Bagaimana jadinya jika jiwa seorang remaja cewek tomboi modern yang hobi tawuran, bermulut tajam, dan ceplas-ceplos terlempar ke masa lalu? Sialnya lagi, dia bangun di dalam tubuh permaisuri Xia Ruo, wanita paling rapuh dan tertindas di Kekaisaran Han yang baru saja mencoba bunuh diri karena tidak tahan diabaikan oleh kaisar yang penguasa berdarah dingin yang terkenal kejam.
Kini, tidak ada lagi Permaisuri Xia Ruo yang hobi menangis terisak. Yang ada hanyalah permaisuri baru yang berani duduk bersila di atas ranjang sutra sambil memanggil sang Kaisar kejam dengan sebutan "Mas Bro". Didampingi oleh Yuan er, pelayan setianya yang selalu menangis histeris dan berusaha keras mendidik sang permaisuri agar bisa berbicara lembut, Xia Ruo harus memutar otak untuk bertahan hidup. Mulai dari melabrak dapur istana demi makanan enak, melatih fisiknya yang selemah triplek basah, hingga menghadapi Kaisar kejam yang anehnya... justru mulai terobsesi dengan perubahan barbar dirinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18 : baku hantam di tengah kabut
Kabut putih di dalam Hutan Larangan semakin tebal, menelan suara derap langkah kuda rombongan Kaisar Yan hingga menyisakan kesunyian yang mencekam. Ara menghentikan laju kudanya sepenuhnya. Dia turun dari pelana dengan gerakan seringkas kucing, membiarkan kudanya menjauh agar tidak terkena imbas pertempuran.
Srekk... srekk...
Suara gesekan dedaunan terdengar dari empat arah mata angin. Ara memejamkan matanya sesaat, mempertajam indra pendengarannya. Sebagai mantan pentolan tawuran, dia sudah sangat hafal dengan pola pengepungan seperti ini. Musuhnya tidak sedang bersiap untuk berburu rusa, melainkan sedang bersiap untuk mencabut nyawanya.
"Udah, kagak usah ngumpet-ngumpet kayak kecoak di balik lemari," teriak Ara lantang, suaranya memecah keheningan hutan. "Keluar lu semua! Sini maju, gua ladenin satu-satu atau sekaligus juga boleh!"
Syuuutt!
Jawaban yang diterima Ara adalah sebutir anak panah beracun yang melesat cepat menembus kabut, mengarah tepat ke pelipisnya.
Dengan refleks tingkat dewa hasil latihan militernya, Ara langsung memiringkan kepalanya ke kanan. Anak panah itu melesat lewat hanya beberapa milimeter dari pipinya, menancap kuat di batang pohon di belakangnya.
Detik berikutnya, lima orang pria berpakaian serb hitam dengan topeng kain melompat turun dari atas dahan pohon, mengepung Ara di tengah-tengah area melingkar yang sempit. Di tangan mereka masing-masing menggenggam belati panjang yang berkilat tajam.
"Mati kau, Permaisuri gila!" desis salah satu pembunuh yang bertubuh paling kekar. Dia langsung merangsek maju, mengayunkan belatinya ke arah dada Ara.
Ara menyeringai sangar. Blood-lust jiwa premannya bergejolak hebat. "Sori ya, Mas Bro, hari ini jadwal gua yang ngebantai, bukan dibantai!"
Ara tidak mundur. Dia justru melangkah maju menyongsong serangan. Saat belati itu nyaris menggores pakaiannya, Ara menangkap pergelangan tangan si pembunuh dengan tangan kirinya, memutarnya dengan paksa hingga terdengar bunyi krek yang renyah disertai jeritan kesakitan.
Sebelum pria kekar itu sempat berteriak lebih keras, Ara melayangkan satu pukulan straight tangan kanan yang super telat tepat ke arah hidung sang pembunuh.
Bugh!
Darah segar langsung menyembur, dan pria itu tumbang ke tanah dengan hidung patah.
Dua pembunuh lainnya yang melihat rekan mereka dilumpuhkan dalam hitungan detik langsung bergerak bersamaan dari arah kiri dan kanan. Mereka mengayunkan belati dengan pola menyilang.
Ara merunduk rendah, membiarkan kedua belati itu beradu di atas kepalanya. Dari posisi jongkok, Ara menyapu kaki kedua pembunuh itu dengan satu tendangan melingkar bawah yang sangat bertenaga.
Gubrak!
Keduanya jatuh tersungkur di atas tanah yang basah. Ara tidak memberikan mereka kesempatan untuk bangkit. Dia melompat, lalu menghentakkan lututnya tepat ke dada salah satu pembunuh hingga terdengar suara tulang rusuk yang retak.
Satu pembunuh lainnya yang hendak menusuk punggung Ara langsung terkena sikut mentah dari Ara tepat di ulu hatinya, membuatnya muntah darah dan pingsan di tempat.
Kini, tersisa dua pembunuh yang masih berdiri. Mereka menelan ludah ngeri, melangkah mundur perlahan dengan tubuh gemetaran. Mereka disewa untuk membunuh seorang Permaisuri yang lemah dan rapuh, tapi mengapa wanita di depan mereka ini justru bertarung seperti monster dari neraka?
"Gimana? Masih mau lanjut, atau mau gua bikin cacat permanen?" tantang Ara sambil mengelap noda darah musuh di pipinya menggunakan punggung tangan, tatapan matanya begitu dingin dan mengerikan hingga membuat nyali para pembunuh itu ciut seketika.
Paksu Kaisar berharap banget pada ibu negara 🤣🤣🤣
ketawa mulu mah gue
kok nggak ada yg komen ya?
apakah para pembaca pada terhipnotis krn novel ini enakn dibaca ya?
Kayaknya Kaisar Yan akan mendapatkan lawan seimbang
Gue suka mulut Permaisuri yg badas... yg bikin para pejabat pada setrok berjemaah ketika Permaisuri memberikan kuliah subuh 🤣🤣🤣🤣