NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30: Lebaran di Desa

Beberapa bulan berlalu, lalu Ramadan berakhir dengan suara takbir yang memenuhi Desa Rejosari.

Itu Lebaran pertamaku sebagai istri Arya dan Bunda di rumah ini.

Sejak malam sebelumnya, ketupat bergantungan di dapur. Opor ayam mendidih di satu panci, rendang pesanan memenuhi dua panci lain, dan anak-anak berkali-kali memeriksa baju baru mereka.

Raka memilih koko putih sederhana. Bayu ingin mengenakan peci sejak tidur. Sasa berjalan mondar-mandir dengan gaun hijau dan mengulang bunyi pendek yang sudah dikenalnya.

“Un-da. Yah.”

“Ayah,” koreksi Bayu.

Sasa menunjuk Arya. “Yah.”

“Sudah bagus,” kataku sebelum Bayu membuat adiknya frustrasi.

Pagi hari, kami berangkat untuk salat Id bersama warga. Setelahnya, orang-orang bersalaman, saling meminta maaf, dan bergerak dari satu rumah ke rumah lain. Bayu mengumpulkan uang THR dalam tas kecil. Raka pura-pura tidak menghitung, tetapi menyimpan semua amplop sesuai nama pemberi. Sasa lebih tertarik pada warna amplop daripada isinya.

Di halaman musala, Bayu meminta maaf kepada Raka karena pernah menyembunyikan kaus kakinya. Raka membalas dengan meminta maaf karena sering menyebut adiknya berisik.

“Berarti setelah ini aku boleh berisik lagi?” tanya Bayu.

“Bukan begitu maksudnya.”

Sasa menangkupkan kedua tangan seperti melihat orang dewasa bersalaman, lalu menempelkan pipinya pada tanganku. Warga di sekitar kami tertawa. Aku mengajarinya mengucapkan “maaf”, tetapi yang keluar hanya “af”. Tidak ada yang memaksanya mengulang.

Arya menyalami Pak Kades, para pekerja peternakan, dan lelaki tua yang pernah menjadi gurunya. Banyak orang masih memanggilnya Komandan sejak pesta pernikahan, tetapi pagi itu dia hanya seorang warga yang ikut menggulung tikar dan mengangkat pengeras suara setelah acara.

Aku membantu ibu-ibu membagikan ketupat kepada keluarga yang tidak sempat memasak. Gotong royong itu membuat Lebaran terasa bukan sekadar jamuan di rumah besar kami, melainkan perayaan seluruh desa.

Saat pulang, aku menemukan pintu kamar mandi belakang tertutup kain.

“Ada apa?” tanyaku.

Arya membuka kain itu. Di dalamnya terdapat bak mandi besar yang dibuat khusus, lengkap dengan alas anti-selip, pegangan, dan pemanas air kecil. Selama Ramadan aku pernah mengeluh air sumur terasa terlalu dingin sebelum Subuh, tetapi tidak pernah meminta apa pun.

“Mas membuat ini kapan?”

“Dua minggu.”

“Aku tidak dengar pekerjanya.”

“Dikerjakan saat kamu mengantar pesanan.”

Aku menyentuh tepi bak yang halus. “Ini terlalu besar.”

“Kamu suka berendam.”

“Aku cuma pernah bilang sekali.”

“Aku dengar.”

Di sisi bak ada rak kecil untuk sabun, bangku pendek agar aku tidak terpeleset, dan gantungan pakaian yang tingginya sesuai tanganku. Arya bahkan memasang pengunci luar untuk mencegah Sasa masuk sendirian.

“Mas memikirkan semuanya?”

“Belum.”

“Apa yang belum?”

“Tirai yang kamu suka belum datang.”

Aku memukul lengannya pelan. “Tidak perlu menambah apa pun.”

“Sudah dipesan.”

Dia berjalan pergi sebelum aku bisa membatalkan. Dari pintu, Bayu berseru bahwa Ayah selalu begitu kalau takut dimarahi. Arya menatapnya sampai dia bersembunyi di belakangku.

Jawaban itu membuat hadiah mahal terasa lebih sederhana dan lebih berharga. Dia tidak membeli karena hari raya menuntutnya. Dia hanya menyimpan satu keluhan kecilku, lalu mengubahnya menjadi kenyamanan.

Menjelang siang, keluarga Tegalsari datang. Pak Sukri membawa pisang dari kebun, Bu Minah membawa sambal goreng hati, dan Sari membawa kue kering buatannya. Aan, Rian, serta Rio membantu memindahkan kursi ke halaman.

Rumah dipenuhi salam, tawa, dan piring yang tak pernah sempat kosong.

Raka membagikan amplop THR kecil kepada Sasa dan Bayu dari uang tabungannya sendiri. Bayu langsung ingin membeli sepatu bola, sedangkan Raka menyarankan sebagian ditabung. Aku membantu mereka membagi uang ke dua amplop bertuliskan pakai dan simpan.

“Kalau punya uang sendiri, boleh beli apa saja?” tanya Bayu.

“Boleh memilih, tapi tetap pikirkan kebutuhan,” jawabku.

Pak Sukri tertawa. “Baru dapat THR sudah rapat keuangan.”

Arya menaruh amplop tambahan di depan ketiga anak. “Yang ini untuk sekolah.”

Bayu mendesah, tetapi memasukkannya ke bagian simpan.

Bu Minah memelukku lama. “Maafkan Ibu kalau selama ini banyak kurang.”

“Aku juga minta maaf, Ibu.”

“Tidak boleh menangis saat Lebaran,” kata Rio.

“Kamu sendiri matanya merah,” balas Rian.

“Kena asap rendang.”

Mereka bertengkar sampai semua orang tertawa.

Arya duduk bersama Pak Sukri membicarakan kebun dan harga pakan. Dia tidak memperlakukan ayahku seperti tamu miskin yang harus berterima kasih. Pak Sukri juga tidak lagi terus-menerus meminta maaf berada di rumah besar. Sedikit demi sedikit, dua keluarga itu menemukan cara duduk di meja yang sama.

Wati datang sore hari bersama suaminya, Sofyan.

Sofyan berpakaian sangat rapi dan membawa parcel mahal. Dia menyalami Arya berkali-kali, memuji perkembangan peternakan, lalu mengatakan siap membantu jika ada urusan di kota.

“Keluarga harus saling mendukung,” katanya.

Aku sudah terlalu sering mendengar kalimat itu sebelum permintaan muncul.

Wati memelukku dan langsung menawarkan bantuan di dapur. Pergelangan tangannya memiliki bekas kebiruan yang cepat ditutup oleh lengan baju ketika aku melihat.

“Terbentur lemari,” katanya sebelum kutanya.

Sofyan memanggil dari ruang depan. Wati tersentak kecil, lalu kembali tersenyum.

Aku menyimpan hal itu dalam hati.

Di dapur, dia bertanya lagi tentang santan, lama memasak, dan urutan bumbu. Aku menjawab hal umum sambil mengalihkan buku resep ke lemari berkunci.

“Mbak masih curiga kepadaku?” tanyanya sambil tertawa.

“Resep usaha memang disimpan.”

“Aku cuma ingin masak untuk suamiku.”

“Saya bisa ajarkan rendang rumahan lain waktu.”

Wati mengangguk. Namun matanya mengikuti tanganku saat membuka wadah campuran rempah.

Menjelang Magrib, halaman semakin ramai oleh halalbihalal. Anak-anak berlari membawa THR, para lelaki membereskan kursi lewat gotong royong, dan Bu Minah membantuku membungkus makanan untuk dibawa pulang.

Aku keluar sebentar mengantar piring ke teras.

Ketika kembali, Wati membungkuk di depan kompor. Ponselnya terangkat, kamera diarahkan pada panci semur daging dan deretan bumbu yang baru kupakai.

Terdengar bunyi kamera.

Wati menoleh dan mendapati aku berdiri tepat di belakangnya.

1
мєσωzα
kenapa gak langsung dipecat aja si inah itu?
Sri Supriatin
lanjuut thor...eeh sy bc marathon kok .. kayanya sdh end🤭🤭🤣🤣
Sri Supriatin
gas keun pa Arya😍😍😍😍
Sri Supriatin
6 bulan lho ....anak2kurus n bi Inah kayaaa....ampun lebih galak dr mak tiri atau mertua tocik
Sri Supriatin
mampir ah, certanya end, jd ngk nunggu up🤭🤭biar marathon bc👍👍👍
Sri Hartini
wah2 akhirnya jd nyonya Arya
Sri Hartini
nah bik inah ketahuan bohongnya
Sri Hartini
pamanya terlalu sibuk di peyernakan jd nggak peduli sama ponakan
Sri Hartini
om nya kurang perhatian pdhal ponakannya kurus2
Sri Hartini
padahal bi inah msh sodara kok tega ya
Sri Hartini
arya kenapa diem klau ponakannya kurus
Sri Hartini
lamjut
Sri Hartini
lanjut ceritanya seru
Sri Hartini
ceritanya bagus
Anik Setyowati
iya kadang q bingung critanya,bener sih nggak monoton critanya nggak itu itu aja critanya,tp kapan crita kuliahnya,
Anik Setyowati
semua wanitanya iri sama Laras,tapi tidak membuat dirinya berusaha menjadi seorang wanita yg dibarengi dengan perbuatan yg baik,meningkatkan kecerdasanya, meningkatkan perekonomianya dengan jalan yg halal dan kerja keras,tapi mendahulukan prasangka buruk iri dengki,dan akhlak tercelah,nggak bisa mengontrol emosi yg malah akan menghancurkan hidup dan kebahagiaannya
Anik Setyowati
kenapa pernikahan denandra dan Almira tidak disetujui,sedangkan damar dan Vera disetujui,apakah karna Vera anak orang terpandang dan Almira anak orang biasa orang desa,padahal Vera tidak ada kelebihannya, ahklaqnya buruk
Anik Setyowati
orang seperti ini nggak pantas jadi guru,jual gorengan aja setiap hari berinteraksi sama gorengan, nggak ada orang iri sama gorengan
Anik Setyowati
Bu Ratih takut kecerdasannya tersaingi anak bocil,kasihan deh otaknya tumpul bukan tumpul ilmu tp tumpul mengelolah emosi kejiwaanya nol kosong nol,tua ilmu kedewasaannya nggak ada,yg ada ambisi dan kesombongan
Anik Setyowati
kalau Arya jadi mantu bik Inah boh aboh kasihan 3 anak krucil itu pasti di sia siakan,belum jadi aja 3 Mak itu sudah nggak terawat apalagi jadi,sungguh ancur dunia persilatan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!