NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:695
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Up di jam yang sama 12.00 WIB


Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.

Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menyeberangi Benua, Menuju Tanah Leluhur

Keputusan telah diambil. Kepulan asap putih dari cerobong pabrik tua dan kabut tipis khas kota London kini tinggal kenangan yang perlahan-lahan ditinggalkan di balik jendela kaca pesawat komersial yang membawa Martha dan Adnan melintasi ribuan mil langit biru menuju belahan bumi timur.

Bagi Martha, meninggalkan London bukan sekadar pindah tempat tinggal. Ini adalah bentuk pertaruhan terbesar dalam hidupnya. Ia meninggalkan kota tempat ia dilahirkan, lingkaran sosial yang membesarkannya, serta sisa-sisa bayang-bayang keluarganya yang hingga detik-detik terakhir keberangkatannya tidak pernah mengirimkan satu patah kata pun ucapan selamat tinggal. Di dalam tas jinjingnya, tersimpan draf lengkap naskah novel The Javanese Resonance—sebuah karya yang merekam setiap tetes air mata, tawa, dan pergulatan batin dari kisah cinta mereka.

Di sampingnya, Adnan duduk dengan tenang. Selama penerbangan belasan jam itu, pria Jawa tersebut lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku atau memanjatkan doa dalam hati, menyerahkan segala kekhawatiran masa depan yayasan keluarga dan penerimaan masyarakat dusunnya kepada Sang Pencipta. Sesekali, Adnan menoleh untuk memastikan Martha merasa nyaman, menyelipkan selimut di bahu wanita itu atau menggenggam jemarinya yang sempat terasa dingin akibat AC kabin pesawat.

"Tidur sebentar, Martha," bisik Adnan lembut saat mereka melewati zona waktu di atas langit Asia Tenggara. "Perjalanan kita masih panjang setelah mendarat nanti."

Martha mengangguk lemah, menyandarkan kepalanya di bahu bidang Adnan. Ia memejamkan mata, membiarkan aroma kayu cendana tipis dari parfum Adnan menenangkan debar jantungnya yang tak karuan. Ia tahu, sebentar lagi ia akan menginjakkan kaki di sebuah dunia yang sama sekali asing baginya—dunia di mana tradisi leluhur, nilai-nilai ketimuran, dan aturan agama memegang kendali mutlak atas denyut kehidupan sehari-hari.

Tiga belas jam kemudian, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Adi Soemarmo, Surakarta.

Begitu pintu kabin dibuka, gelombang udara tropis yang hangat, lembap, dan beraroma khas tanah basah serta asap kretek tipis langsung menyergap kulit Martha. Suasana bandara Solo tampak jauh lebih tenang, sederhana, dan ramah dibandingkan hiruk-pikuk Bandara Heathrow di London. Suara deru kendaraan bercampur dengan obrolan berbahasa Jawa beraksen kental menyambut kedatangan mereka di area kedatangan.

Adnan berdiri di samping Martha, mengenakan kemeja katun putih polos dan celana bahan gelap, tampak sangat menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Sementara Martha mengenakan pakaian kasual yang sopan—blus lengan panjang berwarna krem dan celana panjang longgar, dengan kacamata hitam yang menutupi sebagian wajahnya untuk menyembunyikan rasa gugup yang luar biasa.

"Selamat datang di Solo, Martha," ucap Adnan tulus, tersenyum hangat sambil merangkul pundak wanita itu pelan. "Tanah kelahiran saya."

Martha menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya dengan udara Jawa yang terasa asing namun kaya makna. "Ini... sungguh berbeda, Adnan. Rasanya seperti melompat ke dimensi waktu yang lain."

Di area penjemputan, sesosok pria paruh baya berbusana lurik tradisional dengan blangkon rapi di kepala tampak berdiri menanti sambil melambaikan tangan. Pria itu adalah Paklik Harjo, paman jauh sekaligus orang kepercayaan yang selama ini membantu mengurus sisa-sisa yayasan joglo peninggalan keluarga Adnan.

"Den Adnan! Alhamdulillah, akhirnya njenengan sampun mantuk!" seru Paklik Harjo dengan senyuman lebar begitu melihat Adnan mendekat. Namun, detik berikutnya, mata pria paruh baya itu beralih menatap wanita asing berambut cokelat madu dan berwajah bule yang berdiri tepat di samping Adnan. Senyuman di wajah Paklik Harjo seketika meredup, digantikan oleh kerutan kening penuh keterkejutan dan kebingungan.

Adnan segera memperkenalkan Martha dengan sikap yang sangat hormat. "Paklik, kenalkan ini Martha... seseorang yang sangat penting dalam hidup saya, yang menemani saya pulang dari London untuk membantu menyelamatkan yayasan kita."

Paklik Harjo menatap Martha dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tidak ada kemarahan atau penolakan kasar seperti yang ditunjukkan oleh keluarga aristokrasi Inggris tempo hari; yang ada hanyalah keterkejutan kultural yang mendalam dari seorang pria paruh baya dusun yang seumur hidupnya jarang berinteraksi dengan orang asing. Dengan sopan, Paklik Harjo mengatupkan kedua tangannya di depan dada, membungkuk sedikit memberikan salam khas Jawa.

"Sembah nuwun, Nduk... selamat datang di Solo," ucap Paklik Harjo dengan suara parau yang ramah, meski sorot matanya menyiratkan sejuta tanda tanya besar tentang kehadiran seorang wanita barat di tengah-tengah tradisi keluarga mereka yang sakral.

Perjalanan dari bandara menuju perkampungan tradisional di pinggiran kota Solo memakan waktu sekitar satu jam menggunakan mobil tua milik yayasan. Sepanjang perjalanan, Martha terpaku menatap pemandangan di luar jendela. Jalanan kota yang rimbun oleh pohon asam tua, deretan rumah-rumah joglo berarsitektur kayu jati klasik, pedagang kaki lima di pinggir jalan, hingga anak-anak berseragam madrasah yang berlari-lari riang di pematang sawah—semuanya menyuguhkan pemandangan yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya di belahan bumi barat.

Menjelang sore hari, mobil yang mereka tumpangi berbelok memasuki sebuah gerbang kayu ukiran khas Jawa yang cukup besar. Di balik gerbang itu, berdiri megah sebuah bangunan rumah joglo tradisional berukuran luas dengan pilar-pilar kayu jati tua yang kokoh, halaman berumput hijau yang bersih, serta beberapa pohon mangga besar yang meneduhkan area sekitar.

Itulah Rumah Joglo Setiawan—pusat kehidupan, seni, dan warisan leluhur Adnan.

Namun, di balik keindahan arsitektur klasiknya, suasana di sekitar joglo sore itu tampak lengang dan sedikit suram. Beberapa bagian atap genting tampak perlu perbaikan, dan halaman samping yang biasanya digunakan sebagai tempat latihan ukir anak-anak dusun terlihat sepi tanpa aktivitas. Masalah keuangan dan ancaman pengambilalihan investor asing benar-benar telah melumpuhkan denyut nadi tempat itu.

Begitu mobil berhenti di halaman depan, beberapa warga dusun—ibu-ibu paruh baya yang mengenakan kain kebaya sederhana dan beberapa pemuda setempat—keluar dari teras joglo. Mereka tertegun melihat kepulangan Adnan, terlebih saat menyadari ada seorang wanita asing berambut pirang kecokelatan yang turun dari mobil bersama pemimpin muda mereka.

Bisik-bisik pelan langsung berdesir di antara kerumunan warga dusun. Tatapan mata mereka tidak sinis, namun penuh rasa ingin tahu, keheranan, dan sedikit kekhawatiran kultural. Di sebuah dusun tradisional di mana nilai agama Islam dan adat istiadat Jawa berakar sangat kuat, kehadiran seorang wanita asing asal Eropa tentu menjadi sebuah pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Martha merasakan sekujur tubuhnya menegang. Ia berdiri di dekat pintu mobil, merapatkan jemarinya, merasa seolah-olah seluruh pasang mata di tempat itu sedang memindai setiap inci keberadaannya. Di London, ia adalah seorang wanita aristokrat yang dipuja; di sini, ia adalah orang asing yang berdiri di tanah asing, tanpa perlindungan apa pun selain tangan Adnan yang kini perlahan merangkul bahunya.

Adnan menyadari kecemasan yang melanda wanita di sampingnya. Pria itu menoleh, memberikan senyuman paling teduh dan menenangkan yang ia miliki. Adnan kemudian melangkah maju bersama Martha, mengangkat tangan kanannya menyapa para warga dusun dengan ramah menggunakan bahasa Jawa krama yang santun.

"Sugeng sore, bapak-ibu sedaya," sapa Adnan lantang dan hangat, membuat warga dusun langsung berbondong-bondong mendekat untuk menyalami tangannya dengan takzim. (Selamat sore, bapak-ibu sekalian).

Di tengah kerumunan warga yang menyambut kepulangan Adnan, Martha menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, babak baru dalam hidupnya tidak lagi diuji oleh kemewahan istana Kensington atau ancaman perjodohan kaum elit barat, melainkan oleh ujian kesabaran, adaptasi kultural, dan penerimaan sosial di jantung tanah Jawa yang penuh misteri dan kearifan.

Dan di bawah langit senja Surakarta yang memancarkan warna jingga keemasan di atas atap joglo tua itu, Martha melangkahkan kaki pertamanya masuk ke dalam dunia Adnan—memulai babak paling menantang dalam lembaran kisah cinta mereka yang panjang dan berliku.

1
Widia Wati
MasyaAllah
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬: makasih kak🥰🥰...wahh tetangga ya saya berasal dari desa sebalor tapi merantau di Malaysia.. semangat kak🥰
total 1 replies
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬
Kalau suka tinggalin jejak🥰

author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.


Salam paseduluran rek❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!