Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Ciuman Pertama.
Klek. Cklek.
Suara pintu kamar suite mewah nomor 309 yang terkunci rapat menandai berakhirnya malam yang teramat panjang dan melelahkan bagi Aletha. Ruangan luas berlantai karpet tebal itu terasa begitu hening, kontras dengan hiruk-pikuk ballroom hotel yang baru saja mereka tinggalkan di lantai bawah.
Aletha berjalan gontai menuju tepi tempat tidur berukuran king-size. Ia melepas sepatu hak tingginya dengan helaan napas lega yang amat panjang, lalu mendudukkan tubuhnya yang letih di kasur yang empuk. Gaun pastel satinnya yang indah masih melekat tegak, namun seluruh energi mentalnya sudah terkuras habis menghadapi sabotase Valerie tadi.
Di dekat meja bar kecil, Langit sedang melepas jas formal hitamnya. Ia menyampirkan jas itu di atas sandaran kursi, lalu membuka dasi kupu-kupu dan melonggarkan tiga kancing teratas kemeja putihnya, memperlihatkan sedikit dada bidangnya dan guratan urat maskulin di lehernya. Rambut yang semula klimis kini sedikit berantakan karena disisir asal dengan jari-jarinya.
Aletha menunduk, menatap jari manis tangan kirinya yang kini dilingkari sebuah cincin emas putih bermata berlian kecil yang berkilau. Kejadian di atas altar tadi masih terasa seperti mimpi.
"Makasih ya, Langit," ucap Aletha tiba-tiba, suaranya pelan dan sedikit serak. "Soal yang di altar tadi... kalau nggak ada lo, gue nggak tahu harus gimana."
Langit menuangkan air putih ke dalam gelas kaca, lalu berjalan menghampiri Aletha. Bukannya langsung memberikan gelas itu, Langit justru ikut duduk di atas kasur, tepat di samping Aletha dengan jarak yang sangat rapat hingga paha mereka bersentuhan.
"Minum dulu, Kurcaci. Lo udah kelihatan kayak mayat hidup dari tadi," ucap Langit lembut.
Aletha menerima gelas itu dan meminumnya hingga tandas. Begitu ia meletakkan gelas kosong di meja nakas, ia terkejut karena Langit tidak memundurkan posisinya. Cowok tegap itu justru memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Aletha. Sorot mata hazel-nya yang biasanya sedingin es kini tampak begitu hangat, dalam, dan mengunci manik mata Aletha di bawah temaram lampu tidur yang remang.
Perlahan, tangan panjang Langit bergerak maju. Jari-jari hangatnya menangkup lembut pipi Aletha yang masih menyisakan rona merah kaku. Sentuhan kulit mereka seketika mengirimkan sengatan listrik yang manis, membuat bulu kuduk Aletha meremang. Ibu jari Langit bergerak perlahan, mengusap lembut sisa air mata yang mengering di pipi mulus Aletha.
"Gue nggak melakukan itu cuma buat menyelamatkan muka orang tua kita, Aletha," ucap Langit dengan nada suara bariton yang teramat rendah, bergetar penuh perasaan yang jujur. Topeng gengsi dan tripleksnya runtuh sepenuhnya malam ini.
"Terus karena apa?" bisik Aletha parau, napasnya mendadak tertahan.
"Karena gue nggak suka melihat lo menangis karena ulah orang asing," desis Langit, wajahnya perlahan menunduk, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Jantung Langit berdegup dengan ritme maraton yang sangat keras di balik kemejanya.
"Melihat ada orang lain yang berani menyakiti lo di depan mata gue... rasanya seperti ada yang memicu bom di kepala gue. Gue sadar satu hal, Aletha... gue nggak mau kehilangan lo."
Debaran di dada Aletha meledak hebat tanpa bisa ditahan lagi. Sebelum ia sempat mencerna kalimat se-romantis itu, Langit memiringkan kepalanya sedikit.
Dengan gerakan yang teramat lembut, penuh kehati-hatian sekaligus sarat akan perasaan protektif yang mendalam, Langit menempelkan bibirnya di atas kening Aletha.
Cup.
Sebuah kecupan hangat dan lama mendarat di kening Aletha. Gadis itu refleks memejamkan matanya rapat-rapat, menikmati sensasi bibir hangat Langit yang menyalurkan seluruh rasa aman di dunia ke dalam jiwanya. Air mata haru kembali menetes di sudut matanya, namun kali ini terasa sangat manis.
Ini adalah ciuman pertama mereka.
Setelah melepaskan kecupannya, Langit tidak menjauh. Ia membawa tubuh mungil Aletha ke dalam dekapan hangatnya. Kedua lengan kekarnya melingkar erat mengunci pinggang Aletha, sementara Aletha menyandarkan kepalanya secara alami di dada bidang Langit, mendengarkan detak jantung cowok itu yang berpacu sama gilanya dengan detak jantungnya sendiri. Tangan mungil Aletha meremas kemeja putih Langit, mencari kehangatan.
"Dan soal masa depan kita..." Langit bergumam pelan di atas puncak kepala Aletha, tangannya telaten mengusap rambut panjang gadis itu yang tergerai.
"Tadi di ruang tengah, bokap lo dan bokap gue sempat berdiskusi lagi soal sanksi lanjutan dari video balapan dan sabotase Valerie."
Aletha mendongak dari dada Langit, menatap dagu kokoh cowok itu.
"Keputusan apa?"
"Kita bakal tetap menikah, tertutup dan hanya dihadiri keluarga inti, tepat satu minggu setelah kelulusan SMA kita nanti," tutur Langit dengan nada suara yang teramat tenang namun mutlak.
"Ini demi meredam semua potensi bahaya hukum dan gosip liar yang tersisa."
Aletha tertegun, namun anehnya, kali ini hatinya tidak lagi menolak. Ia mengangguk pelan, menerima takdir itu dengan lapang dada.
"Terus... setelah nikah gimana? Kita kan mau kuliah."
Langit menatap Aletha lekat-lekat, kilat mata hazel-nya mendadak meredup dibayangi rasa berat hati yang tak bisa disembunyikan.
"Setelah pernikahan tertutup itu selesai, kita berdua akan melanjutkan kuliah di luar negeri. Gue di London, karena bisnis bokap gue disana..." Langit menggantung kalimatnya, meremas jemari Aletha lebih erat. "...dan bokap lo udah mutusin kalau lo bakal kuliah di Jerman, ikut kakek lo di sana."
Aletha tersentak kaget, langsung menegakkan tubuhnya sedikit.
"Berarti... kita bakal terpisah jarak yang jauh setelah resmi menikah?"
"Iya," Langit mengangguk berat, tatapannya begitu intens memandang wajah Aletha.
"Inggris dan Jerman. Kita bakal tinggal di negara yang berbeda selama empat tahun untuk menyelesaikan pendidikan kita masing-masing. Kita bakal berpisah untuk sementara waktu, Kurcaci."
Keheningan malam kembali menyergap kamar nomor 309. Gagasan tentang perpisahan antarnegara tepat setelah mereka resmi mengikat janji suci mendadak membuat dada Aletha terasa sesak. Namun, melihat sorot mata Langit yang memancarkan rasa tidak rela yang sama besarnya, Aletha tahu ini adalah proses pendewasaan mereka.
Aletha perlahan mengulas senyuman tipis yang teramat manis, lalu kembali memajukan tubuhnya dan melingkarkan kedua tangan mungilnya di leher Langit, memeluk cowok itu dengan erat.
"Nggak apa-apa. Empat tahun di Jerman bareng Kakek. Gue bakal buktiin ke lo kalau otak udang gue ini bisa lulus dengan nilai terbaik di sana."
Langit tertegun merasakan pelukan hangat Aletha yang begitu tulus di lehernya. Detik berikutnya, sebuah senyuman tertulis paling tampan terukir di wajah tegasnya. Ia membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di ceruk leher Aletha, menghirup aroma wangi gadis itu yang kini telah menjadi candu baginya.
"Gue pegang kata-kata lo, Kurcaci," gumam Langit dari balik keheningan malam, suaranya terdengar begitu serak dan penuh perasaan.
"Dan selama empat tahun perpisahan di Jerman nanti... jangan berani-berani lo membagi senyum lo ke cowok pirang di sana. Karena status lo di atas hukum dan di dalam hati gue... tetap milik gue seutuhnya."
Di kamar hotel yang sunyi itu, di bawah temaram lampu malam, sebuah komitmen baru yang jauh lebih dewasa, sakral, dan romantis resmi terukir di antara mereka. Labirin pernikahan tertutup dan perpisahan jarak jauh Inggris-Jerman kini telah menanti di depan mata, namun dengan hati yang telah saling terkunci rapat, mereka tahu... jarak sejauh apa pun tidak akan pernah bisa menghapus debaran yang telah menyatu malam ini.