Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?
Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 2
Napas Qin Mu tertahan di tenggorokan, terasa seperti menelan segenggam pasir.
Logika di kepalanya, yang telah ditempa Gu Shanyin selama sepuluh tahun, berteriak keras memintanya berbalik. Lari. Sembunyi. Bertahan hidup. Namun kakinya mengkhianati nalar. Alih-alih menuju Bukit Belakang yang aman, pemuda itu merayap di bawah akar-akar pohon beringin raksasa yang melilit pinggiran Desa Canglan.
Asap kelabu mulai merayap naik, menodai langit sore yang tadinya sewarna tembaga. Bau hangus ilalang bercampur dengan anyir darah segar menyengat indra penciumannya bau yang jauh lebih tajam dan memuakkan daripada darah babi hutan.
Melalui celah semak berduri, mata hitam Qin Mu melebar. Jari-jarinya mencengkeram gagang pedang kayu hingga buku-buku jarinya memutih, bergetar bukan karena keberanian, melainkan karena insting purba yang menyadari ancaman mematikan.
Di pelataran tanah liat desa, belasan pria berkuda mondar-mandir. Mereka tidak mengenakan zirah compang-camping layaknya perampok gunung biasa. Pakaian mereka serba hitam, dipadukan dengan pelindung dada kulit bermotif serigala perak. Senjata mereka bukan parang karatan, melainkan golok punggung tebal yang memantulkan cahaya dingin.
Di tengah pelataran, Paman Li pria yang mengajari Qin Mu memahat busur berlutut dengan wajah berlumuran darah. Tangan kanannya memegangi bahu kirinya yang telah terpotong separuh. Di sampingnya, Bibi Zhao menangis histeris sambil memeluk putrinya yang masih berusia enam tahun, menyembunyikan wajah anak itu ke dadanya.
"Aku bertanya sekali lagi," suara seorang pria di atas kuda terdengar malas, namun bergema aneh di udara, menekan gendang telinga siapa pun yang mendengarnya. Pria itu mencondongkan tubuh, menatap Paman Li. "Di mana lelaki tua pemabuk itu? Dan di mana anak babi yang dia besarkan?"
Jantung Qin Mu seakan berhenti berdetak. Mereka mencari Kekek Gu. Mereka mencariku.
Cincin Giok Retak di balik bajunya mendadak terasa sedingin es, menembus kulitnya seolah mencoba memperingatkan sesuatu. Qin Mu menekan napasnya hingga nyaris tak terdengar. Ia ingin melompat keluar, menebas leher pria itu, namun pikirannya yang rasional menamparnya keras-keras.
Jarak dua puluh tombak. Ada dua belas orang. Napas mereka teratur, otot mereka padat. Bahkan pria terlemah di sana bisa membunuhku sebelum aku mengayunkan pedang.
Kelemahan bukan lagi sekadar konsep yang diceramahkan Gu Shanyin saat ia gagal memburu; kelemahan kini adalah pemandangan di depan matanya. Ketidakmampuan untuk melakukan apa pun saat orang-orang yang memberinya makan malam sedang diinjak seperti serangga.
"Kami... kami tidak tahu..." Paman Li terbatuk, meludahkan darah bercampur gigi. "Pendekar tua itu... pergi ke gunung sejak fajar..."
Pemimpin perampok itu mendesah bosan. Ia memberi isyarat kecil dengan jarinya.
Seorang bawahan di sebelahnya mengangkat golok tanpa ragu, bersiap memenggal kepala Paman Li.
Tidak!
Rasionalitas Qin Mu putus. Namun ia tidak berteriak. Ia tidak melompat keluar menjadi pahlawan bodoh. Insting berburunya mengambil alih. Dengan gerakan sangat cepat, Qin Mu meraih sebuah batu sebesar kepalan tangan di dekat kakinya, memutar tubuhnya, dan melemparkannya dengan seluruh tenaga ke arah genteng rumah di sisi berlawanan pelataran.
PRANG!
Genteng tanah liat itu hancur berkeping-keping. Suara keras itu memecah ketegangan. Dua belas kepala perampok tersentak menoleh ke arah rumah kosong tersebut. Eksekutor Paman Li menghentikan ayunan goloknya, kuda-kuda mereka meringkik gelisah.
"Siapa di sana?!" bentak salah satu perampok.
Itu hanya gangguan sesaat, satu kedipan mata. Namun bagi seseorang yang mengerti cara membunuh, satu kedipan mata adalah keabadian.
Udara di pelataran mendadak berubah. Angin yang membawa panasnya api unggun tiba-tiba menjadi sangat dingin, seolah musim salju turun di pertengahan musim gugur.
Sebuah bayangan abu-abu melesat dari atap rumah kepala desa. Gerakannya tidak mengeluarkan suara sedikit pun, seringan daun kering yang jatuh, namun membawa tekanan yang membuat napas Qin Mu tertahan di dadanya.
Itu Gu Shanyin.
Namun ini bukan lelaki tua pemabuk yang memarahinya sejam lalu. Punggung bungkuknya telah tegak lurus. Matanya yang biasa sayu kini memancarkan cahaya setajam mata pedang. Di tangannya, tidak ada senjata. Ia hanya memegang sebatang ranting pinus yang baru saja dipatahkannya.
Pemimpin perampok itu melebarkan mata. "Itu dia! Tangk—"
Kata-katanya tidak pernah selesai. Gu Shanyin melangkah satu kali di udara ia menginjak udara! dan dalam sekejap muncul di depan eksekutor Paman Li. Ranting pinus di tangan Gu Shanyin berkedut pelan.
Sring!
Sebuah garis merah tipis muncul di leher perampok itu. Sedetik kemudian, darah menyembur seperti air mancur. Pria bertubuh kekar itu ambruk tanpa sempat menyadari bahwa ia telah mati.
"Formasi Serigala! Dia seorang kultivator Foundation Establishment!" teriak sang pemimpin, wajahnya pucat pasi. Qi berwarna merah redup meledak dari tubuhnya, membentuk lapisan aura di sekitar goloknya.
Sepuluh perampok tersisa serentak melompat dari kuda. Tubuh mereka memancarkan Qi yang membuat udara bergetar, bergerak dengan koordinasi mematikan untuk mengepung Gu Shanyin.
Di balik semak, Qin Mu gemetar. Matanya tak bisa berkedip.
Inilah dunia yang selalu disembunyikan darinya. Dunia di mana batu bisa dihancurkan dengan tangan kosong, di mana ranting rapuh menjadi senjata pencabut nyawa. Ia melihat Qi, ia merasakan niat membunuh yang begitu pekat hingga membuat perutnya mual.
Gu Shanyin berada di tengah kepungan sepuluh orang bersenjata. Tidak ada sedikit pun kepanikan di wajah lelaki tua itu. Ia mengangkat ranting pinusnya perlahan, dan untuk pertama kalinya, Qin Mu mendengar suara Gu Shanyin yang tidak mengandung kemalasan, melainkan arogansi kuat yang telah lama tertidur.
"Kalian anjing-anjing peliharaan... berani mengotori desaku?"
Gu Shanyin mengayunkan rantingnya. Tidak ada benturan logam. Tidak ada pertarungan panjang yang seimbang. Yang terjadi adalah pembantaian sepihak.
Setiap kali ranting itu bergerak, ia meninggalkan bayangan pedang ilusi di udara. Darah bermekaran seperti bunga mawar merah di atas tanah liat kelabu. Jeritan tertahan di tenggorokan yang terputus. Dalam lima tarikan napas, delapan perampok terkapar tanpa nyawa, masing-masing dengan satu luka presisi di titik vital.
Pemimpin perampok itu mundur, ketakutan telah menelan akal sehatnya. Ia berbalik, mencoba melarikan diri menggunakan teknik meringankan tubuh. Namun Gu Shanyin hanya menjentikkan jarinya ke udara. Setetes darah di ranting pinusnya melesat seperti peluru, menembus tepat di belakang kepala pemimpin perampok itu hingga menembus dahi. Mayatnya jatuh terjerembap ke tanah, menciptakan debu.
Keheningan yang memekakkan telinga turun menyelimuti Desa Canglan. Hanya suara api dari rumah yang terbakar dan isak tangis Bibi Zhao yang tersisa.
Qin Mu masih bersembunyi, lututnya lemas. Pedang kayunya terlepas dari genggaman. Pemandangan di depannya menghancurkan segala hal yang ia ketahui tentang dunia. Gu Shanyin yang sering encok saat membelah kayu, baru saja membantai selusin pembunuh bayaran tanpa bergeser lebih dari tiga langkah.
Gu Shanyin berdiri di tengah mayat-mayat itu. Ia membuang ranting pinusnya yang kini hancur menjadi serbuk. Ia lalu menoleh pelan, pandangannya langsung menusuk ke arah semak berduri tempat Qin Mu bersembunyi.
"Keluar," suaranya parau, kelelahan mulai menjalar kembali ke nada bicaranya.
Qin Mu merangkak keluar dari semak, tubuhnya kaku, matanya menatap ke arah mayat-mayat yang bergelimpangan. Bau darah membuat isi perutnya bergejolak, namun ia menahan diri untuk tidak muntah. Ia memaksakan kakinya melangkah mendekati Gu Shanyin.
"Kek..." suara Qin Mu serak, nyaris tak terdengar.
Gu Shanyin menatap pemuda itu lekat-lekat. Tidak ada kehangatan di matanya saat ini, hanya realitas pahit.
"Kau melihatnya, Qin Mu?" Gu Shanyin menunjuk ke arah Paman Li yang sedang dirawat oleh Bibi Zhao dengan tangan gemetar. "Ini adalah harga dari sebuah kelemahan. Di dunia ini, jika kau lemah, nasibmu ditentukan oleh pedang orang lain. Hidupmu, keluargamu, rumahmu... semua itu hanyalah barang pinjaman yang bisa diambil kapan saja oleh mereka yang lebih kuat."
Qin Mu menundukkan kepala. Rasa takut yang tadi mencengkeramnya perlahan menguap, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih panas, lebih gelap, dan lebih dalam. Rasa frustrasi yang membakar.
Ia tadi hanya bisa melempar batu. Ia hanya bisa menonton. Jika Gu Shanyin tidak ada, seluruh desa ini telah menjadi ladang pembantaian, dan Qin Mu akan mati di dalam semak-semak seperti tikus yang ketakutan.
"Siapa mereka?" tanya Qin Mu, mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.
"Mereka adalah pemburu. Dan mulai hari ini, mereka akan terus datang," jawab Gu Shanyin, lalu mengusap wajahnya yang berkerut lelah. Ia menatap langit malam yang mulai turun. "Bulan damai kita sudah habis, Bocah. Tempat ini tidak lagi aman bagimu."
Qin Mu mengangkat wajahnya. Tidak ada lagi kepolosan anak desa di matanya. Yang tersisa adalah bara api dari seorang pemuda yang baru saja disadarkan betapa kejamnya dunia. Tangannya menyentuh Cincin Giok Retak di dadanya, menggenggamnya erat-erat.
"Kalau begitu ajari aku," kata Qin Mu, suaranya tidak lagi bergetar. "Ajari aku bagaimana caranya agar tidak ada lagi yang bisa membuatku bersembunyi dan menonton seperti pengecut."
Gu Shanyin terdiam cukup lama. Ia melihat bayangan seorang pria lain pada raut wajah pemuda di depannya bayangan seorang ayah yang pernah mengorbankan segalanya demi dunia, namun dikhianati oleh dunia itu sendiri.
Lelaki tua itu menghela napas panjang, seolah menerima kutukan yang tak bisa dihindari.
"Jalan yang kau pilih ini... tidak memiliki jalan pulang, Qin Mu," gumam Gu Shanyin, suaranya bercampur dengan desir angin malam. "Kau akan berjalan di atas tumpukan tulang, meminum darah musuhmu, dan mungkin suatu hari nanti... kau akan melupakan siapa dirimu hari ini."
"Aku lebih baik mati kehilangan diriku," jawab Qin Mu tegas, menatap mayat-mayat di sekelilingnya, "daripada hidup namun kehilangan orang-orang yang berharga bagiku."
Malam itu, di tengah bau asap dan darah, di bawah langit kelabu Desa Canglan, roda takdir raksasa Alam Tianyuan mulai berputar lambat.
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️