NovelToon NovelToon
Dipaksa Menerima Wanita Itu

Dipaksa Menerima Wanita Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:140.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.

Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.

Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.

Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.

Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DMWI : 27

“Herlan Doko, pulang kamu sekarang juga, Sialan!” mendengar suara sang ipar, emosi Tyo semakin tersulut.

“Pulang kemana? Kamu lagi dimana?” Herlan terkejut, lalu bingung. Tiba-tiba saja adik iparnya menghubungi dan langsung memaki.

“Aku tunggu 20 menit dari sekarang. Kalau kamu gak juga pulang, jangan harap bertemu mbak Janti tanpa ada ucapan perpisahan!” ponselnya langsung dimatikan.

“Kita tunggu diluar saja!” Pak Sutris berbalik badan, tidak lagi berniat berbicara sebelum Herlan pulang.

“Baguslah kalau tau diri, kalian orang miskin gak pantes duduk di sofa mewahku!” ujar Darti, ia kesal karena putranya diancam.

Tyo merangkul ibu dan kakaknya, dia dorong pelan pundak para wanita kesayangan.

Keluarga harmonis itu melangkah keluar rumah, menunggu di teras tanpa mau duduk. Berdiri saling diam, namun berdekatan.

Kaos Arjanti basah oleh air mata yang terus dihapus di pipi. Suara sedu sedan sesekali terdengar saat dia menarik napas.

Di dalam rumah, terdengar suara Darti yang berbicara melalui sambungan ponsel. “Mertuamu ada disini! Gaya mereka sombong sekali, datang-datang langsung nyelonong masuk rumah. Dasar anak sama orang tua sama saja. Gak beradab.”

Kemudian Darti menghubungi suaminya yang sedang di toko bangunan mereka. Meminta Doko pulang cepat.

Detik pun berubah menjadi menit, berlalu sampai batas waktu ditentukan oleh Tyo hampir habis.

Arjanti dan keluarganya masih berdiri di teras, pandangan mereka berbeda arah, namun pikiran nyaris serupa, mencemaskan wanita yang tampak lelah.

Tin!

Tin!

Lasti tergopoh-gopoh menuruni undakan teras, lalu berlari menuju gerbang.

Pintu tinggi itu digeser ke kiri, dan mobil sewaan Tyo pun tampak, lalu sebuah kendaraan roda empat melaju masuk lewat celah tersisa cukup lebar.

Toyota Rush warna hitam berhenti di pelataran paving blok.

Pintu depan bagian penumpang dibuka dari dalam, dan keluarlah wanita berkulit putih, rambut disemir blonde. Saila tidak langsung melangkah, menunggu suaminya turun lebih dulu.

Wajah Tyo memerah, terlebih saat melihat pria yang dulu berjanji akan melindungi kakaknya, memberi bahagia itu.

Ayunan kaki Herlan sempat terhenti, ia terhenyak melihat keluarga mertua berdiri di teras.

“Saila, tolong jaga sikap sebentar. Itu keluarganya, Arjanti,” ucapnya mencoba menjaga jarak, menolak dipeluk tangannya.

“Biarkan saja, Mas, biar mereka tahu, memaklumi kalau sekarang perhatianmu gak melulu ke Janti karena sudah ada aku,” tolaknya keras kepala.

“Jangan pakai kekerasan, Tyo! Apa yang kamu lakukan sekarang, akan berimbas ke mbakmu kelak. Mereka punya uang untuk membungkam dan mengendalikan kekuasaan. Untuk sementara, tahan diri sampai semua sudah jelas nanti!” pak Sutris mewanti-wanti. Sadar kalau keluarganya kalah di harta.

Keinginan meninju muka Herlan pun terpaksa ditahan. Peringatan ayahnya masuk di akal, emosi sesaat tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada memperburuk keadaan.

“Bapak, Ibu, Tyo, kalian kapan datang?” Herlan melepaskan rangkulan tangan Saila dari lengannya.

Tak ada yang mau menjawab pertanyaan itu.

Lalu Herlan menatap istrinya yang menunduk. Suaranya jauh lebih lembut. “Sayang, kamu kok gak ngomong kalau orang tuamu datang?”

Arjanti seolah tuli, dia terus menggenggam tangan ibunya. Enggan meladeni pertanyaan pria yang memandang heran dengan perasaan mulai cemas.

“Herlan, bisa kita berbicara?” tutur pak Sutris dengan suara pelan namun menusuk.

“Bisa, bisa, Pak! Ayo masuk. Kok nunggu diluar, kenapa gak duduk di dalam saja?” Ia hendak menyalami punggung tangan mertuanya, namun harus menelan kecewa dikarenakan tidak mendapatkan sambutan hangat.

Demi menutupi rasa malu dan gugup, Herlan mempersilahkan mertuanya masuk ke dalam rumah.

“Kita bicara dan selesaikan disini saja!” pak Sutris menolak, enggan masuk ke dalam rumah yang pemiliknya tidak menginginkan kehadiran mereka.

Herlan pun termenung, mencoba mengode istri tua namun sayang Arjanti tetap menunduk.

“Pak, Bu, tolong jangan buat aku kehilangan muka dikarenakan merasa kurang pantas dalam menjamu mertua yang mana sudah kuanggap seperti orang tua sendiri,” ia mengiba, berbicara lemah lembut, khas dirinya saat ada maunya.

“Berbicara tentang adab, apa yang sudah kamu perbuat ke mbak ku pantas kah? Dapat dibenarkan, Herlan?” tanya tajam pemuda mengepalkan tangan di sisi badan.

“Ayo masuk, kita ngobrol di dalam. Ini pasti ada kesalahpahaman yang harus segera diluruskan agar tak berlarut-larut,” dia tidak ingin menjadi tontonan satpam komplek perumahan yang berkeliling.

“Saya bilang selesaikan disini, atau mau langsung ke pengadilan agama?” pak Sutris pun tidak kalah keras kepala dalam mempertahankan keteguhan hati.

Mendengar kata pengadilan agama, tubuh Herlan langsung tegang, tatapan tertuju ke wanita yang lemas dalam pelukan ibunya. “Pak, jangan berbicara seperti itu! Hubunganku dengan Janti baik-baik saja. Rukun.”

“Harmonis? Beristri dua tetap dianggap biasa saja, kamu ini waras atau sudah gila?” Tyo memang bisa menahan diri untuk tidak main fisik, tapi gagal menutup mulut.

Herlan pun tersinggung. Dia melirik ibunya, lalu ibu mertua, Astuti yang baru saja keluar dari dalam rumah.

Saila bergeser, berdiri di antara ibu kandung dan mertua.

Kemudian mobil Doko tiba, tak lama setelahnya, pria berkumis tebal itu turun dari kendaraan, melangkah tergesa-gesa.

“Tyo, sopan sedikit kamu berbicara dengan orang lebih tua!” Darti tidak senang putranya tak dihormati.

Tyo pun menampik. “Dia gak pantas disegani. Hanya seorang pecundang yang sanggup menyakiti wanita, terlebih seorang istri.”

“Pernikahanku dengan Saila atas izin mbakmu. Tanyakan saja ke dia!” egonya terluka, dan emosi terpancing.

“Bersedia dipoligami bukan berarti dia ikhlas diduakan. Bisa jadi karena bakti, atau keadaan memaksanya untuk setuju, namun hatinya memberontak. Sejatinya, tak ada wanita yang rela berbagi hati apalagi suami,” timpal bu Ratri.

“Bu, aku juga gak akan menikah lagi kalau seandainya Arjanti bisa memberikan anak,” elak Herlan, enggan mengaku salah, mencari pembenaran atas keputusan beristri dua.

Darti tersenyum tipis, dia puas karena sang besan pertama tidak bisa menjawab.

“Niatmu menikah itu untuk menyempurnakan separuh agama, mencari ridha-Nya, atau semata-mata karena keturunan? Bukankah sebelum dirimu dulu menjabat tangan pak penghulu, saya bertanya, meminta kepastian, masih ingat?” pak Sutris mencoba membawa ingatan sang menantu ke waktu detik-detik akad.

“Seandainya dalam pernikahan kalian nanti, tak diamanahkan keturunan, apa kamu bisa menerimanya, Herlan?” tanya pak Sutris kala itu, ingin meyakinkan hati bahwa laki-laki memakai peci hitam ini, jodoh terbaik Arjanti.

Pada saat itu Herlan pun menjawab mantap. “Aku mencintai Arjanti lebih daripada menyayangi diri sendiri. Adanya dia sudah cukup memenuhi relung hati, dan menyempurnakan hari-hariku!”

“Pak, dalam agama dibolehkan poligami, asal adil, dan aku memilih jalan itu bukan semata-mata karena nafsu, tetapi demi menjaga tidak terputusnya garis keturunan keluarga Doko,” elaknya.

Pria tersebut terkekeh kecil sambil menggelengkan kepala. “Jangan bersembunyi dibalik agama kalau yang kamu tiru bagian yang menguntungkan dan disukai, sementara banyaknya larangan, peringatan, tidak diindahkan, malah dilanggar dengan kesadaran penuh. Dari awal, caramu sudah salah! Arjanti bukan yatim piatu, dia masih memiliki orang tua lengkap. Apa ada dirimu minta izin juga ke kami sebelum menikah lagi?”

.

.

Bersambung.

1
Marlina Prasasty
bab yg penuh air mata
Marlina Prasasty
ini baru Janti,jgn kasi cela
sm org yg pling plang,yg belum pitus sm masa lalunya nanti kamu jd pelampiasan,semangat Janti
iyan eliyanti
Lelah bestiii... janti nyerah😍, kenapa tidak dari duluuuu janti, kenapa sampe nunggu tersakiti hatimu, pria plin plan macam tuu janganlah dikasih kesempatan, cukup sudaaah, waktunya menjemput bahagia mu janti
UfyArie
laki2 bodoh ya harlan ini dulu sudah di buang sama sheila kok yo masih mau tu na balikan mana wes janda lagi ,boreng memang...menyia2 kan berlian dapatnya batu koral ...🤣🤣
Fitriyazahra
4 bab untuk hari ini...yeayy mksh kaka
Sri Rahayu
maju trus jnti gx usah tanya2 biar tak bantu dari sini..🤣🤣 emosi Uda diubun2.. hbis ne Thor buatt Janti ketemu orka dan jdi juragan kaya dikampung..law author na yg tak datangi 🤭🤭🤭
Andriani
👍👍👍👍
Lilik Lailiyah
mantep janti
🍤⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
bagus janti, pilihan yang tepat, klo herlan g mau, kamu yg dluan maju ke PA. sdh cukup kamu bersabar dan jadi wanita bodoh yang cuma di manfaatin.
mamaqe
cakeeppp...tokoh utama pilihan otor sll luar biasaaahhh karakternya
Sri Wahyuni
hajar 🫵👊👊👊
Eli Rahma
alhamdulillah akhirnya janti sadar
Eli Rahma
jijik bgt denger ngomong sayang,tapi gda buktinya
Rahmawati
bagus janti bulatkan Tekadmu, jgn mau lagi diam drmh itu begelar istri tl tdk dihormati
yuyun Rahayu
ditunggu updatenya ny lagi kak cublik buat si Parlan itu mendem kecubung , kehilangan si njati,dn setelah itu hdp Parlan di peloroti sma jablay nya itu biar nyaho
Arin
Dirimu pun berhak bahagia Janti..... Tunjukkan pada Herlan nanti bahwa dirimu bukan lah mandul. Dirimu bisa mendapatkan keturunan. Tapi pasangan mu bukan Herlan. Biar mantan suamimu nanti berfikir jadi..... siapa yang sebenarnya mandul???? 😁😁😁
Engkar Sukarsih
dasar bahlul kamu herlan 🤬🤬🤬dulu kamu dah di buang seperti sampah sama tu kunti.eh...do...do..e malah di pungut lagi sampahnya😤😤😤
Nabila Nabil
aku... aku tak maju neng pengadilan... kesuwen... aku tak seng dadi Hakime... tak ketok palu gadangku neng sirahe herlan.... 😤😤😤😤
Engkar Sukarsih
bagus Janti lepaskan lelaki brengsekmu itu 😤😤😤😤
Nabila Nabil
janti.... langsung sat set tendang manukke..... 😤😤😤😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!