NovelToon NovelToon
Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Dibuang Keluarga Ku,Dipilih Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikahmuda
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.

​Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19.Hampa

Lampu kamar berpendar temaram, memantulkan kilatan tajam dari pecahan kaca vas yang kini menempel tepat di atas nadi pergelangan tangan kiri Aruna.

Darah Kaivan serasa berhenti mengalir. Sensasi dingin merambat cepat dari ujung kakinya hingga ke ubun-ubun.

Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Kaivan Adikara pria yang selalu tenang dan memegang kendali penuh atas segala situasi-rasa takut mati-matian meremas jantungnya hingga ia kesulitan bernapas.

"Aruna... hentikan!" jerit Kaivan dengan suara bariton yang pecah oleh kepanikan murni.

Kaivan melompat menerjang jarak di antara mereka. Pria itu berlutut tanpa peduli pada serpihan kaca tajam yang menembus celana kain mewahnya dan merobek kulit lututnya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, jemari Kaivan yang berguncang hebat mencengkeram pergelangan tangan kiri Aruna, menariknya menjauh dari urat nadi gadis itu, lalu merebut pecahan kaca tajam tersebut dan melemparnya kasar hingga melayang menghantam sudut ruangan.

PRANG!

"Kau gila, Aruna?! Kau mau mati?!" bentak Kaivan, napasnya memburu kasar di depan wajah pucat Aruna. Suaranya melengking keras, menggelegar menembus kesunyian kamar.

Namun, tidak ada guncangan ketakutan di mata Aruna seperti biasanya.

Gadis itu tidak menjerit, tidak pula mencoba kabur. Pandangan matanya begitu hampa, redup, dan kosong-seperti selimut kegelapan yang telah menelan seluruh jiwanya. Ia menatap Kaivan tanpa ekspresi, seolah pria tinggi yang sedang mencengkeram tangannya ini hanyalah sosok bayangan tak kasat mata.

"Kenapa... Pak Kaivan menghalangi saya...?" bisik Aruna dengan suara parau yang sangat tipis, nyaris tak terdengar. "Bukannya... Pak Kaivan juga ingin saya lenyap...?"

Kalimat lirih itu menghantam ulu hati Kaivan jauh lebih keras daripada pukulan fisik apa pun. Cengkeraman tangan Kaivan di pergelangan tangan Aruna perlahan melonggar. Pria itu terpaku, matanya membelalak menatap wajah Aruna yang basah oleh air mata dingin.

"A-apa yang kau bicarakan..." gumam Kaivan ketus, berusaha keras mengembalikan topeng gengsi dan wibawa angkuhnya yang hancur berantakan.

"Jangan asal bicara! Jangan bertindak bodoh dan konyol di rumahku! Kau pikir dengan mati di sini, masalahmu akan selesai?!"

Aruna membuang mukanya ke samping, menatap pasrah pada sisa-sisa air bunga mawar yang menggenang di atas lantai marmer.

"Saya tidak punya tempat lagi... Di mana pun saya berada, saya cuma jadi beban... Saya cuma barang yang dijual..."

"Cukup!" potong Kaivan tegas, meski rahangnya bergetar menahan amarah yang bercampur dengan rasa bersalah yang teramat luar biasa.

Kaivan langsung menyelipkan tangannya di bawah tubuh Aruna, mengangkat gadis yang terasa sangat ringan dan dingin itu dari ceceran kaca, lalu memindahkannya secara paksa ke atas tempat tidur.

"Bi Asih! Bersihkan ruangan ini sekarang juga!" perintahkan Kaivan keras ke arah pintu, tempat Bi Asih berdiri mematung dengan wajah pucat menahan tangis karena syok melihat adegan mengerikan tersebut.

"B-baik, Pak Kaivan..." cicit Bi Asih gemetar, segera berlari mengambil sapu dan kain pel.

Di atas ranjang, Aruna meringkuk membelakangi Kaivan. Ia menarik selimut tebal hingga menutup dadanya, memejamkan mata rapat-rapat, memilih untuk menutup seluruh akses dirinya dari dunia luar. Ia tidak ingin lagi mendengar omelan, bentakan, atau tuduhan dingin dari pria itu.

Kaivan berdiri kaku di samping ranjang, menatap punggung kecil Aruna yang bergetar pelan dalam tangisan tanpa suara. Tangan Kaivan yang berada di dalam saku celana mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Lututnya yang terluka oleh pecahan kaca mengeluarkan sedikit darah yang menetes ke lantai, namun Kaivan tidak memedulikannya sedikit pun.

Rasa panas membakar dadanya sebuah kombinasi antara rasa gengsi yang menolak terlihat lemah dan rasa bersalah yang menggerogoti nuraninya sampai habis.

"Istirahatlah," kata Kaivan dengan suara kaku yang sengaja dipertegas.

"Jangan coba-coba melakukan tindakan konyol seperti tadi lagi. Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja sebelum semua urusan ini selesai."

Kaivan membalikkan badannya dan melangkah kaku keluar kamar, meninggalkan Aruna yang kian tenggelam dalam samudera kesedihan yang tak bertepi.

Sementara itu, di sebuah kafe berkonsep kayu hangat di kawasan Jakarta Selatan, suasana kerja di balik meja bar berlangsung luar biasa cemas.

Meski mesin kopi terus berdegung dan aroma biji kopi yang diroasting memenuhi ruangan, tiga orang karyawan yang berdiri di sana sama sekali tidak fokus bekerja.

Maya meremas serbet kafenya dengan gelisah sambil menatap layar ponselnya yang berada di atas meja kasir. Di sampingnya, Rian menggelengkan kepala berulang kali seraya mengusap wajahnya yang kusut.

Sementara Bagas barista muda yang biasanya paling tenang berdiri menyandarkan kedua tangannya di tepi meja bar, menatap lurus ke luar jendela kaca dengan sorot mata yang dipenuhi penderitaan dan kekhawatiran mendalam.

Sejak hari di mana Aruna pamit pulang lebih awal dengan raut wajah pucat dan gelisah beberapa hari lalu, gadis itu mendadak hilang bagai ditelan bumi. Ponselnya tidak pernah aktif, pesan singkat tak ada yang dibalas, dan tempat tinggal kosnya pun kosong.

Lalu kemarin sore, berita pernikahan rahasia antara Aruna Rasyara dan pengusaha kaya raya Kaivan Adikara mendadak meledak di media massa.

"Gimana, May? Masih nggak diangkat juga?" tanya Rian parau, memecahkan kesunyian di antara mereka.

Maya menggelengkan kepalanya lemah, menahan tangis yang mulai merayap di sudut matanya. "Nggak diangkat, Yan. Tadi sempat terhubung sebentar, tapi terus mati lagi. Aku takut banget terjadi apa-apa sama Aruna..."

"Kalian percaya berita sampah di internet itu?" suara Bagas mendadak terdengar, rendah dan dalam. Laki-laki itu berbalik menatap Maya dan Rian dengan mata yang memerah menahan emosi.

"Kalian pikir Aruna benar-benar menikah karena mengincar harta seperti yang dibilang gosip-gosip itu?"

"Ya enggaklah, Gas!" sahut Rian cepat. "Kita bertiga udah kerja bareng Aruna hampir dua tahun! Kita tahu betul Aruna itu gimana! Dia cewek paling tulus, paling hemat, bahkan minum kopi sisa eksperimen kita aja dia bersyukur banget. Nggak mungkin Aruna punya niat aneh-aneh begitu!"

"Bener, Gas..." tambah Maya dengan mata berkaca-kaca.

"Aku malah makin khawatir... Hari waktu Aruna izin pulang duluan itu, mukanya pucat banget kaya orang ketakutan. Terus tiba-tiba muncul berita pernikahan rahasia kaya gini tanpa kita tahu apa-apa? Ini pasti ada yang nggak beres. Aku takut Aruna lagi dijebak atau dipaksa sama keluarganya..."

Mendengar kata 'dipaksa', dada Bagas serasa dihantam batu yang sangat berat.

Laki-laki itu mencengkeram tepi meja bar hingga buku-buku jarinya memutih. Bagas menyukai Aruna sejak pertama kali gadis itu melangkah masuk melamar pekerjaan di kafe ini. Ia menyukai senyum lembut Aruna yang selalu hadir meski gadis itu tampak menyimpan beban berat di matanya. Bagas selalu memperhatikan bagaimana Aruna bekerja keras hingga larut malam demi membiayai hidupnya sendiri tanpa pernah mengeluh.

Bagas menyimpan rasa suka itu secara diam-diam, menunggu waktu yang tepat untuk menyatakannya. Namun kini... gadis yang ia cintai dalam hening mendadak menghilang, terperangkap di dalam berita pernikahan megah dengan pria dari kalangan elit yang berhati dingin.

"Aku harus cari dia," desis Bagas tiba-tiba, menyambar jaketnya yang tergantung di belakang kasir.

"Gas! Mau cari ke mana?!" tahan Rian panik, memegang pundak Bagas. "Kita bahkan nggak tahu di mana rumahnya Kaivan Adikara itu! Kau jangan nekat!"

"Aku nggak bisa cuma diam di sini sambil nunggu berita nggak jelas, Yan!" bentak Bagas dengan nada frustrasi yang emosional.

"Aruna dalam bahaya! Kalau dia bahagia, dia nggak mungkin mematikan ponselnya dan memutus hubungan sama kita semua! Dia butuh bantuan!"

Maya menahan lengan Bagas, air matanya menetes. "Bagas, tenang dulu... Kita cari cara yang benar. Kita coba datangi kosan lamanya lagi nanti malam, atau cari info dari kenalan media. Jangan emosi begini..."

Bagas mengepalkan tangannya rapat-rapat, memejamkan mata berusaha menetralkan napasnya yang memburu. Penyesalan yang luar biasa dahsyat merayapi jiwanya. Kenapa hari itu aku biarkan kau pulang sendirian, Aruna...? Kenapa aku tidak menahannmu dan menanyakan masalahmu...?

Mereka bertiga tidak tahu bahwa di saat mereka meratapi kepergiannya dengan rasa khawatir yang tulus, Aruna sedang terpuruk dalam kesendirian yang gelap-merasa ditinggalkan dan tidak berharga di dalam sangkar emas milik pria yang membencinya.

Malam kian larut di kediaman Adikara.

Hujan gerimis menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Di ruang kerja pribadinya di lantai satu, Kaivan duduk di balik meja kerja, menatap dokumen laporan keuangan di hadapannya.

Namun, tidak ada satu pun baris angka yang dibacanya.

Tangan Kaivan yang memegang pulpen tampak gemetaran.

Bayangan Aruna yang memegang serpihan kaca dengan mata yang hampa dan mati terus-menerus berputar di dalam kepalanya bagai kaset rusak.

"Kenapa Pak Kaivan menghalangi saya...?"

"Saya cuma barang yang dijual..."

Suara lirih Aruna bergema kembali, menusuk-nusuk ulu hatinya tanpa ampun.

Kaivan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memejamkan mata rapat-rapat seraya memijat pangkal hidungnya yang berdenyut nyeri. Dinding gengsinya yang angkuh terus berteriak bahwa tindakan Aruna hanyalah drama keputusasaan seorang gadis lemah. Namun, nuraninya yang terdalam menyuarakan kenyataan pahit yang tak bisa ia bantah: Dialah yang memicu Aruna melakukan tindakan nekat itu.

Bentakannya, tuduhannya yang kejam bahwa Aruna penipu, tindakan menguncinya di kamar dingin... semuanya telah menjadi dorongan terakhir yang mematahkan sisa-sisa semangat hidup gadis itu.

Ceklek.

Bi Asih melangkah masuk dengan ragu-ragu, membawa nampan berisi secangkir teh hangat untuk Kaivan.

"Pak Kaivan..." sapa Bi Asih pelan.

Kaivan membuka matanya, menatap Bi Asih dengan raut wajah yang sangat lelah dan kaku. "Bagaimana dia?"

"Nona Aruna sudah tidur, Pak... tapi..." Bi Asih mendesah napas panjang, matanya tampak sembap. "Beliau sama sekali tidak mau menyentuh sup atau minum obatnya. Beliau cuma berbaring menghadap dinding dari tadi. Saya takut Nona Aruna jatuh sakit lagi, Pak..."

Kaivan mengepalkan tangannya di atas meja. Rasa jengkel dan cemas berbaur menjadi satu di dalam dadanya.

"Biarkan dia," kata Kaivan dengan nada kaku yang dipaksakan. "Nanti kalau dia lapar, dia akan makan sendiri. Jangan terlalu memanjakannya."

Bi Asih menundukkan kepalanya, merasa prihatin pada majikannya yang tetap bersikap keras kepala di atas gengsinya, padahal raut wajah Kaivan memancarkan kepanikan dan rasa bersalah yang teramat sangat.

"Baik, Pak Kaivan. Saya permisi."

Setelah Bi Asih keluar dari ruang kerja, Kaivan bangkit berdiri. Pria itu melangkah perlahan menuju jendela besar yang mengarah ke taman belakang yang gelap.

Ia tahu, hubungan ini tidak didasari oleh rasa cinta atau kasih sayang. Aruna tetaplah gadis yang hadir dalam hidupnya sebagai jaminan utang puluhan miliar. Namun, melihat Aruna yang hampa, runtuh, dan berada di ambang kematian justru menciptakan ketakutan asing di dalam jiwa Kaivan-sebuah ketakutan bahwa ia telah berubah menjadi monster yang paling kejam bagi seorang gadis tak berdosa.

Kaivan menatap lurus ke arah kegelapan malam, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan raut wajah membeku.

"Aku tidak akan meminta maaf padamu, Aruna," gumam Kaivan sangat pelan pada bayangannya sendiri di kaca jendela, menegaskan dinding gengsinya yang belum mau runtuh.

"Tapi aku juga tidak akan membiarkanmu mati di rumah ini."

_Bersambung

1
Diki Nd
👍👍👍👍
Diki Nd
💪💪💪
dinda aja
sukaaa lanjutkan yahhh
dinda aja
🤭🤭🤭🤭
Pendi Gudung
lanjuttt min
Fadillah Langsa
lanjut napa kak
Ijal Messi
ngakak 🤭🤭
Ijal Messi
lanjuttt
Ijal Messi
🤣🤣🤣
li za
mana kelanjutan nya min
Lenovo A
lanjuttt
Bambang Suanto
duhhh ngakak keciduk
Bambang Suanto
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Bambang Suanto
sedihh
Industri Kreatif
asli seruuu
sosa
Seruu parah
sosa
Sukaa
Rian Moontero
lanjooott👍👍
Isannn
😍😍😍
Alle Salsa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!