Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Runtuhnya Topeng Sang Pangeran
Prang!
Sebuah gelas kristal bernilai ratusan koin emas hancur berkeping-keping menghantam dinding pualam. Anggur merah mahal merembes ke karpet beludru layaknya noda darah yang tak bisa dihapus.
Di dalam ruang kerja pribadi Ketua OSIS yang mewah, Pangeran Julian berdiri dengan napas memburu. Rambut emasnya yang selalu tertata rapi kini berantakan. Wajah tampannya yang biasanya memancarkan aura keadilan dan ketenangan kini terdistorsi oleh amarah dan kepanikan yang luar biasa.
Di depannya, komandan penjaga Gudang 13 berlutut gemetar dengan wajah sepucat mayat.
"Kau bilang... semuanya hangus?!" raung Julian, suaranya tertahan agar tidak terdengar ke luar ruangan. "Seluruh senjata Blood Iron, perisai, dan bubuk mesiu yang kumpulkan selama tiga tahun hancur dalam semalam?!"
"B-Benar, Yang Mulia!" isak komandan itu, menekan dahinya ke lantai karpet. "Api hitam itu... api iblis itu melahap besi layaknya kertas! Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Penyihir Hitam itu menyedot seluruh mana kami hanya dengan mengangkat sebelah tangan!"
Julian memejamkan mata, memijat pelipisnya yang berdenyut keras. Kehancuran senjata adalah kerugian besar, tapi itu bukan hal yang paling menakutkannya.
"Buku kasnya," desis Julian pelan, matanya tiba-tiba terbuka dan menatap komandan itu dengan tatapan membunuh. "Katakan padaku bahwa kalian mengamankan buku kas di ruang administrasi."
Komandan itu menangis semakin keras. "Brankasnya dijebol dengan tangan kosong, Yang Mulia. Bukunya... hilang dibawa oleh Penyihir itu. Dan dia... dia meninggalkan pesan untuk Anda."
"Apa pesannya?"
"Cahaya palsunya terlalu menyilaukan, jadi aku memutuskan untuk meredupkannya."
Lutut Julian terasa lemas. Ia merosot ke kursi kebesarannya. Pesan itu begitu jelas. Pelakunya tahu persis siapa di balik gudang ilegal tersebut. Buku kas itu berisi daftar nama bangsawan yang diam-diam mendanai Pasukan Singa Putih miliknya, serta rute penyelundupan Besi Darah. Jika buku itu jatuh ke tangan faksi oposisi, atau lebih buruk lagi, ke tangan Kaisar... maka hak waris takhtanya akan dicabut hari itu juga, dan ia akan berakhir di tiang gantungan atas tuduhan pengkhianatan.
"Siapa..." gumam Julian dengan suara bergetar. "Siapa yang berani menantangku sejauh ini? Keluarga Duke Pendelton? Apakah ayah Arthur menyewa master sekte terlarang untuk menjatuhkanku?"
Pikiran Julian berputar liar. Tragedi ini terjadi tepat di malam setelah Arthur mempermalukan Leon di arena. Rentetan kejadian ini terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Serigala Bayangan di hutan mati, Leon dikalahkan tanpa sihir, dan sekarang gudangnya hancur.
Arthur Pendelton.
Nama itu kini terdengar seperti kutukan di telinga sang Pangeran.
Sementara Pangeran Julian sedang mengalami krisis eksistensial di ruang kerjanya, aku sedang menikmati sarapan pagiku dengan sangat damai di kantin Akademi Solaria.
Suasana di sekitarku, bagaimanapun, jauh dari kata damai.
Kantin yang biasanya bising oleh obrolan murid mendadak hening setiap kali aku membalik halaman buku yang sedang kubaca. Tidak ada satu pun murid yang berani duduk di radius tiga meja dariku. Mereka melirikku dengan tatapan campur aduk: ketakutan, rasa segan, dan kebingungan akut.
Kabar tentang caraku menghancurkan Leon dalam satu pukulan kemarin telah menyebar ke seluruh penjuru ibu kota. Leon, sang bintang tahun pertama yang digadang-gadang sebagai pahlawan masa depan, kini terbaring tak berdaya di bangsal medis dengan tiga tulang rusuk remuk dan trauma psikologis yang parah.
Dan bagian terbaiknya? Tabib akademi menyatakan bahwa Leon tidak terkena kutukan sihir apa pun. Aku mengalahkannya murni dengan kekuatan fisik. Fakta itu membuat para murid yang dulu sering merundungku kini hidup dalam teror, takut jika sewaktu-waktu aku mendatangi mereka dan meremukkan kepala mereka dengan tangan kosong.
"T-Tuan Muda Arthur..."
Sebuah suara cicitan tikus menghentikan kegiatan membacaku. Aku mendongak dan melihat Cedric Vance—si penjilat berambut pirang klimis—berdiri di ujung mejaku. Kakinya gemetar hebat, dan ia membawa sebuah nampan berisi roti lapis isi daging panggang kualitas terbaik.
"A-Ada apa, Cedric?" tanyaku datar, menutup bukuku perlahan.
Cedric tersentak seolah baru saja mendengar auman naga. Ia buru-buru meletakkan nampan itu di depanku dengan gerakan kaku. "I-Ini, Tuan Muda! Saya melihat Anda hanya makan roti gandum dan kopi. Sebagai teman... eh, maksud saya, sebagai pelayan setia Anda, saya membelikan menu spesial ini untuk Anda. M-Mohon diterima!"
Aku menatap roti lapis itu, lalu menatap Cedric. Dulu, Cedric adalah orang pertama yang menertawakanku jika aku membuat kesalahan, bersembunyi di balik nama besarku. Kini, insting bertahannya menyuruhnya untuk kembali menjadi anjing peliharaan yang patuh.
"Bawa pergi," ucapku tenang. "Aku tidak suka daging babi hutan."
"B-Baik, Tuan Muda! Maafkan kelancangan saya!" Cedric langsung menyambar nampannya kembali dan lari terbirit-birit meninggalkan kantin.
Aku menghela napas tipis. Reputasi sebagai 'Penjahat Berdarah Dingin' ternyata punya keuntungan tersendiri. Tidak ada lagi serangga yang berani berdengung di telingaku.
Saat aku bersiap menghabiskan sisa kopiku, kursi di seberang mejaku tiba-tiba ditarik. Seseorang duduk di depanku tanpa meminta izin.
Bau lavender yang khas langsung menyerbak. Aku mendongak dan melihat Cecilia von Arnault. Ketua Komite Kedisiplinan itu menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak seperti saat interogasi tempo hari, melainkan sebuah kewaspadaan yang sangat dalam.
"Kau meremukkan tulang rusuk Leon hingga nyaris menembus paru-parunya," ucap Cecilia pelan, suaranya dingin. "Tabib bilang dia butuh waktu sebulan penuh hanya untuk bisa kembali berdiri. Kau menghancurkan kesempatannya untuk ikut Ujian Kelangsungan Hidup minggu depan."
"Apakah kau datang ke sini untuk membacakan rekam medisnya, Arnault?" tanyaku santai, kembali meminum kopiku. "Wasit tidak mendiskualifikasiku. Aku tidak menggunakan sihir terlarang, senjata tajam, atau racun. Aku hanya... meninjunya. Jika pahlawan kesayanganmu itu terbuat dari kaca, itu bukan salahku."
Rahang Cecilia mengeras. "Kau menyembunyikan sesuatu, Arthur. Kekuatan fisik semacam itu tidak logis untuk orang yang bahkan tidak pernah masuk kelas fisik dasar."
Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke mataku. "Apa pun rahasia yang kau sembunyikan, kau telah menarik perhatian orang-orang yang sangat berbahaya. Pangeran Julian baru saja mengeluarkan perintah pemanggilan untukmu. Dia menunggumu di Ruang Dewan Bintang sekarang juga. Sendirian."
Sudut bibirku berkedut ke atas, membentuk seringai yang nyaris tak terlihat.
"Ah, Pangeran memanggilku?" kataku dengan nada riang yang dibuat-buat. Aku bangkit berdiri dan merapikan seragamku. "Tentu saja aku akan datang. Tidak sopan membuat calon Raja Kekaisaran menunggu."
Cecilia menatap punggungku saat aku berjalan pergi. "Kau melangkah ke dalam sarang naga, Arthur," peringatannya dari kejauhan.
Bukan, balasku dalam hati. Sang naga yang sedang mengundang pawangnya untuk masuk.
Ruang Dewan Bintang terletak di lantai teratas menara akademi. Ruangan ini dikhususkan untuk Pangeran Julian mengurus urusan administrasi dan menerima tamu VIP.
Saat aku mendorong pintu kayu berukir emas itu, aku mendapati Julian sedang berdiri membelakangiku, menatap ke luar jendela besar yang menampilkan pemandangan seluruh akademi. Tidak ada Ksatria penjaga di dalam ruangan ini. Hanya kami berdua.
"Tutup pintunya, Pendelton," perintah Julian tanpa menoleh. Suaranya terdengar sangat berat.
Aku menutup pintu, lalu berjalan santai dan duduk di salah satu sofa kulit mewah tanpa dipersilakan. Kutumpangkan satu kakiku di atas lutut yang lain. "Ada urusan apa Yang Mulia memanggil rakyat jelata sepertiku pagi-pagi begini?"
Julian memutar tubuhnya perlahan. Matanya merah dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Jelas sekali sang Pangeran tidak tidur semalaman.
"Jangan bermain-main denganku, Arthur," desis Julian, melangkah mendekat. "Kau mengalahkan Leon dengan cara yang mustahil. Dan tepat di malam yang sama... sebuah insiden besar terjadi di Pelabuhan Distrik Rook. Aku tahu kau tidak memiliki kapasitas mana untuk melakukan hal itu, tapi aku tahu keluargamu, Duke Pendelton, memiliki kekayaan untuk menyewa seorang pembunuh bayaran kelas atas."
Julian meletakkan kedua tangannya di atas meja di depanku, mencondongkan wajahnya hingga hidung kami nyaris bersentuhan. Aura intimidasi dari seorang Mana Core berelemen Cahaya tingkat Tinggi memancar dari tubuhnya, mencoba menekan mentalku.
"Katakan padaku di mana ayahmu menyembunyikan Penyihir Hitam itu," ancam Julian. "Atau aku bersumpah demi nama Kekaisaran, aku akan membawa seluruh Ksatria Suci untuk meratakan kediaman Pendelton hari ini juga."
Aku tidak memalingkan wajah, tidak juga berkedip. Menghadapi tekanan aura yang ditakuti seluruh akademi, aku hanya menguap kecil.
"Ancaman yang sangat mengerikan, Yang Mulia," balasku bosan. Aku merogoh saku dalam jasku perlahan. Gerakanku membuat Julian sedikit waspada.
Namun, alih-alih mengeluarkan senjata, aku menarik selembar kertas perkamen yang sudah dilipat rapi, lalu meletakkannya di atas meja. Kertas itu kubalikkan menghadapnya.
"Sebelum Anda meratakan kediaman saya..." ucapku dengan nada yang sangat pelan dan mematikan. "...mungkin Yang Mulia ingin menjelaskan, mengapa nama Anda tertulis sebagai penerima 50.000 koin emas dari hasil penyelundupan Besi Darah di rute Teluk Siren bulan lalu?"
Mata Julian tertuju pada kertas itu.
Itu adalah selembar salinan dari halaman 42 Buku Kas Besar yang kucuri semalam. Tanganku yang telah dimodifikasi oleh Mandragora Kematian mampu menyalin tulisan dengan keakuratan 100% layaknya mesin fotokopi.
Wajah Pangeran Julian mendadak berubah menjadi seputih kertas. Bibirnya bergetar hebat. Aura intimidasi cahaya yang ia pancarkan meledak hilang seketika layaknya balon yang ditusuk jarum. Nafasnya tercekat di tenggorokan.
"D-Dari mana kau..." Julian terhuyung mundur hingga menabrak rak buku di belakangnya. Matanya menatapku dengan horor absolut, seolah aku adalah monster yang baru saja merangkak keluar dari jurang terdalam neraka. "Kau... KAU Penyihir Hitam itu?!"
Aku berdiri perlahan, membetulkan letak kancing lengan jasku.
"Kau terlalu banyak berasumsi, Julian," kataku dingin, membuang gelar kehormatannya. "Kau pikir kau bisa mengontrol dunia ini hanya karena kau memiliki gelar dan bakat? Kau pikir menjebakku di Hutan Emerald adalah ide yang jenius?"
Aku melangkah maju, memangkas jarak kami. Julian secara insting menciut ke sudut ruangan.
"Buku Kas aslinya berada di tempat yang sangat aman," bisikku di telinganya. "Jika terjadi sesuatu yang buruk padaku, pada keluargaku, atau jika ada satu Ksatria Kekaisaran yang berani menginjakkan kakinya di halaman rumah Pendelton... buku itu akan mendarat di meja kerja ayahmu, sang Kaisar. Kau tahu betul apa hukuman untuk penyelundupan Besi Darah."
"K-Kau berani memeras seorang Pangeran... ini makar..." rintih Julian parau, keringat dingin membasahi seluruh wajahnya.
"Ini bukan pemerasan, Julian. Ini adalah negosiasi investasi," aku mundur selangkah, memberikannya ruang untuk bernapas. "Aku tidak tertarik dengan takhtamu yang membosankan itu. Aku hanya ingin hidup damai dan menikmati masa sekolahku tanpa ada pahlawan kesiangan atau pangeran munafik yang mencoba memenggal kepalaku."
Aku mengambil salinan kertas di atas meja, menyalakannya dengan sedikit percikan sihir bayangan, dan membiarkannya terbakar menjadi debu hitam di udara.
"Mulai detik ini, Yang Mulia..." aku membungkuk hormat dengan gestur teatrikal yang penuh ejekan. "...jika kita berpapasan di koridor, kau akan mengangguk dan tersenyum padaku layaknya teman baik. Kau tidak akan mengusik urusanku, dan aku tidak akan menghancurkan hidupmu. Mengerti?"
Julian menelan ludah kasar. Harga dirinya sebagai Pangeran telah diinjak-injak hingga hancur lebur, namun insting bertahan hidupnya berteriak lebih keras. Dengan tangan gemetar dan kepala tertunduk, sang calon penguasa Kekaisaran itu mengangguk kaku.
"M-Mengerti..."
"Jawaban yang cerdas."
Aku berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, aku menoleh sesaat ke arah Julian yang masih gemetar di sudut ruangan.
"Oh, satu lagi. Jika Leon bertanya siapa yang merusak gudang senjata kebanggaan kalian... katakan saja itu kecelakaan akibat kebocoran gas. Sampai jumpa di Ujian Kelangsungan Hidup minggu depan, Pangeran."
Pintu kayu berukir itu kututup rapat di belakangku.
Aku berjalan menyusuri lorong yang terang benderang dengan langkah santai. Bos tingkat menengah dari cerita ini baru saja kujadikan anjing penjaga yang jinak. Tanpa Pangeran Julian sebagai penyokong dana dan perlindungan politiknya, Leon si protagonis kini benar-benar sendirian.
"Pemerasan yang sangat indah, Arthur," bisik Nox, suaranya menggema dari bayangan pot tanaman di sebelahku. "Kau meruntuhkan mentalnya tanpa perlu menumpahkan setetes darah pun. Tapi hati-hati, minggu depan adalah Ujian Kelangsungan Hidup di Labirin Bawah Tanah. Leon mungkin lumpuh, tapi akademi ini masih punya banyak monster—baik yang berwujud manusia maupun tidak—yang mengincarmu."
Aku tersenyum tipis, menatap sinar matahari yang menyelinap dari jendela koridor.
"Biarkan mereka datang, Nox. Labirin itu akan menjadi taman bermainku."