NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Sang Ibu Tiri

Cinta Terlarang Sang Ibu Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:807
Nilai: 5
Nama Author: Tusya Ryma

Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.

Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.

Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.

Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.

Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Kenapa Marah?

Malam hari, di halaman rumah keluarga Puringga, Louis turun dari dalam mobilnya dan segera masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Langkahnya sangat cepat menaiki anak tangga, tidak sabar ingin segera melihat kondisi Karissa yang tadi ada beberapa luka di tubuhnya.

Louis langsung berjalan ke kamar Tuan Lee. Ia yakin, saat ini Karissa ada di kamar ayahnya.

Ketika ia berniat mengetuk pintu kamar, samar terdengar suara ringisan yang cukup memilukan dari dalam sana. Tangannya seketika terhenti di udara, suara itu yang semakin lama semakin tidak nyaman.

"Aaah, sa-sakit! Pelan-pelan!"

"Maaf! Apa seperti ini masih sakit?"

"Awh ... masih sakit! Lebih pelan lagi!"

"Bagaimana kalau seperti ini?"

"Ya, terus, seperti itu! Jangan terlalu ditekan, pelan saja!"

Brak!

Pintu ditendang segera oleh Louis. Dadanya turun naik dengan napas yang sangat cepat. Sorot matanya tajam menatap ke dalam kamar.

"Louis?" Tuan Lee menoleh untuk melihat putranya.

"Kenapa merusak pintu kamar Ayah?" tanya Tuan Lee yang sedang duduk di sofa sambil membantu membersihkan luka di dahi Karissa. "Pintunya tidak dikunci. Kalau kau mau masuk, tinggal buka saja! Kenapa harus dirusak?"

"Eh, A-Ayah!" Ia kira, ayahnya sedang ....

"Tidak, Yah! Tadi, kakiku sedikit pegal. Ingin meluruskan kaki, malah menendang pintu kamar. Hehe! Nanti, aku akan memperbaikinya," ucap Louis merasa malu.

"Ayah sedang apa?" Louis segera membenarkan emosinya.

Ia berjalan masuk ke dalam kamar, menghampiri mereka yang sedang duduk di sofa.

"Ayah sedang membantu mengobati luka Karissa!" jawab Tuan Lee.

Ia masih memegang kapas yang sudah diberi cairan untuk membersihkan lukanya.

"Sini!" Louis mengambil kapas dari tangan ayahnya. "Aku bantu!"

Louis berlutut di depan Karissa, membersihkan luka di dahinya dengan hati-hati.

"Lain kali, jangan berkelahi lagi! Tidak baik seorang wanita berkelahi sampai luka-luka seperti ini!"

"Apa yang diucapkan oleh Louis, benar! Lebih baik kita mengalah saja. Tidak perlu berdebat, apalagi sampai berkelahi. Kalau sudah luka seperti ini, yang rugi siapa? Kau sendiri, kan?" ucap Tuan Lee sambil bangkit berdiri.

Ia melepas jasnya, bersiap untuk pergi ke kamar mandi.

"Louis akan membantu mengobati lukamu! Aku mandi dulu!" Tuan Lee mengelus kepala Karissa, lalu beranjak pergi.

Setelah Tuan Lee menghilang di balik pintu kamar mandi, Karissa segera menepis tangan Louis yang sedang mengobati lukanya.

"Jangan sentuh lagi!"

Karissa kesal, karena Louis maupun Tuan Lee tidak ada yang membelanya.

Padahal, tadi, Marine terus mengatainya "Wanita murahan", menuduhnya ini dan itu. Tidak mungkin dirinya diam saja dikatai sekejam itu. Bukan hanya Karissa saja, mungkin wanita lain juga akan melakukan hal yang sama, memberontak dan melakukan perlawanan.

"Sebaiknya kau pergi saja," usir Karissa. "Aku bisa mengobati lukaku sendiri!"

Ia mengambil kapas yang baru dari kotak P3K, menuangkan cairan antiseptik, lalu ....

"Aahhhhh! Louis, lepas!"

Baru akan mengobati lukanya sendiri, Louis malah memegang tangannya.

"Kenapa jadi marah kepadaku?" tanya Louis, tidak mengerti.

Melihat cara Karissa bersikap, itu menunjukkan bahwa wanita ini sedang marah.

"Lepaskan!" Karissa menarik tangan yang dipegang oleh Louis.

"Jawab dulu, kenapa kau marah?" Louis tidak akan melepaskan tangannya sebelum wanita itu menjawab.

"Itu karena kau ... lebih memilih pergi bersama Marine daripada menolongku! Kau dan ayahmu lebih membela Marine daripada membelaku!" jawabnya dengan jujur. Karena memang itulah yang Karissa rasakan.

"Aku dikatai oleh Marine, apa aku harus diam saja? Mengalah saja, seperti yang kau dan ayahmu katakan?" Tatapannya penuh kesedihan.

"Aku tidak bisa!" sergah Karissa sambil menghempaskan tangannya hingga pegangan Louis terlepas.

"Aku tidak bisa diam saja ketika orang lain membawa-bawa orang tuaku, menghinaku, mengataiku banyak hal. Aku tidak bisa seperti yang kau dan ayahmu katakan!"

Karissa bangkit berdiri. Menunduk, menatap Louis yang masih berlutut di lantai.

"Sekarang, apa penjelasanku sudah cukup?"

Ia berpaling, membuka lemari pakaian, mengambil satu sweater, lalu memakainya. Ia memasukkan dompet kecil dan ponselnya ke dalam saku sweater.

"Kau mau pergi ke mana?" tanya Louis.

Melihat Karissa bersiap untuk pergi, ia pun segera bangkit berdiri, lalu menghampiri wanita itu.

"Aku mau pergi ke mana pun, itu bukan urusanmu!" ucap Karissa.

Lalu Karissa berjalan menuju pintu keluar.

Sambil menuruni anak tangga, Karissa memegang ponselnya, mengirim pesan singkat, lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku sweater.

Di dalam kamar, Louis masih terdiam menatap kepergian wanita itu. Ia mencerna semua omongan Karissa.

Wanita itu marah karena tadi dirinya lebih memilih pergi bersama Marine daripada menolongnya.

Padahal, tadi, Louis sengaja membawa pergi Marine karena ingin memperingatkan wanita itu agar jangan mengganggu dan menyakiti Karissa lagi. Bukan karena lebih membelanya.

Walaupun Louis pergi meninggalkan Karissa, ia mengirim pesan singkat kepada ayahnya. Bukan benar-benar membiarkannya begitu saja.

Tapi wanita itu ... malah salah tanggap.

Klek!

Pintu kamar mandi dibuka. Tuan Lee keluar dengan dibalut jubah mandi berwarna putih, rambut hitamnya masih meneteskan air.

"Ke mana istriku?"

Tuan Lee menatap kiri dan kanan. Mengedarkan pandangannya, mencari sosok wanita yang tadi masih duduk di sofa.

"Apa kau mengganggunya?"

"Siapa yang mengganggunya?" Louis menjawab dengan sinis. Tidak terima dengan tuduhan ayahnya. "Dia pergi sendiri, bukan karena aku!"

Tuan Lee tidak berdebat lagi. Ia mengambil ponselnya, berniat menelepon Karissa.

Ketika membuka layar ponsel, ada satu pesan masuk. Ia segera melihatnya.

"Aku pergi keluar untuk mencari obat pereda sakit. Jangan mengkhawatirkan aku!"

Tuan Lee sudah membaca pesan singkat dari Karissa.

Terlihat keningnya mengerut.

"Kenapa membeli obat pereda sakit keluar? Di kota obat juga ada!"

"Mungkin dia ingin mencari udara segar," gumam Tuan Lee.

Lalu menutup kembali ponselnya. Ia bersiap memakai pakaiannya.

Louis yang sudah mendengar ucapan Tuan Lee, segera pergi keluar dari kamar. Ketika melewati pintu yang rusak, ia diam sejenak.

"Nanti, aku betulkan! Sekarang, mau mandi dulu!" ucapnya, lalu pergi.

***

Di dalam taksi, Karissa berniat menghubungi seseorang, tapi sedikit ragu. Ia memegang ponselnya, memanggil satu kontak lalu dibatalkan lagi. Panggil lagi, lalu batalkan lagi.

Hingga yang keempat kalinya, barulah ia berani memanggilnya.

"Halo!" sapa orang yang ada di seberang telepon.

"Dokter Kevin!" ucap Karissa dengan ragu. "Apa malam ini jadwalmu piket di rumah sakit?"

"Tidak! Memangnya kenapa?"

"Oh tidak, ya!" Karissa diam sejenak, merasa bodoh sudah menghubungi Dokter Kevin. "Tadinya, aku mau ke rumah sakit untuk memeriksa lukaku. Tapi, kalau kau tidak ada, besok saja aku kem—"

Belum sempat Karissa menyelesaikan ucapannya, Dokter Kevin segera memotong.

"Ada kok ... ada! Aku ada di rumah sakit! Kemarilah!"

"Hah ... tadi kau bilang tidak piket! Tapi sekarang ...."

"Itu karena ... aku kira, kau mau mengajakku pergi makan! Jadi, aku bilang tidak piket!"

"Haha ... kau bisa saja! Mana mungkin aku mengajak seorang pria makan malam! Di mana-mana, yang seharusnya mengajak makan itu pria, bukan wanita!"

"Benar juga! Baiklah ... aku akan mengajakmu makan malam, apa bisa?"

"Eemh, ya, jangan malam ini! Kondisiku sedang tidak sehat! Lain kali saja, ya!"

"Baiklah! Cepatlah kemari, aku ada di ruanganku!"

"Oke, sebentar lagi aku sampai!"

"Ya, aku tunggu!"

Klik!

Sambungan ditutup. Karissa menarik napas panjang, lalu membuangnya.

Kalau bukan karena Dokter Kevin pernah membantu merawat ibunya, Karissa tidak mau basa-basi sebanyak itu dengan orang asing.

Walau tidak ada orang yang tahu kalau dirinya sudah menikah dengan Tuan Lee, tetap saja ia tidak boleh pergi keluar dengan sembarang teman pria.

1
Bu Kus
lanjut LG thro makasih
Bu Kus
penuh teka teki siapa dalang di balik itu semua jadi penasanaran
Bu Kus
seru banget kayanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!