**Surat Terakhir Bapak**
*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*
Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.
Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.
Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.
*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat untuk yang Duduk
Ibu duduk. Lututnya yang memutuskan, bukan dirinya.
Kursi itu keras dan dingin. Di seberang meja kecil, Darmawan menyandarkan punggung dengan sikap orang yang sudah lama tidak dibuat menunggu, dan menikmatinya. Uap dari teko naik tipis di antara mereka.
"Bacalah," katanya. "Saya tidak akan mengintip."
Ibu mematahkan lak merah dengan kuku ibu jarinya. Isinya selembar kertas bergaris dari buku nota toko, dan selembar lain yang lebih tebal, berkop sebuah laboratorium di Semarang, menguning di bagian lipatannya. Ia membaca surat itu lebih dulu, tanpa suara.
*Wulan. Kalau kamu membaca ini, kamu sudah duduk di depan Darma. Berarti kamu sudah berani. Bapak bangga, dan Bapak minta maaf karena baru sekarang mengatakannya.*
*Lembar kedua adalah hasil tes yang Bapak lakukan empat belas tahun lalu, waktu Laras enam belas. Bapak ambil rambut dari sisirnya. Hasilnya: Laras anak Bapak. Dua puluh sembilan tahun kamu hidup dengan keraguan yang tidak perlu, dan itu salah Bapak. Bapak takut kalau kamu tahu, kamu berhenti merasa harus membayar, lalu Darma curiga.*
Tangan Ibu mulai gemetar. Ia menurunkan kertas laboratorium itu dan membaca angkanya, 99,9997 persen, sampai hurufnya mengabur. Ada rasa lega yang menghantam seperti ombak, dan di belakangnya datang rasa bersalah yang jauh lebih besar: dua puluh sembilan tahun ia menatap Laras sambil bertanya-tanya, dan anak itu tak pernah tahu.
*Satu lagi. Tanyakan pada Darma sejak kapan dia tahu Laras bukan anaknya. Lihat wajahnya waktu menjawab.*
Ibu mengangkat kepala.
"Sejak kapan?" Suaranya serak, tetapi tak lagi ragu. "Sejak kapan kamu tahu Laras bukan anakmu?"
Senyum Darmawan tidak hilang. Tetapi ada jeda sesaat, dan di dalam jeda itu sesuatu bergeser di matanya, seperti pintu yang digeser satu senti.
"Hartono sempat menulis itu, ya," katanya. "Dia selalu suka drama kecil."
"Sejak kapan?"
"Dua ribu sembilan." Ia mengangkat bahu, ringan sekali. "Saya menyuruh orang mengambil sampel dari tong sampah di sekolah anak itu. Hasilnya datang seminggu kemudian."
Dari belakang, Ibu mendengar Bima menggeser kaki.
"Tiga belas tahun," kata Ibu. "Tiga belas tahun kamu tahu, dan kamu tetap menerima uangnya."
"Kenapa tidak?" Darmawan menuang teh ke cangkirnya sendiri. "Hartono tidak pernah bertanya. Tidak pernah menawar, tidak pernah terlambat. Setiap tanggal lima, tanpa gagal. Orang yang membayar tanpa bertanya itu langka, Wulan. Seperti punya pohon yang berbuah setiap bulan."
"Anak itu tidak pernah penting buatmu."
"Anak itu tidak pernah penting. Yang penting wajah Hartono setiap kali dia membayar."
Haryo, di ujung ruangan, mengepalkan tangan. Bima menahan lengannya tanpa menoleh.
Dua belas kilometer dari situ, Dimas menurunkan kaca jendela mobil sepuluh senti.
Dua lelaki berseragam biru tua berdiri di sisi pengemudi, tongkat di pinggang masing-masing, tidak mengacung. Yang lebih tua menunduk dengan sopan.
"Dengan Saudara Dimas Prasetyo?"
"Ya. Kalian dari ...?"
"Keamanan Sentosa Tower. Bapak diminta turun, ada laporan dari manajemen. Seorang ibu lanjut usia dibawa dari rumahnya tanpa izin keluarga." Ia menunjukkan layar ponselnya: selembar laporan polisi bertanggal pagi tadi, pelapor Darmawan Sentosa. "Kami hanya menjaga sampai petugas datang."
Dimas menatap layar itu, lalu spion tengah. Dua lelaki lain berdiri di belakang mobil, menutup jalan keluar.
Ia mengerti sekarang. Darmawan tidak sekadar menunggu. Ia sudah lebih dulu melapor. Kalau Laras dan Sekar membawa file ke polisi jam sembilan nanti, polisi akan menemukan satu laporan yang sudah terdaftar lebih dulu, dengan nama Dimas di dalamnya sebagai penculik.
"Kalau saya tidak turun?" tanyanya.
"Kami juga akan menunggu, Pak," jawab lelaki itu, tetap sopan. "Dengan ramah."
Dimas menekan tombol rekam di ponselnya, menaruhnya di dasbor menghadap keluar, lalu membuka pintu.
Di lantai empat, Bima tersenyum tipis dan mengangkat pergelangan kirinya.
"Jam ini, Pak Darma. Dari laci Bapak. Semua yang Bapak bilang barusan masuk."
"Aku tahu."
Bima berkedip.
"Alat itu buatan Singapura, tiga ratus ribu rupiah di toko online." Darmawan mengetukkan satu jari ke tepi cangkir. "Haryo memindai tubuhmu waktu kamu masuk, dan dia memberi tahu saya jam itu merekam. Saya mengizinkan. Saya ingin keluarga ini mendengar langsung apa yang akan saya katakan sekarang."
Ia berpaling pada Ibu, dan kali ini senyumnya hilang seluruhnya.
"Wulan, Hartono menulis padamu bahwa dia sakit. Itu benar. Tapi dia tidak menulis bagian yang tidak sanggup dia akui."
"Jangan," bisik Haryo.
"Delapan bulan lalu, dokter di Semarang menyuruh Hartono memulai kemoterapi. Peluangnya tidak besar, tapi ada. Dia mendatangi saya malam itu, di ruangan ini, dan menawar. Pertama kalinya dalam tiga puluh tahun." Darmawan menuang teh ke cangkir Ibu, tidak tergesa. "Dia minta saya melepaskan keluarganya, dengan harga seluruh sisa uangnya. Uang yang menurut dokter harus dipakai untuk pengobatan."
Ibu tidak bergerak. Tehnya mengepul di depannya, tak tersentuh.
"Saya menolak," lanjut Darmawan. "Saya bilang harganya kurang. Dia pulang, dan keesokan harinya dia membatalkan kemoterapinya. Seluruh uang itu dia kirim kepada saya. Setiap rupiah. Dia pikir itu cukup untuk membeli kalian."
Ibu menatapnya, matanya lebar, tidak berkedip.
"Kamu tidak tahu, kan?" Suara Darmawan sangat lembut. "Kamu percaya pengobatannya gagal. Padahal dia tidak pernah mencobanya."
Dari lift di belakang mereka terdengar pintu terbuka dan langkah kaki tergesa. Ibu tidak menoleh. Ia masih menatap uap teh itu, dan bibirnya bergerak tanpa suara, mengulang kalimat yang terakhir kali Bapak ucapkan lewat telepon kepada anak sulungnya:
*Sudah makan, Nak?*