DENDAM BERSELIMUT TAWA
Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?
Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.
Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.
Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.
Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.
Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.
Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12- RENCANA BARU
Setelah dua hari perjalanan tanpa istirahat, akhirnya mereka sampai.
tak ada penghalang yang di katakan sosok yang berkomunikasi dengan Raka lagi, bahkan kini kereta kuda mereka menepi ke sebuah reruntuhan.
Tak ada satupun rumah yang berdiri.
Semuanya benar benar telah hancur, mayat pun berserakan di mana mana.
Kirana yang turun, ia langsung terduduk.
kakinya seakan tak mampu untuk menopang berat tubuh lagi.
"kita terlambat" lirihnya serak.
Raka mendekat, ia membantu Kirana berdiri.
"ka kita terlambat, semuanya sudah hancur. Tak ada yang tersisa lagi"
Raka hanya mengangguk tipis, lalu ia menoleh ke Tito yang mendekat.
"bang, pergi ke ujung bagian selatan, di sana ada orang orangku yang sedang menangani para warga yang berhasil di selamatkan. Jangan lupa bawa ahli medis yang kita bawa sebelumnya juga ke sana, di sana kekurangan ahli medis".
"tapi ka..."
"tak usah pikirkan kami, tak akan ada yang menyerang lagi. Tujuan mereka hanya Mbah dan sekarang Mbah sudah mereka bawa, kalian pergilah dulu aku yang akan mengurus Kirana"
"baiklah".
Setelah itu Raka hanya diam menunggu Kirana yang tengah menangis.
Setelah tangisannya terdengar mulai mereda, baru Raka membantu Kirana berdiri.
"ka, aku mau berkeliling sebentar"
Raka hanya menurut, ia membantu Kirana berjalan.
Kaki gadis itu masih terlalu lemah untuk berjalan sendiri.
mereka melihat lihat mayat yang terbaring, rata rata di antara mereka adalah pasukan kekaisaran.
Walau begitu masih ada wajah wajah yang mereka kenali terbaring tak bernyawa.
Raka terus menuntun Kirana, mereka berjalan terus ke pusat desa.
Di mana tempat mereka dan Mbah Sarwo tinggal.
Saat masuk ke halaman, Raka terdiam sesaat.
apa lagi saat menatap meja panjang di halaman, ini membuat pikirannya kembali ke beberapa Minggu lalu.
Tepat sebelum keberangkatannya, saat mereka tengah makan bersama.
Tertawa dan makan bersama, bahkan saat salah satu ibu ibu mengejarnya sambil membawa sapu, karena ayam milik ibu itu Raka tangkap saja langsung tergambar jelas.
Suasana hangat itu membuat bibir Raka mulai melengkung, namun matanya mulai mengembun. Seakan siap menumpahkan sesuatu dari sana saat itu juga.
Namun saat menatap ke arah Kirana, Raka menggeleng.
Ia mengelap matanya sendiri.
"tak bisa begini, jika aku menangis itu hanya akan menghambat cara berfikir ku" gumamnya.
Setelah puas berkeliling, Raka akhirnya membawa Kirana ke tempat pengungsian sementara.
Lagi lagi, karena kelelahan mental. Gadis itu tertidur.
Di sana Raka langsung menghampiri sosok yang selalu berkomunikasi dengannya.
"Juan, apa kita bisa berbicara di tempat lain dulu"
"tentu tuan".
panggilan sosok itu bukan lagi putra mahkota ataupun pangeran, karena Raka tak menyukainya.
"duduklah" ucap Raka setelah sampai di tempat sepi.
"saya tak berani tuan, anda saja yang duduk"
Raka hanya menghela napas, dia tau seberapa keras kepalanya Juan ini. Jadi dia memilih duduk sendiri.
"jadi apa yang sebenarnya terjadi."
"saya tak bisa memastikannya dengan jelas, tapi di pertarungan saat pasukan kekaisaran melawan pemimpin desa. Mereka sempat mengatakan kalau pemimpin desa tau terlalu banyak jadi harus mati."
"mengetahui terlalu banyak...? Sebenarnya apa yang mbah tau." gumam Raka.
"saya tak tau tuan, tapi sepertinya itu rahasia penting milik kerajaan. Bahkan mereka sampai rela mengerahkan pasukan sebanyak itu hanya untuk menangkap satu orang"
"sebenarnya rahasia apa.. Apa itu rahasia tentangku...?"
"tak mungkin, jika itu memang rahasia tentang masalaluku tak mungkin Mbah sangat merahasiakan hal ini dariku" batin Raka.
"atau, kerajaan memiliki rahasia lain"
pikiran Raka terus berputar, berusaha memecahkan masalah.
Namun rahasia kerajaan terlalu banyak, dan dia tak tau yang mana yang di ketahui oleh Mbah Sarwo.
Lelah memikirkan ini, Raka kembali menatap ke arah Juan yang masih berdiri.
"lalu bagaimana dengan pemimpin desa"
"seharusnya dia masih hidup, kekuatan pemimpin desa ini sangat sulit di tebak. Bahkan dengan ribuan orang dari kerajaan masih belum cukup untuk mengalahkannya"
"tak sanggup mengalahkan Mbah...?" terkejut Raka.
Selama ini Raka tak tau, kalau orang yang merawatnya itu sekuat ini.
Bahkan ribuan pasukan elit kerajaan tak mampu mengalahkannya.
"benar tuan, mereka tak sanggup mengalahkan pemimpin desa. Tapi aku tak tau kenapa pemimpin desa ini seperti sengaja mengalah, padahal dia terlihat sudah tau kalau dia sedang di jebak ke dalam formasi penyegel, tapi ia tetap masuk"
"jadi Mbah kini di segel...?"
"benar, pemimpin desa kini di segel oleh pasukan kerajaan dan mereka membawanya"
mendengar ini membuat Raka sedikit bisa bernapas tenang.
Walau, belum benar benar lega karena nyawa Mbah Sarwo tetap dalam bahaya. Tapi setidaknya dia masih memiliki secercah harapan.
Setelah berbincang dengan Juan, Raka melihat korban yang masih selamat.
Walau mereka masih selamat, tapi tak sedikit luka di tubuh mereka.
ruangan itu benar benar di sertai rintihan yang bercampur dengan tangisan.
Setelah Kirana sadar, Raka langsung menyampaikan semua hal tentang masalah ini.
Tak berbeda dengan Raka sebelumnya, Kirana juga merasa sedikit lega.
Wajahnya tak setegang tadi, hanya kini ada telat lain yang terlihat di matanya.
"ka, apa mungkin kita bisa menyelamatkan Mbah."
Raka mengangguk pasti.
"tentu, tak hanya menyelamatkan Mbah. Bahkan kita akan membalaskan semua yang desa kita alami. Lagi pula tak ada gunanya besedih sekarang, dari pada hanya terus bersedih dan diam. Lebih baik kita melangkah maju walau perlahan"
"kau benar, kita akan membalaskan semua dendam ini. Lagi pula Tak ada gunanya besedih, Mbah menyerahkan diri juga pasti bukan tanpa alasan. Pasti ada alasan di balik ini semua"
tekan keduanya kini sudah bulat, bahkan mereka sudah mulai merencanakan keberangkatan berjalanan mereka.
Dari mulai mengumpulkan informasi tempat tempat yang memiliki peluang menambah kekuatan, hingga strategi penyerangan perlahan.
Semalaman mereka habiskan dengan hal ini, bahkan keduanya sampai memanggil Tito dan Juan.
Bagaimanapun jika hanya mereka, informasi yang di cakup akan terlalu sedikit.
Apa lagi sejak dulu mereka hanya tinggal di dalam desa. berbeda dengan Tito yang selalu ikut bersama Mbah Sarwo, dan Juan juga tak bisa di remehkan.
walau tak tau asal usul mereka, tapi dari pasukan dan kekuatan yang Juan miliki.
Raka dan Kirana yakin jika Juan bukan orang biasa.
Setelah semua telah tersusun, Tito kembali menatap ke arah Raka dan Kirana.
"apa kalian yakin akan membalaskan dendam...? Kekuatan kerajaan bukan hal sepele" tanya tito entah ke berapa kali.
keduanya serentak mengangguk.
"tenang bang, walau Jiak di adu kita masih tertinggal terlalu jauh. Tapi peperangan tak hanya dari otot, tapi peperangan bisa menggunakan otak juga."
"jika memang tak mampu menghancurkan secara terbuka, kita masih bisa menghancurkan secara senyap dan perlahan." jawab Raka.