"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
"Kenan? Lho, kamu nongkrong di sini sama siapa, Nak?"
Suara khas ibu-ibu berbaju glamor mendadak memotong percakapan serius di meja kafe. Rania yang baru saja hendak membuka mulut langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Kenan mendongak kaget. Seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan dengan kacamata hitam di atas kepala berdiri di samping meja mereka, didampingi empat teman wanita arisannya.
"M-Mama?" Kenan refleks berdiri, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Mama kok ada di sini?"
Ibu Kenan tidak menjawab, matanya justru tertuju pada sosok gadis yang duduk di hadapan putranya. Begitu Rania berdiri dan menyapa sopan, raut wajah Ibu Kenan seketika berubah cerah.
"Ya ampun! Ini Rania, kan?! Anak Sahabat Mama, Tante Lina?!" seru Ibu Kenan heboh, langsung memeluk Rania hangat. "Duh, makin cantik aja kamu, Nak! Kenan, kamu jalan sama Rania kok nggak cerita-cerita sama Mama?"
Salah satu teman arisan Ibu Kenan menimpali sambil tersenyum jahil. "Wah, Mbak Retno... ini pacar barunya Kenan ya? Serasi banget lho, kelihatan anggun dan penurut."
"Iya dong! Kalau sama Rania sih Mama setuju seratus persen!" sahut Ibu Kenan antusias tanpa ragu.
"Ma, tunggu dulu, ini nggak seperti yang Mama—"
"Aduh Kenan, udah deh nggak usah malu-malu!" potong ibunya cepat sambil tertawa. "Rania, nanti sampaikan salam Mama ke Tante Lina ya. Kapan-kapan kita makan malam keluarga bareng!"
Kenan mencoba menyela lagi. "Tapi Ma, aku sama Rania itu cuma—"
"Udah, udah, Mama mau lanjut arisan dulu di dalam. Jangan pulang kemalaman lho, jagain calonnya!" potong ibunya lagi sambil mengedipkan mata, lalu berlalu bersama rombongannya.
Kenan menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang pasrah. Ia menatap Rania canggung. "Duh, Ran... maafin Mama aku ya. Suka asal ceplos begitu."
Rania hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan, berusaha bersikap wajar. Namun di dalam dadanya, jantung Rania berdegup kencang bak kembang api. Ucapan 'restu' dari ibu Kenan membuat hatinya berbunga-bunga, menyalakan percikan harapan yang selama ini terendam mati.
Hari mulai gelap saat motor Kenan akhirnya berhenti di depan rumah Rania.
"Makasih ya, Ken, udah diantar," ujar Rania seraya menyerahkan helm.
"Aku yang makasih udah menemani jalan, Ran. Maaf soal heboh Mama tadi ya," balas Kenan terkekeh canggung sebelum akhirnya berlalu membelah jalanan malam.
Baru saja Rania melangkah masuk ke kamarnya, ponselnya berdering nyaring. Nama Aluna tertera di layar.
"Halo, Lun?"
"Ran! Gimana-gimana?!" suara Luna di seberang telepon terdengar sangat penasaran. "Kenapa Kenan yang mengantar lu pulang? Cerita dong!"
Rania menyandarkan badannya ke pintu kamar, tersenyum kecil. "Nanti gue cerita lengkapnya, Lun. Tadi cuma kebetulan aja Kenan lapar terus ngajak mampir. Btw, lu sendiri gimana di rumah Pak Marko?"
"Ini gue lagi mau melancarkan rencana kita, Ran," bisik Luna setengah berdebar. "Gue mau turun makan malam. Liat aja, gue bakal bikin pria tua itu kelabakan malam ini!"
Di meja makan rumah Marko, suasana terasa jauh lebih tenang dari biasanya. Namun, begitu Luna melangkah turun menuju ruang makan, konsentrasi Marko langsung buyar total.
Luna datang mengenakan gaun tidur bahan sutra tipis di atas lutut bertali spageti (silk slip dress) bernuansa merah muda lembut. Rambut basahnya yang baru selesai keramas dibiarkan terurai, memancarkan aroma harum sampo manis yang merebak di udara.
Uhuk!
Marko yang baru saja menyesap air putihnya mendadak tersedak pelan. Tangannya refleks mengepal di atas meja. Pria matang itu berdeham keras, mencoba membuang mukanya ke samping.
"Kamu... kenapa pakai baju seperti itu turun ke bawah, Aluna?" panggil Marko dengan suara yang diusahakan sedatar mungkin, meski matanya tak bisa membohongi rasa takjubnya.
Luna duduk di kursi luangnya dengan gerakan gemulai yang disengaja. "Kenapa, Om? Kan ini rumah. Masa di dalam rumah sendiri nggak boleh santai?"
Selama makan malam berlangsung, Marko sama sekali tidak fokus. Garpu dan sendoknya beberapa kali beradu canggung. Matanya terus terdistraksi oleh bahu mulus Luna yang terekspos serta cara gadis itu mengunyah makanan sambil menatapnya dengan lirik menantang.
Usai makan malam, Marko mencoba menenangkan pikirannya dengan duduk di sofa ruang keluarga sambil membaca dokumen kantor. Namun, Luna tidak membiarkannya tenang begitu saja.
Gadis itu menyusul ke ruang keluarga, membawa dua cangkir teh hangat. Tanpa rasa canggung, Luna duduk sangat dekat di samping Marko di sofa yang sama.
"Om Marko serius banget sih dari tadi," panggil Luna lembut. Gadis itu sengaja memiringkan tubuhnya, menyenggol bahunya ke lengan kokoh Marko saat meletakkan cangkir.
Udara di antara mereka mendadak berubah menjadi sangat berat dan pekat. Aroma manis dari tubuh Luna dan kehangatan kulitnya yang bersentuhan langsung dengan kemeja Marko membuat pertahanan diri pria menduda belasan tahun itu runtuh perlahan.
Marko meletakkan dokumennya ke meja kopi. Matanya yang gelap kini menatap lurus ke arah mata Luna.
"Kamu sengaja memancing saya, Aluna?" bisik Marko dengan suara parau yang teramat rendah.
Luna menelan ludahnya kaku. Jantungnya berdegup sangat kencang, tapi ia memaksakan diri tetap menatap Marko. "Kalau iya... Om mau apa?"
Marko tidak menjawab lagi. Logika dan akal sehatnya resmi kalah. Pria itu mengangkat tangannya, jemari kokohnya membelai lembut rahang Luna, menyibak helai rambut gadis itu ke belakang telinga.
Jarak di antara wajah mereka terpangkas cepat. Luna bisa merasakan hembusan napas hangat Marko yang memburu di atas bibirnya. Tepat saat mata mereka terpejam dan bibir mereka hampir saja bertaut dalam kepungan gairah yang membakar—
Kringgg! Kringgg!
Ponsel Luna yang tergeletak di atas meja kopi berdering sangat keras. Nada dering khusus itu memecah hening ruangan seperti ledakan bom.
Nama Papa terpampang jelas di layar.
Bagaikan disiram air es, Marko dan Luna seketika tersentak kaget. Marko menarik tubuhnya mundur dengan cepat, mengusap wajahnya kasar seraya napasnya memburu terengah-engah.
Wajah Luna memerah padam, diselimuti rasa gugup dan canggung yang luar biasa. Dengan tangan gemetaran, Luna menyambar ponselnya.
"P-Papa?" sapa Luna dengan suara bergetar, berusaha menyembunyikan kepanikannya.
"Halo, Luna... Papa cuma mau ngecek keadaan kamu malam ini, Nak. Kamu baik-baik aja kan sama Om Marko?" suara Ardi dari seberang telepon terdengar sangat tulus dan penuh kasih sayang.
"I-iya, Pa... Luna baik-baik aja kok. Om Marko jaga Luna dengan sangat baik..." jawab Luna terbata-bata, tidak berani menatap Marko yang kini berdiri membelakanginya di dekat jendela.
"Baguslah kalau begitu. Papa lega. Yaudah, kamu istirahat ya, Nak."
"Iya, Pa. Papa juga jaga kesehatan di sana."
Begitu panggilan terputus, Luna langsung berdiri tanpa berani melihat ke arah Marko lagi. "A-aku ke kamar dulu, Om!" seru Luna cepat, lalu berlari setengah berjalan naik ke lantai atas dengan dada yang bergemuruh hebat.
Di ruang keluarga, Marko berdiri mematung sendirian dalam kegelapan. Pria matang itu mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, lalu memukul pelan sandaran sofa dengan rasa frustrasi yang membakar.
Bayangan tatapan pasrah Luna, kehangatan napas gadis itu, dan aroma harum yang tertinggal di udara masih terus meneror akal sehatnya. Duda yang sudah belasan tahun menahan diri itu merasakan benteng pertahanannya runtuh berantakan hanya dalam satu malam.
Marko memejamkan mata rapat-rapat seraya menghembuskan napas berat yang bergetar. Satu pertanyaan besar kini terus menghantuinya: jika esok hari Luna kembali melancarkan pancingan yang sama... apakah ia sanggup menahannya lagi, atau justru benar-benar menyerah pada godaan itu?