“Pernikahan ini hanya ikatan di atas kertas. Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu.”
Duka membeku di hati Arjuna. Sejak kepergian istri tercintanya, jenderal muda yang disegani itu mengubur rapat hatinya untuk siapa pun. Namun, sebuah wasiat terakhir memaksanya menikahi Arunika, perempuan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan menjadi pendamping hidupnya.
Di mata Arjuna, Arunika hanyalah wanita bertubuh gemuk, sederhana dan tak pantas berjalan di sisinya. Ia menerima pernikahan itu semata demi menghormati pesan terakhir mendiang istrinya dan memberikan seorang ibu bagi putra kecil mereka.
Saat Arunika perlahan menaklukkan hati putra kecilnya, sang Jenderal pun mulai goyah.
Bisakah Arjuna mempertahankan dinding esnya ketika wanita yang ia remehkan justru menjadi satu-satunya alasan jantungnya berdetak kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4
"Terserah. Lakukan saja apa maumu. Karena kau istriku sekarang, kau juga ibu dari Nakula," ucap Arjuna tegas sembari mengenakan jam tangannya.
Belum sempat Arunika menjawab, ponsel dinas Arjuna yang tergeletak di atas nakas bergetar nyaring memecah keheningan kamar. Pria itu langsung menyambar perangkat tersebut.
"Arjuna."
Wajah sang jenderal yang semula datar berubah semakin serius dalam hitungan detik. Garis rahangnya mengetat.
"Baik, saya mengerti situasinya."
Hanya beberapa kalimat singkat yang diucapkan. Namun dari sorot mata elang yang mendadak tajam, Arunika tahu panggilan itu menyangkut keadaan darurat yang bukan urusan main-main.
Arjuna langsung menutup sambungan telepon, lalu mengambil dompet, pistol dinas dan kunci mobil.
"Aku harus pergi sekarang," ucapnya singkat.
Arunika mengerjap bingung. "Sekarang? Jam segini?"
"Ada operasi militer mendadak di perbatasan."
"Tapi, ini malam pertama kita sebagai suami istri, Jenderal," protes Arunika setengah bercanda untuk mencairkan suasana.
Arjuna menghentikan langkahnya di dekat pintu, menoleh sekilas tanpa senyuman.
"Negara tidak pernah menunggu sampai urusan pribadi seorang perwira selesai."
Jawaban itu begitu dingin, nyaris tanpa emosi. Pria itu menyambar jaket hitamnya, lalu menatap Arunika lekat-lekat.
"Aku menitipkan rumah ini padamu."
Arunika sedikit tertegun. Kalimat itu terdengar berbeda, seolah ada secercah kepercayaan yang terselip. Namun harapan itu langsung dihancurkan oleh kalimat berikutnya.
"Jangan ganggu Mama dan Kak Wina."
Arunika mengembuskan napas berat. "Tentu saja."
"Dan jangan memaksa Nakula menerima kehadiranmu di rumah ini."
"Tenang saja, aku tidak berniat memaksanya."
"Kalau suatu saat dia mengusirmu dari kamarnya, biarkan saja."
Alis Arunika langsung terangkat tinggi-tinggi. "Hah?"
Arjuna tetap memasang wajah tanpa dosa. "Dia anak yang keras kepala, belum terbiasa dengan orang baru."
"Lalu saya harus bagaimana kalau diusir?"
"Bersabar."
"Itu saja?"
"Ya."
Arunika berdecak kesal. "Enak sekali ya ngomongnya tinggal nyuruh sabar."
"Ada masalah dengan ucapanku?"
"Tidak." Arunika tersenyum tipis penuh arti. "Tapi kalau saya benar-benar diusir anak anda, jangan salahkan saya kalau nanti saya balik mengusir seisi rumah ini."
Tatapan Arjuna berubah tajam mengintimidasi. "Itu ancaman yang berbahaya."
Arunika mengangkat kedua tangannya santai. "Saya tidak sedang mengancam, saya sedang memperingatkan."
Beberapa detik lamanya mereka saling melempar tatapan menantang. Tidak ada yang mau mengalah sedikit pun.
Akhirnya Arjuna mengembuskan napas pendek, menyerah pada perdebatan itu.
"Jaga dirimu."
Tanpa menunggu balasan, Arjuna melangkah cepat keluar kamar. Suara pintu yang menutup rapat disusul derap sepatu menjauh.
Arunika berjalan mendekati jendela kaca balkon, melihat mobil Arjuna menghilang di balik gerbang.
"Hih, suami macam apa itu? Baru beberapa jam menikah sudah main kabur tugas. Ya, syukurlah, setidaknya aku bisa tidur tenang tanpa risih," gumamnya sebal, lalu terkekeh pelan.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu terdengar. Arunika membukanya tanpa rasa curiga sedikit pun. Di luar sana, Ratna dan Wina sudah berdiri dengan senyum paling ramah yang belum pernah ia lihat.
"Arjuna sudah berangkat tugas?" tanya Ratna dengan suara lembut yang dibuat-buat.
"Iya," jawab Arunika hati-hati.
"Kalau begitu, turunlah. Kami menunggumu untuk makan malam bersama," timpal Wina manis.
Arunika mengernyit heran. Tadi wanita-wanita itu menatapnya jijik, sekarang mendadak ramah? Meski menyimpan curiga, ia tetap mengekor di belakang mereka menuju ruang makan yang megah.
Setibanya di meja makan, topeng ramah itu langsung runtuh. Ratna duduk angkuh di kursi utama, sementara Wina di sebelah kanannya.
Saat Arunika hendak menarik kursi kosong di dekatnya...
"Eh, jangan di situ," cegah Wina ketus. "Itu kursi Arjuna."
Arunika mengangguk kaku. "Oh, kalau begitu saya duduk di seberang."
"Eits, jangan sembarangan," sambar Ratna dingin. "Itu kursi khusus Nakula."
Arunika mulai paham ke arah mana permainan ini dibawa. Ia bergeser ke kursi lain, tapi Wina langsung mendengus sinis.
"Kursi itu untuk tamu penting keluarga."
Semua kursi di meja besar itu seolah sudah memiliki pemilik sah. Hingga akhirnya, hanya tersisa satu bangku kayu kecil dan pendek di pojok ruangan yang pengap, tepat di sebelah lemari penyimpanan piring kotor.
"Nah, itu tempat duduk mu. Mulai sekarang, belajarlah tahu diri dan sadar posisi," ucap Ratna tanpa dosa, menatap Arunika meremehkan.
Arunika memandangi bangku kecil itu cukup lama. Senyum di bibirnya perlahan lenyap. Ia kini sadar, keramahan palsu di ambang pintu tadi hanyalah trik murahan untuk mempermalukannya. Begitu Arjuna pergi, sifat asli mereka langsung keluar.
Pyar!
Arunika dengan sengaja meraih gelas kristal di dekatnya dan sengaja menjatuhkannya ke lantai.
"Ups, tidak sengaja," ucap Arunika, sebelah tangannya menutup mulut sementara matanya menatap tajam ke arah Ratna dan Wina yang terperanjat kaget.
Ratna bangkit dari kursinya dengan napas memburu.
"Apa-apaan kau, hah?! Berani sekali membuat kekacauan di rumah ini!"
Alih-alih menciut, Arunika justru melangkah maju dengan anggun. Ia menatap mertua dan iparnya itu bagai mangsa di hadapan predator.
"Kalian kira aku ini boneka pajangan yang bisa ditaruh di pojokan begitu saja? Asal kalian tahu, di depan Arjuna aku mungkin memilih diam. Tapi di hadapan kalian? Jangan harap!" ucap Arunika dingin dan menusuk tajam.
Wina menunjuk wajah Arunika dengan jemari gemetar karena murka.
"Kau!"
"Turunkan telunjukmu sebelum aku patahkan!" sentak Arunika galak, membuat Wina refleks menarik tangannya mundur.
Arunika menyeringai dingin, melipat tangan di dada.
"Rumah ini milik suamiku. Dan statusku di sini adalah nyonya rumah, bukan pembantu yang bisa kalian perlakukan sesuka hati. Kalau kalian berani bermain kotor saat suamiku tidak ada, aku pastikan hari-hari kalian di rumah ini akan jauh lebih buruk dari pecahan gelas itu. Paham?"
Ratna dan Wina membeku. Bibir mereka terbungkam sepenuhnya.
udh pindah aj ke dapur itung2 latihan nanti kalo makan di penjara ,, 🤭🤭🤣🤣🤣 ,, biar gx kaget