Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab3
Suasana kamar rawat inap VIP itu makin sunyi begitu denting jam di dinding menunjukkan pukul dua pagi. Bau khas antiseptik dan dengung halus mesin patient monitor menyatu dengan hembusan angin malam yang menerobos dari balik jendela yang sedikit terbuka.
Maya merapatkan kain selimut tipis yang membaluti badannya. Matanya terasa berat, berpasir, dan pedih. Rasa lelah yang menumpuk selama beberapa hari terakhir seolah melumpuhkan seluruh sendi tubuhnya. Namun, rasa cemas jauh lebih kuat menahan kesadarannya. Di atas ranjang putih itu, Bagas masih terbaring kaku, tak bergerak sedikit pun dalam cengkeraman koma yang belum pasti kapan akan berakhir.
Karena sangat letih sekali, Maya akhirnya rebahan di kursi sembari menjaga Bagas yang sedang koma. Saat malam makin larut, mata Maya sempat tertutup sejenak akibat rasa kantuk yang tak tertahankan. Ketika malam tiba dan kesadarannya perlahan kembali, Maya terbangun sambil melihat Bagas yang sedang koma. Tatapannya tertuju pada selang bening yang menggantung di samping ranjang. Maya pun melihat infus Bagas mau habis, tersisa beberapa tetes di bagian bawah tabung.
Dengan sigap meski langkahnya masih agak sempoyongan, Maya menghidupkan alarm bel untuk memanggil perawat agar segera mengganti infus Bagas.
Tak lama kemudian, pintu kamar terdorong pelan. Bunyi langkah kaki berbalut sepatu karet terdengar mendekat. Perawat pun datang, membawa troli kecil berisi kelengkapan medis.
"Permisi, Bu?" tanya perawat kepada Maya dengan suara pelan dan ramah, berusaha tidak merusak ketenangan malam.
"Iya, Suster," jawab Maya dengan nada pelan, menyapu sisa kantuk di wajahnya.
"Ada yang bisa kami bantu?" tanya perawat rumah sakit kepada Maya sembari melangkah menuju tiang infus.
"Ini lho, infus pada pasien sudah hampir habis," kata Maya kepada perawat tersebut, menunjuk ke arah botol cairan yang tinggal menyisakan ruang kosong.
"Baik Bu, segera kami ganti," jawab perawat rumah sakit tersebut dengan cekatan.
Tangan perawat itu bergerak terampil. Dengan sigap ia melepas botol cairan yang kosong, menggantinya dengan cairan nutrisi yang baru, lalu mengatur laju tetesannya sesuai instruksi medis. Setelah itu, ia mengarahkan pandangannya ke layar monitor, mencatat tekanan darah, denyut jantung, serta tingkat saturasi oksigen Bagas di lembaran rekam medis.
Setelah selesai mengganti infus dan mengecek kondisi Bagas, perawat rumah sakit tersebut pamit kepada Maya.
"Permisi Bu, pengecekan infus dan cek kondisi pasien sudah selesai," kata perawat kepada Maya sambil menyunggingkan senyum tipis yang menenangkan.
"Baik Bu, terima kasih," jawab Maya kepada perawat tersebut.
Perawat itu mengangguk dan bersiap mendorong trolinya kembali menuju pintu. Namun, baru saja ia berbalik, Maya mendadak teringat sesuatu. Ada keraguan yang mengganjal di dadanya sejak sore tadi—sesuatu yang sangat perlu ia kepastiannya demi kesembuhan Bagas.
"Oh ya Bu, saya mau tanya, Dokter Frans besok jadwal masuk kerja jam berapa?" tanya Maya kepada perawat tersebut dengan nada penuh harap.
"Kalau Dokter Frans jadwal masuknya pagi, jam 8," jawab petugas perawat rumah sakit kepada Maya.
"Oh, begitu..." jawab Maya kembali.
Namun, bukannya merasa puas, napas Maya justru terdengar agak berat. Ia menatap wajah Bagas yang pucat di bawah sorotan lampu remang.
"Maaf Suster, kalau boleh saya tahu, apakah Dokter Frans besok pagi ada jadwal operasi besar? Saya benar-benar perlu bicara lama dengan beliau mengenai perkembangan respons saraf Bagas," lanjut Maya, menyatukan kedua telapak tangannya yang dingin di depan dada.
Perawat itu menghentikan langkahnya di dekat pintu, lalu kembali menatap Maya dengan tatapan empati.
"Seingat saya, jadwal operatif Dokter Frans besok dimulai jam sepuluh pagi, Bu. Jadi antara jam delapan sampai jam setengah ten g, beliau biasanya melangsungkan visite ke ruang-ruang perawatan VIP terlebih dahulu. Ibu bisa menunggu beliau di rentang waktu itu."
"Apakah saya harus mendaftar atau mengonfirmasi ke meja perawat dulu besok pagi supaya bisa dapat waktu diskusi agak lama, Suster? Saya merasa... ada beberapa respons kecil dari jarinya kemarin sore, tapi tadi siang penjelasannya terasa sangat singkat." Ada nada gemetar dalam nada bicara Maya, cerminan dari kecemasan yang makin menumpuk.
Perawat itu tersenyum makin hangat. Ia melangkah sedikit mendekat ke arah Maya, mencoba memberikan ketenangan profesional.
"Ibu tidak perlu khawatir. Nanti begitu pergantian shift dinas subuh jam enam pagi, saya akan menuliskan catatan khusus di lembar rekam medis Mas Bagas. Saya catat bahwa pihak keluarga memohon waktu konsultasi khusus saat Dokter Frans visite. Biasanya Dokter Frans sangat kooperatif kalau keluarga pasien mencatat perubahan sekecil apa pun."
"Benarkah, Suster? Terima kasih banyak..." Maya menghembuskan napas lega, seolah satu beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. "Soalnya saya takut mengganggu jadwal beliau yang padat. Tapi di sisi lain, saya juga tidak tenang kalau tidak mendapatkan kepastian tentang langkah terapi berikutnya."
"Sangat wajar, Bu. Menjaga pasien koma memang membutuhkan kesabaran dan ketahanan mental yang luar biasa. Ibu sendiri bagaimana? Sudah makan malam? Wajah Ibu terlihat sangat pucat." Perawat itu mengamati garis-garis kelelahan di bawah mata Maya.
Maya tertawa kecil, sebuah tawa hambar yang dipaksakan. "Jujur saja, makan pun rasanya tidak tertelan, Suster. Pikiran saya melayang ke mana-mana. Setiap kali saya mencoba memejamkan mata, saya selalu kaget dan takut kalau-kalau ada suara alarm dari mesin ini yang berbunyi."
"Ibu juga harus menjaga kesehatan," kata perawat itu memotong dengan tegas namun penuh perhatian. "Pasien sangat membutuhkan keberadaan Ibu dalam kondisi yang prima. Kalau Ibu sampai jatuh sakit, siapa nanti yang menemaninya saat ia terbangun? Dokter Frans selalu bilang, stimulasi suara dari orang terdekat adalah salah satu obat paling ampuh untuk pasien koma."
Maya menatap jemari Bagas yang berada dalam genggamannya. "Saya selalu mengajak dia bicara, Suster. Dari cerita masa lalu, pekerjaan, sampai hal-hal sepele. Tapi kadang... ada kalanya rasa putus asa itu datang tanpa diundang."
"Jangan menyerah dulu, Bu," hibur perawat tersebut sembari menepuk pelan bahu Maya. "Kondisi vital Mas Bagas malam ini relatif stabil dibanding kemarin malam. Tekanan darahnya bagus, respons refleks pupilnya juga menunjukkan kemajuan walau pelan. Itu semua bukti kalau tubuhnya sedang berjuang. Ibu harus yakin."
"Terima kasih atas dukungannya, Suster. Kata-kata Suster sangat berarti buat saya malam ini," ujar Maya tulus. Matanya kini berkaca-kaca, tersentuh oleh kepedulian tenaga medis di hadapannya.
"Sudah menjadi tugas kami, Bu. Kalau begitu, sebaiknya Ibu mencoba untuk istirahat sekarang. Mumpung suasananya tenang. Nanti kalau ada apa-apa, atau kalau cairan infusnya menunjukkan gejala mampet lagi, langsung tekan bel saja ya. Kami ada di nurse station selama 24 jam."
"Baik, Suster. Sekali lagi terima kasih banyak."
"Sama-sama, Bu. Selamat istirahat. Semoga besok pagi ada kabar baik dari Dokter Frans."
Perawat itu akhirnya melangkah keluar ruangan, menutup pintu rapat-rapat tanpa menimbulkan suara bising. Suasana kamar kembali senyap, meninggalkan Maya yang kini berdiri kaku di samping peraduan Bagas.
Maya membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya ke telinga Bagas. Ia merapatkan jemarinya, mengaitkan jemari dingin Bagas di antara jemarinya sendiri.
"Dengar kan, Mas?" bisik Maya dengan suara tergetar, menahan tangis yang bergolak di dadanya. "Dokter Frans besok datang jam delapan pagi. Suster tadi bilang kondisi kamu stabil malam ini. Kamu harus janji sama aku... besok saat Dokter Frans periksa, kamu berikan tanda kalau kamu dengar suara aku. Bangun, Mas... aku kangen banget sama kamu."
Tetesan air mata Maya akhirnya jatuh juga, menimpa punggung tangan Bagas. Di tengah keheningan malam yang mencekam, Maya memutuskan untuk kembali duduk di kursi samping tempat tidur. Ia merapatkan selimutnya, memegangi tangan pria yang dicintainya itu, dan mencoba memejamkan mata dengan secercah harapan baru yang menyala di dadanya menyongsong pagi hari.