NovelToon NovelToon
OVER THE AGE

OVER THE AGE

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:343
Nilai: 5
Nama Author: siput

Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg

Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.

Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.2

"Lo masih bocah dan gue lebih tua dari lo buat apa lo ngatur-ngatur? Seharusnya lo sekolah dengan baik" 'sahut eca dengan tegas'

Panggilan itu menggores harga dirinya tepat di sasaran. Rahang theo mengeras sesaat, menahan denyut kesal yang tiba-tiba membakar dadanya.

"Di kawasan Tunas Bangsa, tidak ada satu orang pun yang berani menyebutnya seperti itu tanpa menanggung akibatnya."

Rasa gengsi yang menjulang tinggi di dalam benaknya langsung terusik oleh cara bicara perempuan itu yang terkesan merendahkan.

Ia merendahkan sedikit tubuhnya, menatap lekat-lekat kedua manik mata di depannya dengan kilatan tajam yang mengintimidasi. Hawa dingin malam seolah lenyap, tergantikan oleh ketegangan pekat yang menguar di antara mereka.

"Bocah?"

theo mendengus remeh, suaranya turun satu oktaf, terdengar begitu berbahaya di udara terbuka. Tangannya yang terkepal di saku celana perlahan mengendur, digantikan oleh gestur santai yang dipaksakan demi menutupi rasa tersinggungnya.

"Menarik. Baru kali ini ada yang berani ngeremehin gue cuma gara-gara hitungan umur."

Ia menegakkan tubuh kembali, sengaja memamerkan posturnya yang menjulang tinggi dan jelas jauh lebih dominan. Tatapan meremehkannya mengunci wajah sang lawan bicara tanpa ampun.

"Jangan sok jadi pahlawan moral di depan gue. Di dunia gue, yang megang kendali bukan yang lahir duluan, tapi siapa yang punya nyali paling gede."

"Hahahaha..."tawa eca sambil nyengir

"Memangnya lo sekuat apa sampai bilang nyali segala? Emangnya lo prajurit yang mau berperang? MINGGIR SEKARANG!" Tegas eca kembali dengan nada tinggi

Tawa renyah itu menghantam gendang telinga theo seperti cambukan kecil pada harga dirinya. Bukannya mundur selangkah mendengar gertakan tersebut, otot-otot di balik jaket kulitnya justru menegang kaku. Udara malam yang berhembus kencang menerbangkan beberapa helai rambutnya, namun tatapannya tetap terkunci tanpa berkedip.

"Menarik sekali melihat ada orang yang berani mengibarkan bendera perang tepat di depan hidungnya tanpa rasa takut sedikit pun."

theo mencondongkan tubuhnya ke depan, menaruh telapak tangannya tepat di bingkai pintu kaca tepat di atas kepala lawan bicaranya, mengunci ruang gerak dengan gestur mendominasi. Aroma mint samar berpadu dengan udara dingin saat ia menghela napas pendek penuh rasa tidak percaya.

"Prajurit?"

theo mendesis pelan, nada bicaranya dingin menusuk namun dihiasi seringai tipis yang congkak.

"Gue nggak butuh seragam buat nunjukin siapa yang pegang kendali di sini. Dan makin keras lo teriak, makin enggan gue buat geser kaki gue satu senti pun."

Ia memiringkan kepala, sudut bibirnya terangkat angkuh saat tatapan mereka saling bertubrukan di bawah temaram lampu neon minimarket.

"Coba lewatin gue kalau memang bisa."

"Hah...mau lo apa sih sebenarnya? Lo mau pamer kekuasaan seperti preman pasar atau bagaimana? Gue nggak ada urusan apapun sama lo, gue hanya nggak sengaja ngelewatin lo, sekarang minggir gue sedang buru-buru ada hal yang penting ketimbang ngeladenin lo di sini." Jawab eca dengan lugas

Tuduhan murahan itu melayang begitu saja melewati telinganya. theo menurunkan tangannya dari kusen, lalu menyelipkan kedua ibu jarinya ke saku celana jins, berdiri tegak tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Kilat lampu neon minimarket memantul di manik matanya yang pekat, menampakkan rasa penasaran yang teramat dalam di balik topeng acuhnya.

"Preman pasar?"

theo mendengus pelan, suaranya terdengar begitu tenang di tengah desir angin malam.

"Selera lo dalam menilai orang rendahan banget ternyata."

Ia bergeser setengah langkah ke samping, memberikan celah sempit yang nyaris mustahil dilewati tanpa bersinggungan bahu dengannya. theo sama sekali tidak berniat mengalah, hanya ingin melihat seberapa berani perempuan itu melangkah maju.

"Urusan penting lo itu nggak ada artinya buat gue,"

bisik theo dengan nada datar yang menusuk, seringai angkuhnya kembali merekah samar di sudut bibir.

"Tapi silakan lewat. Gue mau lihat seberapa cepat kaki lo lari dari hadapan bocah ini."

"Itu alasan gue kenapa menilai lo sama seperti mereka si preman pasar, karena lo tidak ada bedanya dengan mereka, gue nggak akan lari tapi kalau lo mau melepaskan gue,gue sangat berterima kasih." Jawab eca dengan nada rendah

Kata-kata itu menghunjam tepat ke titik paling sensitif dalam egonya. Mengelompokkannya setara dengan gerombolan pembuat onar tanpa martabat jelas merupakan penghinaan telak. Namun, getaran ketegasan tanpa pamrih yang terselip dalam permohonan singkat itu justru membuat theo terdiam sepersekian detik.

Rasa dongkol yang merayap di dadanya kini bercampur baur dengan rasa takjub yang enggan ia akui secara terang-terangan.

theo mendengus kasar, lalu memundurkan langkahnya satu jengkal penuh ke arah kiri, membuka lebar-lebar akses masuk tanpa ada lagi intimidasi fisik yang menghalang.

Tatapan matanya yang kelam membidik lurus, memperhatikan setiap gerak-gerik sosok di hadapannya dengan cermat.

"Gue lepasin bukan karena gue peduli sama ucapan terima kasih lo,"

ujar theo dingin, kedua tangannya tenggelam seutuhnya ke dalam saku jaket tebalnya. Ada nada sinis yang ia selipkan demi menyelamatkan wibawanya yang baru saja tercabik.

"Anggap aja gue lagi berbaik hati buang waktu buat orang asing. Sana bayar, sebelum gue berubah pikiran dan bikin urusan penting lo beneran hancur berantakan."

"Terimakasih, setidaknya lo ada nilai baiknya untuk melepaskan gue karena lo menolong orang yang sakit" 'gue harus cepat membeli obatnya' gumam eca lirih

Kata-kata bernada tulus yang meluncur tanpa perlawanan itu membuat sengatan kesal di benak theo mendadak membeku. Sebaris alasan yang terucap sekilas menyisakan jeda hening di kepalanya. Udara malam yang berembus pelan membawa aroma tembakau dari putung rokok salah satu kawannya di pelataran parkir, tetapi fokusnya sama sekali tak bergeser dari siluet yang kini melewatinya begitu saja.

Theo membuang muka ke samping, merapikan kerah jaket kulitnya dengan gerakan kaku. Hatinya menolak mengakui bahwa rasa kemanusiaan yang remeh baru saja berhasil menahan tabiat keras kepalanya. Alih-alih melontarkan sindiran tajam lain, ia memilih bungkam seribu bahasa.

"Nilai baik apaan,"

gumam theo pelan, nada bicaranya tenggelam bersama desir angin yang menyapu pelataran.

Ia merogoh saku, mengeluarkan korek api berbahan logam dan memainkannya di antara jemari kekar miliknya. Suara lenting denting logam bergema pelan di bawah remang lampu neon, menandai rasa gelisah yang aneh di balik topeng acuh tak acuhnya. Sosok keras kepala itu berhasil menorehkan kesan ganjil yang enggan hilang begitu saja dari ingatannya.

"Nih,permen buat lo dan teman-teman lo,gue membelikannya buat lo." eca mengulurkan tangannya sembari memberikan permen

"Jangan terlalu sering merokok itu nggak baik buat kesehatan lo, terimakasih sudah melepaskan gue theo" 'sambil tersenyum'

Dentingan korek api di tangannya terhenti seketika. theo membeku menatap benda manis yang berpindah tanpa permisi ke telapak tangannya.

Senyuman tipis dan nada bicara yang mendadak melunak itu terasa jauh lebih membingungkan ketimbang perlawanan sengit beberapa menit lalu.

Di belakangnya, riuh tawa teman-temannya mendadak lenyap, berganti bisik-bisik heran yang menusuk pendengaran.

theo mengepalkan jemarinya, meremas bungkus permen itu hingga bergemerisik pelan di dalam genggaman. Rasa gengsi yang menjulang tinggi membuat tenggorokannya tercekat, menolak mentah-mentah nasihat yang baru saja dilontarkan sang perempuan perihal kebiasaan buruknya. Ia mendecak pelan, berusaha mengembalikan raut wajah dinginnya yang sempat runtuh.

"Siapa yang izinin lo sok ngatur hidup gue?"

desis theo ketus, melempar pandangannya ke samping demi menghindari sorot mata yang terasa begitu jujur itu. Ujung sepatunya mengetuk aspal pelataran parkir dengan gusar.

"Sana pergi. Jangan sampai gue buang benda nggak berguna ini ke aspal."

Kendati ucapannya terdengar tajam tanpa ampun, theo justru memasukkan bungkusan permen tersebut ke dalam saku jaketnya, tepat bersanding dengan pemantik api miliknya.

"Baik,gue akan pergi"

"Kalau lo gak mau barang yang gue kasih,Siniin... gue kasih ke penjaga toko saja" eca berusaha merebutnya kembali

Gerakan theo begitu cepat saat ia menarik mundur tubuhnya, menyembunyikan tangannya semakin dalam ke saku mantel kulit tebalnya. Kilat jengkel berkelebat di netra kelamnya, merasa dipermainkan oleh kepolosan yang menurutnya sangat menyebalkan.

"Enak saja berniat mengambil kembali benda yang sudah mendarat di teritorialnya.Udah masuk kantong gue, jadi hak milik gue,"

tukas theo dingin, suaranya terdengar mutlak tanpa celah negosiasi. Ia menegakkan punggung, menepis angin malam yang menerpa wajah tegasnya.

"Mau gue kunyah atau gue buang ke got sekalipun, itu bukan urusan lo lagi."

Di balik pelataran parkir, suara raungan mesin motor salah satu rekannya memecah kesunyian, namun theo bergeming. Ujung bibirnya tertarik ke satu sisi, memamerkan keangkuhan yang menjadi tameng terbaiknya. Gengsinya menolak tunduk pada kebaikan remeh yang barusan ia terima.

"Urusan lo beli obat udah kelar, kan?"

theo menyentakkan dagunya ke arah jalan raya yang temaram, memutus kontak mata secara sepihak.

"Buruan angkat kaki. Gue bukan tipe orang yang sabar nemenin orang cerewet di pinggir jalan."

'Lucu banget,oke gue pergi..bye theo" ecapun pergi dengan tersenyum menggemaskan setelah melihat reaksi theo

Dua patah kata bernada santai itu terdengar mengalun ringan, meninggalkan kekosongan aneh yang mendadak merayapi telinga theo. Sorot matanya yang legam menatap lurus ke arah siluet mungil yang mulai menjauh, melintasi temaram aspal jalanan yang disapu bias lampu merkuri. Ia tidak membalas salam perpisahan itu, memilih mengunci bibirnya rapat-rapat seolah berbicara satu patah kata lagi akan meruntuhkan seluruh wibawa yang susah payah ia pertahankan malam ini.

Jari-jemari theo yang tersembunyi di balik saku jaket bergerak pelan, menyentuh tekstur plastik bungkusan manis pemberian sang gadis. Sudut runcing bungkus itu menusuk lembut telapak tangannya, menghadirkan rasa hangat yang kontras dengan dinginnya logam pemantik di sebelahnya. Sikap keras kepalanya menolak peduli, namun saraf di kepalanya justru merekam jelas cara orang asing itu menyebut namanya tanpa rasa takut sedikit pun.

"Bos, siapa cewek barusan? Mau kita cegat?"

seru salah satu rekannya dari atas jok motor.

theo memutar tumitnya dengan gerakan malas, menatap tajam kawanan di pelataran parkir hingga suasana kembali hening.

"Bukan urusan lo pada. Balik sekarang."

"Gue harus segera memberikan obat ini buat nenek" gumam eca yang tanpa dia sadar theo pun mendengar gumamnya.

...****************...

1
Mawarresa
eca berani bangett🤣
Renjana
tinggalin jejak dulu,
hadir kak, mampir juga ya😊
Siput: thank u udh mampir kak
total 1 replies
atikah@72
sama-sama kak, sukses selalu🫰
atikah@72
ceritanya bagus lanjutkan Thor. jgn lupa mampir ya di aku buat silaturahmi. makasih 🫰
Siput: trimakasih kak support sistemnya😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!