NovelToon NovelToon
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Orang Disabilitas
Popularitas:159.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.

Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.

Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"Katanya Juragan Darmawan sedang mencari calon istri untuk cucunya," bisik seorang wanita tua kepada orang-orang yang sedang memetik pucuk daun teh.

Bisikan itu pelan, tetapi cukup membuat tangan-tangan yang sejak tadi sibuk memetik pucuk daun teh berhenti sesaat. Para pemetik teh itu saling bertukar pandang.

"Cucunya yang tuli itu, ya?" tanya seorang wanita bertubuh gempal sambil menyelipkan daun-daun teh ke dalam keranjang rotan di punggungnya.

"Hush!" Beberapa orang spontan melotot.

Salah seorang wanita tua bahkan buru-buru menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ada mandor yang mendengar. "Kalau sampai keluarga Juragan Darmawan dengar ucapanmu, bisa-bisa besok kamu nggak kerja lagi."

Wanita gempal itu langsung menutup mulutnya. "Maaf, aku cuma nanya."

Wanita tua itu menghela napas panjang sebelum kembali berbisik. "Den Gavin memang tuli sejak kecil. Tapi siapa yang nggak kenal dia? Pewaris seluruh perkebunan teh ini. Juragan Darmawan sudah berkali-kali menyuruhnya menikah, tapi selalu ditolak. Sekarang katanya Juragan sudah marah dan memilih mencarikan istri sendiri."

"Maharnya pasti besar. Perkebunan teh ini saja luasnya luar biasa. Belum lagi pabrik pengolahan teh di kota. Siapa pun yang menikah dengan Den Gavin, hidupnya pasti berubah," celetuk seorang wanita muda.

Wanita tua itu menyipitkan mata. "Kamu tertarik?"

"Ih, ogah!" Gadis itu langsung menggeleng keras hingga ikatan rambutnya bergoyang. "Den Gavin dingin, jarang senyum, terus tuli lagi. Belum Juragan Darmawan terkenal galak. Menantunya yang dari kota itu juga katanya sombong. Bisa-bisa aku mati muda karena stres menghadapi mereka setiap hari."

Tawa kecil pun pecah di antara mereka.

Tina pura-pura sibuk memetik daun teh, padahal sejak tadi seluruh perhatiannya tertuju pada obrolan itu. Tatapannya perlahan berubah. Mula-mula biasa saja, lalu menyipit. Kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan.

Senyum itu bukan karena geli. Melainkan karena sebuah rencana yang tiba-tiba muncul di dalam kepalanya.

"Kalau memang Juragan Darmawan sedang mencari istri untuk cucunya, kenapa tidak memanfaatkan kesempatan ini?" batin Tina. Matanya menerawang ke arah lereng sebelah.

Di sana, sekelompok pemetik teh lain bekerja tanpa banyak bicara. Mereka hanya fokus mengisi keranjang masing-masing agar upah hari itu tidak berkurang. Di antara mereka ada seorang gadis yang paling mudah dikenali, Dara, keponakan.

Dara memilih tubuh yang ramping. Wajahnya sederhana, tetapi bersih dan menenangkan. Keringat membasahi pelipisnya, namun senyum kecil tak pernah benar-benar hilang dari bibirnya.

Setiap kali berpindah ke pohon berikutnya, langkah Dara sedikit tertatih. Itu dikarenakan kaki kirinya tidak sempurna. Sejak kecelakaan saat masih kecil, ia berjalan pincang. Meski begitu, Dara tidak pernah mengeluh.

Tangan Dara tetap lincah memetik pucuk-pucuk daun teh terbaik. Bahkan hasil kerjanya sering kali lebih banyak dibanding para pemetik yang bertubuh sehat.

Melihat gadis itu, senyum Tina semakin lebar.

"Sepertinya dia akan setuju dan tidak akan banyak menuntut," batin Tina lagi.

Malam pun datang, rumah kayu sederhana di lereng pegunungan mulai diterangi lampu kuning redup. Dara masih berada di dapur. Asap tipis mengepul dari tungku yang baru saja dipadamkan. Aroma sayur bening dan tempe goreng masih memenuhi ruangan.

Dara mengangkat panci terakhir, lalu mencucinya dengan telaten. Tangannya mulai memerah karena air pegunungan yang begitu dingin. Sesekali ia meringis saat kaki kirinya terasa nyeri akibat seharian berdiri di kebun. Namun, pekerjaan itu tetap diselesaikannya tanpa mengeluh. Baginya, pekerjaan rumah jauh lebih ringan dibanding mendengar bibinya marah.

"Belum selesai juga?" Suara Tina tiba-tiba terdengar dari ambang pintu.

Dara buru-buru menoleh. Wajah bibinya tampak masam.

"Sedikit lagi, Bi," jawab Dara pelan sambil mempercepat gerakan tangannya.

"Cepat! Pamanmu mau bicara. Jangan bikin orang nunggu." Nada suara Tina terdengar tajam.

"Iya, Bi."

Dara segera membilas panci terakhir, mengeringkan tangannya, lalu melepas celemek lusuh yang dikenakannya. Ia menarik napas panjang. Entah mengapa dadanya terasa tidak tenang.

Sepanjang jalan menuju ruang tengah, pikiran Dara dipenuhi berbagai kemungkinan. Apa Kiara membutuhkan biaya kuliah lagi? Atau Paman Rama kembali kesulitan membayar utang? Kalau memang begitu, ia akan bekerja lebih keras lagi. Besok ia bisa mengambil tambahan pekerjaan membersihkan gudang teh. Asal keluarganya tidak kesusahan.

Dengan langkah sedikit pincang, Dara duduk bersimpuh di depan Rama dan Tina. Dia membetulkan posisi kakinya agar terasa nyaman.

Ruang itu mendadak terasa sunyi. Hanya suara jangkrik dari luar yang terdengar bersahutan.

Rama membersihkan tenggorokannya sebelum berbicara. "Dara."

"Iya, Paman."

"Kamu ingat, sejak kedua orang tuamu meninggal, kamu tinggal di rumah ini?"

Dara mengangguk pelan. Ingatan lama kembali menyeruak. Ia memang masih terlalu kecil untuk mengingat wajah kedua orang tuanya dengan jelas. Yang ia ingat hanya pelukan hangat sang nenek. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat ketika sedang melakukan perjalanan dinas.

Sejak saat itu, kakek dan neneknya membesarkan Dara dengan penuh kasih sayang. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Kakeknya meninggal karena usia. Lalu, setahun tahun kemudian, neneknya terkena serangan jantung setelah mendengar kabar Dara mengalami kecelakaan yang membuat kaki kirinya cacat.

Sejak itulah hidup Dara berubah. Ia tinggal bersama Rama, adik mendiang ibunya, dan Tina. Tak ada lagi pelukan hangat atau belaian penuh kasih. Yang ada hanyalah pekerjaan. Bangun sebelum subuh, lalu mengerjakan pekerjaan rumah.

Setelah besar dan bekerja di kebun teh, pun Dara masih melakukan rutinitas itu. Semua itu dijalaninya tanpa pernah membalas. Sebab ia selalu percaya, paman dan bibinya telah berbaik hati merawatnya.

"Dara, sekarang kamu sudah dua puluh tahun." Suara Rama membuyarkan lamunannya.

"Iya, Paman." Dara mengangguk pelan.

"Sudah waktunya kamu menikah."

"Apa?!"

Jantung Dara seakan berhenti berdetak. Matanya membesar. Ia benar-benar tidak menyangka pembicaraan malam ini mengarah ke sana.

"Paman, aku belum kepikiran menikah," kata Dara dengan suara lirih dan sedikit bergetar.

"Kami sudah memikirkan semuanya." Tina langsung tersenyum manis.

Senyum yang justru membuat Dara semakin gelisah.

"Benar," sambung Rama. "Kami juga sudah menemukan calon suami yang sangat baik."

Dara menggenggam ujung bajunya. Entah mengapa, ucapan para pemetik teh siang tadi kembali terngiang di telinganya. Juragan Darmawan sedang mencari calon istri untuk cucunya yang tuli. Perasaan tidak enak tiba-tiba memenuhi dadanya.

"Kalau boleh tahu ...." Dara menelan ludah sebelum melanjutkan. "Siapa pria itu, Paman?"

Rama dan Tina saling bertukar pandang. Tatapan mereka dipenuhi kepuasan. Seolah-olah semuanya telah berjalan sesuai rencana.

Rama akhirnya tersenyum lebar. "Den Gavin. Cucu Juragan Darmawan."

Dunia Dara seperti berhenti berputar. Napasnya tercekat. Wajahnya memucat dalam sekejap.

Sedangkan di sudut ruangan, Tina diam-diam tersenyum puas. Karena tanpa diketahui Dara, besok pagi mereka sudah berjanji akan menemui Juragan Darmawan.

***

Assalamualaikum, semua. Aku kembali dengan karya baru. Semoga kalian suka. Jangan lupa selalu tinggalkan jejak like dan komentar sebagai dukungan kalian pada karya ini. Untuk perhatiannya aku ucapkan terima kasih.

1
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🙏🙏🙏 makasih
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹
Sugiharti Rusli
di jaman sekarang memang yah kalo salah mengajarkan nilai" kehidupan ke anak, bisa jadi petaka di masa depan yah🙏🙏🙏
Sugiharti Rusli
bahkan Gavin membebaskan anak" nya mengejar cita" yang sesuai minat mereka dan tidak berpatokan seperti dirinya yang jadi pengusaha,,,
Sugiharti Rusli
baik Gavin dan Dara tidak pernah mencontohkan kepada anak" nya tentang status mereka yang memiliki perkebunan dan usaha yang semakin besar,,,
Sugiharti Rusli
benar sih, kalo di tangan orang tua yang paham menanamkan nilai" baik, seorang anak bisa banyak mencontoh dari kedua ortunya yah,,,
Sugiharti Rusli
ternyata kesederhanaan berpikir Dara dulu bisa berpengaruh pada kehidupan mereka sekarang yah
Sugiharti Rusli
wah senang deh ada ekstra part meski hanya satu saja yah😁😁😁
Rahmat
Kirim kopi ah biar thourx smangat ngetikx awal cerita sampai next tammat semuax aku suka bukan cuman cerita novelx sj tapi ilmux banyak,wejangan"juga👍🫡🫡🫡
Aditya hp/ bunda Lia
makasih extra nya Thor bahagiaaaaa ... Gavin dara
dyah EkaPratiwi
terimakasih cerinya kak😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
waduh
Ita rahmawati
suka bab bonus yg bener bener bonus,,kata katanya bagus bgt bisa jd contoh utk kita pelajari 🤗🤗
Ummee
Terimakasih kembali kak... 🙏
sukses selalu utk kak author 🤗
Ummee
ya Allah... ada lagi kembar😍😍😍
Ummee
eehh... uda punya bocil ternyata Dara+Gavin, selamat ya...
Nar Sih
masyaalloh kak ,bnr,,kata,,yg bagus yg bisa jdi motifasi kita para pebaca semagat kak santi dan terus lah berkarya dgn tulisan dan cerita mu ,👍👍🥰🥰
Risma Hye Chan
indah banget kalimat extra part-nya
dyah EkaPratiwi
Alhamdulillah sudah tertangkap
Ayuk Witanto
ternyata yang nabrak juga sudah bergerak duluan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!