NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 — NAMA YANG DIHAPUS DARI ARSIP

Pagi itu, aku kembali menginjakkan kaki di istana dengan perasaan yang berbeda.

Bangunan megah yang biasanya terlihat begitu anggun kini terasa seperti tempat yang menyimpan terlalu banyak pintu tertutup. Setiap lorong, setiap penjaga, bahkan setiap pelayan yang menunduk ketika kami lewat seolah menyimpan kemungkinan yang belum bisa kuabaikan.

Sejak menemukan secarik kertas bertuliskan ARSIP ISTANA, pikiranku tidak pernah benar-benar tenang.

Siapa yang menyelipkan kertas itu ke dalam kotak kayu cendana kami?

Mengapa petunjuk tersebut diberikan secara diam-diam?

Dan apa hubungannya dengan empat puluh karung benih yang menghilang?

"Berhenti berjalan terlalu cepat."

Suara Segara membuatku tersadar bahwa aku sudah beberapa langkah mendahuluinya.

Aku menoleh. "Aku tidak berjalan terlalu cepat."

"Kau hampir menabrak tiang."

Aku melirik tiang di sebelahku, lalu kembali menatapnya.

"Itu karena istanamu terlalu banyak tiang."

Segara mengangkat sebelah alis.

"Baru kali ini aku mendengar seseorang menyalahkan bangunan karena tidak memperhatikan jalan."

"Kalau begitu, anggap saja aku sedang menyampaikan kritik arsitektur."

Ia tidak menjawab, tetapi sudut bibirnya bergerak tipis.

Aku tersenyum kecil. Percakapan ringan itu setidaknya berhasil mengurangi ketegangan yang sejak tadi mengikutiku.

Namun, begitu kami tiba di depan ruang arsip kerajaan, senyumku perlahan menghilang.

Dua penjaga berdiri di depan pintu kayu besar. Ketika melihat Segara, mereka segera berlutut.

"Ampun, Yang Mulia Kaisar."

Segara memberi isyarat agar mereka berdiri.

"Buka ruang arsip utama. Aku ingin memeriksa catatan pengiriman benih ke wilayah Perbatasan Utara."

"Baik, Yang Mulia."

Salah seorang penjaga membuka pintu, memperlihatkan ruangan luas yang dipenuhi rak-rak kayu. Gulungan dokumen, buku bersampul kulit, dan kotak penyimpanan tersusun rapi hingga hampir menyentuh langit-langit.

Bau kertas tua langsung menyambutku.

Sebagai seseorang yang pernah mempelajari sejarah di abad ke-21, aku seharusnya merasa senang berada di tempat seperti ini. Namun, kali ini aku datang bukan untuk mempelajari masa lalu.

Aku datang karena seseorang mungkin telah mengubahnya.

---

Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun menyambut kami di dalam ruang arsip. Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis, sementara kedua tangannya memegang buku pencatatan yang tebal.

"Yang Mulia, saya Harsa, kepala pengelola arsip kerajaan."

Segara mengangguk.

"Kami membutuhkan catatan pengiriman benih ke Perbatasan Utara selama tiga bulan terakhir. Sertakan pula catatan pemindahan atau pemusnahan persediaan."

Harsa membungkuk.

"Akan saya siapkan."

"Selain itu," lanjut Segara, "aku ingin mengetahui apakah ada dokumen yang pernah diubah, dipindahkan, atau dihapus dari catatan resmi."

Untuk pertama kalinya, Harsa terlihat ragu.

Hanya sesaat, tetapi aku menangkapnya.

"Apakah ada masalah?" tanyaku.

Harsa segera menunduk.

"Tidak, Gusti Permaisuri. Hanya saja, arsip kerajaan sangat banyak. Beberapa catatan lama memang mengalami kerusakan akibat usia."

"Itu wajar," jawabku. "Tetapi kerusakan kertas berbeda dengan hilangnya catatan secara sengaja, bukan?"

Lelaki itu mengangkat wajahnya perlahan.

Aku tidak bermaksud menuduhnya. Namun, aku ingin mengetahui bagaimana ia akan bereaksi terhadap pertanyaan tersebut.

"Benar, Gusti."

"Kalau begitu, kita mulai dari catatan yang masih utuh."

Segara menatapku sekilas, lalu mengangguk kepada Harsa.

"Kerjakan."

Pengelola arsip itu segera membawa kami ke bagian timur ruangan, tempat catatan hasil panen dan pengiriman persediaan disimpan.

Kami menghabiskan hampir satu jam untuk memeriksa berbagai dokumen.

Sebagian besar catatan tampak normal. Jumlah benih yang masuk dan keluar sesuai dengan laporan dari wilayah masing-masing. Ada pula catatan mengenai pengiriman pupuk, peralatan pertanian, dan bantuan pangan untuk desa-desa yang mengalami gagal panen.

Namun, ketika Harsa mengambil sebuah buku bersampul cokelat tua, aku melihat sesuatu yang tidak biasa.

Beberapa halaman di bagian tengah buku itu memiliki bekas sobekan.

Aku mendekat.

"Kenapa halaman ini hilang?"

Harsa tampak terkejut.

"Halaman yang mana, Gusti?"

Aku menunjuk bagian yang kumaksud.

"Bagian ini. Bekas sobekannya masih terlihat jelas."

Harsa membuka buku tersebut lebih lebar. Wajahnya berubah serius ketika melihat halaman-halaman yang hilang.

"Ini seharusnya merupakan catatan perubahan alokasi persediaan."

Segara segera mendekat.

"Perubahan alokasi apa?"

Harsa membalik halaman berikutnya, kemudian memeriksa nomor yang tercetak di sudut bawah.

"Persediaan benih untuk wilayah perbatasan dan beberapa desa di bagian selatan kerajaan."

Aku merasakan jantungku berdegup lebih cepat.

"Apakah termasuk Perbatasan Utara?" tanyaku.

"Seharusnya, Gusti."

"Seharusnya?"

Harsa menelan ludah.

"Catatan lengkapnya tidak ada."

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.

Segara mengambil buku tersebut dan memeriksa bekas sobekannya. Ia tidak langsung berbicara, tetapi aku bisa melihat perubahan pada sorot matanya.

"Siapa yang terakhir memeriksa buku ini?"

Harsa terdiam.

"Saya tidak mengingatnya dengan pasti, Yang Mulia."

"Periksa buku peminjaman arsip."

"Baik."

Harsa berjalan menuju meja panjang di sudut ruangan. Ia membuka beberapa buku pencatatan, membalik halaman demi halaman, lalu berhenti pada sebuah entri.

"Yang Mulia, buku ini terakhir dikeluarkan dari ruang penyimpanan sekitar dua bulan lalu."

"Siapa yang meminjamnya?" tanyaku.

Harsa memeriksa tulisan tersebut lebih dekat.

"Catatan peminjaman ini tidak mencantumkan nama lengkap."

Segara mengulurkan tangan.

Harsa menyerahkan buku itu.

Di sana hanya tertulis jabatan seseorang, tanpa nama yang jelas.

PEJABAT PENGAWAS PERSEDIAAN ISTANA.

Aku mengerutkan kening.

"Apakah ada banyak pejabat dengan jabatan itu?"

"Pada masa sebelumnya, jabatan tersebut pernah dipegang oleh beberapa orang," jawab Harsa. "Namun, saat ini hanya ada satu pejabat yang bertanggung jawab atas pengawasan persediaan kerajaan."

"Siapa?"

Harsa menyebutkan nama itu dengan suara pelan.

"Patih Agung."

Aku menoleh kepada Segara.

Untuk sesaat, kami tidak mengatakan apa-apa.

Nama Patih Agung kembali muncul di tengah penyelidikan kami. Sebelumnya, tanda tangannya diduga dipalsukan pada surat perintah pengiriman benih. Kini, sebuah buku yang memuat catatan perubahan persediaan juga pernah dipinjam menggunakan jabatan yang menjadi tanggung jawabnya.

Tetapi aku teringat perkataan Segara di lumbung.

Ia tidak ingin menuduh seseorang hanya berdasarkan bukti yang belum lengkap.

"Apakah Patih Agung sendiri yang mengambil buku ini?" tanyaku kepada Harsa.

"Saya tidak tahu, Gusti. Buku tersebut diambil oleh petugas yang membawa surat izin peminjaman. Saya tidak melihat siapa yang mengeluarkan surat itu."

"Apakah surat izinnya masih ada?"

Harsa mencari di antara dokumen yang tersimpan di laci meja.

Beberapa saat kemudian, ia menggeleng.

"Suratnya tidak ditemukan."

Aku mengembuskan napas perlahan.

Lagi-lagi, ada catatan yang hilang.

Terlalu banyak bagian yang tidak lengkap untuk disebut kebetulan, tetapi belum cukup untuk menunjukkan siapa pelakunya.

Segara menutup buku pencatatan tersebut.

"Mulai sekarang, tidak ada dokumen yang boleh dikeluarkan dari ruang arsip tanpa persetujuanku. Buat salinan semua catatan mengenai pengiriman benih dan perubahan alokasi persediaan selama tiga bulan terakhir."

Harsa berlutut.

"Baik, Yang Mulia."

"Dan jangan memperbaiki atau mengganti apa pun pada buku yang memiliki halaman hilang. Aku ingin kondisinya tetap seperti sekarang."

"Dimengerti."

Segara kemudian menoleh kepadaku.

"Kita belum selesai."

Aku mengangguk.

Justru sekarang, semuanya terasa semakin rumit.

---

Saat Harsa sibuk menyiapkan salinan dokumen, aku kembali memperhatikan rak tempat buku bersampul cokelat tadi disimpan.

Ada satu ruang kosong di antara dua buku tebal.

Ukuran ruang tersebut hampir sama dengan ukuran buku yang sedang diperiksa Segara.

Aku mendekat, lalu memeriksa label kecil di tepi rak.

Nomor arsipnya berurutan. Buku sebelum dan sesudahnya masih ada, tetapi buku dengan nomor tertentu tidak ditemukan.

Aku mengeluarkan secarik kertas yang kami temukan di dalam kotak kayu cendana.

Angka-angka yang tertulis di sana tampak semakin penting.

"Segara."

Ia menghampiriku.

Aku menunjukkan kertas itu.

"Bagaimana kalau angka ini adalah nomor arsip?"

Segara membaca tulisan tersebut, lalu membandingkannya dengan label pada rak.

Kami memeriksa satu per satu nomor yang tertera.

Beberapa cocok dengan buku yang masih tersimpan. Namun, satu nomor mengarah pada bagian rak yang kosong.

Nomor itu tidak tercantum dalam daftar buku yang berada di sana.

Aku menatap ruang kosong tersebut.

"Buku ini seharusnya ada di sini."

Segara memanggil Harsa.

"Dokumen dengan nomor ini seharusnya disimpan di rak mana?"

Harsa membaca angka pada kertas, kemudian wajahnya berubah.

"Nomor itu berasal dari sistem penomoran lama, Yang Mulia."

"Apa isi dokumennya?"

Harsa terdiam cukup lama.

"Catatan mengenai perubahan identitas dan status beberapa penghuni kediaman dalam kerajaan."

Aku menoleh cepat.

"Perubahan identitas?"

"Benar, Gusti. Pada masa lalu, ada beberapa orang yang dipindahkan kedudukannya, mengganti nama resmi, atau dicatat ulang setelah kejadian tertentu."

Aku merasakan tengkukku meremang.

"Apakah nama perempuan yang dahulu menempati kedudukan permaisuri tercatat di dalamnya?"

Harsa tidak segera menjawab.

Segara menatapnya tajam.

"Jawab pertanyaan Permaisuri."

Harsa menunduk.

"Seharusnya, Gusti. Namun, saya tidak dapat memastikan apakah namanya tercantum dalam dokumen tersebut."

Aku menggenggam kertas kecil itu.

Selama ini, aku mengira catatan tentang perempuan yang tubuhnya kutempati tersimpan di tempat lain. Aku tidak pernah membayangkan bahwa informasi mengenai dirinya mungkin sengaja dipisahkan dari arsip kerajaan.

Jika dokumen itu berisi perubahan identitas dan status penghuni istana, mungkin di dalamnya terdapat sesuatu yang bisa menjelaskan masa lalu perempuan tersebut.

Namun, jika buku itu sengaja dihilangkan, siapa yang ingin memastikan rahasia itu tidak ditemukan?

"Apakah ada salinan dokumen tersebut?" tanyaku.

Harsa tampak semakin gelisah.

"Ada kemungkinan salinan lama disimpan di ruang arsip bawah."

"Kalau begitu, kita periksa."

Harsa menunduk lebih dalam.

"Ampun, Gusti. Ruang arsip bawah sudah lama tidak dibuka."

"Kenapa?"

"Beberapa bagian bangunannya mengalami kerusakan. Karena itu, sebagian dokumen dipindahkan ke ruang utama."

Aku menatapnya lekat-lekat.

"Apakah semua dokumen sudah dipindahkan?"

Harsa tidak menjawab dengan segera.

Keheningan itu membuatku curiga.

Segara pun tampaknya menangkap hal yang sama.

"Siapkan kunci ruang arsip bawah," perintahnya. "Kita akan memeriksanya sendiri."

---

Ruang arsip bawah terletak di balik pintu sempit di ujung lorong timur.

Udara di sana lebih dingin daripada ruang utama. Dinding batunya lembap, sementara debu menutupi sebagian lantai. Dua penjaga membawa lentera untuk menerangi jalan.

Harsa berjalan paling depan dengan membawa seikat kunci.

"Ada banyak dokumen yang sudah tidak digunakan, Yang Mulia," katanya. "Sebagian mungkin rusak dan tidak lagi dapat dibaca."

"Yang kita cari adalah dokumen yang belum dipindahkan," jawab Segara.

Harsa membuka pintu.

Bunyi engsel tua terdengar nyaring, disusul aroma kertas lembap yang langsung memenuhi lorong.

Aku menutup hidung dengan ujung lengan.

"Tempat ini benar-benar membutuhkan pembersihan."

"Jika semua dokumen dipindahkan dengan benar, tempat ini tidak akan terlalu penuh," kata Segara.

Aku meliriknya.

"Jadi, menurutmu ada dokumen yang sengaja ditinggalkan?"

"Aku belum mengatakan itu."

"Tetapi kau memikirkannya."

Segara tidak menjawab.

Aku menghela napas. Terkadang, menghadapi kaisar yang terlalu berhati-hati seperti ini membuatku ingin mengguncang bahunya agar ia berhenti menyimpan semua dugaan di dalam kepala.

Kami mulai memeriksa rak-rak tua.

Sebagian besar dokumen berisi catatan mengenai pembangunan istana, daftar pelayan dari masa pemerintahan terdahulu, serta laporan mengenai perubahan wilayah kerajaan.

Hingga akhirnya, di sebuah peti kayu yang terletak di sudut ruangan, aku menemukan buku tipis dengan sampul yang hampir terlepas.

Aku mengangkatnya perlahan.

Tidak ada judul pada sampulnya.

Hanya ada bekas tinta yang telah memudar dan lambang kecil berbentuk bunga teratai.

Aku terdiam.

Teratai.

Entah mengapa, lambang itu mengingatkanku pada serbuk teratai hitam yang ditemukan dalam benih mencurigakan.

"Segara, lihat ini."

Ia segera menghampiriku.

Ketika melihat lambang tersebut, ekspresinya berubah serius.

"Jangan buka dulu."

Aku menarik tanganku.

"Kenapa?"

"Lambang ini mungkin memiliki arti tertentu. Kita perlu memastikan buku ini tidak rusak sebelum memeriksanya."

Ia meminta Harsa membawa kain bersih dan kotak penyimpanan. Setelah buku itu diletakkan dengan hati-hati di atas meja kecil, Segara membuka sampulnya perlahan.

Halaman pertama kosong.

Halaman kedua juga tidak berisi apa pun selain noda kecokelatan.

Namun, ketika aku membalik halaman ketiga, terlihat beberapa baris tulisan yang sebagian besar telah memudar.

Aku mendekatkan lentera.

Tulisan itu sulit dibaca, tetapi satu nama masih terlihat jelas.

KAHIYANG GAYATRI AYUNINGTYAS.

Dunia seakan berhenti berputar.

Aku menatap nama itu berulang kali, berharap mataku keliru.

Tidak mungkin.

Nama tersebut bukan sekadar nama yang diberikan kepadaku setelah terbangun di tubuh perempuan ini. Itu adalah nama lengkap yang kini kupakai di kerajaan.

Mengapa nama itu tercatat dalam buku tua yang tersembunyi di ruang arsip bawah?

Tanganku mulai dingin.

Segara menyadari perubahan sikapku.

"Kahiyang, ada apa?"

Aku menunjuk halaman tersebut.

"Namaku."

Ia menunduk untuk membaca tulisan itu.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Kemudian Segara membalik halaman berikutnya.

Di sana terdapat sebuah catatan pendek dengan tinta yang hampir hilang.

Subjek dipindahkan dari daftar penghuni kediaman utama. Catatan identitas disegel atas perintah penguasa saat itu.

Tidak ada tanggal yang lengkap.

Tidak ada nama orang yang mengeluarkan perintah.

Hanya ada satu tanda kecil di bagian bawah halaman.

Lambang teratai yang sama.

Aku menatap Segara dengan napas tertahan.

"Bagaimana mungkin namaku ada di sini?"

Ia tidak segera menjawab.

Aku ingin mengatakan bahwa pasti ada kesalahan penulisan. Bahwa seseorang bernama sama mungkin pernah hidup pada masa lalu. Bahwa semua ini hanyalah kebetulan yang terlalu aneh.

Namun, jauh di dalam hati, aku tahu aku sedang berusaha meyakinkan diriku sendiri.

Karena yang membuatku takut bukan sekadar keberadaan namaku dalam buku tua itu.

Melainkan catatan bahwa identitasku pernah disegel atas perintah penguasa kerajaan.

Seolah-olah seseorang telah mengetahui sesuatu tentang diriku jauh sebelum aku membuka mata di dunia ini.

Segara menutup buku itu dengan hati-hati.

"Kita akan mencari tahu siapa yang menulis catatan ini."

Aku menggeleng perlahan.

"Segara, bagaimana kalau catatan ini bukan tentang aku yang sekarang?"

Ia menatapku.

"Maksudmu?"

Aku berusaha menyusun pikiranku yang kacau.

"Bagaimana kalau perempuan yang tubuhnya kutempati memang memiliki rahasia yang berhubungan dengan nama ini? Bagaimana kalau ada sesuatu tentang dirinya yang sengaja dihapus dari sejarah kerajaan?"

Segara terdiam.

Aku memandang buku tua itu sekali lagi.

Selama ini, aku selalu menganggap diriku sebagai perempuan dari abad ke-21 yang terlempar ke masa lalu. Aku tidak pernah benar-benar mempertimbangkan kemungkinan bahwa ada bagian dari sejarah perempuan ini yang belum kuketahui.

Bagian yang mungkin menjelaskan mengapa aku berada di sini.

Dan mengapa seseorang berusaha menghentikanku mencari kebenaran.

Tiba-tiba, terdengar langkah kaki dari arah lorong.

Semua orang menoleh.

Seorang penjaga muncul di ambang pintu dengan napas terengah-engah.

"Ampun, Yang Mulia!"

Segara berdiri tegak.

"Ada apa?"

Penjaga itu menunduk, lalu menyampaikan kabar yang membuat suasana ruangan semakin tegang.

"Ruang arsip utama baru saja diperiksa. Ada seseorang yang mencoba membakar beberapa dokumen."

Aku membeku.

"Dokumen apa?" tanya Segara.

Penjaga itu menelan ludah.

"Catatan pengiriman benih dari Perbatasan Utara, Yang Mulia."

Aku menatap Segara.

Kami baru saja menemukan catatan lama yang memuat namaku, sementara seseorang berusaha memusnahkan dokumen tentang sabotase padi emas.

Apakah kedua kejadian itu berkaitan?

Atau seseorang sedang memanfaatkan penyelidikan benih untuk menutupi rahasia yang jauh lebih tua?

Segara segera mengambil buku bersampul teratai dan menyerahkannya kepada salah satu penjaga.

"Amankan buku ini. Jangan biarkan siapa pun menyentuhnya tanpa izinku."

Ia kemudian menatapku.

"Kita kembali ke ruang utama."

Aku mengangguk, meskipun pikiranku masih tertinggal pada nama yang baru saja kutemukan.

Kahiyang Gayatri Ayuningtyas.

Namaku tercatat dalam arsip kerajaan yang seharusnya tidak diketahui siapa pun.

Dan seseorang baru saja berusaha membakar bukti tentang sabotase benih.

Untuk pertama kalinya, aku mulai bertanya-tanya apakah dua misteri yang selama ini kami selidiki sebenarnya berasal dari akar yang sama.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!