Bagi dr. Alunar Abya Manggala (23 tahun), bertugas di pedalaman Kalimantan adalah pembuktian lepas dari nama besar ayahnya, Komjen Pol. Faza Idam Manggala. Namun, idealisme dokternya diuji saat ia nekat ingin menerobos jalur merah perbatasan demi menyelamatkan warga yang kritis.
Bagi Kapten Infanteri Sagara Danendra (28 tahun), aturan lapangan adalah harga mati. Mengemban tanggung jawab berat sebagai Danki Satgas sekaligus Danposkotis di Nunukan.
"Tugas saya menyelamatkan nyawa, Kapten!" protes Alunar sengit.
"Dan tugas saya memastikan Anda tetap hidup untuk melakukan tugas itu, Dokter Alunar! Di sini, Anda ikuti aturan main saya,” balas Sagara tidak kalah sengit.
Ketegangan makin memuncak ketika jalur perbatasan memanas oleh jaringan kriminal internasional yang sedang diburu lembaga yang dipimpin ayah sang gadis, yang tidak lain sosok laki-laki paling dibenci Sagara. Laki-laki yang menyebabkan ayah Sagara meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Perhatian Kecil Namun Besar
Pukul 15.50 WITA.
Halaman Balai Desa yang tadinya tempat pesta potong rotan, mendadak berubah jadi Pos Taktis dadakan. Suara mesin Hilux double cabin Satgas terdengar pelan masuk ke halaman balai desa.
Oka langsung membongkar ransel besar berisi Kotak P3K, cairan infus RL dan NS, tandu lipat, dan kardus besar tertulis logistik.
“Semoga kepala desa kampung hulu bisa diselamatkan,” doa penuh harap masyarakat melihat kesibukan tim Sagara.
Di sisi lain, Alunar sudah melepas sepatunya. Mengganti dengan sepatu lain yang biasanya dirinya gunakan naik gunung.
"Berapa lama lagi?" tanya Sagara pada Arisandhi.
"Semua sudah siap, Ndan. Tim medis dan munisi lengkap. Saya sudah siap memimpin Regu Satu membawa dokter Aluna masuk ke kampung hulu," jawab Arisandhi cepat sekaligus memberi saran.
Sagara tidak langsung menanggapi saran Arisandhi. Tatapan matanya justru fokus pada Alunar yang masih berjuang dengan tali sepatu gunungnya.
"Aku sendiri yang akan memimpin Regu Satu membawa dokter Alunar masuk ke hutan.”
“Tapi, Ndan.”
“Area merah, aku tidak mau ambil risiko. Kamu jaga Poskotis dan juga jalur logistik," potong Sagara datar.
Arisandhi menahan napas dengan keputusan Sagara. Dia paham betul jalur yang akan dilewati Sagara bersama Tim Satu. Melewati tengah hutan pada malam hari, jelas sama saja bunuh diri.
"Izin, Ndan. Ini jalur tikus penyelundup aktif. Biar saya saja yang maju. Ndan tetap berada di Poskotis untuk mengawasi lewat…"
"Saya yang pimpin, Lettu Arisandhi. Kamu jaga Kotis," ulang Sagara penuh penekanan yang membuat Arisandhi langsung diam.
"Itu perintah.” Sagara mengulangi ucapannya agar Arisandhi paham dengan keputusannya.
"Siap, laksanakan, Ndan!"
Meskipun Arisandhi mengikuti perintah Sagara. Namun, nyatanya ada ketidak tenangan menyelimuti dirinya. Terpaksa dirinya harus berjaga di pos.
"Lapor, Ndan.”
“Katakan!”
“Lapor, untuk sepatu PDL paling kecil di gudang logistik yang Anda minta hanya ada ukuran 39.”
Sagara kembali menatap Alunar yang belum selesai mengenakan sepatunya. Sagara hanya mengangguk sebagai persetujuan pada Oka.
“Berikan padaku.”
“Siap, ini, Ndan.”
Sambil membawa sepatu PDL. Sagara bersama Oka berjalan mendekati Alunar.
"Jangan pakai sepatu gunung itu!”
Alunar mengerutkan keningnya lalu mendongak menatap Sagara. Diam tanpa ada keinginan bertanya maupun membantah.
Ya, kini mereka berdua saling menatap satu sama lain. Membuat Oka berinisiatif menghampiri Sagara.
“Izin, Ndan. Izinkan saya yang memberikan sepatu PDL itu ke dokter Aluna.”
“Jelaskan padanya!”
“Siap, Ndan.”
Sagara memberikan sepatu PDL di tangannya kepada Oka. Lalu Oka memberikannya kepada Alunar untuk segera dipakai.
“Izin, pakai sepatu PDL ini saja, dok,” ucap Oka memberikan sepatu pada Alunar yang membuat dokter cantik itu mulai paham arah pembicaraan kapten tidak jelas di hadapannya.
“Medan yang kita lewati itu lumpur hidup dan banyak pacet, dok. Sepatu itu licin dan solnya cepat robek. Kaki Anda akan lecet parah di tengah hutan,” jelas Oka cepat dengan pengawasan mata tajam Sagara.
"Terima kasih banyak penjelasannya, Sertu Oka. Anda sangat baik dan membantu saya," sindir Alunar sambil melirik Sagara yang lebih memilih memalingkan wajahnya menatap sekitar.
Entah kenapa menatap langsung mata Alunar, membuat hati Sagara merasa tidak tenang.
“Kamu boleh pergi, Sertu Oka.”
“Siap, Ndan.”
Kini di tempat itu hanya ada Sagara yang berdiri kaku menatap sekitar. Sedangkan Alunar sibuk menali sepatu dengan ikatan simpul pita cantik yang biasanya Alunar kenakan.
"Masih longgar!”
Suara tegas Sagara yang nadanya menggelegar, hampir membuat Alunar melonjak kaget. Hanya tatapan kesal yang bisa Alunar tunjukkan pada Sagara.
Karena rasa kesal menyelimuti Alunar tentang Sagara. Perempuan cantik itu terus membuat simpul tanpa memperdulikan tatapan Sagara yang semakin tajam.
"Kurang kencang," ucap Sagara lagi, yang sama sekali tidak didengar oleh Alunar.
Hurff…
Hembusan nafas kasar terdengar cukup jelas di telinga Alunar. Namun, Alunar tetap mengabaikan keberadaan Sagara yang kini justru berjalan mendekat.
“Benar-benar keras kepala,” gerutu Sagara sambil menatap Alunar.
Sambil memalingkan wajahnya menatap sekitar. Sagara kini berjongkok tepat di hadapan Alunar. Membuat jarak keduanya menjadi sangat dekat.
"Anda mau apa, Kapten?" tanya Alunar gugup bercampur malu. Apalagi semua mata mengarah mengawasinya dengan Sagara. Ya, dirinya dan Sagara menjadi tontonan semua warga.
“Oka!” Teriakkan Sagara langsung membuat Oka berlari mendekat.
“Siap, Ndan.”
“Apakah masih ada kaos kaki di kotak logistik yang kamu bawa?”
“Siap, masih ada, Komandan.”
“Bawa kesini.”
“Siap, Ndan.”
Oka langsung berlari mengambil kotak logistik yang diinginkan Sagara. Lalu kembali menghampiri Sagara.
“Ijin, ini kotak logistik yang Anda minta, Ndan.”
“Kamu bisa kembali.”
“Siap, Ndan.”
Sagara mengambil kaos kaki di kota logistik. Lalu memberikan kaos kaki tersebut ke Alunar.
"Double kaos kaki. Masih ada sisa ruang untuk lumpur dan pacet masuk," jelas Sagara dengan suara pelan sambil menyentuh bagian sepatu yang masih longgar.
"Pakailah!”
"Terima kasih banyak," jawab Alunar sambil memalingkan wajahnya.
Sesuai instruksi Sagara. Alunar memakai kaos kaki yang diberikan Sagara. Kini kakinya terasa sesak dan panas. Tapi, sudah pas dengan ukuran sepatu PDL yang ia kenakan.
Namun, tetap saja di mata Sagara dirinya masih ada yang kurang.
"Ikat yang kencang di bagian sini.” Sagara menekan jarinya kuat pada bagian tumit sepatu PDL Alunar.
"Tekan tumit ke belakang dulu. Baru kunci di bagian sini."
Meskipun enggan menatap langsung wajah Sagara yang bagi Alunar sangat menyebalkan. Namun, nyatanya Alunar mengikuti perintah laki-laki menyebalkan itu.
"Longgar sedikit dan kaki Anda lecet. Satu regu tim saya harus berhenti di tengah hutan karena Anda. PAHAM!”
"Siap, paham," jawab Alunar dengan nada suara tertahan.
Tanpa ada persetujuan dari Alunar. Sagara menarik tali PDL itu dengan satu tarikan kuat hingga Alunar merasakan seluruh kakinya terkunci. Lalu ia membuat ikatan mati kemudian tali dililit ke belakang. Diikat mati lagi dan sisa talinya diselipkan ke dalam sepatu.
"Medan yang kamu lewati itu hutan licin dan berlumpur. Bukan jalanan aspal ibu kota tempat kamu berlari pagi," sindir Sagara sambil berdiri. Lalu meninggalkan Alunar menuju halaman yang kini terus menatapnya.
"Dengar semuanya!”
“Siap, Ndan.”
“Kita jalan kaki dari ujung jalan logging. Mobil tidak bisa masuk karena jembatan kayu putus.”
“Siap, Ndan.”
“Formasi! Saya dan Jaya pemandu di depan, dokter Alunar dan Sertu Oka di tengah, sisanya jaga belakang. Jarak antar personel lima meter. Tidak ada yang keluar dari formasi tanpa perintah saya! Kita berangkat sekarang!"
"SIAP, KOMANDAN!" jawab delapan prajurit serempak.
Alunar menarik napas panjang sambil memeluk ransel medisnya yang berat. Kakinya sakit karena PDL baru yang keras.
“Mari kita berangkat sekarang, dok!”
“Baik, Sertu Oka.”
Kini Alunar bersama tim yang dipimpin Sagara sudah siap berangkat menuju hutan untuk menyelamatkan kepala desa kampung hulu.
"Semoga Kapten Sagara dan tim diberikan kelancaran sampai kembali!" teriak Pak Asang.
"Aamiin, terima kasih banyak, Pak Asang," jawab Alunar penuh semangat.
"Tolong dijaga dokter kami hingga kembali ke desa dengan selamat, Kapten!" pinta Pak Asang lagi.
"Siap, Pak Asang. Kami kembali sebelum 22.00," jawab Sagara singkat.
Alunar yang hendak naik ke bak belakang truk mengikuti Jaya. Ranselnya secara tiba-tiba ditarik kebelakang. Membuat dirinya secara refleks menepis tangan itu dengan sikunya.
Plak…!
Sagara sempat tercengang dengan refleks yang dimiliki Alunar. Dengan gerakan cepat langsung mengunci pergelangan tangan Alunar.
"Mau ngapain?” tanya Sagara menahan suaranya yang baru mengetahui jika Alunar memiliki kemampuan ilmu beladiri.
“Naik mobil taktis. Bukankah Kapten mengatakan saya berada di posisi tengah? Kenapa Kapten menahan tas saya?” jawab Alunar bingung.
“Perintah itu jika berada di tengah hutan,” jelas Sagara.
“Jangan melamun! Naik di samping jok kemudi sekarang! Duduk bagian tengah!" perintah tegas Sagara.
Pratu Maruli, bawahan Sagara langsung menahan senyum melihat interaksi Sagara dan Alunar. Jujur, baru kali ini Sagara turun secara langsung. Bahkan, urusan duduk saja semua harus berdasarkan perintahnya.
“Cepat naik!”
“Iya,” jawab Alunar menggerutu.
"Ayo jalan sekarang!" perintah Sagara setelah duduk di samping Alunar.
"Siap, Ndan!"
Kini, Sagara bersama tim dan Alunar meninggalkan Balai Desa. Mereka jalan logging tempat hutan lebat Nunukan menunggu.
Sepanjang perjalanan Alunar mengawasi sekitar. Matanya terus mengawasi tempat baru yang akan ia injak untuk pertama kalinya. Hingga tanpa sadar tatapannya kembali menatap Sagara dari arah sambil.
“Kalau aku lihat-lihat. Sebenarnya dia itu tampan dan baik hati. Tapi kenapa dia galak sekali?” batin Alunar bertanya-tanya sambil terus menatap Sagara.
Tahu jika ada seseorang menatapnya. Sagara langsung menatap Alunar kembali. Kini, tatapan matanya bertemu langsung pada Alunar.
Saat seperti ini, lagi-lagi detak jantung Sagara tidak beraturan. Rasa kesal atas apa yang dialami orang tuanya. Justru kini kembali menyelimutinya.
“Apakah ada yang salah dengan wajahku, dokter? Sampai Anda menatapku seperti itu?”
Deg!
Kini, jantung Alunar yang berdetak tidak karuan. Membuatnya buru-buru memalingkan wajah tanpa keinginan menjawab pertanyaan Sagara. Sedangkan Maruli yang duduk di bagian kemudi kembali harus menahan senyum. Sebab, dirinya melihat interaksi langka antara sang komandan dan dokter cantik Alunar.
ya allah saga harga dr anda bnr" ya ckckcj
musuh siapa ini?
semangat ya Thor...
di tggu update selanjutnya...
kasian sekali kamu Sagara 🤭🤭🤭
silahkan berusaha Sagara 😄🤣🤣
aplikasi klau smpai luna th ms lalu ayah saga yg jg bertindak kurang baik ke ayah faza dl
ingt saga ada tour tunai,jgn slh lngkh hnya krna ego yg blm tentu bar knyataannya
benci jadi cinta iku....
nikmati saja, buang dendam nya Sagara ...
alunar gadis baik, dari klrga baik jg...
mpe kpn kamu seperti itu???
ak loch dah baca . ..
🤭🤭🤭
lanjut sj egomu gara
hingga penyesalan
bikin pingin ngetik kalau aja nih ank
lg pl ada crita knpa,ayah km dimutasi