NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vvhiiiiivhy

Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Pertemuan di Menara Jam

Elena melangkah menyusuri lorong panjang Menara Jam Utara yang dingin dan lembap. Suara ketukan gaun beludru hitamnya bergema pelan, beradu dengan detak mekanis raksasa dari roda gigi menara yang berputar di atas kepala. Tempat ini sengaja dipilih karena letaknya yang terasing di sudut terluar istana kekaisaran—sebuah lokasi sempurna untuk kesepakatan yang tidak boleh tercium oleh siapa pun, terutama Gavin.

Di ujung lorong, bayangan tinggi seorang pria berdiri membelakangi lampu minyak. Duke Killian. Tirani berdarah dingin itu berdiri tegak tanpa perlindungan pakaian zirah, hanya jubah hitam legam berlapis bulu serigala yang berkibar pelan tertiup angin malam yang menyelinap dari celah jendela batu.

"Kau terlambat tiga menit, Nona Elena," suara Killian terdengar berat, memecah kesunyian malam dengan nada dingin yang familier.

Elena tidak gentar. Kehidupan pertamanya telah menempanya menjadi wanita yang tidak lagi mengenal rasa takut pada gertakan. "Jalanan menuju menara ini diawasi ketat oleh pengawal pribadi Gavin, Yang Mulia. Saya harus mengambil rute memutar melalui dapur bawah tanah agar tidak memicu kecurigaan."

Killian berbalik. Sepasang mata merahnya yang berkilau di kegelapan menatap Elena dengan tajam, seolah berusaha menguliti setiap niat tersembunyi di balik wajah tenang gadis itu. "Dan kau berhasil mengelabui mereka? Mengesankan untuk seorang Nona Muda yang biasanya hanya menghabiskan waktu di pesta teh."

"Saya sudah katakan sejak awal aliansi kita, Duke. Saya bukan lagi Elena yang dulu," jawab Elena lurus, menatap tepat ke manik mata sang tirani. "Saya membawa informasi yang Anda butuhkan mengenai pergerakan logistik rahasia di perbatasan barat."

Killian melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Elena bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi tembakau mahal dari tubuh pria itu. "Katakan padaku."

Elena mengeluarkan sepucuk surat kecil dari balik lengan bajunya. "Gavin diam-diam memindahkan pasokan gandum dan persenjataan dari gudang wilayah timur ke barak militer pribadi miliknya di pinggiran ibu kota. Dia memalsukan laporan keuangan dengan bantuan Menteri Keuangan. Dia sedang mempersiapkan kudeta terselubung untuk memastikan takhta jatuh ke tangannya lebih cepat."

Killian menerima surat itu, jemarinya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam sempat bersentuhan dengan kulit dingin Elena. Killian membuka gulungan kertas tersebut, membaca baris demi baris dokumen dengan kilatan amarah yang tertahan di matanya.

"Pangeran sialan itu benar-benar tidak sabaran," desis Killian, senyum miring yang mengerikan terukir di bibirnya. "Dia pikir dia bisa menggerakkan pasukan di bawah hidungku?"

"Dia bisa, jika Anda tetap diam seperti di kehidupan..." Elena menggantung kalimatnya, menyadari dia hampir kelepasan bicara tentang masa depan. Dia segera berdehem pelan. "...jika Anda tetap mengabaikan pergerakannya karena menganggapnya tidak berarti."

Killian menyipitkan mata, menangkap keraguan sesaat di wajah Elena. "Kau selalu bicara seolah-olah kau tahu persis apa yang akan terjadi, Elena. Seolah kau telah melihat akhir dari permainan ini."

Elena mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun. Aku memang sudah melihatnya, Killian. Aku melihat kepalaku sendiri terpenggal, anakku dibantai, dan kau... kau mati diracun oleh Gavin di medan perang. Namun, Elena hanya melempar senyum tipis yang penuh misteri. "Anggap saja saya memiliki intuisi yang sangat tajam, Yang Mulia."

"Intuisi yang berbahaya," gumam Killian. Pria itu memasukkan surat tersebut ke dalam sakunya, lalu kembali menatap Elena. "Lalu, apa yang kau inginkan sebagai imbalan dari informasi berharga ini? Kau tidak mungkin datang ke menara terkutuk ini hanya untuk menyelamatkan kekaisaran."

"Saya ingin Anda mencegat pengiriman logistik berikutnya di Lembah Kabut," jawab Elena tanpa ragu. Mata gadis itu berkilat penuh dendam. "Tebas jalur pasokannya. Buat Gavin merangkak mengemis dana kepada keluarga saya. Di saat itulah, saya akan memotong tangannya yang mencoba menyentuh harta keluarga Lawrence."

Killian terkekeh rendah. Suara tawa yang terdengar dingin namun menyimpan ketertarikan yang mendalam. "Kau benar-benar wanita yang kejam, Elena. Terkadang aku lupa bahwa kau adalah tunangan dari pria yang sedang kau hancurkan ini."

"Tunangan yang akan segera mengirimnya ke neraka terdalam," sahut Elena ketus.

"Baiklah. Aku akan mengirim pasukan bayanganku ke Lembah Kabut besok malam. Namun, ada satu hal yang mengusikku," Killian melangkah satu babak lagi, membuat Elena terpaksa mendongak untuk menatap wajahnya. "Bagaimana dengan adik tirimu? Mielle?"

Mendengar nama itu, rahang Elena mengencang. Kilasan ingatan saat Mielle tertawa puas menyaksikannya terbakar di sel bawah tanah kembali berputar di benak Elena. Rasa panas seolah kembali membakar kulitnya, membuat napasnya memburu sesaat.

"Kenapa dengan dia?" tanya Elena, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

"Mata-mataku melaporkan bahwa hari ini Gavin mengunjungi kediaman Lawrence secara rahasia saat kau sedang keluar. Dan menebak siapa yang menyambutnya di taman belakang? Adik tirimu yang berwajah polos itu," Killian mengamati perubahan ekspresi Elena dengan saksama.

Elena menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan. Dia memaksakan sebuah senyuman dingin. "Biarkan saja mereka bertemu, Yang Mulia. Justru saya yang membiarkan pintu belakang terbuka agar Gavin bisa masuk."

Killian menaikkan sebelah alisnya, tampak sedikit terkejut. "Oh? Kau sengaja membiarkan tunanganmu berselingkuh?"

"Seekor lalat akan selalu tertarik pada tempat sampah, Duke. Mielle mengincar posisi saya, dan Gavin mengincar pengaruh yang bisa diberikan oleh Mielle jika dia berhasil menguasai ayah saya. Mereka berdua adalah pasangan yang serasi di dalam lumpur," Elena menjeda kalimatnya, matanya menatap lurus ke luar jendela menara, memandang kegelapan ibu kota. "Semakin tinggi Gavin terbang bersama Mielle, semakin hancur pula dirinya saat saya menjatuhkannya nanti. Saya ingin mereka menikmati kebahagiaan semu itu sedikit lebih lama."

Killian menatap Elena dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kekaguman yang samar di balik ketegasan matanya. Selama hidupnya, Killian hanya mengenal wanita-wanita bangsawan yang menangis atau merayu demi mendapatkan perlindungan. Namun wanita di depannya ini berbeda. Elena adalah badai yang tenang, berselimut keanggunan namun siap menghancurkan apa saja yang menghalangi jalannya.

"Kau adalah sekutu yang paling mengerikan sekaligus paling menarik yang pernah kutemui, Nona Lawrence," ucap Killian, nadanya kini melunak, kehilangan sebagian dari kebekuannya yang biasa.

"Saya menganggap itu sebagai pujian, Duke Killian," balas Elena, membungkuk hormat dengan sangat anggun. "Saya harus segera kembali sebelum pelayan pribadi saya menyadari ruang kerja saya kosong."

"Tunggu," panggil Killian saat Elena berbalik untuk pergi.

Elena menghentikan langkahnya dan menoleh. "Ada hal lain, Yang Mulia?"

Killian berjalan mendekat, lalu dari balik jubahnya, dia mengeluarkan sebuah belati kecil berkilau dengan gagang yang dihiasi batu permata merah rubi yang senada dengan warna matanya. Dia mengulurkan belati itu kepada Elena.

"Gavin bukan orang bodoh. Jika dia mulai mencium kegagalan rencananya, dia akan menjadi nekat. Simpan ini di balik gaunmu. Jika bajingan itu berani menyentuhmu tanpa izin, tusuk jantungnya. Aku yang akan mengurus mayatnya," ujar Killian dengan nada santai, seolah baru saja menawarkan secangkir teh, bukan rencana pembunuhan seorang pangeran.

Elena menatap belati itu lama, lalu menerimanya dengan tangan yang mantap. Berat belati itu terasa pas di genggamannya. Sensasi dingin logamnya memberikan rasa aman yang aneh.

"Terima kasih, Yang Mulia. Saya pastikan belati ini akan menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik jika saatnya tiba," kata Elena dengan senyum penuh arti.

Dengan langkah kaki yang ringan namun tegas, Elena meninggalkan Menara Jam Utara. Di dalam hatinya, api dendam membakar semakin berkobar, namun kali ini, dia tidak lagi berjalan di dalam kegelapan sendirian. Dia memiliki sang tirani berdarah dingin di sisinya, dan roda takdir yang baru saja mulai berputar untuk menghancurkan Gavin dan Mielle, sehancur-hancurnya.

1
Pelangi Jingga
ceritanya di ulang trus
jenny
pelayan setianya ganti kak? bukannya namanya Yana?
jenny
Misha atau Dara
Nycthophile
banyak bener nih adik tiri punya nama😌
jenny: ha ha hs
total 1 replies
Nycthophile
Thor mohon maaf nih sebelum nya minta tolong kalo ada pergantian nama karakter kasih tau Thor soal nya nama adik tiri nya Elena ganti ganti terus 🙏😔
jenny: saya pikir bukan cuma saya yang bingung cz banyak nama di setiap chapter... 🤭 atau mungkin adik tirinya lebih dari satu dan semuanya tergila-gila dengan Gavin 😄
total 1 replies
Nycthophile
nama adik tiri nya yang benar Mya atau Misha Thor😔
Nycthophile
lagi perasaan tiga bab udah di ulang terus😔
Nycthophile
nama adiknya ganti ya terus Thor awalnya Dara abis itu Misha sekarang Mya😔
Siskasuryaningsih
namanya semua di ganti2, eh bambang lu ye, buat kepala ane pening tau, 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!