Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Janggal
Keesokan paginya, Laras sudah siap dengan setelan kerja yang rapi. Rambutnya ditata sederhana, sementara tas kerja tergantung di lengan kirinya.
Setelah merapikan penampilannya, Laras keluar kamar. Ia menuruni anak tangga dan menuju ruang makan.
Di sana, Bima dan Diah sudah duduk untuk sarapan. Sementara, Bi Asih sibuk menyiapkan hidangan di atas meja.
Biasanya, Laras akan menyapa mertuanya dengan sopan sebelum duduk. Namun, pagi itu berbeda. Ia langsung menarik kursi dan duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Perubahan sikap itu rupanya tidak luput dari perhatian Diah.
"Enak sekali kehidupan orang kaya satu ini!" sindirnya tajam. "Pergi sesukanya, pulang tidak kenal waktu, bangun-bangun langsung makan tanpa membantu apa-apa. Benar-benar hidup seperti putri raja!"
Laras tidak menanggapi. Ia mengambil roti dan menyantapnya dengan tenang.
"Hei, apa sekarang kamu bisu?" bentak Diah ketika melihat Laras tetap diam. "Aku sedang bicara denganmu!"
"Bu, sudahlah. Ini masih pagi. Jangan membuat keributan," ujar Bima, berusaha meredakan suasana.
"Siapa yang membuat keributan?" Diah langsung menoleh pada suaminya. "Aku hanya mengatakan fakta! Dia itu seorang istri sekaligus ibu. Seharusnya, dia membantu menyiapkan sarapan untuk keluarganya, bukan malah duduk manis dan dilayani. Mentang-mentang kaya, jadi seenaknya sendiri!"
Bima hanya menggelengkan kepala. Ia sudah terlalu sering menyaksikan pertengkaran semacam itu hingga tidak tahu harus berkata apa.
Sementara itu, Laras tetap memilih diam.
Bukan karena ia tidak ingin membantu pekerjaan rumah. Hanya saja, semalaman ia tidak bisa tidur karena merasa jijik harus berbagi kamar dengan seorang pria yang diam-diam sudah mengkhianatinya.
Berkali-kali ia menahan tangis di balik selimut. Bahkan, harus menggigit bibirnya sendiri agar isakan nya tidak keluar.
Sungguh, ia tidak pernah menyangka pria yang sudah hidup bersamanya selama tiga tahun tega berselingkuh dan bersekongkol untuk menguasai harta keluarganya.
Ia masih sulit menerima kenyataan tersebut. Tapi, air mata dan penyesalan tidak akan mengubah apa pun.
Ia harus bertahan. Setidaknya, sampai ia berhasil mengumpulkan bukti yang cukup untuk membongkar semua kebusukan mereka.
Ya, Laras sudah mengambil keputusan. Ia tidak akan terburu-buru mengajukan perceraian, sebelum memiliki bukti kuat mengenai perselingkuhan Robby, perilaku suaminya yang sudah mengkhianati pernikahan mereka, serta rencana keluarga itu untuk mengincar kekayaan keluarga Adiguna.
Jadi, untuk sementara, ia hanya bisa bertahan dan berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Kenapa kamu diam saja, hah?" Diah kembali membentak, seolah tidak rela melihat Laras mengabaikan sindirannya.
Laras mengangkat wajahnya. Ia berusaha memasang ekspresi biasa, meskipun hatinya sudah lelah menghadapi wanita itu.
"Maaf, Bu. Semalam aku menyelesaikan pekerjaan kantor sampai larut, jadi bangun kesiangan," jawabnya tenang.
"Cih, alasan! Selalu saja ada alasan setiap kali disuruh melakukan sesuatu."
Laras kembali menunduk. Ia tidak ingin menghabiskan tenaganya untuk berdebat dengan seseorang yang bahkan tidak pernah menganggapnya.
Tidak lama setelahnya, Maya muncul dari arah tangga sambil menggendong Bara.
Diah yang melihat keduanya langsung berbinar. "Oh, cucu Nenek sudah bangun!" serunya riang.
Diah segera bangkit dari kursinya, lalu menghampiri Maya. Ia mengulurkan kedua tangan dan menggendong bayi itu dengan penuh kasih sayang.
"Ya ampun, cucu Nenek wangi sekali!" Diah mencium pipi Bara berkali-kali. "Sudah mandi, ya?"
"Iya, Nek. Aku sudah mandi!" seru Maya sambil menirukan suara anak kecil.
Diah tertawa kecil, kemudian mengusap kepala bocah itu. "Pintarnya cucu Nenek!"
Tapi, saat kembali melirik ke arah meja makan, raut wajahnya berubah sinis.
"Lihat ibumu, Bara. Dia bahkan tidak peduli padamu. Dari tadi sibuk makan sendiri."
Laras menghentikan gerakan tangannya sejenak. Jari-jarinya mengencang pada gagang garpu dan pisau, sementara rahangnya mengeras menahan emosi.
Ia tahu, Diah tidak akan melewatkan kesempatan untuk menyudutkannya. Bahkan, keberadaan Bara pun selalu dijadikan alasan untuk menyerangnya.
"Nyonya pasti sibuk mengurus Tuan Robby. Makanya, tidak sempat memperhatikan Bara," ujar Maya tiba-tiba.
Laras mengangkat sudut bibirnya tipis nyaris tidak terlihat. Ia tahu betul, ucapan Maya bukanlah pembelaan tulus. Wanita itu hanya sedang memainkan perannya dengan sangat baik di hadapan keluarga Robby.
"Meski begitu, dia tetap harus memperhatikan Bara!" balas Diah dengan nada ketus. "Bagaimanapun, Bara sudah menjadi anaknya. Masa iya, orang lain lebih perhatian daripada ibunya sendiri?"
Ucapan itu membuat dada Laras terasa sesak. Ia meletakkan peralatan makannya dengan sedikit kasar, membuat ketiganya serentak menoleh padanya.
Tapi, Laras tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengambil serbet, mengusap sudut bibirnya, kemudian mengambil tas kerja yang berada di samping kursi.
"Aku sudah selesai." Ia berdiri dan menatap mereka sekilas. "Aku berangkat dulu."
Tanpa menunggu tanggapan siapa pun, Laras melangkah meninggalkan ruang makan. Ia tidak ingin berlama-lama berada di sana, apalagi harus mendengarkan sindiran yang sama setiap pagi.
Namun, baru beberapa langkah ia menjauh, suara Diah kembali terdengar dari belakang.
"Kamu bahkan tidak berpamitan pada Bara! Sebenarnya, dia itu anakmu atau bukan, hah?"
Langkah Laras terhenti. Ia menoleh perlahan, menatap Diah dengan tenang.
"Untuk hal itu, bukankah Ibu lebih tahu?" jawabnya.
Diah mengernyit, tidak menyangka Laras akan membalas ucapannya.
"Kamu ini!" serunya geram sambil menunjuk Laras. "Apa maksudmu bicara seperti itu? Bagaimanapun juga, kamu sudah mengadopsinya. Itu artinya, dia anakmu! Jadi, jangan bersikap seolah-olah kamu tidak punya tanggung jawab padanya!"
Laras tidak langsung menjawab.
Justru, kata-kata 'adopsi dan anakmu' terngiang di telinganya. Hal itu membuat pikirannya melayang pada pembicaraan Robby dan Maya sebelumnya.
'Kamu harus bergerak cepat, Mas, agar kita bisa segera bersama. Aku, kamu, dan Bara.'
'Kamu tidak ingin anak kita tumbuh besar tanpa seorang ayah, bukan?'
Mata Laras perlahan melebar. Tatapannya beralih pada Maya dan Bara bergantian. Ia tidak ingin menarik kesimpulan sembarangan, tetapi pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuat dadanya semakin sesak.
"Bukannya Robby punya masalah dengan kesuburan nya? Lalu, bagaimana mungkin dia bisa memiliki anak dengan Maya?"
Jari-jari Laras perlahan mengepal. "Aku harus mencari tahu," batinnya. Ia menarik napas panjang, berusaha mengendalikan gejolak di dalam dadanya.
Lalu, akhirnya, ia melangkah mendekat, kemudian mengulurkan tangan untuk mengusap pipi bocah itu dengan lembut dan mengecup keningnya.
"Mama berangkat dulu, Sayang," bisiknya lembut.
Setelah itu, ia berbalik dan segera meninggalkan ruang makan.
Bersamaan dengan itu, Robby baru saja menuruni anak tangga dengan setelan kerja yang rapi. Tapi, langkahnya melambat saat mendengar suara Diah yang masih terdengar kesal dari ruang makan.
"Ada apa, Bu? Kenapa ribut sekali?" tanyanya sembari menghampiri mereka dan mengecup singkat pipi Maya sebelum menarik kursi untuk duduk.
"Biasa, Rob. Laras lagi-lagi membuat Ibu kesal!" keluh Diah. "Dia itu benar-benar tidak tahu diri."
Robby menghembuskan napas panjang. "Bu, kurang-kurangi memarahi Laras."
Diah langsung mengernyit. "Kenapa?"
"Karena kita masih membutuhkannya," jawab Robby.
Diah mendengus tidak setuju. "Memangnya, dia bisa apa? Dia tidak mungkin berani macam-macam dan meminta cerai. Siapa yang mau dengan wanita mandul seperti dia?"
Robby menatap ibunya dengan serius. "Meski begitu, kita tetap harus bersikap baik padanya, Bu. Setidaknya, sampai kita mendapatkan semuanya."
Robby menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu merendahkan suaranya.
"Sekarang, aku sudah menjabat sebagai manajer. Kalau hubungan kita dengan Laras tetap baik, aku bisa mendapatkan kesempatan untuk naik jabatan lagi. Kita harus membuatnya percaya pada kita. Dengan begitu, mudah bagi kita mencapai tujuan kita."
Diah terdiam sejenak, mencerna ucapan putranya. Lalu, mengangguk pelan
"Baiklah. Kalau memang itu yang kamu inginkan, Ibu akan berusaha menahan diri."
Robby mengangguk puas. "Bagus. Dan, kalian juga harus ingat, jangan sampai Laras tahu apa yang sebenarnya sedang kita rencanakan."
"Tenang saja, sayang. Semua aman. Aku akan bersikap baik padanya," ucap Maya.
"Bagus. Teruslah bersikap seperti itu."
Mereka tampak begitu yakin, Laras tidak akan tahu rencana yang sudah mereka susun. Padahal, tanpa sepengetahuan mereka, Laras belum benar-benar pergi.
Wanita itu berdiri dibalik dinding yang membatasi ruang makan dan mendengar semua pembicaraan mereka dengan cukup jelas.
Laras memejamkan mata sesaat. Rasa sakit itu kembali menghantam dadanya, tetapi kali ini ia tidak membiarkan air matanya jatuh.
"Nikmatilah kemenangan kalian selagi masih bisa. Aku akan memastikan semua kebohongan kalian terbongkar. Dan, saat waktunya tiba, kalian tidak akan bisa lagi memperlakukanku seperti ini."
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti