Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.
Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.
Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Faz Kehilangan Kesadaran
Farah melangkah masuk ke dalam vila dengan Faz tepat di belakangnya. Namun, baru beberapa langkah, keduanya mendadak berhenti.
Di ruang tengah, Hannah duduk di sofa dekat jendela. Perempuan itu mengenakan gamis sederhana dengan jilbab senada. Pandangannya tertuju pada laut yang terlihat tak jauh dari vila. Ia tampak begitu larut dalam pikirannya hingga tidak menyadari kedatangan mereka.
“Kak Hannah!” panggil Farah lega.
Hannah sontak menoleh. Matanya membulat ketika menyadari siapa yang datang. Terlebih, saat menyadari bahwa ia belum mengenakan cadarnya, sementara Faz berdiri tak jauh dari pintu.
Buru-buru Hannah meraih cadar yang terletak di sampingnya, lalu mengenakannya.
“Ya Allah, Kak, kamu ke mana saja?” Farah segera menghampirinya. “Sudah empat hari kamu nggak bisa dihubungi. Aku khawatir sekali!”
Hannah mengangkat wajah. Ia berusaha tersenyum, tetapi senyum itu tak mampu menyembunyikan kesedihan yang tersimpan di balik matanya.
“Maafkan aku, Far.”
“Kenapa kamu nggak bilang kalau mau pergi? Aku sampai bingung harus mencari kamu ke mana.”
Hannah hanya menunduk. Tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya.
Sementara itu, Faz masih berdiri di dekat pintu. Ada sesuatu yang membuatnya terdiam saat melihat wajah Hannah, meski hanya beberapa detik. Entah mengapa, ia merasa pernah melihat wajah itu sebelumnya. Perasaan familier yang sulit dijelaskan.
Namun, Faz segera menepis rasa penasarannya. Setidaknya, kini ia bisa bernapas lega karena perempuan yang selama beberapa hari terakhir membuatnya gelisah itu akhirnya ditemukan.
Sayangnya, melihat Hannah yang tampak begitu murung justru membuat kegelisahannya kembali muncul.
“Hannah,” panggilnya pelan.
Hannah terdiam sesaat sebelum mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu, tetapi tak ada sapaan hangat seperti biasanya. Hannah justru segera mengalihkan pandangan.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Faz.
Hannah mengangguk kecil. “Aku baik-baik saja.”
“Kalau kamu baik-baik saja, kenapa menghilang selama empat hari? Kami semua mencarimu.”
Hannah kembali terdiam. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Alih-alih menjawab pertanyaan Faz, ia justru melirik Riri, seolah meminta perempuan itu mengambil alih percakapan.
Riri yang memahami isyarat tersebut segera angkat bicara.
“Kami cuma ingin menyegarkan pikiran sebentar. Maaf, Faz, aku nggak sempat mengabarimu lebih dulu. Begitu juga kamu, Farah.”
Farah langsung memasang wajah merajuk.
“Ah, Kak Riri memang jahat! Kenapa nggak bilang dari awal? Aku sampai khawatir setengah mati!”
Riri terkekeh kecil. “Iya, iya. Maaf, deh.”
“Sebagai gantinya, bagaimana kalau kita jalan-jalan bersama?” tawar Riri, berusaha mencairkan suasana.
Farah yang semula merajuk langsung mengangguk antusias.
“Boleh! Aku mau!”
Riri kemudian menoleh kepada Faz.
“Faz mau ikut?”
“Oke,” jawab Faz singkat.
Ia pun beranjak dari tempat duduknya. Namun, baru saja berdiri, pandangannya mendadak kabur. Ruangan di sekelilingnya tampak berputar, membuatnya kehilangan keseimbangan dan sedikit terhuyung.
Faz segera memejamkan mata, lalu mengedipkannya berkali-kali. Ia berharap pandangannya segera kembali normal.
Jangan... jangan sekarang. Kumohon, jangan kambuh sekarang.
Tangannya meraih sisi sofa untuk menopang tubuhnya. Ia berusaha mengatur napas, tetapi dengingan nyaring mulai memenuhi telinganya.
“Faz?”
“Kak Faz!”
Suara Riri dan Farah terdengar bersahutan, seolah datang dari tempat yang jauh.
Faz berusaha menegakkan tubuhnya. Setelah pandangannya perlahan membaik, ia segera melangkah menuju kamar mandi tanpa banyak bicara.
Begitu pintu tertutup, Faz menyandarkan tubuhnya di dinding. Napasnya terasa berat. Ia kemudian duduk di atas kloset, menundukkan kepala sambil menekan dadanya, berusaha menenangkan diri.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merogoh saku untuk mengambil obat yang sejak tadi dibawanya. Ia segera menelannya, lalu memejamkan mata sejenak.
Jangan sampai mereka tahu.
Terutama Hannah.
Entah mengapa, di tengah rasa sakit yang kembali menyerangnya, justru wajah perempuan itu yang terlintas di benaknya.
Beberapa menit kemudian, Faz keluar dari kamar mandi.
Ketiga orang yang menunggunya di ruang tengah langsung menoleh. Wajah mereka menyiratkan kecemasan yang sulit disembunyikan.
“Kamu baik-baik saja, Faz?” tanya Riri.
Faz mengangguk, berusaha memasang ekspresi biasa. “Iya, aku baik-baik saja.”
Hannah menatapnya dari sofa. Ada kecemasan yang jelas tergambar dalam sorot matanya, meski ia berusaha menyembunyikannya dengan menunduk. Ia ingin bertanya lebih jauh, tetapi sesuatu menahannya. Ia tak ingin kembali melibatkan diri terlalu jauh dalam kehidupan laki-laki itu.
“Apa Kak Faz yakin mau ikut jalan-jalan?” Farah ikut bertanya. “Tadi Kakak kelihatan nggak sehat.”
“Iya, Faz. Lebih baik kamu istirahat saja,” saran Riri.
Faz menggeleng pelan.
“Aku nggak apa-apa. Kita jadi pergi, kan?”
Tatapannya beralih kepada Hannah.
Hanya sesaat, tetapi cukup untuk menunjukkan sesuatu yang tak mampu ia ucapkan. Seolah-olah ia sedang menunggu perempuan itu mengatakan sesuatu. Barangkali sebuah pertanyaan sederhana, atau sekadar menunjukkan bahwa ia masih peduli.
Namun, Hannah justru memalingkan wajah.
Faz tersenyum tipis, berusaha mengabaikan rasa kecewa yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya.
“Kalau begitu, ayo,” ajak Riri akhirnya.
Mereka pun bersiap meninggalkan vila.
Pantai menjadi tujuan mereka siang itu.
Angin laut berembus lembut, membawa aroma asin yang khas. Suara debur ombak terdengar berulang kali, menyapu pasir sebelum kembali surut ke tengah laut. Langit cerah, sementara matahari memantulkan cahaya berkilauan di permukaan air.
Farah berjalan paling depan bersama Riri. Sesekali keduanya tertawa membicarakan hal-hal ringan, berusaha menikmati waktu yang sudah lama tak mereka habiskan bersama.
Sementara itu, Hannah berjalan beberapa langkah di belakang mereka. Pandangannya sesekali tertuju pada ombak, seolah laut lebih mampu memahami kegelisahannya daripada siapa pun.
Faz berjalan tidak jauh darinya.
Beberapa kali laki-laki itu melirik Hannah, berharap perempuan itu mau menoleh atau setidaknya mengajaknya bicara. Namun, Hannah seolah sengaja menjaga jarak.
Hingga akhirnya, Faz tak lagi mampu menahan diri.
“Hannah, boleh aku bicara sebentar?”
Langkah Hannah terhenti.
Ia menoleh perlahan. “Ada apa, Faz?”
Faz menatapnya lekat-lekat. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan. Tentang kepergian Hannah, tentang sikapnya yang berubah, dan tentang keganjilan yang sejak tadi ia rasakan setiap kali melihat perempuan itu.
Namun, sebelum sempat mengucapkan satu pun pertanyaan tersebut, pandangannya kembali berkunang-kunang.
Kali ini, lebih hebat daripada sebelumnya.
Faz terdiam. Tangannya mengepal, berusaha menahan tubuhnya agar tetap tegak.
“Hannah...” panggilnya lirih.
Hannah yang melihat perubahan wajah Faz sontak mendekat.
“Faz? Kamu kenapa?”
Faz berusaha menjawab, tetapi bibirnya terasa kelu. Pandangannya semakin gelap, sementara suara ombak perlahan terdengar menjauh.
Dan sebelum Hannah sempat meraih lengannya, tubuh Faz mendadak limbung.
“KAK FAZ!”
Teriakan Hannah memecah suara debur ombak.
Di saat yang sama, Faz kehilangan kesadarannya.
semangat terus kaa😍😍
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊