Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia....
Lagi dan lagi, suara pertengkaran itu memenuhi rumah megah milik keluarganya. Entah sudah berapa kali dalam sebulan, entah apa yang menjadi akar masalah pertengkaran keduanya, nyatanya tak juga menemukan jalan keluar. Setiap hari, ketika kedua orang ini bertatap muka, api pertengkaran langsung tersulut.
Senjana remaja sudah kenyang mendengar makian mamanya pada yang papa yang cuma bisa diam atau terkadang justru balik menyalahkan mamanya. Selalu seperti itu, membuat mentalnya yang sudah rusak karena kepergiannya, justru semakin hancur melihat keluarganya tak lagi sama seperti dulu.
Senjana memilih mengurung diri di dalam kamarnya, mengunci pintu, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Satu-satunya hal yang dia butuhkan saat ini adalah ketenangan, tenang dari semua hal yang ribut di dalam pikiran dan hatinya.
" Kok gini sih? Apa salah gue? ... hiks.. hiks.. " Senjana mulai memperlihatkan gejala orang depresi.
Kedua tangannya lari ke rambut, lalu ditariknya berulang kali sampai beberapa helai rambutnya rontok, mengisi sela jemarinya.
" Dia pergi.. Sekarang mama papa jadi gini. Salahnya gue apa? Kenapa semua orang berubah gini? Gue kurang apa.. hiks.. hiks.. " ratapnya.
Bagi orang-orang, putus cinta itu bisa. Tinggal cari lagi, tidak perlu ditangisi atau disesali. Hanya saja bagi seorang Senjana, putus cintanya kali ini meninggalkan lubang menganga sangat besar di dalam hatinya.
Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, ditinggal tanpa tahu apa permasalah dan apa salahnya. Ditinggalkan dalam ketidakpastian, hanya dijanjikan cinta yang utuh untuknya tapi tidak untuk membersamainya.
Otak Senjana berisik sejak hari itu, mempertanyakan hal-hal yang ditinggalkan oleh Santana. Bertanya pada siapa, yang memiliki jawabannya justru sudah pergi meninggalkannya.
" Ya Tuhan... Mimpi itu lagi.. " gumam Senjana yang terbangun dalam kondisi menangis.
" Akhir-akhir ini... mimpi itu kembali.. Masa gue kambuh? " hatinya mendadak cemas.
" Tapi nggak mungkin juga gue kambuh, secara yang gue hadapi tiap pagi bukan dia, tapi pak Ang.. hiiiiiiii, serem... " tahu-tahu kebayang wajah bosnya saat melotot malah padanya.
Tak mau kena malah di saat kondisinya sedang tidak baik-baik saja menuju gila, Senjana bergegas pergi bersiap ke kantor. Tepat satu menit, ceramahnya seharian penuh. Males banget kan, untuk ada yang mau, dan heran juga dia pak Ang bisa dapat jodoh. Dia dikasih semua harta keluarga Antasena, kalau jodohnya Pak Ang, mending mundur.
*******
Ting..
Pintu lift khusus lantai eksekutif terbuka. Senjana sudah bersiap melangkah masuk, tapi suara-suara setan tiba-tiba merasuk ke telinganya.
" Nggak mandi kamu, Sen.. " tegur manusia paling tidak ingin Senjana temui ketika baru mengawali ngantor di pagi ini.
" Mandi lah, pak.. Ya kali udah bau wangi begini dibilang nggak mandi. " protes Senjana menjawab sapaan paling tidak niat dari pak bosnya.
" Berarti begadang kamu.. Mata kamu udah mirip panda kurang makan. " Senjana mendelik. Sekate-kate nih mulut pak bos.
" Saya nggak mau ya, kamu ketiduran lagi disaat yang penting apalagi meeting. Hari ini jadwal saya padet lo, Sen... "
" Iya, pak Ang.. Saya nggak ketiduran pas meeting, saya juga nggak begadang semalam. Langsung bobo begitu pulang kantor. Capek soalnya punya bos yang kerjaannya cuma bikin saya emosi sebadan-badan.. "
Ting...
Begitu pintu lift terbuka, Senjana langsung lari seribu langkah. Takut dia dikejar maung ngamuk karena dikatainya.
" Senjana... Senjana.. SENJANAAAAAAAAAAAAAA.... "
Akhirnya, pulang kerja. Senjana paling suka kalau sudah waktu pulang kerja dan dia tidak lembur. Rasanya, seperti mendapatkan reward karena bekerja mati-matian menghadapi mood sang bos yang naik turun kayak roller coster.
" Pulang... Mandi.. Makan.. Tidur... Enak banget hidup lo Senjana... " bibirnya sudah cengar cengir senang..
Hanya saja...
Tin.. Tin..
" Naik!! " suara bariton pak Ang terdengar.
" Lah... Kenapa saya disuruh naik pak? Udah waktu pulang kerja ini. Saya mau pulang, mau istirahat. Besok aja ya pak kalau mau bahas apapun soal kerjaan, saya capek. " kepala Senjana geleng-geleng menolak ajakan Angkara.
" Masuk!!! Jawab mulu aja ya kamu. " Senjana langsung mundur.
" Saya hitung sampai tiga, kamu nggak masuk saya keluar seret kamu ya Senjana... Satu.. Du... "
" Aaaaaaaa.... Iya.. iya.. saya masuk. "
Angkara langsung gas mobilnya keluar kantor LIQUOR GROUP menuju jalanan kota yang kalau sudah jam pulang kantor begini, pasti lagi macet-macetnya.
*****
Wajah Senjana langsung masam, saat sudah sampai ke tempat tujuan. Gimana nggak kesal coba, udah seharian menghadapi bos galaknya, ini sekarang dia malah dibawa ke sangkar bos galak yang mana di dalam sana ada wanita-wanita centil nggak ingat usia, dan satu bocil kematian yang nyebelin mirip bapaknya.
Senjana menghentakkan kakinya kesal, sebelum ikut masuk ke dalam rumah besar milik keluarga Antasena. Keluar Jawa ningrat, yang memiliki beberapa bisnis diberbagai bidang, dibawah Liquor Group.
" Senjana.... Putri ibu yang paling-paling.. " sapa ibu Rahayu, ibunya Angkara.
" Kok paling-paling sih, bu bos.. " Senjana tersenyum, menghampiri wanita yang sudah masuk usia senja, tapi masih gaul. Wanita yang lima tahun lalu, menjadi seseorang yang mengubah hidupnya yang berantakan menjadi lebih terarah. Wanita yang tak sengaja dia selamatkan, tapi justru menyelamatkan hidupnya.
" Paling gendeng maksud ibu.. " celetuk Angkara, membuat suasana hari pertemuan dua wanita diusia yang berbeda menjadi buyar.
" Pak Ang, dan hobinya merusak suasana. " balas Senjana tak mau kalah.
Keduanya saling bertatapan, sampai muncul aliran listrik tegangan tinggi dari mata keduanya. Menunjukan betapa hubungan mereka ini selalu saja saling bentrok..
" Senjana..... " suara lembut dan menyejukkan berhasil memisahkan ketengan antara Senjana dan Angkara.
" Ibu Haruka.... " suara Senjana dibuat mendayu, lalu tanpa peduli pada Angkara, dia langsung lari kecil mendekati Haruka yang tengah menggendong Anjani.
Rahayu yang melihat wajah masam putranya terkekeh kecil. Senang rasanya membuat kedua anaknya kembali ' hidup ' setelah kehadiran Senjana. Miyara yang selalu menganggap Senjana adalah saudarinya sendiri, sedangkan Angkara, meskipun selalu bertengkar dengan Senjana tapi Rahayu tahu, Angkara selalu jadi yang terdepan membela Senjana.
" Ada acara apa sih? Kok saya yang udah mau menikmati hidup dibawa sama pak Ang kesini. " Rahayu terkekeh. Mulut Senjana memang sesuatu.
" Mau ada makan malam, Sen.. Tunangan Yara kan datang malam ini. " jawab Haruka senang.
" Lho.. Lho.. " wajah Senjana dibuat terkejut yang lebay.
" Tak raup muka mu mengko, Sen.. Biasa ae kan bisa.. " kalau sudah keluar bahasa medoknya, Pak Ang udah beneran jengkel ini.
" He.. He.. Kaget lho, pak. " semuanya geleng kepala.
" Yuuhuuuuuu.... " suara Miyara terdengar. Semua mata langsung menoleh ke arah yang sama. Senyum menghiasi wajah para anggota keluarga Antasena, hanya Senjana yang....
Waktu terasa berhenti di saat itu bagi Senjana. Suara-suara itu kembali terngiang di kepalanya. Suara yang mengakhiri kisah mereka, yang mengawali semua derita dalam hidup Senjana.
Dia...
Santananya..
Kembali..