NovelToon NovelToon
38.000 Langkah Ke Hatimu

38.000 Langkah Ke Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Time Travel
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Yanto Hl

Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.

Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.

Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 — Langkah yang Saling Bertemu

Ada hari di mana semuanya terasa biasa saja. Matahari terbit seperti biasa, angin berhembus pelan, dan orang-orang berjalan ke mana pun mereka tuju. Tapi di hari yang terasa biasa itu seringkali ada hal kecil yang ternyata mengubah banyak hal tanpa kita sadari.

Pagi itu aku berjalan ke pasar tradisional yang nggak jauh dari rumahku. Awalnya cuma mau beli sayuran segar untuk beberapa hari ke depan. Pasar itu ramai banget, suara orang tawar-menawar terdengar di mana-mana, dan aroma makanan hangat tercium dari warung kecil di pinggir jalan. Saat aku sedang memilih sayur aku mendengar suara seseorang yang terdengar ragu di belakangku. Saat aku menoleh aku melihat seorang wanita yang sepertinya juga terkejut melihatku. Ternyata dia adalah teman lama Bima yang dulu sering bercerita bahwa Bima selalu berbicara tentang seseorang yang spesial di hatinya. Dia bilang Bima pernah bilang kalau dia nggak bisa datang ke pertemuan yang mereka rencanakan, aku lah orang yang harus dia cari dan kabari. Dia bilang Bima percaya aku orang yang tepat untuk mendengarkan dan memahami.

Kita duduk di warung kecil itu dan mengobrol cukup lama. Dia bercerita banyak hal tentang Bima yang belum pernah aku ketahui. Tentang bagaimana Bima sering membantu tetangga tua tanpa memberi tahu siapa pun. Tentang bagaimana dia selalu menyisihkan sebagian uang sakunya untuk anak-anak di jalanan. Tentang bagaimana dia kadang duduk sendirian dan menulis di buku kecilnya sambil tersenyum sendiri seolah sedang membayangkan seseorang yang belum dia temui. Mendengar semua itu aku merasa semakin yakin bahwa cinta yang tulus memang terlihat dari hal-hal kecil yang dilakukan saat tidak ada orang yang melihatnya. Bima nggak pernah pamer kebaikannya. Dia cuma melakukannya karena hatinya memang baik. Itulah yang membuatnya begitu istimewa.

Saat kita berpamitan dia memelukku pelan dan bilang terima kasih sudah membuat sisa hidup Bima begitu berarti. Aku juga berterima kasih karena dia berbagi cerita yang membuatku merasa Bima masih ada di dekat kita. Ternyata kebaikan yang tulus memang membuat seseorang nggak pernah benar-benar pergi. Cerita tentang kebaikannya terus hidup di mulut dan hati orang-orang yang pernah dia temui.

Beberapa hari kemudian aku diajak untuk berbicara di sebuah acara kecil yang diadakan oleh komunitas pembaca buku. Aku nggak berdiri di atas panggung tinggi. Aku cuma duduk di antara mereka dan bercerita apa adanya. Tentang pertemuan yang tak terduga, tentang perpisahan yang datang terlalu cepat, tentang rasa bersalah yang lama menghantui, tentang perjalanan mencari jejak, dan akhirnya tentang keberanian untuk membuka hati lagi. Aku bilang kepada mereka bahwa nggak ada urutan yang benar untuk menyembuhkan luka. Setiap orang punya jalannya sendiri. Nggak usah membandingkan prosesmu dengan orang lain. Kamu berjalan dengan kecepatanmu sendiri dan itu sudah cukup.

Setelah selesai berbicara ada seorang pria yang mendekat. Dia bilang dia dulu pernah menyalahkan takdir karena orang yang dicintainya pergi. Dia merasa hidupnya nggak adil dan dia menutup diri dari semua orang selama bertahun-tahun. Tapi mendengar ceritaku dia sadar bahwa menyalahkan keadaan nggak akan membawa orang itu kembali. Yang bisa dia lakukan adalah menghormati kehadiran orang itu dengan cara menjalani hidup sebaik mungkin. Dia bilang besok dia akan mulai mengajar anak-anak jalanan membaca. Sesuatu yang dulu selalu mereka rencanakan bersama tapi belum sempat terlaksana. Matanya bersinar banget saat bilang itu. Cahaya yang muncul bukan karena dia sudah melupakan, tapi karena dia menemukan cara untuk membawa kenangan itu menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Hari itu aku pulang dengan hati yang penuh. Bukan karena aku melakukan sesuatu yang hebat. Tapi karena aku menyadari bahwa kita semua sebenarnya sedang berjalan di jalan yang sama. Kita semua pernah terluka, kita semua pernah merasa sendirian, dan kita semua butuh teman untuk berjalan bersamaan sesekali waktu. Kadang kamu yang memegang tangan orang lain, kadang kamu yang dipegangi. Itulah cara kita saling membantu sampai ke tujuan masing-masing.

Sore itu aku berjalan ke bukit itu sendirian. Langit terlihat luas dan indah banget dengan warna jingga yang perlahan berubah menjadi ungu lembut. Angin berhembus sejuk menyentuh wajahku. Aku berdiri di tepi tebing dan berbicara pelan ke arah lembah di bawah sana. Bima, lihat kan? Langkahmu bertemu dengan langkah orang lain dan terus berjalan ke mana-mana. Kamu nggak pernah berjalan sendirian. Semua orang yang kamu bawa ke dalam hidupku sekarang ikut menjaga dan menyebarkan kebaikan yang kamu mulai. Itulah warisan terindah yang bisa dimiliki seseorang kan? Bukan harta atau benda, tapi kebaikan yang terus mengalir dari satu hati ke hati yang lain tanpa pernah berhenti.

Aku pulang dengan langkah yang ringan. Di jalan aku melihat seorang anak kecil yang membantu neneknya menyeberangi jalan. Aku melihat seorang pemuda yang memberikan tempat duduknya kepada orang yang terlihat lelah di angkutan umum. Aku melihat seseorang yang tersenyum ramah kepada orang asing yang berpapasan dengannya. Hal-hal kecil yang terlihat biasa saja tapi sebenarnya luar biasa. Di setiap senyum dan setiap kebaikan kecil itu aku selalu teringat Bima. Dia mengajarkan aku bahwa dunia ini sebenarnya penuh dengan orang-orang baik. Kadang kita cuma butuh menjadi orang pertama yang menunjukkan kebaikan itu supaya orang lain berani ikut melakukannya juga.

Malam itu aku menulis panjang di bukuku.

"Kita sering berpikir bahwa kita berjalan sendirian di dunia ini. Padahal nggak begitu. Setiap langkah yang kamu ambil dengan tulus akan selalu bertemu dengan langkah orang lain yang juga sedang berusaha menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Kamu nggak akan pernah tahu kapan langkahmu akan bertemu dengan langkah seseorang yang sedang berjalan di jalan yang sama. Dan saat itu terjadi, kalian nggak perlu berjalan bersama selamanya. Cukup saling menyapa, saling menguatkan sebentar, lalu melanjutkan perjalanan masing-masing dengan hati yang lebih ringan dari sebelumnya. Itulah arti sebenarnya dari berbagi kan? Bukan membagi beban supaya lebih ringan saja. Tapi berbagi semangat supaya masing-masing orang punya keberanian lebih untuk melangkah lebih jauh dari yang dia kira mampu dilakukan sendirian."

Aku menutup bukuku dan meletakkannya di meja. Di luar jendela langit malam terlihat jernih dan bintang-bintang bersinar tenang. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari. Tapi aku nggak takut lagi. Karena aku tahu di mana pun aku melangkah, ada jejak Bima yang menuntunku, ada orang-orang baik di sekitarku yang akan menyapa kalau aku terlihat lelah, dan ada kebaikan yang selalu menunggu untuk disebarkan kepada siapa pun yang membutuhkannya.

Langkah demi langkah. Bertemu, berbagi, dan berpisah dengan damai. Itulah perjalanan yang indah. Dan aku bersyukur sekali pernah berjalan sejauh ini dengan hati yang terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!