Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertengkaran lagi
Malam-malam setelah kemarahan Abimana, Kemala tetap melaluinya dalam dingin dan sunyi.
Alasannya karena Kirana yang kembali sakit dan tak bisa jauh dari Abimana.
Kemala tak pernah ambil pusing akan hal itu.
Baginya, Abimana mengunjunginya atau tidak sudah bukan hal yang penting lagi.
Kemala baru saja mengeluarkan loyang dari oven berisi fudgy brownies yang baru dia dapat resepnya dari hasil scroll di sosial media.
"Wanginya enak sekali..." gumamnya saat menghirup aroma kue berwarna coklat tua itu.
Kemala yang tak sabaran lekas memotongnya dan memasukan kedalam mulutnya.
Matanya terpejam dengan senyum merekah sempurna dibibirnya saat mengunyah hasil karyanya.
"Delicious... Perfecto...." ucapnya bangga, meniru gaya chef profesional.
"Apa yang perfecto...?" sebuah suara dingin berhasil membuatnya terperanjat dan hampir membuatnya tersedak.
Abimana menaikkan sebelah alisnya.
Heran dengan tingkah istri pertamanya.
Raut Kemala dari yang tadinya hangat, berubah dingin.
Abimana melirik sesuatu dibalik punggung Kemala.
"Kamu buat kue? Sejak kapan kamu bisa?" tanyanya heran.
Lalu tanpa izin mencomot satu potong dan memakannya.
Kepalanya mengangguk kecil. "Lumayan... Kalau Kirana mencicipinya, pasti dia suka" cicitnya.
Kemala yang masih kesal kepada Abimana langsung menarik loyang kue dan mendekapnya seolah itu barang berharga yang tidak boleh dibagi pada orang lain.
"Tidak boleh! Kalau istri keduamu itu mau, beli saja di toko kue depan pondok... Saya membuatnya bukan untuk dibagi-bagi..." tegasnya, melirik tak suka.
"Kemala... Kenapa kamu begitu marah setiap kali saya menyebut nama Kirana? Apa segitu bencinya kamu pada adik madu-mu itu? Dia adalah sahabat surgamu dan kamu harus bisa ramah padanya...."
Suasana di ruangan itu seketika membeku.
Napas Kemala tertahan di kerongkongan, lalu ia mendengus, suara pendek, penuh kepedihan yang tertahan, bercampur kecewa yang tak sanggup lagi disembunyikan.
"Sahabat surga..." ulangnya pelan, namun setiap kata terasa tajam.
Ia menatap Abimana, matanya berkaca-kaca namun tak setetes pun air mata jatuh. "Kamu menyebutnya begitu? Di hadapanku?"
Abimana terdiam, bibirnya bergerak ingin menjelaskan, namun Kemala melanjutkan lebih dulu, suaranya bergetar namun tegas, memegang erat kebenaran yang ia yakini.
"Bahkan Nabi kita saja pernah bersabda 'Bukan termasuk golongan kami orang yang merusak hubungan seorang perempuan dengan suaminya'. Padahal ajaran yang kita pelajari saja menyatakan dengan jelas , tangan yang mengambil apa yang bukan haknya, tak akan menyentuh kebahagiaan di sana"
Kemala menatap lurus ke arah suaminya, tatapannya teguh meski matanya memancarkan kesedihan yang dalam.
"Saya tidak membenci siapa pun," ucapnya pelan namun tegas. "Tapi biarlah kebenaran ini terucap, jalan yang kalian pilih ini, tak semudah mengubah sebutan menjadi indah. Ada hati yang hancur di sini, dan ada janji yang dilanggar. Biarlah Allah yang menilai niat kita masing-masing. Dan jangan naif untuk menyatukan kami dalam sebuah hubungan yang damai. Asal tak saling menyinggung satu sama lain, terserah kalian mau melakukan apa..."
"Tapi ini bukan salah Kirana..." suara Abimana terasa berat, berusaha membela.
Kemala menyeringai tipis, mengejek suaminya.
"Ya...Memang bukan salah Kirana. Ini semua salahmu, mas... Andai saja kamu berani menolak perjodohan ini, mungkin saya tidak akan berada diantara kalian... Saya diam dan menerima pernikahan ini karena saya sadar, saya tidak berhak menolaknya... Saya hanyalah yatim-piatu yang dibesarkan karena belas kasih orangtuamu.. Yang bisa menolaknya cuma kamu, mas... Tapi kamu tidak melakukannya... Dan setelah seminggu usia pernikahan kita, kamu membawa perempuan lain kerumahmu dan bergelut diranjang yang sama tempat saya tidur......" suara Kemala bergetar. Ada isak tertahan disana.
"Bukankah kamu juga mengizinkannya?" lirih Abimana, masih membela egonya.
"Memberi izin karena suamiku memohon hidup perempuan lain... Karena saya tahu, jika suami saya menyimpan nama perempuan lain dihatinya, bahkan ketika dia menggauli saya, dia memangil namanya..."
Abimana membelalak.
"Kemala..." panggilnya pelan, berusaha meraih tangan Kemala.
Namun yang terjadi setelahnya, Kemala mundur, menolak disentuh oleh Abimana.
"Pergilah mas... Pulang ke tempat istri tercinta mu yang kini bahkan sedang mengandung buah hati kalian..." usir Kemala membelakangi Abimana.
Tanpa bicara, tanpa membujuk, Abimana melangkah keluar dari rumah Kemala.
Begitu pintu tertutup, perempuan itu luruh kelantai. Dan loyang kue yang didekapnya terjatuh, isinya berserakan dilantai dapur yang dingin.
Kemala menangis terisak, memeluk lututnya.
Dibalik tembok yang dingin dan minim cahaya, sepasang telinga menyimak perdebatan itu bahkan sejak awal.
Tatapannya begitu tajam seolah bisa menembus punggung kokoh yang berjalan menjauhi pagar setinggi dada orang dewasa.
Adalah Sean Wijayakusuma yang tadinya berniat kabur lagi justru tersesat di halaman rumah Kemala.
Dia bahkan mengurungkan niatnya kabur begitu melihat Abimana melangkah memasuki pagar hitam.
Sean menebak, ini pasti rumah istri pertamanya seperti yang pernah diceritakan salah satu santri yang kini jadi kawan baiknya.
Sean menoleh kedalam jendela kaca dimana didalamnya ada seorang perempuan dengan tangisan pilunya.
Kemala, istri pertama Abimana. Menarik, batinnya.
Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya.
"Jika kamu tidak bisa membahagiakannya, maka saya yang akan melakukannya..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sean melempar jaket denimnya diatas ranjang besi.
Dengan hati-hati, dia berbaring dengan tangan terlipat di balik kepalanya.
Matanya yang selalu memancar dingin sedang memandang lantai ranjang besi diatasnya.
"Oi... Bukankah kamu tadi mau kabur? Kenapa balik lagi? Ketahuan ustadz Herman ya?" bisik Arya dari sisi ranjangnya.
"Nggak jadi... Saya sudah putuskan, saya akan tetap disini..." sahut Sean penuh makna.
Arya dan satu teman mereka saling pandang.
"Kenapa? Kamu ketemu bidadari disini makannya batal kabur?" kekeh Arya menggoda.
Sean memiringkan tubuhnya kesamping, arah Arya.
Ada senyum hangat terukir di bibirnya sehingga membuat Arya bergidik ngeri.
"Kayaknya kamu benar Arya... Sean pasti ketemu bidadari di komplek santri perempuan" timpal salah satu teman Arya.
Sean tak menjawab, hanya kembali membalikkan badan, telentang.
"Oi.. tidur! Kalau kalian telat besok subuh, siap-siap kena hukuman!" seru suara dari luar kamar asrama.
Semua yang masih terjaga bergegas mengambil posisi ternyaman mereka.
Rasa kantuk membuat mereka cepat terlelap kecuali Sean yang masih menerawang, merencanakan sesuatu didalam kepalanya.
bersambung....