Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Pintu yang Terbuka Lebih Awal
Angin berhembus dari celah di antara dua pilar bata, bukan angin dingin atau panas, tetapi angin yang seakan menarik, menyedot udara ke dalam ruang kosong di tengah.
Debu halus melayang ke arah celah itu. Nyala obor di sekeliling halaman melengkung dan menjulur ke sana, seperti lidah api yang tertarik magnet. Kain jubah Anggada berkibar menghadap gerbang. Orang-orang di halaman berteriak, sebagian mundur dengan mata melotot, sebagian jatuh berlutut dan memanggil dewa.
"Itu sihir!" jerit seseorang. "Tabib itu memanggil setan!"
"Lari!"
Tiga prajurit melempar tombak mereka dan lari ke arah hutan. Dua lainnya menyusul. Dalam sekejap, halaman yang tadi penuh orang menjadi hampir kosong, hanya menyisakan beberapa yang terlalu takut atau terlalu setia untuk lari.
Raka tak sempat memperhatikan mereka. Matanya terpaku pada celah di antara pilar.
Kabut berputar di sana, putih kebiruan, perlahan membentuk sesuatu. Mula-mula hanya bayangan samar. Lalu semakin jelas, seperti gambar yang muncul di balik kaca berembun.
Sebuah gang sempit. Dinding bata yang basah. Lampu jalan kuning yang berkedip-kedip.
Dan bau yang menyerbu hidungnya melintasi jarak tujuh abad: aspal basah sehabis hujan.
"Laweyan," bisik Raka.
Dadanya terasa diremas. Ia mengenali gang itu. Ia mengenali retakan di tembok di sebelah kiri, plang bengkel batik yang miring, genangan air di ujung gang yang memantulkan cahaya lampu. Dari kejauhan terdengar deru motor, samar sekali, seperti mimpi yang pecah.
Rumah.
Hanya tiga langkah dari tempatnya berdiri.
"Raka." Suara Sekar sangat pelan di sampingnya. "Apakah itu... tempat asalmu?"
Ia tak bisa menjawab. Tenggorokannya terlalu sesak. Ia hanya mengangguk.
Sekar menatap gerbang itu, lalu menatapnya, dan di matanya Raka melihat sesuatu yang membuatnya ingin menangis: bukan ketakutan, bukan keberatan, melainkan pengertian. Pengertian yang jauh terlalu dewasa untuk seorang gadis dua puluh dua tahun yang baru saja tahu dirinya anak raja.
"Pergilah," katanya.
"Apa?"
"Pergilah. Kau punya ibu yang menunggumu. Kau punya rumah." Suaranya bergetar tapi ia memaksa tersenyum. "Aku tidak akan menahanmu."
"Sekar, aku tidak..."
"RAKA!"
Teriakan itu menggelegar dari arah gerbang depan. Raka menoleh.
Hendar berdiri di sana, di atas punggung kuda hitam, jubah putihnya berkibar, di belakangnya belasan penunggang membawa obor. Wajahnya, yang biasanya tenang dan ramah, kini tegang oleh sesuatu yang lebih tajam daripada marah: harapan yang gila.
"Aku tahu ini akan terjadi!" serunya, turun dari kuda dengan gerakan gesit. "Aku sudah menghitungnya berkali-kali! Cincin itu! Bata itu! Mereka bergema satu sama lain!" Ia tertawa, tawa liar yang membuat bulu kuduk Raka meremang. "Kau tidak tahu betapa lama aku menunggu ini, Rak!"
"Mas, jangan mendekat."
"Aku tidak akan menyakitimu." Hendar mengangkat tangan, telapak terbuka. "Dengarkan aku. Kau lihat itu? Itu rumah kita. Gerbang itu terbuka, dan terbuka karena dia." Ia menunjuk Sekar. "Selama dia ada di dekatnya, gerbang itu akan tetap terbuka. Kita bisa pulang. Kita bisa kembali kapan pun kita mau."
"Dan membawa apa?"
"Apa saja." Mata Hendar berkilat. "Obat. Alat. Pengetahuan. Kita bisa menyelamatkan ribuan orang. Kita bisa membangun kerajaan ini jadi sesuatu yang tak akan pernah runtuh."
Raka memandangnya, dan sesuatu yang selama ini membingungkan akhirnya menjadi jelas. Hendar tidak ingin mengubah sejarah dengan kata-kata. Ia ingin membuat jalur: pintu yang bisa dibuka kapan saja untuk memasok dunia ini dengan segala yang ia inginkan, dan menjadikan dirinya penguasa di balik layar.
Dan Sekar adalah kuncinya. Bukan manusia, hanya kunci.
"Tidak," kata Raka.
Hendar tersenyum sabar, seperti guru menghadapi murid yang keras kepala. "Pulanglah, Rak. Aku tidak butuh kau. Aku hanya butuh dia. Lewatilah gerbang itu, kembali ke ibumu, hiduplah bahagia. Biarkan aku menyelesaikan ini."
Godaan itu menghantamnya tanpa ampun. Jarak tiga langkah. Aspal basah. Ibunya. Kamar tidurnya. Nasi goreng penjual keliling yang terlalu asin.
Ia menoleh pada Sekar. Gadis itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tidak memohon, tidak menuntut. Hanya menunggu.
Raka menarik napas dalam-dalam.
"Aku tidak akan pergi tanpa dia," katanya.
Senyum Hendar membeku.
"Kalau begitu," katanya pelan, "kau pilih salah."
Ia menjentikkan jari.
Dari belakangnya, dua penunggang melompat turun dan berlari ke arah Sekar. Tetapi sebelum mereka mencapai tiang, sebuah pedang melengking membelah udara dan menjatuhkan salah satunya dengan satu tebasan.
Anggada.
Lelaki itu berdiri di antara Sekar dan para penyerang, pedang terhunus, wajahnya basah oleh air mata dan tekad.
"Anggada!" bentak Hendar. "Apa yang kau lakukan?"
"Menepati janji yang seharusnya kuingat dari dulu, Tabib." Suara Anggada gemetar tapi tak goyah. "Aku akan mencari obat lain untuk anakku. Aku tidak akan menjual nyawa orang lain demi dia."
"Kau akan kehilangan segalanya!"
"Aku sudah kehilangan sahabatku." Anggada menangkis serangan pertama dan membalas dengan satu dorongan yang membuat penyerang kedua terhuyung. "Aku tak akan kehilangan diriku juga."
Dari balik pepohonan, derap kuda dan teriakan perang membahana. Wirabhaya meluncur masuk ke halaman bersama Tarub dan dua prajurit lain, pedang terhunus di bawah cahaya obor.
"Anggada!" seru Wirabhaya.
"Gusti Wira!" Anggada menoleh sekilas, wajahnya pecah oleh campuran lega dan malu. "Maafkan aku!"
"Nanti!" Wirabhaya melompat dari kudanya dan menebas seorang penyerang. "Selesaikan dulu urusan ini!"
Pertarungan meledak. Dentang baja, jeritan, ringkik kuda. Raka menarik Sekar mundur dengan satu lengan, memegang belati di tangan yang lain, dan merasakan seluruh tubuhnya gemetar. Di belakang mereka, gerbang berdenyut makin liar, cahaya putih kebiruan berputar seperti pusaran air.
Hendar tidak bertarung. Ia hanya berdiri di tengah kekacauan, matanya terpaku pada Sekar, dan pada detik ketika Raka lengah, ia bergerak.
Cepat sekali, jauh lebih cepat dari yang seharusnya mungkin bagi lelaki berusia lima puluh tahun. Ia menerobos kekacauan, menyambar lengan Sekar, dan merenggutnya dengan satu tarikan keras.
"Lepaskan dia!" Raka menerjang, mencengkeram lengan Sekar yang satunya.
Mereka bertarung tarik-menarik, Hendar di satu sisi, Raka di sisi lain, Sekar di tengah menjerit kesakitan. Raka merasakan tangan Sekar licin oleh keringat, jemarinya mulai terlepas.
Lalu tangan Hendar yang bebas menyambar kalung benang di leher Sekar dan merenggutnya putus.
Cincin matahari itu terlepas, berkilau sekejap di bawah cahaya gerbang, dan jatuh ke telapak tangan Hendar.
"TIDAK!" teriak Sekar.
Hendar mundur beberapa langkah, menggenggam cincin itu erat-erat, dan tertawa. Di belakangnya, gerbang tiba-tiba memekik dengan suara melengking yang menyakitkan telinga. Pilar-pilar bata mulai retak. Cahaya berubah merah.
"Sekarang aku tahu caranya!" teriak Hendar, suaranya hampir tenggelam oleh dengung. "Aku tak butuh dia lagi!"
Ia berbalik dan melompat ke atas kuda hitamnya.
"Tahan dia!" seru Wirabhaya.
Tapi terlambat. Dengan satu hentakan tumit, kuda itu meluncur ke dalam kegelapan hutan, diikuti beberapa penunggang yang tersisa.
Di belakang mereka, gerbang meledak.
Bukan ledakan api, melainkan gelombang senyap yang menghempas semua orang di halaman. Raka terlempar ke belakang, punggungnya membentur tanah, bata merah di sakunya retak dengan bunyi nyaring. Dunia menjadi putih, lalu hitam.
Ketika ia membuka mata, langit sudah mulai pucat. Fajar.
Halaman tungku hanya menyisakan reruntuhan: dua pilar bata hancur menjadi tumpukan pecahan merah, obor-obor padam, asap tipis mengepul dari kandang yang hangus. Para prajurit Wirabhaya tergeletak atau berlutut, kebanyakan terluka tapi hidup.
Sekar berlutut di sampingnya, wajahnya berlinang air mata.
"Raka? Kau bisa mendengarku?"
"Aku..." Ia terbatuk. "Ya."
"Syukurlah." Ia menarik napas gemetar. "Cincinnya. Dia membawa cincinnya."
Raka duduk perlahan, kepalanya berdenyut. Di tangannya, bata merah kecil itu kini terbelah dua, retak dari ujung ke ujung, dingin seperti batu biasa.
"Aku tahu," katanya pelan.
Di kejauhan, dari arah hutan, terdengar derap kuda yang makin menjauh, menuju Trowulan.
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
walaupun sejarah tidak menulis kan kita
bukan berarti kita tidak ada,hanya tidak terlalu penting saja untuk dikenang🥹.
tapi...baru beberapa saat ini
ada sebuah jendral besar di China yg tertulis di sejarah sebagai penghianat bangsa .
yg meninggal nya pun tragis karena tubuhnya hancur karena hukuman di tarik kuda.
tapi... ternyata faktanya jendral itu terlalu kuat pengaruh nya karena selalu menang di Medan perang
sampe raja nya pun khawatir akan kekuasaan nya,mknya difitnah sedemikian rupa. hingga sejarah pun menuliskan nya seperti itu🥹🥹.
yg artinya, terkadang sejarah pun belum tentu menuliskan kebenaran.
mereka hanya menulis apa yg orang ingin tulis.