NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:282
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAHU UNTUK BERSANDAR

Hawa dingin malam kian menusuk tulang, menghembuskan angin basah yang membawa sisa-sisa air hujan dari daun-daun pohon peneduh gang. Di teras depan rumah permanen berlantai dua yang hening itu, Tante Rika masih terduduk lemas di atas anak tangga semen, gemetar oleh Isak tangis yang tak kunjung reda.

Enzo membungkukkan tubuhnya, memegang lengan cardigan rajut krem yang dikenakan Tante Rika dengan gerakan sopan dan terukur.

"Berdiri dulu, Tante," ulang Enzo dengan suara rendah yang menenangkan.

"Jangan duduk di ubin dingin begini, nanti Tante sakit," sambung Enzo seraya memberikan tumpuan tangan yang kokoh.

Tante Rika menatap Enzo melalui tirai air matanya yang buram. Binar matanya memancarkan rasa hampa dan keputusasaan yang begitu dalam. Dengan bantuan pilar tangan Enzo yang tegap, wanita empat puluh dua tahun itu perlahan-lahan bangkit berdiri. Namun, lututnya yang lemas akibat guncangan emosional hebat membuat langkah kakinya sempoyongan.

Enzo dengan sigap menyangga bahu Tante Rika, menuntun wanita itu melangkah keluar dari halaman rumah mewahnya yang terasa dingin dan asing, menuju ke teras kecil kamar kontrakannya yang hanya berjarak dua meter di sebelah.

Di atas bangku kayu semen di depan kamar kontrakannya, Enzo mendudukkan Tante Rika secara perlahan. Pemuda itu memutar anak kunci, menyusup masuk ke dalam kamarnya sejenak, lalu keluar kembali membawa selembar kain selimut tipis yang bersih dan segelas air putih hangat.

"Pakai selimut ini, Tante," kata Enzo ramah seraya menyelimutkan kain tipis itu ke atas bahu Tante Rika yang masih berguncang.

"Minum air hangatnya sedikit-sedikit supaya dada Tante agak lapang," sambung Enzo seraya menyodorkan gelas seng ke tangan wanita itu.

Tante Rika menerima gelas seng tersebut dengan kedua tangannya yang gemetar hebat. Ia meneguk air hangat itu beberapa tegukan kecil, merasakan sensasi hangat yang perlahan mengalir membasahi tenggorokannya yang kering dan kaku usai menangis hebat.

"Terima kasih... terima kasih banyak ya, Enzo..." bisik Tante Rika dengan suara parau yang tercekat di tenggorokan.

Gelas seng itu diletakkan kembali di atas bangku. Tante Rika meremas tepi selimut tipis pemberian Enzo, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Namun, bayangan resi hotel mewah, tagihan perhiasan emas, serta kebohongan belasan tahun yang baru saja terungkap kembali berputar liar di dalam kepalanya, memicu gelombang duka baru yang tak sanggup lagi ia tahan.

"Tante kurang apa, Enzo...?" tangis Tante Rika kembali pecah, suara isakannya bergetar memilu di tengah keheningan gang malam.

"Selama belasan tahun Tante selalu menurut... Tante selalu menjaga nama baiknya di depan tetangga... Tante tidak pernah menuntut harta atau mobil baru..." isak Rika seraya meremas dadanya yang terasa begitu sesak.

"Tante cuma minta dia pulang... Tante cuma ingin dia ada di rumah ini... Tapi ternyata Tante cuma dianggap pajangan yang tidak berguna..." lanjut wanita itu dengan nada keputusasaan yang amat tajam.

Tangisan Tante Rika makin tak terkendali. Dalam puncak kerentanan emosionalnya yang paling dalam, wanita paruh baya itu kehilangan seluruh tumpuan kekuatannya. Secara refleks, tubuh Rika condong ke depan, menyandarkan kening dan wajahnya tepat di bahu tegap Enzo.

Tubuh Rika berguncang hebat di pelukan hening itu, membiarkan Isak tangisnya tumpah sepenuhnya. Air mata hangatnya menembus kain kaus kusam yang dikenakan Enzo, mengalir membasahi kulit bahu pemuda tersebut.

Enzo tersentak kaku di posisinya.

Sensasi kehangatan tubuh Tante Rika yang menyandar pasrah di bahunya, wangi lembut aroma minyak zaitun yang terbias dari rambut wanita itu, serta hembusan napasnya yang patah-patah mendadak menghadapkan Enzo pada sebuah situasi emosional yang amat sensitif.

Tante Rika adalah seorang wanita dewasa yang matang, cantik, dan saat ini sedang berada dalam kondisi mental yang sangat hampa serta haus akan perlindungan. Di dalam benak pemuda mana pun, situasi seperti ini bisa dengan mudah memicu dorongan impulsif untuk mengambil kesempatan dari kerentanan emosional seorang wanita yang terluka.

Jantung Enzo berdegup sedikit lebih cepat. Namun, dalam hitungan detik, seluruh kesadaran moral dan ketegasan prinsip di dalam jiwa Enzo langsung memotong dorongan liar tersebut tanpa sisa.

"Gue bukan pria brengsek yang memanfaatkan duka orang lain..." batin Enzo tegas, merapikan pikirannya dengan kepala dingin.

Enzo menyadari betul bahwa Tante Rika bersandar padanya malam ini bukan karena perasaan romantis, melainkan murni karena wanita itu sedang tenggelam dalam samudera duka dan membutuhkan sebuah pilar nyata untuk menyandar agar tidak runtuh hancur. Jika Enzo memanfaatkan momen ini untuk tindakan tak bermoral, maka ia tak ada bedanya dengan suami Tante Rika yang mengkhianati kepercayaan demi kepuasan ego pribadi.

Enzo menarik napas dalam-dalam, menegakkan postur tubuhnya agar tetap kokoh dan stabil bagaikan dinding karang. Pemuda itu perlahan meletakkan telapak tangannya yang hangat di bagian belakang bahu Tante Rika—sebuah sentuhan yang sangat tegap, sopan, dan murni berfungsi sebagai penopang beban.

"Tante tidak kurang apa pun," kata Enzo dengan suara yang sangat rendah, mantap, dan menenangkan.

"Tante sudah menjalankan peran sebagai istri yang sangat baik dan setia selama belasan tahun ini," sambung Enzo jujur tanpa ada polesan kata manis.

Tante Rika menggelengkan kepalanya di bahu Enzo, isakannya perlahan-lahan mulai memelan mendengarkan nada suara Enzo yang begitu jernih dan jujur.

"Kalau dia memilih berbohong dan mengkhianati Tante, itu murni karena keserakahan dan keburukan karakternya sendiri," tegas Enzo lurus, matanya menatap kegelapan gang di depan mereka. "Pengkhianatan dia sama sekali tidak mengurangi nilai dan harga diri Tante sebagai seorang wanita."

Kalimat jujur dari Enzo itu meresap pelan ke dalam dada Tante Rika. Untuk pertama kalinya di tengah badai duka yang menghancurkannya, ada seseorang yang menegaskan bahwa dirinya tidak bersalah, bahwa pengabdian tulusnya selama ini tidak membuat dirinya menjadi manusia yang tidak berharga.

Perlahan-lahan, bahu Tante Rika berhenti berguncang. Isak tangisnya berubah menjadi hembusan napas panjang yang teratur. Kehangatan dada dan bahu Enzo yang tegap telah menjadi tempat perlindungan yang sangat aman bagi jiwanya yang koyak.

Setelah beberapa menit keheningan yang hangat melingkupi mereka, Tante Rika perlahan-lahan mengangkat kepalanya dari bahu Enzo.

Wanita itu merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan, mengusap sisa-sisa air mata di pipinya dengan ujung selimut. Pipi Tante Rika bersemu merah samar oleh rasa canggung dan malu usai menyadari bahwa ia baru saja menangis terisak di bahu pemuda tetangganya.

Namun, di balik rasa canggung itu, pancaran mata Tante Rika kini terasa jauh lebih tenang dan stabil, tidak lagi dihiasi oleh kilat keputusasaan yang gelap seperti tadi.

"Maafkan Tante ya, Enzo..." bisik Tante Rika pelan seraya menundukkan kepalanya sopan. "Tante... Tante sudah mengotori kaus kamu."

Enzo melirik bekas air mata yang membasahi bahu kaus kusamnya, lalu menyunggingkan senyum tipis yang membumi dan ramah.

"Tidak apa-apa, Tante. Kaus ini bisa dicuci," sahut Enzo tenang.

"Yang penting sekarang Tante sudah agak lapang," lanjut Enzo ramah.

Tante Rika menatap Enzo dengan binar mata yang sarat akan rasa terima kasih yang amat mendalam. Kehadiran Enzo malam ini yang tetap menjaga batas moral, bersikap sopan, namun memberikan perlindungan yang sangat nyata telah menyelamatkannya dari jurang keputusasaan.

"Terima kasih banyak, Enzo," ucap Tante Rika tulus, senyum tipis yang amat murni akhirnya terukir kembali di bibirnya. "Kalau tidak ada kamu malam ini, Tante benar-benar tidak tahu harus bagaimana..."

"Sama-sama, Tante. Tante sekarang masuk ke rumah, kunci pintu pagar, lalu istirahat," saran Enzo lembut. "Masalah resi dan suami Tante, bicarakan esok hari dengan kepala dingin."

Tante Rika mengangguk mantap. Ia menyerahkan kembali selimut tipis milik Enzo, berdiri tegap dengan kedua kakinya sendiri, lalu melangkah kembali menuju rumah mewahnya.

Enzo berdiri memperhatikan hingga Tante Rika masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu dari dalam dengan aman.

Usai memastikan situasi tetangganya kondusif, Enzo melangkah masuk ke dalam kamar kontrakannya yang sempit, mengunci pintu kayu, lalu mendaratkan tubuhnya di atas kasur busa.

Tepat saat ia hendak mematikan lampu pijar kamar, ponsel tua di meja kayunya bergetar halus dua kali secara berurutan. Enzo merogoh benda itu, membuka pendar layar retaknya yang menyala terang.

[Pembaruan Data Target: Tante Rika (42 Tahun)]

[Analisis Tindakan: Pilar Perlindungan Emosional & Penjagaan Batas Moral yang Sempurna.]

[Evaluasi Psikologis: Subjek berhasil menjadi tempat bersandar yang aman tanpa memanfaatkan kerentanan Target. Target merasakan rasa hormat, rasa aman, dan keterikatan emosional yang sangat dalam.]

[Keterikatan Tante Rika Meningkat: 22% -> 32%]

[Catatan Sistem: Keteguhan moral Anda di bawah godaan situasi rentan telah membuktikan kedewasaan karakter Anda.]

Enzo menatap layar ponselnya seraya menyunggingkan senyum tipis yang tenang. Pemuda itu mematikan layar ponsel tuanya, menyandarkan kepalanya pada bantal, lalu memejamkan mata untuk beristirahat menyongsong esok hari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!