NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Syarat.

Cinta Tanpa Syarat.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: atikah@72

sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.

sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.

sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.

sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Desa Kolorai Sumba

Jika kau tarik garis paling ujung di peta pulau sumba. lalu kau tarik lagi sedikit ke selatan sampai jarimu jatuh ke laut.

di situlah Desa Kolorai berada.

Desa ini tidak mengenal aspal. Jalanannya hanya tanah merah yang kalau hujan berubah jadi bubur, dan kalau kemarau pecah-pecah seperti kulit yang kehausan.

Rumah-rumah panggung dari kayu kesambi berdiri tidak beraturan, atapnya dari daun lontar yang sudah menghitam dimakan matahari.

Di antara rumah-rumah itu, hanya ada satu bangunan yang dicat putih, yaitu gereja kecil dengan lonceng yang sudah tidak berbunyi selama tiga tahun karena talinya putus.

Orang Jakarta menyebut tempat seperti ini terpencil. Orang Kolorai sendiri menyebutnya ujung dunia.

Di Kolorai, sinyal handphone adalah barang mewah. Anak-anak muda harus memanjat pohon kelapa setinggi dua belas meter, mengikat HP mereka dengan karet di ujung kayu.

baru satu bar sinyal muncul. Listrik dari diesel desa hanya hidup dari jam enam sampai jam sepuluh malam.

Setelah itu, seluruh desa tenggelam dalam gelap yang pekat, hanya diterangi minyak tanah dan bintang-bintang yang terlihat begitu dekat, seolah bisa dipetik dengan tangan.

Pekerjaan warga hanya dua. Jika laki-laki, melaut. Jika perempuan, membuat garam.

Setiap pagi jam empat subuh, sebelum ayam berkokok, para lelaki Kolorai sudah mendorong perahu-perahu kecil mereka yang bernama _pajala_ ke laut.

Mereka pergi tanpa pelampung, hanya dengan kompas rakitan dan doa. Kadang mereka pulang membawa ikan, kadang mereka pulang hanya membawa jaring kosong dan tubuh yang terbakar matahari.

Laut di ujung pulau ini tidak ramah. Ombaknya tinggi, karangnya tajam.

Sementara para perempuan, begitu matahari naik sedikit, mereka berjalan beriringan ke arah _kawaka_, ladang garam di tepi pantai.

Mereka memikul ember air laut di atas kepala, menuangkannya ke petak-petak tanah liat, membiarkan matahari membakarnya menjadi kristal-kristal putih.

Garam itu kemudian mereka masukkan ke karung goni seberat dua puluh kilo dan dipikul lagi sejauh lima kilometer ke pasar kecamatan. Upahnya?

Dua puluh ribu rupiah untuk seharian memikul di bawah matahari yang bisa merebus otak.

Hidup di sini keras. Makanya orang-orang di sini juga keras dalam menilai.

Di tempat di mana semua orang saling kenal nama bapak dan kakeknya, rahasia tidak bisa disimpan lebih dari sehari. Bisik-bisik di sumur umum pagi hari akan menjadi rapat besar di depan kios sore harinya.

Dan selama delapan bulan terakhir, bisik-bisik itu hanya tentang satu orang.

Sari.

Sari berumur dua puluh dua tahun. Dulu ia adalah gadis paling cantik di Kolorai. Rambutnya hitam panjang.

suaranya merdu kalau menyanyi di paduan suara gereja.

Tiga tahun lalu ia menikah dengan Johan, pemuda dari desa seberang yang datang untuk kerja bangunan gereja.

Johan tinggi, kulitnya tidak terlalu hitam seperti orang Kolorai, dan ia pandai bicara. Ia berjanji akan membawa Sari keluar dari Kolorai, melihat Kupang, melihat Jakarta di televisi.

Janji itu bertahan selama satu tahun pernikahan.

Delapan bulan yang lalu, ketika Sari baru telat satu bulan dan mual setiap pagi, Johan pamit. Katanya ia harus merantau ke Kupang dulu, ikut pamannya jadi kuli bangunan.

Katanya di sana gajinya besar, bisa untuk biaya lahiran nanti. Ia berjanji akan kembali sebelum perut Sari besar.

Ia pergi dengan perahu kayu jurusan Waingapu, hanya membawa satu tas ransel dan cincin kawin yang sudah mulai longgar di jarinya.

Sejak hari itu, perahu itu tidak pernah kembali.

Awalnya Sari menunggu di dermaga setiap sore. Perutnya masih rata, ia duduk di atas batu karang, melihat cakrawala sampai matanya perih.

Para ibu-ibu bilang, sabar, kapal kadang telat karena ombak.

Bulan kedua, tidak ada kabar. HP Johan tidak aktif.

Bulan ketiga, perut Sari mulai terlihat. Dan bisik-bisik mulai berubah nada.

"Jangan-jangan dia lari," kata Mama Marta di sumur.

"Anakku pernah lihat Johan di Waingapu dengan perempuan lain," timpal yang lain, entah benar entah karangan.

Bulan keempat sampai ketujuh, Sari berhenti ke dermaga. Ia mengurung diri di gubuk panggung peninggalan orang tuanya yang sudah meninggal.

Gubuk itu bocor di tiga titik. Kalau hujan, ia harus menggeser tikarnya agar tidak basah.

Sekarang, di bulan ketujuh, perut Sari sudah besar sekali. Kakinya bengkak, sepatunya tidak muat lagi. Ia berjalan pincang kalau mengambil air. Dan ia harus tetap ke ladang garam, karena kalau tidak, ia tidak makan.

Sore ini, Sari sedang duduk di depan gubuknya. Tangannya mengelus perutnya yang bergerak-gerak kencang.

Bayi di dalam itu aktif sekali, menendang-nendang seolah tidak sabar ingin keluar dan melihat dunia.

"Kamu kuat ya, Nak," bisik Sari lirih, suaranya hampir tenggelam oleh angin laut.

Ia tidak tahu harus merasa apa. Ia mencintai gerakan-gerakan kecil itu, karena itu satu-satunya yang menemaninya di gubuk sepi ini.

Tapi di sisi lain, setiap tendangan itu mengingatkannya pada Johan. Pada janji kosong.

Pada tatapan kasihan dan sinis orang-orang desa setiap ia lewat membawa karung garam dengan perut besar tanpa suami di sampingnya.

"Anak tanpa bapak akan membawa sial untuk desa," pernah ia dengar Mama Ursi berkata keras-keras di pasar, sengaja agar ia dengar.

Sari takut.

Ia takut tidak bisa mencintai anaknya dengan utuh. Bagaimana ia bisa memberi cinta tanpa syarat, kalau cintanya sendiri saja ditinggalkan tanpa alasan?

Bagaimana ia bisa tersenyum pada anaknya, kalau setiap melihat wajah anak itu nanti ia akan melihat wajah Johan yang menghilang?

Ia menunduk, air matanya jatuh ke atas perutnya yang tertutup daster lusuh.

Di kejauhan, lonceng gereja yang sudah tidak berbunyi itu tiba-tiba bergerak ditiup angin kencang.

Tidak berbunyi nyaring, hanya berderak pelan. Langit di ujung pulau berubah menjadi ungu gelap. Ombak mulai naik, memukul karang di bawah gubuk Sari dengan suara menggelegar.

Para tetangga berlarian menutup pintu dan jendela. Badai kecil akan datang.

Sari tetap duduk. Ia memeluk perutnya erat-erat.

Ia tidak tahu, badai yang sesungguhnya bukan yang datang dari laut malam ini. Badai yang sesungguhnya akan datang dua bulan lagi, saat bayi itu lahir.

Bayi yang tidak seperti bayi-bayi lain di Kolorai. Bayi yang kakinya tidak sempurna, yang tangannya terkepal kecil.

Bayi yang akan membuat seluruh desa menunjuknya dan berkata, "Itu karena bapaknya hilang, karena dikutuk."

Dan di tengah kutukan dan tatapan itu, Sari, seorang ibu berusia dua puluh dua tahun yang ditinggalkan di desa paling ujung, yang bahkan tidak ada di peta, harus belajar untuk pertama kalinya,

apa artinya mencintai seseorang tanpa meminta apa pun kembali.

Angin semakin kencang. Lampu diesel desa berkedip, lalu mati total. Desa kolorai tenggelam dalam gelap.

Hanya gubuk Sari yang masih terlihat remang-remang, dari cahaya minyak tanah yang ia nyalakan, dan dari seorang ibu muda yang masih mengelus perutnya, menunggu.

____

Untuk pembaca yang ingin mengetahui bagaimana kehidupan di kolorai, silahkan komen dibawah ya.

1
Saint, SN
👋🏻👋🏻
atikah@72: makasih kak, sudah mampir di kolorai🙏🙏
total 1 replies
Paulus Waruwu
kak jnagan lupa mampir di akun aku juga ya
atikah@72: iya kak, salam kenal ya, moga kakak sukses selalu🫰
total 1 replies
oding's
haii ka aku mampir nih semangat yaa😍 yuk mampir jga di karya ku xixi
oding's: semangat trs yaa✨
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!