NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:20.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20.Tahu Bulat dan Doktrin Kelas Kakap

Dinding marmer Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa selalu tampak terlalu berkilau di mata Lentera.

Setiap kali melangkah di koridor lantai satu, dia selalu diingatkan bahwa jas dokter putih yang melekat di tubuhnya dibiayai oleh cucian laundry ibunya dan peluh ayahnya di pasar induk.

Maka, ketika sosok jangkung Sean Eagle Nugraha kembali berdiri di depan meja konternya saat jam istirahat malam, Tera hanya bisa menghela napas panjang sembari meletakkan pulpennya.

"Tuan Sean yang terhormat," cetus Tera tanpa filter, matanya memicing menatap kemeja sutra abu-abu yang dikenakan Sean.

"Ini sudah jam delapan malam. UGD sedang sepi pasien, dan saya baru saja mau membuka boks bekal nasi saya. Jangan katakan kalau pelipis mu berdenyut lagi karena trauma minggu lalu?"

Sean menarik kursi plastik di seberang meja Tera, mendudukinya dengan keanggunan seorang raja yang sedang meninjau daerah jajahan.

"Tidak. Pelipis saya aman. Saya ke sini karena mencium aroma makanan yang tidak biasa dari lantai atas."

Tera melirik boks plastik transparan miliknya. Di dalamnya terdapat tiga butir tahu bulat yang digoreng agak garing dengan taburan bubuk cabai murah, sisa bekal yang dibawakan ibunya tadi pagi.

"Ini namanya tahu bulat, Tuan Sean. Makanan rakyat jelata yang digoreng dadakan seharga lima ratus rupiah per butir. Jelas aromanya kalah jauh dari steak daging wagyu berlapis emas yang mungkin biasa anda dimakan"

"Boleh saya coba?" tanya Sean datar, mengulurkan jari-jarinya yang bersih.

"Eh, jangan! Tanganmu tidak steril!" Tera refleks memukul punggung tangan Sean dengan gagang pulpennya.

Plak!

Beberapa perawat di ujung konter langsung menahan napas dengan wajah pucat pasi.

Mengetuk tangan penguasa tertinggi Nugraha Group dengan pulpen murahan adalah tindakan yang bisa membuat seseorang diasingkan dari dunia medis.

Namun, Sean hanya menatap punggung tangannya yang sedikit memerah, lalu menatap Tera dengan kilatan gemas yang tertahan rapat di balik matanya yang gelap.

Kepribadian Tera yang jujur, berani, dan sama sekali tidak menggunakan topeng kepalsuan di hadapannya selalu berhasil meruntuhkan dinding es di hatinya.

"Ambil pakai garpu plastik ini," gerutu Tera, menyodorkan garpu kecil. "Dan setelah ini, tolong kembali ke duniamu, Tuan Sean. Jujur saja, aku merasa tidak nyaman setiap kali kamu muncul di sini."

Sean menusuk satu butir tahu bulat, mengunyahnya perlahan, lalu menatap Tera dengan kening berkerut.

"Kenapa tidak nyaman? Apakah pelayanan medis kurang memuaskan?"

"Bukan pelayanannya, tapi jurang pemisah di antara kita!" Tera menopang dagunya, menatap Sean dengan pandangan serius yang dicampur kekonyolan wajah cemberutnya.

"Kamu itu bagaikan langit ketujuh yang dilapisi saham multinasional, sedangkan aku ini cuma bumi yang dilapisi tanah liat dan deterjen laundry. Kita tidak cocok berteman, Tuan Kaku. Lihat saja sekeliling. Setiap kali kamu berdiri di dekatku, para perawat memandangku seolah-olah aku ini dukun yang sedang mengguna-gunai bos mereka."

Sean menelan tahu bulatnya, lalu bersandar pada kursi. "Pertemanan tidak diukur dari nilai saham, Dokter Tera. Lagipula, saya merasa energi saya jauh lebih stabil jika berada di dekatmu."

"Iya, stabil karena kamu menjadikanku charger baterai supranatural mu gratisan!" cetus Tera.

"Ngomong-ngomong soal kemewahan konyol mu, kemarin sekretaris pimpinan atas mengirimkan sebuah mesin aneh ke rumah kontrakanku. Katanya itu 'hadiah terima kasih' karena sudah menjaga kesehatan Tuan Sean. Kamu tahu apa yang dikirimnya?"

Sean menaikkan satu alisnya.

"Mesin cuci?"

"Itu bukan mesin cuci biasa! Itu mesin laundry industri otomatis yang ukurannya sebesar lemari jati!" Tera mengetuk meja dengan heboh, matanya membelalak konyol.

"Rumah kontrakanku itu cuma tiga dikali empat meter, Tuan Sean! Begitu mesin itu dimasukkan oleh orang-orang berjas hitammu, kasur tidur Bapak dan Ibu terpaksa digeser sampai mepet ke pintu kamar mandi! Kalau malam hari mesin itu berputar, seluruh dinding tripleks kontrakan kami bergetar seperti sedang dilanda gempa bumi skala tujuh Richter! Ibu saya bahkan sampai bingung cara memencet tombol layarnya yang pakai bahasa Jerman!"

Mendengar protes heboh dari Tera, sudut bibir Sean terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang sangat langka.

"Saya hanya berpikir itu bisa membantu usaha laundry ibumu agar tidak perlu mengucek secara manual."

"Niatmu baik, tapi eksekusinya sangat tidak merakyat!" balas Tera gemas.

"Lalu hari ini, ada kurir datang lagi mengantarkan sekotak besar buah-buahan yang bentuknya aneh. Ada buah bulat besar warna kuning yang kulitnya berduri halus. Ibuku mengira itu jenis buah beracun dari hutan Amazon, jadi kami tidak berani memakannya dan malah kami pajang di atas lemari sebagai pengusir tikus!"

Sean tertegun sejenak, mencoba mencerna deskripsi Tera. "Buah kuning berduri halus? Maksudmu, buah Durian Musang King yang diimpor langsung?"

"Oh, namanya Durian? Mahalnya minta ampun pasti, kan?" Tera mendengus.

"Bapak saya sampai bilang, 'Tera, ini kalau buahnya busuk, kita bisa dituntut ganti rugi miliaran oleh keluarga Nugraha tidak?'. Kami semua ketakutan setengah mati memikirkan kotak buah itu!"

Sean tidak bisa lagi menahan getaran geli di dadanya. Tawa rendah yang sangat maskulin akhirnya lolos dari tenggorokannya.

Mendengar Sean tertawa, Tera sempat terpaku beberapa detik.

Pria kaku yang biasanya menyeramkan seperti algojo ini ternyata memiliki suara tawa yang sangat renyah dan hangat.

"Kalian tidak perlu menggantinya jika buah itu busuk, Dokter Tera," ucap Sean, matanya melunak menatap manik mata bulat Tera.

"Itu dikirim untuk dimakan, bukan untuk menakut-nakuti tikus di kontrakan mu."

Tera mengalihkan pandangannya dengan canggung, wajahnya sedikit merona merah. Dia merapikan boks bekalnya yang kini tersisa dua butir tahu bulat.

"Tetap saja, aku merasa kita ini tidak selevel untuk berteman. Kamu terlalu agung, sedangkan aku terlalu apa adanya."

"Justru karena kamu apa adanya," sela Sean dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat dalam dan serius, mengunci pandangan mata Tera. "Di dunia saya, semua orang berbicara menggunakan naskah kepalsuan. Mereka tersenyum demi keuntungan, dan mereka mendekat demi kekuasaan. Hanya kamu, satu-satunya wanita yang berani memukul tangan saya dengan pulpen dan memarahi hadiah buah impor saya."

Tera terdiam. Dia menatap sepasang mata gelap Sean yang memancarkan ketulusan yang sangat pekat, tersembunyi di balik wibawa dinginnya.

Pergolakan batin di dalam dada Tera perlahan mulai mereda. Dia menyadari bahwa di balik tembok kekayaan raksasa Nugraha, Sean hanyalah seorang pria yang merindukan sebuah interaksi kemanusiaan yang jujur dan tanpa syarat.

Tera menghela napas panjang, lalu menyodorkan kembali boks plastiknya ke depan Sean dengan senyuman tipis yang jenaka. "Baiklah, baiklah. Aku terima pertemanan aneh ini, Tuan Kaku. Tapi dengan syarat!"

"Apa syaratnya?" tanya Sean, menerima garpu plastik kembali.

"Pertama, jangan pernah kirim mesin industri lagi ke kontrakanku kecuali kamu mau membelikan tanah lapang di sampingnya. Kedua, kalau kita sedang mengobrol seperti ini, tanggalkan dulu jubah 'Miliarder Agung mu itu. Di depanku, kamu cuma seorang pasien keras kepala berumur tiga puluh lima tahun yang butuh banyak asupan tahu bulat agar otaknya sedikit lebih rileks."

Sean menusuk butir tahu bulat kedua, memasukkannya ke dalam mulut, lalu mengangguk perlahan dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa puas yang tak terhingga.

"Syarat diterima, Dokter Tera."

1
Mety Haula
duh kayanya botol oksigen bakal fijadikan bom molotop nih sama tera langsung uo kagi thor dikifa klan hitam udah hanvur semua ternyata madih ada
Titik Subekti
keturunan nugraha memang luar biasa
Siti Aisah
dasar tera di situasi yg menegangkan.. bisa - bisanya memikirkan bayaran 😁😁
Siti Aisah
pokoknya berada di samping tera lebih baik daripada memikirkan masalah bisnis yg sedang terjadi🤣🤣
Siti Aisah
wah sean bakal jatuh-sejatuh cintanya pada dokter tera dari lubuk hati terdalam🤔
Novita Sari
bisa bisa nya tera masih mikir uang
Siti Aisah
yg di dalam termos dokter tera air pemikat hati keabadian... 😂😂
Novita Sari
tera malu malu meong..
Novita Sari
tera lucu juga
Novita Sari
gercep Sean nanti tera berubah pikiran
Dwi Setyaningrum
ada aja jawaban tera 😁 semangat tera mendampingi tuan Sean 🤭😁
Sukarti Wijaya
makasih rentetan up nya thor, semangat👍💪🤭🙏
Kaa
lentera meski pun dalam suasana genting bayaran aja yang di ingat
Nurul Ambar
seru n bikin deg deg an
Nurul Ambar
semangat
Nurul Ambar
otw jatuh cinta nih sean
Nurul Ambar
akhirx perthanan tera runtuh juga
Kaa
lentera bena benar menjadi lentera hidup nya Sean lanjut ya Thor
Kaylaa
kapan tera kasih penjelasan...biar gak ngomel2 🤣🤭
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!