Rasa yang tidak seharusnya ada itu kian tumbuh pada Carol, dari sebuah kekaguman berubah menjadi cinta. Carol mengubur semua itu dalam-dalam karena cinta itu tidak akan pernah bisa dia gapai. Sampai suatu hari dimana ternyata semesta seperti memberinya sebuah kesempatan. Dan Carol tidak mau menyia-nyiakannya, dia berjuang mendapatkan sesuatu yang sebelumnya terasa sangat mustahil itu. Dia mengambilnya meski harus menghadapi banyaknya sudut pandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MeNickname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Carol!"
Mendengar namanya disebut Carol pun menoleh, "Andrew?"
Pria itu terlihat marah, matanya menyorot tajam saat melihat seorang pria sedang duduk dan mengobrol begitu akrab dengan Carol.
"Kau bilang kau tidak peduli, tapi kau tetap mencariku." batin Carol.
Baiklah, dia akan memanfaatkan kesempatan ini.
Carol langsung berdiri begitupun dengan pemuda yang menemaninya mengobrol tadi, saat gadis itu ingin melangkah dia menyandungkan kakinya pada kaki kursi yang membuatnya kehilangan keseimbangan. Dan sesuai rencana pemuda itu menangkap tubuhnya tepat di depan Andrew.
Carol tersenyum licik, dia menatap pemuda itu dengan intens.
"Oh My God, thank you!"
Pemuda itu tersenyum manis, kemudian dia pun membantu gadis itu berdiri kembali namun siapa sangka ternyata Andrew malah menarik Carol.
"Kemari!"
Carol menghempaskan tangan Andrew, "Lepas! Mau apa kau kesini?"
"Sudah tentu aku mau membawamu pulang." balasnya datar. Walau sebenarnya dia marah karena Carol menolak disentuh.
"Aku sudah dewasa. Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau. Seharusnya kau tidak perlu repot-repot seperti ini." balas Carol tak kalah dingin.
Sementara pemuda tadi hanya diam di tempatnya. Dia kemudian berdiri dan menyapa, "Halo Om, saya Lucas. Teman kuliahnya Carol."
Andrew hanya menatap pemuda itu sekilas, kemudian kembali berbicara pada Carol, "Ayo kita pulang, Carl."
"Oh plis, ini hidupku. Aturanku. Kenapa kau begitu peduli?"
"Ini semua karena aku.."
"Apa? Dengar ya kau itu tidak berhak mengatur-ngaturku. Karena kau ini bukan siapa-siapa untukku. Ngerti?"
"Aku kakak iparmu, keselamatanmu juga adalah tanggung jawabku Carl. Ibu dan kakakmu sudah mempercayai aku untuk menjagamu."
"MANTAN. Kau itu hanya MANTAN kakak iparku."
Carol menekan setiap katanya, sekarang dia sudah merasa muak sekali padahal sebelumnya dia sudah sangat berharap dengan jawaban Andrew, tapi ternyata pria itu mengecewakannya lagi.
"Pergi sana, jangan mengganggu malamku!" usirnya kemudian. Dia bahkan menunjuk arah pintu keluar.
"Jangan menguji kesabaranku, Carl. Ayo kita pulang." nada bicara Andrew terdengar tertahan namun mulai memaksa.
"Permisi Om, biarkan dia disini. Aku janji akan menjaganya. Lagipula kami sudah saling kenal sejak lama." Lucas akhirnya ikut bicara.
"Thanks, Lucas." Carol tersenyum manis, manis sekali. Sampai membuat Andrew mengepalkan tangannya karena tidak suka.
"Kenapa? Memang seharusnya begini bukan? Dia pantas bersama pemuda seusianya bukan dengan seorang duda yang umurnya lima belas tahun lebih tua sepertiku." batinnya.
"Kau dengar itu? Lucas itu temanku, dia tidak akan menyakitiku."
Andrew terdiam, dia menatap Lucas dan Carol bergantian.
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu." ucapnya sebelum pergi.
Carol menganga tak percaya, dia pikir pria itu akan memaksanya lebih keras lagi.
Gadis itu pun kembali duduk di kursinya dengan rasa kesal dan kecewa, tangannya mengepal kuat dan Lucas bisa melihat itu.
Sementara luar sana Andrew terlihat ragu untuk menyalakan mobil, dia terus menatap pintu masuk tempat hiburan malam itu.
Berbagai pikiran buruk mulai masuk ke dalam pikirannya, dia khawatir dia marah dia tidak rela semuanya bercampur satu.
Cukup lama dia berkecamuk dengan pikirannya sendiri mungkin hampir tiga puluh menit, akhirnya dengan kesadaran penuh Andrew kembali masuk ke dalam, dia mencari Carol ke tempat duduknya tadi tapi tidak ada.
Dia kemudian berlari mencari ke setiap sudut dengan khawatir dan akhirnya dia menemukan Carol di toilet, bersama pria itu.
"Menyingkir kau!" Andrew mengangkat tubuh Carol yang sedang dipapah oleh Lucas.
"Dia terlalu banyak minum dan muntah, aku hanya membantunya." jelas Lucas.
Andrew tidak peduli, dia langsung membawa Carol pergi dari sana.
Dengan yakin Andrew membawa Carol ke dalam mobilnya, memposisikan duduknya supaya lebih aman dan tidak lupa memasangkan seat belt.
"Andrew brengsek!"
"Aku tau kau juga cinta padaku, tapi kenapa? Kenapa sulit sekali mengakuinya?"
"Apa tidak ada alasan lain untuk menghindariku?"
Carol terus meracau dan memaki-maki Andrew. Bahkan dengan mata yang tertutup gadis itu mulai menangis.
"Maafkan aku, Carl." Andrew mengusap air mata Carol, hatinya ikut sakit melihat buliran-buliran bening yang terus bercucuran itu.
"I hate you, Andrew!"