NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Wajah Sang Musuh

Lima hari setelah insiden bendungan, kondisi Zhou Feng mulai membaik meski ia masih harus berbaring sebagian besar waktu. Zhou Chen memutuskan untuk tetap tinggal di wilayah utara sedikit lebih lama, memastikan adiknya benar-benar aman sebelum kembali ke ibu kota.

Ia tidak menyangka, kunjungan tak terduga justru datang dari arah yang paling tidak ia inginkan.

"Yang Mulia Pangeran Kedelapan meminta izin untuk menjenguk," lapor seorang pelayan setempat, wajahnya tegang menyadari betapa mendadak kunjungan ini.

Zhou Chen membeku sejenak sebelum mengangguk, memaksa wajahnya tetap tenang. Zhou Han. Di sini. Sekarang.

Zhou Han memasuki ruangan dengan langkah yang begitu ringan hingga hampir tak terdengar, senyum tipis terukir sempurna di wajahnya—senyum yang, bagi siapa pun yang tidak mengenalnya lebih dalam, akan tampak seperti kepedulian tulus seorang kakak.

"Adik Ketujuh," katanya lembut, mendekati ranjang Zhou Feng yang masih terbaring lemah. "Aku mendengar kabar kecelakaan ini dan langsung bergegas kemari. Sungguh mengerikan—bendungan yang runtuh tiba-tiba seperti itu."

Zhou Feng, meski masih lemah, menatap kakaknya dengan kewaspadaan yang tersembunyi rapi di balik ekspresi sopan. "Terima kasih atas perhatian Kakak Kedelapan. Untungnya, Kakak Keempat datang tepat waktu untuk menyelamatkan hamba."

Mata Zhou Han beralih ke arah Zhou Chen, yang berdiri diam di sudut ruangan, mengamati setiap gerak-gerik sang Pangeran Kedelapan dengan seksama.

"Kakak Keempat," katanya, nadanya hangat namun ada sesuatu di baliknya yang membuat bulu kuduk Zhou Chen sedikit meremang—sesuatu yang terlalu halus untuk disebut ancaman, namun terlalu tajam untuk sekadar basa-basi. "Kudengar kau langsung bergegas kemari begitu mendengar kabar ini. Perhatianmu terhadap adik-adikmu sungguh mengesankan—jarang sekali terlihat di antara kita bersaudara akhir-akhir ini."

"Kami sama-sama keluarga," jawab Zhou Chen tenang, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Sudah sewajarnya saling menjaga, bukan?"

Zhou Han tertawa pelan, suaranya menggema lembut di ruangan yang hening itu. "Tentu saja. Meski, sejujurnya, aku penasaran—bagaimana kau tahu begitu cepat tentang kecelakaan ini? Wilayah utara cukup jauh dari ibu kota."

Pertanyaan itu, dibalut dalam nada santai, terasa seperti pisau tersembunyi di balik kain sutra. Zhou Chen menyadari, ini bukan sekadar percakapan biasa—Zhou Han sedang menguji, mencari celah dalam ceritanya.

"Aku memiliki beberapa kontak dagang di wilayah ini," jawab Zhou Chen, tetap tenang meski jantungnya berdegup lebih kencang dari yang ia tunjukkan. "Berkat usaha perniagaanku, informasi semacam ini sampai cukup cepat kepadaku."

Diam-diam, Zhou Chen mencoba mengarahkan Mata Dewa ke arah Zhou Han, berharap mendapatkan informasi yang bisa memperkuat kecurigaannya.

Namun yang terjadi justru sesuatu yang tidak pernah ia alami sebelumnya.

Zhou Han Kondisi emosional: ??? — Tidak dapat dianalisis sepenuhnya Sebagian data tertutup, kemungkinan akibat penguasaan teknik pengendalian pikiran dan ekspresi tingkat lanjut Catatan: Objek ini tampaknya secara sadar melatih dirinya untuk menyembunyikan fluktuasi emosi dari deteksi luar

Zhou Chen menahan napas, tersadar untuk pertama kalinya bahwa Mata Dewa-nya bukanlah kekuatan yang mahakuasa. Ada orang-orang yang, entah melalui latihan bertahun-tahun atau kemampuan bawaan, bisa menyembunyikan diri mereka bahkan dari matanya sendiri.

Ini yang membuatnya begitu berbahaya, pikirnya, jantungnya berdegup semakin kencang. Dia bukan sekadar licik. Dia terlatih untuk tidak terbaca—oleh siapa pun, termasuk aku.

Zhou Han, seolah menyadari sesuatu yang berubah dalam sikap Zhou Chen meski hanya sepersekian detik, tersenyum lebih lebar. "Kakak Keempat tampak melamun. Ada yang mengganggu pikiranmu?"

"Hanya memikirkan pemulihan Adik Ketujuh," jawab Zhou Chen cepat, memaksa dirinya kembali fokus.

"Tentu, tentu," kata Zhou Han, mengangguk pelan. Ia berdiri, merapikan jubahnya dengan gerakan anggun yang telah terlatih sempurna. "Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu lebih lama. Semoga Adik Ketujuh lekas pulih." Sebelum benar-benar pergi, ia berhenti sejenak di ambang pintu, menoleh kembali ke arah Zhou Chen dengan pandangan yang, untuk sesaat, kehilangan seluruh kehangatan palsunya. "Oh, dan Kakak Keempat—berhati-hatilah dalam perjalanan pulang nanti. Jalur antara sini dan ibu kota belakangan ini kudengar cukup... tidak aman."

Ia pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan keheningan berat yang menggantung di ruangan itu.

Setelah kepergian Zhou Han, Zhou Feng menatap kakaknya dengan wajah pucat. "Kakak dengar itu? Itu bukan sekadar nasihat biasa."

"Aku dengar," jawab Zhou Chen, rahangnya mengeras. "Dia tahu. Mungkin belum sepenuhnya yakin siapa yang berada di balik penyelidikan ini, tapi dia sudah cukup curiga untuk memberi peringatan langsung."

Ancaman terselubung itu membuat Zhou Chen menyadari bahwa waktu mereka semakin sempit. Rencana untuk mengikuti kunjungan "resmi" Zhou Han ke wilayah barat—yang sebelumnya sudah mereka susun—kini terasa jauh lebih berisiko, namun juga semakin mendesak untuk segera dilaksanakan.

Malam itu, sambil menunggu kondisi Zhou Feng cukup stabil untuk ditinggalkan, Zhou Chen duduk sendirian di beranda kediaman sementara itu, menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit wilayah utara—jauh lebih jernih dibandingkan langit ibu kota yang sering tertutup asap dapur dan debu jalanan.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, pikirannya melayang jauh dari intrik istana dan konspirasi penyelundupan, kembali ke kehidupan lamanya—perpustakaan kecil tempat ia biasa menghabiskan waktu, secangkir kopi yang selalu mendingin karena ia terlalu larut membaca, keluarganya yang mungkin kini tengah berduka atas kematiannya yang mendadak di dunia lain.

Apakah mereka sudah menemukan tubuhku? pikirnya, sebuah kesedihan yang jarang ia biarkan muncul kini menyeruak perlahan. Apakah mereka tahu aku sudah tiada? Atau apakah aku hanya akan dianggap hilang selamanya, tanpa penjelasan?

Ia menatap tangannya sendiri—tangan Zhou Li, bukan tangannya yang asli—dan untuk sesaat, rasa bersalah yang telah lama ia tekan kembali muncul ke permukaan.

Aku hidup di tubuh ini, mengambil alih kehidupan seseorang yang seharusnya masih bisa menjalani hidupnya sendiri. Zhou Li yang asli tidak sempurna, tapi dia punya keluarga yang menyayanginya, orang-orang yang mengenalnya sejak kecil. Dan aku... aku hanya menggantikannya, mencoba memperbaiki kesalahan yang bahkan bukan sepenuhnya salahku.

Langkah pelan mendekat dari belakangnya. Yue Er, yang malam itu bertugas berjaga, berdiri di ambang pintu beranda, ragu sejenak sebelum akhirnya duduk di sisi lain beranda, menjaga jarak sopan namun cukup dekat untuk berbicara.

"Yang Mulia tampak memikirkan sesuatu yang berat," katanya pelan.

Zhou Chen tersenyum tipis, agak terkejut dengan kepekaan Yue Er yang selama ini jarang menunjukkan sisi pribadinya. "Hanya memikirkan banyak hal. Bagaimana denganmu? Bukankah seharusnya kau beristirahat?"

Yue Er terdiam sejenak, menatap ke arah bintang-bintang yang sama. "Hamba dulu juga kehilangan seseorang, Yang Mulia. Kakak hamba, sebelum hamba bekerja di bagian perdagangan istana. Dia meninggal karena wabah yang menyerang desa kami, dan hamba tidak pernah sempat mengucapkan selamat tinggal dengan benar." Ia menoleh, matanya menatap Zhou Chen dengan pemahaman yang tidak terduga. "Hamba tidak tahu apa yang sebenarnya Yang Mulia pikirkan malam ini. Tapi kalau itu tentang seseorang yang hilang, atau sesuatu yang belum sempat diselesaikan... hamba rasa, cara terbaik untuk menghormatinya adalah dengan terus melangkah maju, melakukan hal-hal baik yang mungkin tidak sempat mereka lakukan sendiri."

Kata-kata itu, sederhana namun tulus, menyentuh sesuatu yang dalam di hati Zhou Chen. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa Yue Er bukan sekadar pemanah berbakat yang ia temukan di bagian perdagangan—ia adalah seseorang dengan lukanya sendiri, kekuatannya sendiri, dan kebijaksanaan yang jauh melampaui usianya yang masih muda.

"Terima kasih, Yue Er," katanya tulus. "Kata-katamu... berarti lebih dari yang kau sadari."

Keesokan paginya, dengan kondisi Zhou Feng yang mulai membaik dan pesan baru dari Zhou Ming yang menunggu di ibu kota, Zhou Chen bersiap untuk kembali—kali ini dengan pemahaman baru tentang lawan yang mereka hadapi, dan dengan hati yang sedikit lebih ringan berkat percakapan jujur di bawah bintang malam itu.

Zhou Han bukan sekadar musuh yang bisa dibaca semudah yang lain, pikirnya, menatap jalan panjang menuju ibu kota yang terbentang di hadapannya. Tapi setiap musuh, sekuat apa pun dia menyembunyikan dirinya, pasti punya celah. Aku hanya perlu menemukannya—sebelum dia menemukan celah dalam pertahanan kami lebih dulu.

Bersambung ke Bab 20 — Perjalanan ke Wilayah Barat

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!