Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.
Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.
Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Sejak kemarin, wajah Romi terus masam saat bertemu dengan Seraphina. Dia menyalahkan sang putri atas tergadainya rumah ini kepada rentenir.
"Kenapa menu makan malam kita harus semewah ini?"
Selly berjingkat kaget. Sup panas yang dia bawa sedikit tumpah dan mengenai punggung tangannya.
"Biasanya, menu makan malam kita memang seperti ini. Tidak ada yang berubah," kata Selly kepada sang suami.
"Mulai besok, masak makanan yang sederhana saja. Kita harus memangkas pengeluaran rumah tangga demi membayar cicilan hutang pada lintah darat itu," timpal Romi.
Selly mengangguk, mencoba memahami kesulitan sang suami yang sekarang hanya bergantung pada gaji kantoran dan usaha toko souvenir mereka.
Awalnya, Romi memang mendapatkan warisan yang cukup banyak dari orangtuanya. Namun, karena ketidakmampuan mengelola keuangan, warisan itu perlahan-lahan habis dan kini mereka mulai merasakan kesulitan.
"Kalau begini terus, kepalaku bisa benar-benar pecah. Kenapa semua perempuan di rumah ini hanya tahu menghabiskan uang saja?" gerutu Romi.
Dia menatap Seraphina sesekali. Berharap, sang putri akan merasa tersinggung dengan ucapannya. Namun, yang justru terjadi adalah Seraphina tak peduli.
Ia tetap makan dengan lahap. Fokusnya hanya tertuju pada makanannya hingga benar-benar habis.
"Ibu, terimakasih atas makanannya," ucap Seraphina. Dia mendorong kursi ke belakang dan segera naik ke kamarnya.
"Lihat putri bungsu mu!" kata Romi dengan suara yang masih bisa didengar oleh Seraphina. "Kita jadi kesulitan begini gara-gara dia. Tapi, apa dia merasa bersalah meski hanya sedikit? Tidak, kan? Rugi besar aku memiliki anak seperti dia."
Apakah Seraphina peduli? Bahkan, sakit hati di hatinya pun perlahan mulai memudar.
"Sera, Kaivan menunggumu dibawah," teriak Selly dengan suara yang terdengar lembut.
Seraphina yang sedang fokus melukis sontak meletakkan kuasnya. Dia membuka pintu lalu turun ke bawah bersama sang Ibu.
"Sera, orangtuaku sudah datang," kata Kaivan dengan ekspresi gugup.
Dia takut sekali rencana pernikahannya dengan Kalani akan batal. Padahal, Kaivan sudah mengucurkan banyak dana demi mewujudkan impian pernikahan megah dan mewah yang sangat diidam-idamkan oleh Kalani.
"Baik. Kita temui mereka."
"Iya. Ayo!"
Kaivan menarik pergelangan tangan Seraphina. Namun, perempuan itu tetep bergeming di tempatnya.
"Kenapa?" tanya Kaivan tak mengerti.
Tatapan Seraphina jatuh pada tangan Kaivan yang sedang memegang tangannya.
"Lepaskan!" titahnya dingin.
Menyadari apa salahnya, Kaivan pun bergegas melepaskan tangan Seraphina. Tadi, dia terlalu bersemangat sehingga lupa menjaga batasan.
"Ma-maaf!"
Namun, Seraphina tak butuh permintaan maaf itu.
Sepanjang perjalan pulang ke rumah yang pernah dia tinggali selama empat tahun lamanya, Seraphina memilih untuk memejamkan mata. Dia sengaja memasang headset di telinganya. Memberi batas yang begitu jelas agar Kaivan tidak mengajaknya bicara.
Kaivan menyadari hal itu.
Dia tahu, Seraphina sudah membangun tembok tinggi diantara mereka.
Perempuan itu sungguh tak ingin lagi terlibat lebih jauh dengan dirinya.
"Seraphina!!!"
Begitu turun dari mobil, Seraphina langsung memasang wajah tersenyum ceria. Dia memeluk wanita paruh baya yang selama empat tahun ini ia panggil dengan sebutan ' Ibu mertua' itu dengan erat.
"Ibu, apa kabar?" tanya Seraphina.
"Ibu baik-baik saja," jawab Diani, Ibunda Kaivan.
Seraphina mengangguk. Dia mengajak wanita paruh baya itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Sera, kenapa kamu tiba-tiba pulang ke rumah orangtuamu? Padahal, kamu tahu sendiri kalau hari ini kami akan datang ke sini," tanya Wirya, Ayah Kaivan dengan sorot mata tak suka.
"Ibumu sangat merindukan masakanmu. Harapannya, dia bisa langsung mencicipi makanan buatanmu begitu sampai di sini. Tapi, saat tiba tadi, yang kami dapati hanya rumah kotor dan berdebu," lanjut Wirya.
"Kalau begitu, aku akan memasak sekarang untuk Ibu. Tidak apa-apa, kan?"
Sebelum Ayah dan Ibu mertuanya menjawab, Seraphina sudah melangkah lebih dulu menuju dapur. Tak lama, Kaivan datang sambil membawakan bahan masakan yang tadi sempat mereka beli dalam perjalanan.
"Taruh di situ saja. Terimakasih," ucap Seraphina kepada Kaivan.
Pria itu tampak begitu canggung. Dia ingin sekali mengajak Seraphina berbincang panjang lebar seperti biasanya, namun rasanya begitu sangat sulit.
Akhirnya, setelah berdiri canggung cukup lama, Kaivan memilih undur diri tanpa berkata sepatah kata pun.
"Kenapa kamu malah ke sini?" tegur sang Ibu saat putranya datang dan duduk disampingnya.
"Aku..."
"Cepat kembali ke dapur! Bantu istrimu memasak!" titah perempuan paruh baya itu.
Kaivan ingin menolak. Namun, sang Ibu terus memaksanya.
Ia pun tak ada pilihan lain selain mengalah dan menuruti permintaan sang Ibu.
Langkah Kaivan semakin pelan saat dia kembali ke dapur. Ia berhenti dan hanya diam mematung memandangi Seraphina yang sedang fokus memotong-motong sayuran.
Tanpa sadar, dia tersenyum kecil. Dulu, saat mereka masih menjadi suami istri, Kaivan suka sekali memeluk Seraphina dari belakang saat perempuan itu sedang memasak.
"Kaivan, ada apa? Kenapa kamu kembali lagi kemari?"
Suara Seraphina membuyarkan lamunan Kaivan.
"I-Ibu memintaku untuk membantumu memasak."
Kaivan mendekat dengan perasaan gugup.
Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang saat kenangan masa lalu terus memenuhi isi kepalanya.
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Lebih baik, kamu temani Ibu saja."
"Tapi, jika aku kembali ke sana, Ibu pasti akan memarahiku lagi. Jadi, biarkan saja aku di sini. Tidak apa-apa, kan?"
"Terserah kamu saja," timpal Seraphina terkesan tak peduli.
Setelah makan siang akhirnya selesai dibuat, mereka pun berkumpul di meja makan. Kedua orangtua Kaivan cukup peka untuk tahu bahwa putra dan menantu mereka sedang memiliki masalah.
"Sebenarnya, apa yang kalian sembunyikan dari kami? Kenapa Seraphina tiba-tiba menelfon dan meminta kami kemari? Kenapa Seraphina harus tinggal di rumah orangtuanya? Dan... kenapa kalian terlihat seperti orang asing saat ini?" cecar Diani penuh rasa ingin tahu.
Seraphina menatap kosong ke arah teko air minum. Sementara, Kaivan menatap ke arah Seraphina, seolah meminta agar perempuan itu bisa membereskan situasi ini secepat mungkin.
"Ayah, Ibu..." Suara Seraphina mulai terdengar. "Aku dan Kaivan sudah bercerai."
Uhuk!
Ting!
Wirya tersedak makanan. Sementara, sendok yang dipegang Diani mendadak jatuh.
"A-apa maksudmu Sera? Bercerai? Bercerai bagaimana maksudnya?"
"Kami sudah bercerai secara sah. Akta cerainya bahkan sudah ada ditangan kami masing-masing."
Brak!
Wirya menggebrak meja makan dengan keras. Wajahnya tampak begitu tegang, diselimuti oleh kemarahan.
"Apa kalian berdua sudah gila? Kenapa kalian bisa mengambil keputusan sepihak begitu saja? Kenapa bercerai tanpa diskusi dulu dengan kami?"
"Maaf, Ayah! Aku..."
Plak!
"DIAM!!" hardik sang Ayah.
"Sekarang, katakan dengan jujur! Apa yang membuat kalian bercerai?"
Kaivan meneguk ludahnya dengan kasar. Dia menoleh ke arah Seraphina. Menunggu wanita itu untuk menjawab.
"Kaivan jatuh cinta pada perempuan lain dan itu bukan salahnya. Aku yang salah. Aku yang tidak bisa membuatnya jatuh cinta padaku bahkan setelah empat tahun berlalu."
menyusun rencana merebut lagi
noah & sera kalian keren sekali 🤭🤭🤭🤭