Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.
Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Di Balik Kertas
Suara lembaran kertas yang diletakkan di atas meja kayu oleh Pak Darma terdengar begitu jelas di tengah keheningan ruang kelas 11-B. Angka merah besar "100" tertera rapi di sudut kanan atas lembar jawaban itu, dilingkari dengan tinta merah tebal yang seolah-olah mengejek semua bisik-bisik kejut yang bergemuruh di dalam ruangan tersebut.
Rian berdiri tepat di hadapan meja guru. Posturnya yang tegap dan ketenangannya yang tidak biasa membuat Pak Darma, seorang pendidik senior yang terkenal galak dan kaku, tanpa sadar mengurungkan niatnya untuk langsung menyuruh siswa itu kembali ke tempat duduk.
Guru matematika berkacamata tebal itu mendorong bingkai kacamatanya ke atas batang hidung, lalu menatap Rian lekat-lekat dari balik lensa tebalnya. Ada selidik yang tajam di mata Pak Darma, bukan karena ia curiga Rian mencontek—sebab posisi duduk kemarin diatur sangat ketat dan tidak ada celah untuk berbuat curang—melainkan karena lompatan nilai yang begitu drastis. Dari siswa dengan rata-rata nilai pas-pasan enam puluh, menjadi sempurna di materi matematika lanjutan tingkat SMA yang terkenal rumit.
"Rian," panggil Pak Darma dengan nada suara rendah, sengaja tidak mengeraskan volume suaranya agar tidak terlalu menarik perhatian seluruh kelas yang masih berdengung. "Nilai ini... luar biasa. Cara penyelesaian yang kamu tulis di bagian esai nomor empat menggunakan metode aljabar matriks tingkat lanjut yang bahkan biasanya baru dipelajari di tingkat universitas tahun pertama. Dari mana kamu belajar cara itu?"
Pertanyaan Pak Darma seketika membuat seisi kelas semakin menegang. Beberapa siswa di barisan depan bahkan memanjangkan leher mereka, ingin mendengar alasan apa yang akan diberikan oleh si anak beasiswa miskin tersebut. Di sekolah elit seperti SMA Bina Bangsa, anak-anak dari keluarga kaya selalu mengandalkan bimbingan belajar mahal di luar sekolah untuk mendapatkan nilai tinggi. Mana mungkin seorang anak yatim piatu yang bekerja paruh waktu setiap malam memiliki waktu dan akses ke materi tingkat tinggi seperti itu?
Rian tidak menunjukkan tanda-tanda gugup sama sekali. Di dalam tubuhnya, aliran energi Qi berputar stabil, menjaga kejernihan otaknya pada tingkat yang setajam pisau bedah. Sejak sistem kultivator purba mengikat jiwanya, kapasitas memori, kecepatan analisis, serta pemahamannya terhadap segala hal meningkat berkali-kali lipat melampaui batas manusia normal.
"Saya hanya membaca buku referensi perpustakaan kota saat menjaga waktu luang akhir pekan kemarin, Pak," jawab Rian dengan nada datar namun sangat sopan. Suaranya terdengar jernih, bergema pelan di ruangan yang senyap itu. "Beberapa rumus kebetulan menarik perhatian saya, lalu saya coba terapkan untuk memecahkan soal esai tersebut."
Pak Darma mengerutkan keningnya, menatap lurus ke dalam mata Rian selama beberapa detik penuh. Tidak ada kilatan kebohongan di sana; mata hitam pekat itu begitu tenang, bagaikan permukaan air danau yang tidak bergeming sedikit pun oleh lemparan batu.
"Membaca buku referensi perpustakaan kota di waktu luang..." gumam Pak Darma pelan, menggelengkan kepalanya perlahan sambil menghela napas kagum yang tertahan. Ia lalu tersenyum tipis, sebuah pemandangan yang sangat langka disaksikan oleh murid-murid kelas itu. "Kalau begitu, pertahankan prestasimu ini, Rian. Jangan biarkan kerja kerasmu sia-sia hanya karena kamu merasa minder dengan lingkungan di sini. Kecerdasan sejati tidak bisa dibeli dengan uang."
"Terima kasih, Pak," jawab Rian singkat seraya membungkuk sedikit sebagai tanda hormat, lalu mengambil lembar ujiannya dan berbalik melangkah kembali ke bangku pojok belakang kelas.
Sepanjang perjalanan Rian kembali ke tempat duduknya, puluhan pasang mata terus mengikutinya dengan sorot pandang yang kompleks—ada rasa iri, ketidakpercayaan, kebingungan, hingga sisa-sisa rasa takut yang masih membayangi kelompok Bara di barisan tengah.
Bara mengepalkan tangan kirinya erat-erat di atas meja, sementara lengan kanannya yang patah dan dibalut gips tergantung kaku di dalam kain penyangga. Giginya bergemeletuk menahan amarah dan rasa sakit yang bercampur aduk di dalam dadanya.
Sialan... sialan! Anak miskin itu kemarin mempermalukanku di lorong, dan sekarang dia pamer nilai sempurna di depan Pak Darma?! batiin Bara berteriak histeris, wajahnya memerah padam menahan gejolak emosi.
Kevin, yang duduk di sebelah Bara, melirik sekilas ke arah temannya itu dengan wajah cemas. Ia menyikut lengan kiri Bara pelan, berbisik dengan suara tertahan agar tidak terdengar oleh guru di depan.
"Bar, kita tidak bisa membiarkan anak ini terus bertingkah seperti itu," desis Kevin dengan nada penuh racun. "Kalau dibiarkan, seluruh sekolah lama-lama akan melupakan siapa kita. Murid-murid lain mulai membicarakan kita di grup chat angkatan karena kejadian kemarin di lorong."
Bara menoleh dengan tatapan tajam membunuh ke arah Kevin, mendesis pelan dari sela-sela giginya. "Terus mau kau apakan lagi, bodoh?! Tanganku patah gara-gara menyentuhnya kemarin! Kau sendiri lihat sendiri betapa anehnya anak itu!"
"Kita tidak perlu maju sendiri," balas Kevin menyeringai licik, matanya menyipit menatap punggung Rian yang kini sudah duduk kembali di bangku belakang sambil merapikan bukunya. "Kau lupa siapa sepupuku yang baru saja pulang dari luar kota minggu lalu? Si Reno. Dia kapten tim bela diri bebas tingkat kota, dan dia paling benci dengan anak-anak beasiswa sok suci seperti Rian."
Mendengar nama Reno disebut, ekspresi wajah Bara sedikit berubah. Sorot ketakutan di matanya perlahan bergeser digantikan oleh secercah harapan palsu akan balas dendam.
"Reno... Maksudmu si 'Tangan Besi' Reno yang pernah menghajar tiga petarung jalanan sampai masuk rumah sakit tahun lalu?" tanya Bara memastikan, suaranya sedikit bergetar antara ragu dan antusias.
"Tepat sekali," bisik Kevin penuh percaya diri. "Aku akan mengatur waktu agar Reno datang ke kantin sekolah kita siang ini dengan dalih mengunjungiku. Kita lihat seberapa hebat si Rian itu kalau harus berhadapan dengan petarung profesional sungguhan, bukan preman pasar eceran."
Bara mengangguk pelan, seringai mengerikan kembali terukir di bibirnya yang pucat. Rasa sakit di lengan kanannya seolah terabaikan begitu ia membayangkan bagaimana wajah tenang Rian nanti akan hancur berkeping-keping di bawah kaki sepupunya.
Waktu berjalan perlahan hingga bel istirahat pertama berbunyi nyaring, menandakan seluruh siswa berhamburan keluar kelas menuju kantin utama yang luas. Suasana lorong sekolah kembali riuh oleh suara gelak tawa, candaan, dan langkah kaki yang bergemerincing.
Rian melangkah keluar dari kelas dengan santai. Ia tidak terburu-buru. Di dalam saku celananya, tangannya merogoh ponsel murahnya dan melihat pesan singkat masuk dari Bi Inah yang menanyakan apakah ia butuh tambahan uang untuk makan siang—pesan penuh perhatian yang langsung dibalas oleh Rian dengan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan membawa cukup bekal dari rumah.
Saat ia berjalan menuju bangku taman belakang sekolah yang agak sepi—tempat favoritnya menghindari keramaian bising—tiba-tiba langkah kakinya terhenti sejenak.
[ Peringatan Sistem: Mata Dewa Pengamat mendeteksi perubahan gelombang emosi bermusuhan di sekitar radius 30 meter. ] [ Analisis niat: Persiapan jebakan fisik / konfrontasi langsung. ]
Teks transparan itu melintas tipis di retinanya. Rian tidak merasa terkejut; sejak semalam, ia tahu betul bahwa kelompok Bara tidak akan menyerah semudah itu setelah dipermalukan di lorong kemarin. Manusia yang terbiasa hidup dengan kekuasaan dan keistimewaan selalu menganggap kekalahan sebagai sebuah penghinaan yang harus dibayar lunas dengan kekerasan yang lebih besar.
"Silakan datang," gumam Rian pelan di dalam hatinya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin. Ia terus melangkah dengan tenang menuju area kantin terbuka di dekat lapangan basket indoor.
Kantin SMA Bina Bangsa sangat megah, berlantai keramik porselen putih mengkilap dengan deretan meja kayu jati panjang dan jendela kaca besar yang menghadap langsung ke lapangan olahraga. Di salah satu sudut meja yang paling mencolok—tempat biasa kelompok anak-anak elit berkumpul—Bara dan Kevin sedang duduk bersama seorang pemuda berbadan tinggi besar dengan jaket kulit hitam ketat dan tato tribal melingkar di leher sebelah kanannya.
Pemuda itu adalah Reno, sepupu Kevin. Posturnya jauh lebih besar daripada Bara, otot-otot lengannya menonjol keluar dari balik kaos hitam ketatnya, dan tatapan matanya menyiratkan keangkuhan seorang juara tarung bebas yang terbiasa melihat orang lain bertekuk lutut di hadapannya.
"Jadi, anak itu yang kemarin membuat tanganmu patah, Bar?" suara Reno terdengar berat dan serak, nadanya penuh dengan nada meremehkan sambil menyesap kaleng minuman bersoda di depannya.
"Sumpah, Ren, gayanya kemarin benar-benar minta ditampar," adu Bara dengan nada suara yang sengaja dilebih-lebihkan, menunjuk ke arah Rian yang baru saja berjalan masuk melewati pintu utama kantin dengan membawa sebuah roti bungkus kecil di tangannya. "Dia bahkan tidak menggunakan senjata apa pun, cuma... entah bagaimana, tanganku langsung lumpuh waktu disentuh."
Reno mendengus tertawa sinis, meletakkan kaleng sodanya di atas meja dengan bunyi dentang yang cukup keras. "Ilmu hitam jalanan? Atau cuma kebetulan saja tulangmu memang sedang lemah, Bara? Anak-anak zaman sekarang memang suka halusinasi berlebihan setelah nonton film silat."
"Makanya, tunjukkan padanya siapa penguasa sebenarnya di sekolah ini, Ren," timpal Kevin dengan senyuman licik, ikut memprovokasi sepupunya. "Biar dia tahu diri dan tidak berani lagi sok pamer nilai di depan Pak Darma."
Rian, yang memiliki pendengaran tajam berkat peningkatan tingkat kultivasinya, dapat mendengar setiap kata percakapan mereka dengan jelas meskipun berjarak belasan meter di tengah kebisingan kantin. Ia berjalan perlahan melewati meja-meja siswa, sorot matanya tetap tenang tanpa sedikit pun rasa gentar.
Saat Rian melintas tepat di dekat meja mereka, Reno tiba-tiba berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang hampir setinggi seratus sembilan puluh sentimeter itu langsung menghalangi jalan Rian, menjulang tinggi di depan pemuda berbadan lebih kecil tersebut.
Suasana di sekitar meja kantin seketika mendadak senyap. Para siswa yang tadinya sibuk makan langsung menghentikan suapan mereka, menoleh ke arah kelompok Bara dengan mata melebar penuh antisipasi. Berita tentang kedatangan sepupu Bara si petarung jalanan rupanya sudah tercium oleh beberapa murid lain.
"Hei, anak beasiswa," panggil Reno dengan suara besar yang berat, menatap Rian dari atas ke bawah dengan pandangan jijik layaknya melihat seekor serangga pengganggu di lantai. "Namamu Rian, kan?"
Rian berhenti melangkah. Ia mendongak perlahan, menatap wajah Reno yang berjarak kurang dari setengah meter darinya. Tidak ada rasa terkejut di wajah Rian; ekspresinya datar, persis seperti orang yang sedang melihat patung pajangan di pinggir jalan.
"Ya," jawab Rian singkat, suaranya terdengar tenang dan tidak bergetar sama sekali.
Reno menyipitkan matanya, merasa tidak senang dengan ketenangan yang ditunjukkan oleh anak di depannya. Biasanya, anak-anak beasiswa miskin akan langsung pucat pasi dan gemetar ketakutan begitu melihat postur tubuhnya yang besar.
"Bara sepupuku bilang, kau kemarin bersikap sangat 'sopan' kepadanya di lorong," kata Reno dengan nada sarkastik, mendekatkan wajahnya ke arah Rian. "Aku cuma mau memastikan satu hal. Apakah tanganmu itu juga akan sekuat omonganmu kalau kuhancurkan sekarang?"
Tanpa menunggu jawaban Rian, Reno tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya yang besar, berniat mencengkeram kerah kemeja seragam Rian untuk mengangkat tubuh pemuda itu ke udara di depan seluruh siswa kantin.
Para siswa di sekitar menahan napas mereka secara bersamaan. Beberapa siswi bahkan memalingkan wajah karena tidak tega melihat apa yang biasanya terjadi jika Reno sudah mulai menggunakan kekuatannya.
Namun, sebelum ujung jari besar Reno berhasil menyentuh kerah kemejanya, Rian bergerak.
Gerakan itu begitu cepat, sangat halus, dan hampir tidak terlihat oleh mata telanjang orang-orang di sekitarnya. Rian tidak mundur, melainkan melangkah maju setengah langkah, lalu mengangkat tangan kanannya dengan jari telunjuk dan jari tengah dirapatkan.
Whush!
Sebuah hembusan angin tipis berdesing di antara mereka berdua, membawa gelombang energi Qi internal tingkat menengah yang langsung beresonansi dengan udara sekitar.
Rian tidak memukul dada atau wajah Reno. Ia hanya mengarahkan ujung jarinya secara presisi ke arah titik saraf utama di pergelangan tangan kanan Reno yang sedang terulur.
Tap.
Sentuhan itu terasa sangat ringan, bagaikan titisan embun yang jatuh di atas daun lotus.
Namun, begitu ujung jari Rian menyentuh titik tersebut, suara desiran energi kejut yang tak kasat mata meledak seketika di sepanjang lengan kanan Reno.
Wajah Reno yang tadinya menyeringai angkuh mendadak kaku seketika. Matanya melotot lebar, urat-urat di lehernya menonjol keluar, dan seluruh warna merah di wajahnya mendadak pudar menjadi pucat pasi dalam sepersekian detik.
"Argh...?!" suara tertahan keluar dari tenggorokan Reno. Seluruh tenaga di lengan kanannya mendadak lenyap tanpa sisa, lumpuh total, seolah aliran darah dan saraf di tangannya diputus secara paksa oleh pisau tak kasat mata.
Belum sempat Reno menyadari apa yang baru saja terjadi pada tubuhnya, Rian melangkah sedikit lebih dekat, menatap mata pemuda bertato itu dengan tatapan yang sangat dingin hingga mampu membekukan darah siapa saja yang melihatnya.
"Kalian benar-benar tidak pernah bosan mencari masalah di tempat yang salah, ya?" suara Rian terdengar pelan, namun setiap kata yang diucapkannya beresonansi langsung di dalam dada setiap orang yang mendengarkan di seluruh penjuru kantin yang kini sunyi senyap seperti kuburan.