"Memosisikan dirimu sebagai musuhku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu, Aleeza!"
AUSTIN VANDERBILT — Miliarder Spanyol yang sempurna, kaya, dan berkuasa. Pria yang disembah semua wanita, kecuali ALEEZA WIRA, paparazzi blasteran Indonesia yang paling ia benci.
Hidup Aleeza hancur saat berita skandal panas Austin mendadak meledak dan namanya difitnah sebagai dalang utama. Demi membalas dendam, Austin menyeret Aleeza masuk ke dalam sangkarnya.
Di antara kebencian, jebakan konspirasi, dan pesona berbahaya, akankah Aleeza berhasil lolos atau justru sang miliarder yang akan berlutut pada wanita yang paling ia benci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veyra Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 | RATU SEMALAM DAN PANGLIMA IBLIS
Malam telah membungkus kota Madrid. Pelataran mansion Vanderbilt dipenuhi puluhan mobil supercar berjejer mewah. Di dalam kamar ganti, Aleeza Wira mematung menatap pantulan dirinya di cermin.
Dress malam berwarna rose gold jahitan tangan desainer ternama yang disiapkan Olivia melekat sempurna di tubuhnya. Rambut cokelat keemasannya ditata anggun. Aleeza nyaris tidak mengenali dirinya sendiri—ia terlihat seperti putri bangsawan sungguhan.
Pintu kamar terbuka pelan.
Austin Vanderbilt melangkah masuk. Mengenakan jas tuxedo hitam yang sangat pas, pria itu mendadak menghentikan langkahnya. Sorot matanya yang biasanya dingin sempat membeku selama beberapa detik melihat keindahan Aleeza.
Namun, gengsi seorang billionaire dengan cepat membungkus raut wajahnya. Austin menyunggingkan senyum mengejek yang terkesan meremehkan.
"Rupanya sebuah gaun mahal sanggup menyulap seekor ikannya sungai menjadi angsa yang menawan, ya?" ujar Austin mengalun lancar.
Aleeza memutar bola matanya malas, lalu berbalik menatap Austin dengan senyuman tak kalah tajam.
"Apa kau sedang tertawan oleh pesonaku, Tuan El Oso?" tembak Aleeza jahil. "Sekarang aku tahu kenapa kau sangat terobsesi mengejar Angeline. Karena dia selalu berpakaian seperti putri bangsawan, bukan?"
Austin menggeram pelan, matanya menyipit berbahaya. "Jaga mulutmu, Aleeza! Jangan membuatku membocorkan rahasia Julian-mu sekarang!"
"Selalu ancaman yang sama Kau membosankan, Austin," desah Aleeza memutar bola matanya.
"Kemarilah," perintah Austin seraya mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan elegan. "Pesta sudah dimulai di bawah. Buat semua orang berpikir bahwa aku memiliki tunangan paling sempurna malam ini."
Di aula dansa mansion yang megah, musik klasik bergema lembut. Namun, pemandangan di tengah lantai dansa langsung menyengat mata Austin.
Angeline Stevano sedang berdansa mesra dalam pelukan Rafael Lucero. Rafael bahkan mendaratkan kecupan mesra di bibir Angeline berulang kali di depan para tamu.
Aleeza melirik wajah Austin. Rahang pria Spanyol itu mengeras ketat, sorot matanya menyiratkan luka dan amarah yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat.
Tanpa peringatan, Austin menarik jemari Aleeza, merengkuh pinggang gading gadis itu dan membawanya langsung ke tengah lantai dansa!
"Ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi Ratu Semalam, Nona Wira?" bisik Austin tepat di samping telinga Aleeza, suaranya dalam dan bergetar.
"Maksudmu?" Aleeza tersentak saat tubuhnya ditarik mendekat rapat ke dada tegap Austin.
"Ikuti langkahku," perintah Austin, lalu mulai membimbing Aleeza berdansa seirama dengan alunan musik yang melambat.
Di bawah pendar lampu kristal, gerakan mereka begitu padu dan memikat. Austin memutar tubuh Aleeza, lalu menariknya kembali ke dalam pelukannya dengan dominasi yang kuat.
"Bukan Ratu Semalam yang buruk, kan?" kekeh Austin pelan, namun kekehannya kali ini terdengar lebih ramah.
"Tentu saja," balas Aleeza menyunggingkan senyum miringnya. "Hanya saja aku tidak menyangka harus berdansa dengan musuh terbesarku di depan umum."
"Siapa musuhmu? Sebut namanya, nanti aku habisi," gurau Austin dengan kekehan hangat, memutar tubuh Aleeza sekali lagi.
Aleeza tertawa pelan. "Musuhku itu sangat menyebalkan. Kau harus menghajarnya keras-keras nanti!"
"Dengan senang hati," sahut Austin.
Untuk beberapa menit, ketegangan di antara mereka menguap. Austin dan Aleeza saling bertukar tatapan jenaka dan godaan ringan, bagaikan dua orang yang tidak sedang berada dalam perang dingin. Ada sihir aneh yang perlahan menjalin ikatan di antara mereka.
"Kalian tidak lelah berdansa dari tadi?"
Suara Angeline mendadak memecah sihir itu. Angeline berdiri di tepi lantai dansa, menatap Austin dan Aleeza dengan senyuman manis yang dipaksakan. "Rafael mengajak kita makan bersama di sudut ruangan."
Austin memelankan langkah dansanya, binar matanya kembali berubah kaku saat menatap Angeline.
Sebelum suasana kembali membeku, nada dering khusus di dalam tas kecil Aleeza berbunyi nyaring! Itu adalah panggilan darurat dari tim investigasi independennya!
Aleeza dengan cepat merogoh ponselnya, menerima panggilan sejenak, lalu menatap Austin dengan raut wajah serius.
"Austin Sang Ratu Semalam harus pulang sekarang. Antarkan aku!" tegas Aleeza memotong ajakan Angeline.
Angeline menyipitkan mata tak suka. "Kenapa harus buru-buru? Pesta baru saja dimulai, Aleeza."
"Bukan urusanmu, Angeline," potong Aleeza dingin, lalu menarik lengan Austin tanpa memberikan celah bagi pria itu untuk membantah. "Ayo, Austin!"
Di garasi mansion yang dipenuhi deretan mobil mewah, Austin membukakan pintu mobil Ferrari merah mewahnya untuk Aleeza.
"Menyusahkan sekali," gerutu Austin seraya melajukan mobilnya membelah malam dengan kecepatan tinggi. "Kau yang meminta dijadikan Ratu Semalam, dan sekarang kau menuntutku bertanggung jawab mengantarmu pulang di tengah acara?
Aleeza bersandar di kursi kulit Ferrari, menatap keluar jendela dengan senyuman licik.
"Memangnya ada yang salah jika seorang pangeran mengantar Sang Ratu pulang dengan kereta merahnya?" kekeh Aleeza menggoda.
"Ini Ferrari, bukan kereta kuda," sahut Austin datar tanpa ekspresi.
"Sama saja! Yang penting pengemudinya adalah pria arogan yang berhasil kucuri dari panggung Angeline malam ini," balas Aleeza tertawa puas.
Austin melirik Aleeza dari sudut matanya. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang tak terlihat oleh Aleeza. Pria itu memajukan kecepatan mobilnya, berbisik dalam hati dengan nada penuh intrik:
" Kau memang ratu yang sangat berbahaya, Aleeza Wira Tapi permainan kita baru saja dimulai."
▪️▪️▪️
Aleeza: Langsung membuka mulut.
PEMBACA: AHAHAHAHA! Aleeza, ternyata ancaman El Oso cukup ampuh!