NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13: Ide Gila yang Mengejutkan

Malam harinya, Jefry dan Hendra bangun berbarengan. Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Aku dan Shinta sudah menunggu mereka.

Dengan langkah berat, mereka menghampiri kami ke sofa. Mengisi tempat kosong.

Aku mulai mengatakan apa yang sudah ku diskusikan dengan Shinta. “Bang, gua sama Shinta udah ngobrol. Kayaknya kita coba pindah dulu deh satu malam ke hotel.”

Jefry terlihat ingin membantah, tapi kali ini langsung kupotong, “Nggak bang. Ada yang mau gua omongin juga, penting. Tentang apartemen ini. Gua baru dapat cerita valid, nggak bisa kita bicarakan di sini.”

“Iya bang, dengerin Mas Bagas. Kita patungan aja nanti sewa hotelnya, kita pesan king bed room biar bisa satu kamar, bareng-bareng,” Shinta membela argumenku.

Mendengar usulan kami, Hendra tidak merespon karena belum mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia juga kelihatan masih tidak terlalu sehat.

Setelah kami bersiap, membawa satu stel pakaian untuk dipakai esok hari, aku yang pertama membuka pintu unit apartemen. Tapi anehnya, pintu itu tidak mau terbuka.

“Jeglek, jeglek”

Seperti terkunci, padahal aku yakin sudah membukanya dengan benar.

“Kok nggak mau kebuka ya?” gumamku diperhatikan yang lainnya.

Jefry tidak sabar, langsung mengambil alih. Ia berusaha membukanya, tapi juga tidak bisa, pintu terkunci.

“Firasat gua nggak enak nih,” celetuk Hendra lemah.

Tiba-tiba saja Shinta yang berada di belakangku menangis. Jefry berusaha untuk menenangkan. Awalnya kami mengira kalau Shinta menangis karena takut, tapi ternyata bukan seperti kami duga.

Shinta kesurupan.

Lama-kelamaan, suara tangisannya menjadi aneh. Jefry pun mundur selangkah.

“Dek?” tegur Jefry dengan nada ragu.

Kami tidak tahu harus berbuat apa. Shinta hanya menangis tanpa berkata apapun. Tas yang dibawanya pun juga tergeletak begitu saja dari tangannya.

“Bang, gimana ini?” tanyaku.

Jefry menggelengkan kepala, matanya terfokus pada Shinta, kepala menunduk. Kami tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena tertutupi bagian atas hijabnya.

Tanpa aba-aba, Hendra melangkah mendekat ke Shinta, memegang kepalanya. Ia terlihat mengucapkan lafadz yang kalau terdengar samar, seperti ayat kursi.

Ketika hampir selesai membaca ayat kursi tersebut, tubuh Hendra seakan ada yang memberontak. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan.

Persis kejadian yang sering aku tonton di film-film. Aku terpaku, bingung harus berbuat apa.

Untung saja, tak berapa lama setelahnya, Shinta tersadar.

“Alhamdulillah,” ucap Hendra.

Aku kembali berusaha menggerakkan gagang pintu, bisa dibuka. Kami pun segera pergi.

“Lo beneran nggak apa-apa, Dek?” tanya Jefry ke Shinta saat berada di dalam mobil.

“Aman, Bang. Udah lebih baik kok,” jawab Shinta.

Aku sedang menyetir mobil, hanya diam, fokus memperhatikan jalanan.

Kebetulan untuk hotel yang kami pilih jaraknya cukup jauh dari apartemen, sengaja karena menurut kami secara logika, kalau dekat, takutnya masih ada kekuatan spiritual mengikuti.

Padahal kalau dipikir lagi, jika memang mereka yang mengganggu ingin ikut, tinggal datang saja tak peduli seberapa jauh kami pergi.

Setibanya di kamar hotel, aku langsung membuka isi tas, mengambil handuk, lalu menuju kamar mandi. Tapi aku memperhatikan, ada yang berbeda dari Jefry.

“Bang, lo kenapa?”

Jefry yang sedang duduk di ranjang langsung membenarkan posisinya, “Nggak, aman kok.”

Meski merasa tidak yakin, aku tetap berusaha untuk mempercayainya.

“Gua mandi dulu sebentar ya, Bang,” kataku ke Jefry yang terlihat lesu.

Selang berapa lama, kami sudah berada di posisi siap untuk mendengarkan ceritaku. Terutama Jefry dan Hendra, mengingat mereka belum mengetahui apapun mengenai informasi baru yang kudapatkan.

“Oke, gua mulai cerita ya.”

Aku pun langsung memberitahu tentang apa saja yang sudah kuketahui tentang kondisi apartemen Spring Town. Tentu saja informasi dari Dayat.

“Kok bisa lo dikasih tahu sama dia? Bukannya dia orangnya aneh banget ya? Lo juga kan yang bilang kalo dia sinis banget sama lo?” ucap Jefry.

Ia seperti tidak mempercayai apa yang ku ucapkan.

Di sini aku sedikit kesal karena merasa tidak ada gunanya aku berbohong. Lagipula kenapa bisa Jefry sepicik itu menganggap kalau aku mengada-ada.

“Lo nggak sengaja sabotase ini biar kita pulang kan?” lanjut Jefry menekanku.

Tentu saja aku tidak terima karena Jefry sudah keterlaluan, “Kok lo ngomongnya gitu sih, Bang?”

Shinta yang menyadari suasananya berubah menjadi tidak nyaman, berusaha untuk menengahi.

“Bang, jangan gitu lah, dengerin Mas Bagas dulu. Dia belum selesai ceritanya,” kata Shinta ke Jefry.

Dilanjutkan dengan Hendra, ikut membelaku.

“Terusin, Gas.”

Menuruti permintaan Hendra, aku menyambung cerita. Memberitahu tentang pesan dari Dayat yang minta agar kami segera pergi dari apartemen itu.

Ia takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan, mengingat sebelumnya belum pernah ada penghuni bertahan, paling lama hanya dua hari.

Sedangkan kami sudah jauh lebih lama. Dayat pun merasa heran kenapa kami bisa bertahan selama ini. Meskipun begitu, ia tetap khawatir.

Dayat menjelaskan sejarah dari apartemen Spring Town rupanya juga proyek money laundry, melibatkan nama-nama besar. Hal ini yang membuat ketika wabah covid menyerang, segala proses administrasi dan penanganan penghuni di apartemen tidak terurus dengan baik.

“Jadi penghuni apartemen banyak meninggal dunia bukan hanya karena kena covid, tapi juga gara-gara pengabaian,” jelasku. “Sengaja, mereka di..”

Dengan bibir yang hampir tidak sanggup mengatakannya, tapi aku harus memberitahukan, “Hampir semua penghuni apartemen meninggal dunia, sebagian besar dibunuh.”

Hendra dan Shinta terhentak, sedangkan aku bisa melihat Jefry sebenarnya terkejut, tapi berusaha tetap tenang seperti biasa.

“Gila! Pantas aja energinya jelek banget di apartemen itu,” tukas Hendra.

Tangan Shinta bergerak, mendekati mulut, ia pun menggigit kuku jempolnya. Berpikir entah tentang apa.

Aku menutup penjelasan dengan berita yang masih berlanjut hingga sekarang, “Kasus hukumnya belum tuntas. Meski keluarga almarhum berulang kali menggugat, tetap aja nggak terlalu berpengaruh. Beritanya pun juga mendem, nggak ada media berani speak up.”

Setelah aku menceritakan tentang apa yang dijelaskan oleh Dayat mengenai apartemen Spring Town. Di luar dugaan, Jefry malah mengusulkan hal gila.

“Kita harus terusin ini. Kalo perlu, kita tantang mereka.”

Kami terkejut dengan sikap yang ditunjukkan oleh Jefry. Ia bahkan seperti tidak memperdulikan kondisinya sendiri, Shinta dan Hendra.

“Kita tanya siapa mereka, sekalian riset.”

“Bang, yang bener aja dong?” kataku tegas.

Shinta beranjak lalu berdiri di depan pintu kaca menuju balkon. Ia hanya diam melamun, masih dengan ciri khasnya ketika sedang cemas, menggigit ibu jarinya.

Tapi Jefry tetap bersikeras. Ia menaruh gelas hotel dengan posisi tertutup di tengah lemari meja, tepat di depan televisi yang terpasang di dinding.

Ia kemudian meletakkan tangannya ke atas gelas itu.

“Wahai kalian makhluk astral yang ada di sini. Kami mengundang kalian untuk datang. Jika kamu bersedia, gerakkan gelas ini,” katanya dengan lantang.

“Kita buat games kayak gitu, biasanya sering kita lihat di film-film horor kan?”

Jefry seperti mulai menggila dengan imajinasi dalam pikiran liarnya.

Aku menoleh ke arah Hendra, berharap agar ia melarang ide gila tersebut. Shinta juga sudah berbalik badan, melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Jefry.

Suasana mendadak hening. AC seperti mati, hawa ruangan terasa berat.

“Mending kita istirahat dulu deh,” ajak Shinta.

Walau Jefry terlihat masih belum puas karena gagasannya tidak kami respon, ia tak bisa memaksa lagi. Ia menyadari kalau kondisi tubuhnya juga belum fit.

Di saat yang lain sudah bersiap untuk istirahat, aku berjalan keluar, menggeser pintu kaca, menuju balkon.

Setelah duduk di kursi rotan, aku mengambil handphone dari saku celana, menghubungi Delia lewat video call.

Malam ini aku merasa sangat merindukan Delia dan anakku, Rafa. Aku pun mengungkapkannya.

“Kamu kenapa, Pa? Lagi ada masalah ya?” ucap Delia pelan.

Ia sudah sangat mengenalku. Ketika menunjukkan sisi melow seperti ini, pasti karena ada problem yang membuatku sedih.

“Aku minta maaf banget ya. Harusnya aku mendengarkan saranmu,” kataku sungguh-sungguh.

Delia berupaya menenangkan hatiku. Ia mengatakan bahwa pilihan sudah dibuat, “Sekarang kita cuma bisa jalani, cari solusinya. Kalau perlu, segera buat keputusan baru.”

Aku bisa mengerti maksud dari kalimat itu. Ia ingin aku segera memutuskan pulang, kembali ke Jakarta. Fokus pada pekerjaan yang sebenarnya selalu tersedia untukku.

Tapi sekarang aku juga berpikir tentang pengorbanan yang sudah dilakukan. Project dengan Kang Yunus dan Bang Adit telah dibatalkan. Semua akan sia-sia kalau aku menyerah sekarang.

Rasanya aku masih belum terima jika harus kembali tanpa membawa hasil. Lagi-lagi ego dan idealisme membuat aku dilema.

“Kamu sabar dulu ya, aku janji akan segera cari solusi yang terbaik untuk kita,” kataku sambil berdiri, memberikan tanda bahwa video callnya akan segera berakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!