya terdiam.

Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.

Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Memang Bukan Rumah

Malam mulai menyelimuti kota saat sebuah mobil hitam berhenti tepat di sebuah rumah sederhana yang ditempati oleh Jihan dan Raka, putra semata wayangnya.

Rumah dua lantai dengan gaya minimalis itu berdiri nyaman dengan berbagai tanaman hias dan sayur-sayuran yang tertanam di sisi kanan kiri rumah. Rumah itu di bangun oleh Hansen dan di desain sendiri olehnya, sayangnya rumah tersebut tidak benar-benar menjadi rumah bagi pemiliknya.

Hansen lebih nyaman tinggal di apartemen pribadinya. Apartemen yang sebenarnya tidak jauh dari tempat tinggal Jihan. Hanya saja, Hansen adalah orang yang tidak suka dipaksa, apapun yang ia tidak suka, maka tidak akan ia dekati. Termasuk Jihan.

Jihan baru selesai masak saat Hansen datang. Namun tak ada salam saat pria itu masuk, tak ada sapaan, Hansen hanya diam. Lalu langsung duduk di meja makan. Jihan pun tak berani menyapa, karena ia tahu, Hansen tak suka ia sapa.

"Mana Raka?" tanya Hansen tiba-tiba.

Ya, Selalu Raka dan Raka. Raka yang selalu jadi topik utama mereka. Tidak lain.

"Ada, sebentar saya panggil," jawab Jihan, sembari tertatih melangkah ke kamar Raka. Mungkin Raka tadi ke kamar mandi atau sedang belajar sampai tak mendengar mobil sang ayah datang.

Lima menit berlalu, pintu kamar Raka terbuka dan bocah tampan berusia sembilan tahun itu berlari ke arah ayahnya.

"Papi... " serunya sembari merentangkan tangan.

"Ya." Hansen menjawab singkat. Lalu tersenyum sembari mengelus kepala sang putra.

"Kapan Papi datang? Apa sudah lama?" tanya Raka, semangat.

"Baru saja."

"Owwhh."

"Raka senang, Papi datang?"

"Senang, Papi. Tentu saja. Raka bosan di rumah sama Bunda terus. Papi tau kan, Bunda itu cerewet sekali. Udah gitu suka ngatur. Lama lama Raka bosan di sini. Raka suka di apartemen Papi. Di sana enak, nggak ada yang nglarang Raka ini itu, nggak ada yang suruh Raka ini itu." Raka cemberut, tapi Hansen malah tersenyum.

Sedangkan di dapur, Jihan hanya diam. Tapi ia tak bisa berbohong bahwasannya di sudut hatinya yang terdalam, Jihan terluka. Terluka dengan kata kata itu.

"Sudah, nggak usah di bahas. Ayo makan, Papi laper ni," ucap Hansen, santai.

"Oke, Papi." Raka tampak senang, apa lagi yang melayaninya kali ini adalah papinya. Pria yang dia idolakan.

"Pi, besok ada acara di sekolah, Papi bisa datang kan. Undangannya udah di kirim ke papi kan sama bunda?" tanya Raka disela-sela percakapan mereka.

"Sudah, kamu tenang saja. Ayo makan." Hansen lagi lagi tersenyum. Namun hanya sampai situ. Tak ada ajakan makan untuk Jihan. Dia tampak sibuk mengurus perut dan anaknya. Sedangkan istrinya, sama sekali tak terlihat di matanya. Padahal semua makanan yang tersaji di meja makan adalah hasil karya wanita itu.

Di menit berikutnya, tampak Jihan berjalan tertatih menuju tangga. Ia mau naik ke atas, mungkin menuju kamarnya. Melihat hal tersebut, Raka langsung menegurnya.

"Bunda mau ke mana?" tanya Raka tiba-tiba.

"Mau sholat dulu, Bunda belum sholat."

"Oh, nggak mau makan bareng kita dulu?"

"Bunda nanti saja maemnya, mau sholat dulu."

"Oh oke."

Raka kembali melanjutkan makannya, sedangkan Jihan langsung kembali menaiki tangga. Hansen, jangan ditanya, pria itu hanya diam, seolah sikap Jihan adalah sikap yang dia inginkan.

Di dalam kamar, Jihan tersenyum pahit. Sikap seperti ini memang sudah biasa ia terima, namun kali ini entah mengapa tiba-tiba saja hatinya terasa sedih. Tiba-tiba saja ia menginginkan kehangatan dari Hansen. Padahal hal tersebut sudah ia ketahui, bahwa sikap Hansen tak akan berubah sedikitpun padanya. Hingga detik ini, sikap Hansen tak pernah berubah. Pria itu selalu cuek padanya. Selalu menganggapnya tidak ada. Padahal setiap kali sakit, Jihanlah orang pertama yang merawatnya.

Tiga puluh menit berlalu, Jihan keluar kamar dengan rambut tergerai. Ia menggunakan stelan piama berwarna ungu, sungguh sangat cantik. Di saat yang sama, Hansen menaiki tangga terakhir.

Jihat sedikit terkejut, ia tau Hansen tidak suka berpas-pasan dengannya. Jihan ingin berbalik, namun Hansen segera memanggilnya.

"Jihan."

"Ya."

"Aku ingin bicara."

"Baik."

Hansen melangkah terlebih dahulu menuju balkon. Sedangkan Jihan mengikutinya di belakang.

"Duduk," pinta Hansen.

Jihan pun duduk di kursi samping meja, sedikit jauh dari Hansen. Karena Jihan tahu, Hansen tidak suka aroma yang keluar dari tubuhnya.

Beberapa saat suasana menjadi hening. Hansen bergelut dengan pikirannya sedangkan Jihan sibuk mengatur detak jantungnya.

"Begini Jihan." Akhirnya Hansen mulai mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan.

"Ya." Jihan tampak meremas ujung bajunya. Karena dia gugup.

"Dua minggu lagi anniversary pernikahan kita yang ke sepuluhkan?"

"Ya."

Tampak Hansen menghela napas dalam. Sepertinya dia juga gugup. Namun ia tetap tak mengundurkan niatnya untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan selama ini.

"Kamu ingat perjanjian kita kan?" tanya Hansen lagi.

"Perjanjian? Perjanjian apa ya, maaf saya lupa," jawab Jihan serius. Karena dia memang tidak ingat dengan perjanjian apapun yang ada di antara mereka.

Hansen menatap Jihan. Melihat sorot mata wanita itu, dalam. Tapi ia tidak menemukan kebohongan di sana. Hansen tau, Jihan adalah wanita yang sangat jujur.

"Kamu ingat, sebelum kita menikah, keluarga kita menandatangani sebuah perjanjian?" tanya Hansen lagi.

"Oh, perjanjian itu. Itukan perjanjian kerja sama keluarga kita kan?"

"Ya, salah satunya itu dan.... "

"Dan apa?"

"Dan perjanjian pertanggungjawaban atas kesalahanku menebrakmu waktu itu."

Jihan tidak menjawab, karena ia tau soal itu. Kecelakaan yang menimpanya memang tidak di sengaja. Kecelakaan yang mengakibatkan kakinya cacat permanen. Karena takut tak ada pria yang mau dengan sang putri, itu sebabnya orang tua Jihan meminta Hansen menjaganya, dengan cara menikahinya.

"Lalu? apakah ada hal lain?" tanya Jihan, kali ini ia masih bersikap santai, karena ia tak tau apa yang sebenarnya Hansen pikirkan.

Kemudian...

"Sebenarnya, aku hanya berjanji pada mereka menjagamu selama sepuluh tahun, Jihan dan sekarang sudah tiba saatnya kamu melepaskan aku. Maaf aku tidak bisa menjagamu lagi.... "

Deemmmmm....

Jantung Jihan terasa dihantam benda keras. Detak jantungnya langsung cepat. Sungguh ia tak tahu harus menjawab apa.

Speechless...

Ya...

Seperti itu reaksi Jihan saat ini.

Seolah waktu berputar kembali. Seperti berasa di sepuluh tahun yang lalu.

Sepuluh tahun di mana ada perjanjian antara Keluarga Hansen dan Keluarga Jihan, perjanjian yang Jihan tidak tahu persis apa isinya. Lali ada ijab qobul, kemudian penolakan Hansen terhadapnya.

Dan... semakin maju, Jihan ingat bagaimana sikap Hansen terhadapnya selama ini. Bahkan sikap putra semata wayangnya juga sama, dingin, acuh dan kadang cuek. Bahkan putranya itu juga suka marah-marah padanya kalo dirinya melakukan kesalahan kecil.

Ternyata ini jawabannya, Hansen merasa terkekang selama sepuluh tahun ini. Terkekang karena perjanjian itu.

Tuhan...

Ternyata...

Aku memang bukan rumah untuknya. Ternyata aku hanya...

Bersambung...

1
Setyowati Setyowati
nahhh menyesalkannnn ..makanya punya istri di sayangi di hargai seperti kamu menghargai dirimu sendiri...sekarang baru tau rasa kamu Hansen setelah Jihan pergi ..dan inilah awal perjuangan mu
Setyowati Setyowati
pengharum ruangan dong thor masak penghargaan ruangan
Rini Sya: oke oke😍
total 3 replies
Halimah
Dasar laki" munafik
Halimah
Betul Ji.... Mending km resign n pergi sejauh mungkin biar km ga bs ketemu lg sm Hansen
Rini Sya
bantu beri ulasan ya kakak2😍
Ai nurjanah
ayo up lagi dong thor🙏
sunaryati jarum
Masyaallah Jihan,kau punya tabungan begitu banyak tidak dibawa,kan bisa bila rumah sederhana dan buka apotek.
sunaryati jarum
Kehidupan Jihan semakin baik ,mungkin itu uang sisa nafkah darimu, setelah pergi baru divari
sunaryati jarum
Semoga kesempatan itu memiliki Apotek
sunaryati jarum
Harus semangat dan happy selalu agar dua baby sehat pertumbuhan dan perkembangannya normal.Kamu.juga rezeki lancar hingga sebelum baby lahir kamu sudah punya apotek yang kau impikan jadi bisa merawat dua baby sambil menjaga apotek.
sunaryati jarum
Jika kalian.brrjodoh mudah- mudahan bertemu dan Jihan memberi maaf serta memberi kesempatan
Setyowati Setyowati
bukan lupa Hansen..tp mungkin itu uang belanja dari kamu , makanya Jihan GK mau bawa
Setyowati Setyowati
semangat Jihan ..kamu wanita kuat, dan berjuang untuk si kembar
Setyowati Setyowati: siap...hadiahnya rajin up yaa🤭🤭
total 2 replies
Setyowati Setyowati
seperti biasa ...masih merasa kurang 🥰🥰
Rini Sya
Terima kasih buat teman-teman semua atas dukungannya. Sekali lagi jangan lupa like komen dan beri ulasan ya gaes.... makasih banyak😍😍😍
Halimah
Kenapa Hansen ga jujur sekalian kalo penyebab Jihan pincang karena dia yg udah menabraknya
Halimah
Ini anak kecil kok mulutnya udah pedes bgt gitu ya
sunaryati jarum
Selamat Jihan, semoga kamu dan bayimu sehat.Kamu tetap bisa beraktifitas tidak terganggu dengan kehamilan itu.Dan Hanzen tahu dia mengalihkan kehamilan simpatik
sunaryati jarum
Semoga nanti.Jihan memberi kabar Hanzen
Setyowati Setyowati
lanjut lagi Thor..sangat bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!