Sambil membawa surat hasil pemeriksaan kehamilannya, Kinan berlari menuju ruangan suaminya. Dia tidak sabar menyampaikan pada suaminya kalau dia hamil. Tapi saat akan membuka pintu,
"Bima, istriku mengantarkan istrimu ke rumah sakit. Katanya ke dokter kandungan, mungkin Kinan hamil. Lantas bagaimana dengan Agnes?"
"Bagaimana apanya? tiga tahun ini baik-baik saja kan? tinggal 2 tahun lagi, Agnes tidak perlu lagi sembunyi di luar negeri!"
Deg
Mata Kinan memerah, wanita yang telah menabrak ibunya hingga tewas. Dan mendapatkan hukuman selama lima tahun di penjara, bagaimana bisa berada di luar negeri?
"Kamu keterlaluan, kalau sampai Kinan mengetahuinya. Dia akan sangat marah padamu! jangan bawa-bawa aku ya, Bella itu sahabat baik Kinan. Kalau dia tahu, habislah aku!"
Hati Kinan hancur mendengar suaminya malah tertawa.
"Dia tidak akan tahu, kalaupun tahu dia bisa apa? Kinan sudah tidak punya siapa-siapa selain aku. Satu kata dariku, dia akan patuh!"
'Tega kamu mas' batin Kinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Kinan berbalik, dia memutuskan meninggalkan tempat itu dengan langkah gontai. Dia berusaha berjalan dengan cepat, dia berusaha meninggalkan tempat itu dengan cepat, air matanya mengalir begitu deras.
Pada akhirnya apa yang dianggap oleh Kinan sebagai cinta, dari Bima. Hanyalah kebohongan, penipuan, permainan yang sudah diatur sejak tiga tahun lalu. Pernikahan itu, semua kasih sayang, keperdulian dan perhatian itu hanya kedok. Hanya sandiwara yang dimainkan oleh Bima untuk membebaskan Agnes, cinta pertama Bima dari jeratan hukum.
Dada Kinan terasa penuh, terasa penuh dan panas. Membuatnya sulit bernafas, dia menangis sejadi-jadinya ketika dia masuk ke dalam lift. Bahkan kedua kakinya terasa begitu lemas. Kenyataan yang baru dia dengar ini, adalah cambukan yang sangat menyakitkan baginya. Dia pikir ibunya sudah mendapatkan keadilan, dia pikir ayahnya juga meninggal tidak sia-sia. Pelakunya sudah di penjara, mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya. Tapi, pada kenyataannya, wanita itu hidup bebas di luar negeri.
Kinan sungguh tak menyangka, Bima begitu tega padanya. Begitu kejam padanya. Bagaimana bisa dia dipermainkan selama tiga tahun. Apa yang tidak Kinan lakukan untuk Bima? Kinan selalu berusaha membalas semua kebaikan Bima. Tapi semua kebaikan itu bahkan palsu.
Ting
Pintu lift terbuka, di depan Kinan berdiri seorang pria yang mengenalinya.
"Nyonya... nyonya ada apa? kenapa nyonya menangis?"
Kinan tidak menjawab, bahkan tidak merespon ucapan pria itu. Kinan melewati pria itu begitu saja, sambil menyeka air matanya.
"Nyonya..."
Pria itu adalah asisten Bima, namanya Leo. Karena merasa khawatir, dia pun segera menghubungi bosnya.
Sementara itu di ruangannya, mendengar suara sering ponselnya. Bima segera meraih ponselnya yang ada di atas meja kerja.
"Ada apa?"
[Tuan, aku melihat nyonya di bawah. Dia baru keluar dari lift, dan dia menangis...]
Deg
Bima melebarkan matanya.
"Ikuti dia!"
Bima memutuskan panggilan telepon itu dengan cepat. Lalu menyambar jasnya yang ada di sandaran kursi.
Melihat Bima panik, Zayn tentu saja bertanya padanya.
"Kenapa?"
"Leo melihat Kinan di lobby, dia menangis!"
"Mampus! apa dia mendengar percakapan kita? bisa habis aku sama Bella!"
Bima hanya mendengus kesal. Dia tidak lagi menggubris Zayn dan segera keluar dari ruangannya.
Zayn juga panik, masalahnya kalau terjadi sesuatu pada Kinan. Dia bisa dikulitii oleh istrinya, Bella. Zayn ikut mengejar Bima. Sambil berusaha mengejar Kinan, Bima terus mencoba menghubungi Kinan. Tapi ponsel Kinan langsung tidak aktif.
"Habislah..."
"Bisa diam tidak!" pekik Bima yang merasa Zayn hanya menambah kepanikannya saja.
"Diam bagaimana? aku kan sudah bilang padamu, caramu itu kejam sekali. Wanita mana yang akan terima di tipu mati-matian seperti itu!"
Bima tidak memperdulikan ucapan Zayn. Dia masuk ke dalam mobil, dan ketika Zayn akan ikut masuk. Bima malah sudah menyalakan mesin mobilnya dan melaju cepat meninggalkan Zayn.
"Hehh..."
Teriakan Zayn percuma. Bima sudah meninggalkannya. Di jalan, Bima terus menginjak pedal gas mobilnya dengan cepat. Satu-satunya tempat yang akan dia tuju adalah rumah mereka, ruang Bima dan Kinan. Kinan sama sekali sudah tidak punya rumah, tidak punya siapa-siapa di kota ini. Jadi, tempat yang mungkin dituju oleh Kinan adalah rumah mereka.
Sedangkan, di depan perusahaan Bima. Zayn masih menunggu supir yang sudah dia hubungi. Tapi, mendadak ada panggilan telepon dari istrinya. Zayn panik, ponselnya sampai hampir jatuh ketika akan menerima panggilan itu.
"Ha... halo sayang..."
[Zayn, Kinan tadi ke kantor Bima. Aku dengar dari sekertaris mu, kamu juga sedang berada disana. Katakan padaku, bagaimana reaksi Bima ketika tahu istrinya hamil?]
Suara Bella terdengar masih sangat santai di seberang sana.
"Sayang... itu, tadi itu..."
[Zayn, bicara yang benar. Kenapa gagap seperti itu? ada apa?]
"Aku memang ada di kantor Bima. Tapi Kinan tidak datang..."
[Tidak mungkin!]
Sela Bella sampai membuat bahu Zayn naik tinggi dengan cepat.
"Sayang, jangan membentak ku bisa tidak? aku bisa jantungan. Kasihan Sasha kalau ayahnya matii muda"
[Sebenarnya ada apa Zayn? aku jelas-jelas mengantar Kinan sampai di depan perusahaan. Dia bawa laporan hasil pemeriksaan, dia hamil. Dia sangat senang dan sangat ingin memberitahukan kabar ini pada Bima. Bagaimana mungkin...]
Ucapan Bella terjeda. Keringat sudah banyak membanjiri pelipis dan dahi Zayn.
[Zayn, jangan bilang kalau kalian membicarakan sesuatu yang membuatnya marah]
'Aduh, kenapa istriku ini feeling-nya lebih kuat dari peramal sih?' batin Zayn.
"Aku, aku akan ceritakan di rumah..."
[Aku ke kantormu! jika sesuatu terjadi pada Kinan. Aku tidak akan melepaskan mu!]
"Sayang...."
Tut Tut Tut
Zayn menatap layar ponselnya dengan cemas.
"Habislah aku" lirihnya.
Sementara itu mobil Bima sudah berada di pekarangan rumahnya. Dengan cepat Bima turun dari mobilnya dan bergegas membuka pintu utama.
"Tuan..."
"Kinan mana, bi?" tanya Bima pada Atikah, kepala pelayan di rumah itu.
Wajah bibi Atikah malah tampak bingung.
"Nyonya belum pulang, tuan. Tadi di jemput nyonya Bella"
Bima tampak gelisah, dia kembali mencoba menghubungi Kinan. Tapi nomornya masih tidak aktif. Tiba-tiba saja dia kepikiran, mungkin Kinan pergi ke rumah Bella.
"Kalau Kinan pulang, hubungi aku!"
"Baik tuan!"
Bima keluar dari dari rumahnya dengan cepat. Dia kembali masuk ke dalam mobil dan keluar dari pekarangan rumah besarnya itu. Tujuannya kali ini adalah mencari Kinan dan rumah Bella.
Di perusahaan Zayn, Bella dengan gelisah menunggu kedatangan suaminya. Masalahnya, dia juga tidak bisa menghubungi Kinan. Dia benar-benar takut terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.
Dengan kedua tangan di lipat di depan dada, dan kaki yang terus mengetuk lantai sejak tadi. Bella menatap tajam ke arah pintu masuk ruangan kerja suaminya.
Ceklek
"Sayang..." Zayn terlihat ngos-ngosan. Pria itu berlari dari lobby sampai ke ruangannya ini.
"Aku tidak bisa menghubungi Kinan, terakhir kali aku mengantar ke perusahaan Bima. Dia masih baik-baik saja, dan masih begitu senang. Katakan apa yang terjadi?"
Zayn merasa tatapan istrinya sangat menakutkan. Dia benar-benar takut pada Bella.
"Sayang, aku tidak tahu pastinya. Tapi tadi saat aku dan Bima bicara di kantor Bima. Leo telepon, katanya dia melihat Kinan keluar dari lift dengan menangis..."
"Apa???"
Zayn sampai terjingkat.
"Sayang... aku sungguh tidak tahu..."
"Apa yang kamu dan Bima bicarakan di kantornya?" sela Bella lagi.
"Itu... itu..."
"Zayn, kamu mau aku kuliti?" pekik Bella yang mulai mendekati Zayn dan membuat pria itu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Cepat katakan!" pekik Bella lagi yang membuat Zayn tak bisa menutupi apapun lagi.
"Ten... tentang Agnes!"
"Apa!!!"
***
Bersambung...