Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.
Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.
Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.
Alden.
Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.
BRAAKK!
Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:
"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: BAYANGAN DI BALIK JENDELA
Langit di atas perbukitan yang mengelilingi kediaman Alden berangsur-angsur menggelap sejak separuh sore.
Awan hitam tebal merayap lambat dari arah utara, bergulung-gulung menutupi pancaran sinar matahari yang tersisa, menciptakan suasana temaram yang menekan dada.
Di dalam kamar tidur di lantai dua, Sesil berdiri di dekat dinding kaca besar, memandangi deretan pohon pinus yang mulai bergoyang hebat dihantam angin kencang.
Hawa dingin perlahan menerobos masuk melalui celah-celah pilar beton, membawa serta aroma tanah basah yang menyengat.
Sesil merapatkan sweter rajut longgar yang dikenakannya. Setiap kali cuaca mendung tebal seperti ini datang, ada kepenatan yang aneh bertengger di tengkuknya.
Sejak terbangun dari koma seminggu lalu, tubuhnya seolah memiliki jam biologis tersendiri yang bereaksi terhadap perubahan cuaca—sebuah memori somatik yang menolak untuk mati, meskipun ingatan kognitifnya telah disapu bersih.
Jepret.
Setitik air hujan pertama menghantam kaca tebal di hadapannya, disusul oleh titik-titik lain yang berjatuhan lebih cepat, lebih rapat, hingga akhirnya berubah menjadi tirai air yang deras.
Suara deburan air hujan yang menghantam atap dan dinding kaca menggema di seluruh sudut ruangan yang luas dan sepi itu.
Seketika, dada Sesil terasa menyempit.
Napasnya tertahan di tenggorokan. Udara yang dihirupnya mendadak terasa begitu tipis dan beracun.
Suara hujan deras itu tidak terdengar seperti irama alam yang menenangkan, melainkan menyerupai deru gemuruh yang memekakkan telinga—seperti suara riuh mesin, jeritan besi yang bergesek, dan langkah kaki tergesa-gesa di atas aspal tergenang.
Jlegur!
Gumpalan kilat menyambar di balik perbukitan, memancarkan cahaya putih menyilaukan yang memotong kegelapan kamar selama sepersekian detik.
BLAM!
Kilas balik kilat menghantam saraf otak Sesil dengan kekuatan destruktif.
Dunia seolah berputar hebat. Sesil kehilangan keseimbangannya dan terjatuh lutut terlebih dahulu ke atas karpet tebal.
Dalam penglihatannya yang mendadak kabur dan terpecah, ia tidak lagi berada di kamar tidurnya yang mewah. Ia terlempar kembali ke sebuah malam yang basah dan gelap.
Ia berlari. Kakinya yang telanjang membentur genangan air yang dingin. Buku catatan bersampul hitam terdekap erat di dadanya, basah oleh air hujan dan keringat dingin.
Paru-parunya terasa membakar. Di belakangnya, ada suara roda mobil yang berdecit tajam membelah malam.
Lampu mobil menyilaukan memancar dari belakang, memantulkan bayangan tubuhnya yang kaku di dinding gang yang sempit.
"Nggkh...!" Sesil mengerang keras, cengkeraman tangannya meremas karpet hingga jemarinya memutih.
Rambutnya terurai berantakan membasahi pipinya yang mendadak bercucuran keringat dingin.
BZZZT!
Kilatan cahaya tajam kembali menyambar di luar jendela, diikuti suara guruh yang menggelegar dahsyat.
Sesil melihat bayangan pria jangkung melangkah keluar dari dalam mobil. Pria itu memegang payung hitam. Langkah kakinya sangat tenang, sangat santai, berlawanan dengan kepanikan yang mencengkeram jiwa Sesil. Pria itu tidak membawa besi perampok. Ia membawa payung. Dan senyumannya... senyuman itu ada di sana, di balik bayangan hujan.
"Bukan perampok..." bisik Sesil dengan suara tercekat, dadanya memburu keras saat serangan panik menyiksa sistem sarafnya. "Itu... itu bukan perampokan..."
Kilas balik itu terputus kasar secara mendadak, meninggalkan kekosongan hampa dan rasa sakit berdenyut yang hebat di bagian belakang kepalanya.
Sesil terengah-engah di atas lantai, memeluk tubuhnya sendiri yang berguncang hebat. Keringat dingin membasahi pakaiannya.
Setiap kali ia mencoba mengingat rupa pria berpayung hitam itu atau mencari tahu isi buku catatan tersebut, ingatannya membentur tembok kabur yang sangat pekat. Sebuah siklus memori yang tak berujung—datang membawa ketakutan, lalu menghilang sebelum memberikan jawaban.
Pintu kamar mendadak terdorong terbuka dengan keras.
"Sesil!"
Alden melangkah masuk dengan cepat.
Pria itu langsung berlutut di samping Sesil, matanya memancarkan kecemasan yang mendalam. Tanpa ragu, ia merengkuh tubuh Sesil yang gemetaran ke dalam pelukannya, menariknya rapat-rapat ke dadanya.
"Ssshh... tenang, Sayang. Aku di sini. Kamu aman," bisik Alden dengan nada suara yang bergetar penuh keprihatinan.
Tangannya yang besar dan hangat mengusap punggung Sesil berulang kali, mencoba menyalurkan kehangatan.
Namun, dalam cengkeraman serangan panik itu, sentuhan Alden justru terasa seperti jaring perangkap yang makin mencengkeram.
Aroma sandalwood dan hujan malam yang melekat pada tubuh Alden secara mengerikan persis dengan aroma pria yang melangkah keluar membawa payung hitam dalam kilas baliknya.
"Lepas... lepaskan..." bisik Sesil lemah, mencoba mendorong dada Alden dengan sisa tenaganya.
Alden tidak melepaskannya. Malah, cengkeramannya makin menguat secara halus, mengunci gerak Sesil agar wanita itu tetap berada dalam kendalinya. "Jangan bergerak terlalu banyak, Sesil. Trauma kecelakaan itu memicu ketakutan ekstrem pada suara hujan dan cahaya terang. Dokter sudah memperingatkan kita tentang hal ini."
"Alden... hujan itu..." Sesil bersusah payah mengeluarkan suara dari tenggorokannya yang menyempit. "Pria itu... pria di gang itu membawa payung..."
Raut wajah Alden membeku selama sepersekian detik. Manik mata hitamnya berkilat dingin di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi oleh kilatan petir dari luar. Gerakan tangannya yang mengusap punggung Sesil terhenti sejenak, sebelum kembali berlanjut dengan ritme yang lebih teratur.
"Kamu hanya sedang berhalusinasi akibat efek trauma otak, Sayang," ujar Alden halus, namun ada ketegangan terselubung dalam intonasinya. "Tidak ada pria berpayung. Yang ada hanya perampok-perampok brutal yang melukaimu. Otakmu sedang mencoba menyusun pecahan memori yang salah karena rasa takutmu."
Alden mengangkat tubuh Sesil dari lantai, membopongnya dengan mudah ke atas tempat tidur seolah berat badan Sesil tidak ada artinya.
Pria itu kemudian berjalan menuju jendela besar, memutar tuas sakelar, dan menutup tirai bludru tebal bernuansa merah gelap yang secara instan memblokir pandangan ke luar serta meredam suara gemuruh hujan di luar.
Kamar itu kini kembali remang-remang, terisolasi penuh dari badai.
Alden berjalan ke arah meja, mengambil sebuah jarum suntik kecil yang sudah terisi cairan bening dari kotak medis darurat yang selalu disiapkannya. Pria itu kembali duduk di tepi tempat tidur Sesil, menatap wanita yang masih terbaring lemah dengan napas memburu tersebut.
"Ini akan membantumu tenang," kata Alden seraya menyingkap lengan sweter Sesil.
Sesil menatap jarum suntik yang mengkilat di bawah remang lampu. Ketakutan mulai merayap di benaknya. "Tidak... Alden, aku tidak mau disuntik... aku tidak ingin tidur..."
"Ini demi kebaikanmu, Sesil," potong Alden tegas namun penuh kelembutan yang manipulatif.
Matanya menatap Sesil dengan kedalaman otoritas yang tak terbantahkan. "Aku tidak bisa melihatmu tersiksa oleh bayangan-bayangan semu itu. Percayalah padaku. Aku adalah satu-satunya orang yang tidak akan pernah melukaimu."
Sebelum Sesil sempat memberikan penolakan lebih jauh, Alden dengan terampil menancapkan jarum halus itu ke lengan atas Sesil dan menekan pendorongnya hingga cairan bening tersebut meresap penuh ke dalam aliran darahnya.
Hanya dalam hitungan detik, efek zat kimia itu bekerja dengan sangat cepat. Otot-otot Sesil yang tadinya tegang mendadak melumpuh. Serangan panik yang mengamuk di dadanya perlahan mereda, digantikan oleh rasa kantuk yang teramat berat dan kabur yang menutupi seluruh jalan pikirannya.
Gema suara hujan di luar terasa makin jauh, makin samar. Kilas balik tentang gang sempit, buku catatan hitam, dan pria berpayung itu kembali terkubur di bawah lapisan kesadaran yang dimatikan secara paksa.
Sambil memandangi mata Sesil yang perlahan terpejam, Alden membungkuk dan membisikkan kata-kata di telinga wanita itu—kalimat yang sama, dengan nada yang sama, yang terus diulangnya seperti sebuah mantra pengikat:
"Tidur yang nyenyak, Sesil. Saat kamu bangun nanti, bayangan-bayangan itu akan hilang... dan kamu hanya akan mengingat betapa kamu membutuhkan aku."