NovelToon NovelToon
Pendekar Sang Penakluk

Pendekar Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: ISTANA UNTUK TUJUH BIDADARI

Masih bertepatan di Perguruan Anggrek Putih, Desa Ngargoyoso, Karanganyar.

Bima Samudra berkumpul bersama semua orang di pendopo utama. Suasana masih dipenuhi oleh kegembiraan dan kelegaan yang luar biasa atas musnahnya Raja Iblis Gunung Sewu yang mengerikan itu. Warga desa menabuh kentongan tanda kemenangan, anak-anak berlarian dengan gembira.

Namun di tengah keramaian itu,

"Ehemmm... Ehemmm..."

Terdengar suara batuk kecil yang pelan dari Bima Samudra. Suara yang tidak keras, namun entah kenapa, seketika semua orang yang berjumlah ratusan itu langsung diam dan memperhatikan Bima dengan seksama. Aura wibawanya sebagai Ketua Aliansi Dao Surgawi Nusantara begitu terasa.

"Ada apa, Nak Bima...? Sepertinya ada hal penting yang ingin kamu sampaikan kepada kami semua...?" tanya Pak Wijaya Kusuma dengan lembut, merasakan firasat.

"Iya, Ayah," jawab Bima.

Seketika semua orang jadi penasaran dan menahan napas, menatap Bima dengan penuh perhatian.

Bima menarik napas panjang, matanya menyapu satu persatu wajah orang-orang yang sudah dia anggap sebagai keluarganya sendiri.

" Saya ingin memberitahukan kepada Ayah, Ibu, dan semuanya, kalau saya sudah menemukan cara untuk pulang kembali ke tempat asal saya, ke Gunung Lawu," kata Bima dengan suara yang sedikit berat.

Bima berhenti sejenak, melihat ekspresi wajah semua orang yang nampak terkejut, terdiam, dan juga sedih. Senyum mereka seketika hilang.

Terutama para istrinya, Amelia, Intania, Melinda, Tasya, Ayu Wandira, Sherly dan Salsa, yang sudah meneteskan air mata tanpa bisa ditahan lagi. Bahu mereka bergetar. Tapi bagaimana pun, mereka adalah istri-istri yang berbakti, mereka harus rela dan menghormati keputusan suami mereka.

Setelah memperhatikan sekeliling yang hening, Bima melanjutkan dengan suara yang lebih mantap.

"Para Iblis Ekstratoritorial sudah musnah dan Raja Iblis nya juga sudah mati di tangan kita. Jadi kalian semua sekarang bisa tinggal di sini dengan tenang, dengan aman, dan mengurus Aliansi Dao Surgawi Nusantara dengan baik, agar keseimbangan dan kedamaian di seluruh benua Nusantara ini tetap terjaga selamanya."

"Dan untuk Aliansi, saya percayakan sepenuhnya kepada Ketua Perguruan Anggrek Putih, Ayahanda Wijaya Kusuma, untuk menjadi Ketua Aliansi sementara. Dan kalian semua yang ada di sini, dari Kerajaan Mataram Baru, Kerajaan Solo, Boyolali, Klaten, dan semuanya, harus membantu Ayah sebaik mungkin."

"Dan ingatlah satu hal, taatilah peraturan yang telah saya buat di Aula Besar kemarin. Jangan pernah menindas yang lemah. Siapa pun yang melanggar dan berkhianat kepada Aliansi, akan saya hukum berat, bahkan dari jarak ribuan kilometer pun saya akan tahu."

Mendengar itu, semua orang yang ada di sana langsung berlutut dan bersumpah dengan tulus, mereka jadi takut untuk berkhianat dan berjanji akan setia sepenuhnya kepada Aliansi Dao Surgawi Nusantara.

Untuk menghibur orang-orang yang sedang bersedih karena kabar kepergiannya, Bima tersenyum dan mencoba mencairkan suasana.

"Untuk malam terakhir ku di sini, bagaimana kalau kita semua makan daging panggang buatan ku lagi malam ini...? Sebagai tanda terima kasih ku kepada kalian semua...?"

Meski banyak orang masih bersedih dan mata mereka masih sembab, mereka cukup gembira dan bersemangat diajak makan masakan Bima. Mereka semua tahu betapa lezatnya daging panggang buatan Bima yang bumbunya meresap sampai ke tulang itu.

Tak lupa Bima meminta pelayannya, Pak Darmo, untuk membersihkan satu ekor Rusa Raksasa Jawa yang masih segar dari Alam Jiwa untuk dibakar bulat-bulat malam ini.

Akhirnya mereka semua bersama-sama pergi ke halaman luas di belakang perguruan yang banyak ditumbuhi bunga melati dan kamboja, tempat itu cukup indah dan romantis untuk menikmati kebersamaan di bawah langit senja.

Saat api unggun dan semua bumbu sudah siap,

"Wusssst..."

Bima mengeluarkan seekor Rusa Raksasa Jawa yang sudah dibersihkan dengan bersih dan masih segar, lalu Bima dengan cekatan membakar rusa itu bulat-bulat di atas api unggun yang besar. Tak lupa Bima meminta bantuan beberapa pemuda desa untuk terus memutar-mutar daging raksasa itu secara perlahan agar matangnya merata.

Sementara Bima sendiri yang mengatur besar kecilnya api dengan teknik elemen api nya dan mulai menaburi bumbu rahasia Gunung Lawu yang dia racik sendiri.

Begitu bumbu itu ditabur, aroma yang sangat lezat, harum, dan menggugah selera mulai menusuk hidung orang-orang di sana. Aroma bawang putih, kemiri, kunyit, dan madu hutan bercampur menjadi satu.

Semua orang yang ada di sana seketika jadi lupa akan kesedihannya, yang ada di benak mereka hanya bunyi perut mereka yang keroncongan terdengar sahut-sahutan.

Tak lama kemudian, daging itu pun matang sempurna, kulitnya kecoklatan dan mengkilap.

Setelah memotong bagian yang paling empuk dan paling lezat untuk keluarga dan para tetua, Bima menyerahkan sisanya yang masih sangat banyak kepada semua warga dan murid yang ada untuk mereka nikmati sampai puas.

Setelah makan bersama dengan para istri dan mertuanya dengan penuh tawa, Bima melihat ke arah tanah lapang yang luas dan kosong di dekat halaman belakang perguruan, tanah itu menghadap langsung ke pemandangan Gunung Lawu.

"Istri-istri ku yang cantik, bagaimana jika di tanah lapang kosong di sana itu aku bangunkan sebuah tempat tinggal yang indah dan nyaman khusus untuk kalian bertujuh...?" kata Bima sambil menunjuk ke arah tanah lapang itu dengan lembut.

Mendengar itu, para istri langsung setuju dengan mata berbinar, mereka berpikir Bima akan tinggal lebih lama di Perguruan Anggrek Putih jika harus membangun tempat tinggal baru di sini untuk mereka.

Setelah mendapatkan persetujuan dan melihat wajah para istri yang bahagia dan penuh harap, Bima langsung berjalan menuju tanah kosong itu dengan tenang.

Para istrinya dan orang-orang lain mengira Bima hanya ingin memeriksa kondisi tanah itu terlebih dahulu.

Tapi tak lama kemudian, terdengar suara gemuruh yang sangat halus namun membuat tanah bergetar pelan.

Ternyata Bima sudah mulai membangun tempat itu dengan kekuatannya.

Bima menggunakan Teknik Lima Elemen Surgawi yang dia dapatkan dari Eyang Jagat Buana.

Tanah, Air, Api, Angin dan Kayu.

Semua unsur alam itu seperti hidup dan memiliki nyawa, mereka saling bekerja sama, saling membantu, membentuk bangunan-bangunan yang sangat tinggi, megah, dan indah seperti istana di negeri dongeng yang ada di dalam cerita pewayangan.

Dinding dari tanah mengeras menjadi marmer putih, kayu-kayu jati raksasa tumbuh sendiri membentuk pilar-pilar joglo, air dari mata air membentuk kolam-kolam jernih, dan api mengukir ukiran-ukiran emas yang berkilau.

Istana itu sangat rapi, tujuh paviliun yang satu sama lain saling terhubung dengan jembatan-jembatan kaca dan taman-taman gantung yang indah.

Di halaman depannya dihiasi dengan tanaman hias yang indah dari seluruh Nusantara, ada bunga anggrek bulan, bunga melati, dan di tengahnya ada sebuah air mancur besar yang airnya jernih dan bercahaya.

Semua orang yang melihat proses pembangunan ajaib itu lagi-lagi dibuat kaget, ternganga, dan terkagum-kagum melihat aksi Bima yang seperti seorang dewa pencipta itu.

Para istri Bima juga sangat bahagia dan terharu sampai menangis, tapi di dalam hati kecil mereka ada sedikit rasa kecewa, karena suami mereka menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya memakan waktu bertahun-tahun itu hanya dalam waktu beberapa menit saja. Artinya, waktu perpisahan semakin dekat.

Setelah selesai membangun, Bima mengajak istri-istrinya masuk ke dalam istana baru itu untuk melihat-lihat keindahan di dalamnya.

Para istri tak henti-hentinya tersenyum bahagia dan berlarian ke sana kemari melihat keindahan tempat tinggal yang dibuat dengan penuh cinta oleh suami mereka. Setiap sudut istana itu terasa hangat dan penuh cinta.

Setelah puas melihat-lihat dan memilih kamar masing-masing, Bima dan yang lainnya kembali keluar ke halaman depan istana.

Setelah berada di luar, Bima kembali mengangkat kedua tangannya dan memasang Formasi Ganda Pelindung di sekeliling kediaman istri-istrinya itu.

Formasi Pertahanan Cangkang Kura-kura Legendaris dan Formasi Pembantai Langit yang dia pelajari dari warisan Naga dan Phoenix.

"Nak, bukankah seluruh area Perguruan Anggrek Putih ini telah dipasang formasi pelindung yang sangat kuat oleh mu kemarin...? Kenapa tempat kediaman yang baru ini juga dipasang formasi yang auranya bahkan lebih mengerikan dari yang kemarin...?" tanya Pak Wijaya Kusuma dengan penasaran, karena dia bisa merasakan aura formasi itu sangat berbahaya.

"Aku harus memastikan keamanan para istri ku dengan perlindungan berlapis, Ayah," jawab Bima dengan tatapan yang serius dan penuh tanggung jawab. "Aku tidak akan tenang pulang ke Gunung Lawu jika mereka tidak benar-benar aman."

"Tempat ini mulai sekarang menjadi Tempat Terlarang. Hanya ketujuh istri ku dan orang tua kandung mereka saja yang boleh masuk dengan bebas ke dalam istana ini. Jika ada orang asing, laki-laki mana pun yang berani masuk sembarangan tanpa izin, jangan salahkan aku jika formasi ini akan membuatnya menjadi debu dalam sekejap."

"Jadi begitu... Baiklah, Nak, kami mengerti. Kami akan menjaga tempat ini," jawab para mertua Bima dengan anggukan mantap, mereka sangat setuju dengan keputusan Bima.

Setelah semuanya telah siap dan sempurna, Bima menatap istana megah itu untuk terakhir kalinya.

"Semuanya telah siap, mungkin sudah waktunya aku untuk pergi sekarang," kata Bima dengan suara yang pelan namun terdengar jelas di seluruh halaman.

"Apaaaaa...!?" Terdengar suara teriakan kaget dari Intania yang langsung berlari memeluk Bima.

"Apakah harus secepat ini, Bima...? Tidakkah kau bisa menemani kami untuk satu malam terakhir ini saja di istana baru kita ini...?" kata Intan dengan wajah yang sangat sedih, dengan mata yang penuh harap dan air mata yang mengalir.

Bima terdiam, melihat tujuh pasang mata istrinya yang memohon dengan penuh cinta.

Hati Bima yang sekeras baja pun luluh.

"Baiklah, aku akan pergi besok pagi saat matahari terbit. Malam ini, mari kita habiskan waktu istirahat bersama untuk terakhir kalinya di istana baru kita ini," kata Bima yang langsung berjalan menuju kediaman baru yang baru saja dia bangun itu. Para istrinya pun langsung mengikuti di belakangnya dengan wajah yang kembali berseri-seri dan penuh senyum bahagia.

Bima menuju ke paviliun utama yang paling tinggi dan paling megah, dan masuk ke dalam kamar utama yang di dalamnya ada sebuah ranjang yang sangat besar, empuk, dan indah, yang ditaburi dengan kelopak bunga mawar merah.

Malam itu adalah malam yang sangat sakral dan penuh cinta.

Begitu naik ke atas ranjang, Bima tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Malam terakhir itu mereka isi dengan pelukan yang sangat hangat, dengan ciuman kening yang penuh kasih, dan dengan janji-janji suci di bawah cahaya rembulan yang masuk dari jendela.

Bima memeluk ketujuh istrinya satu persatu dengan penuh cinta, mengusap air mata mereka, dan membisikkan kata-kata cinta yang membuat mereka semua merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia. Suara isak tangis haru dan tawa kecil yang bahagia bercampur menjadi satu, terdengar lembut di dalam ruangan yang hangat itu, sampai akhirnya mereka semua tertidur lelap bersama di dalam pelukan Bima yang aman dan hangat, saling bertumpukan seperti keluarga yang tidak ingin terpisah.

Setelah semua istrinya terlelap dengan wajah damai, Bima masih terjaga, menatap wajah-wajah cantik mereka satu persatu dengan penuh cinta dan rasa berat untuk pergi.

Tak terasa pagi pun tiba dengan sangat cepat.

Bima dan para istrinya sudah selesai mandi bersama di kolam air hangat di dalam istana dan berganti pakaian dengan pakaian terbaik mereka, lalu keluar bersama-sama ke halaman depan istana.

Ternyata di halaman luar istana, sudah banyak sekali orang yang berkumpul sejak subuh, dengan wajah yang sedih dan mata yang sembab, mereka semua akan menyaksikan kepergian Bima Samudra, pahlawan mereka.

Setelah sampai di depan orang-orang itu, tak lupa Bima memberikan salam hormat yang paling dalam kepada semua orang.

"Istri-istri ku yang cantik, yang sangat aku cintai... Maafkan aku yang harus kembali ke Gunung Lawu pagi ini, aku harus meninggalkan kalian untuk sementara waktu. Walaupun entah kapan aku akan kembali, tapi percayalah, kalian semua akan tetap hidup di dalam hati ku, di setiap detak jantung ku," kata Bima dengan suara yang bergetar menahan emosi.

"Baiklah, suami ku, kami semua akan setia menunggu mu di sini di istana yang indah ini. Kami akan merawat istana ini dan menjaga Aliansi dengan baik sampai kau kembali. Hati-hatilah di jalan," jawab Amelia mewakili para istri, dengan air mata yang kembali menetes, namun dengan senyum yang tegar.

"Ayah, aku titipkan istri-istri ku kepada Ayah dan Ibu. Jaga mereka seperti anak kandung Ayah sendiri," kata Bima kepada Pak Wijaya.

"Baiklah, Nak Bima, jangan khawatir, semoga perjalanan mu pulang dimudahkan oleh Gusti Allah. Terima kasih banyak atas semua bantuan dan pengorbanan mu untuk seluruh benua Nusantara ini. Kami semua di sini akan menjaga dan mengurus Aliansi Dao Surgawi Nusantara dengan segenap jiwa raga kami. Dan kau segeralah kembali, kami semua menunggu mu kembali sebagai keluarga," jawab Pak Wijaya dengan suara yang juga bergetar dan mata yang berkaca-kaca sambil memeluk Bima.

"Baiklah, aku pergi sekarang..."

Bima berjalan maju beberapa langkah agak jauh dari semua orang, menuju ke tanah lapang yang kosong. Perlahan-lahan, Bima mulai mengaktifkan Teknik Teleportasi Lintas Ruang dan Waktu yang dia pelajari dari Eyang Jagat Buana.

Perlahan-lahan, sebuah pusaran angin yang sangat kencang, bercahaya biru keemasan, terbentuk di depan Bima, angin itu berputar semakin besar dan mengeluarkan suara gemuruh yang indah seperti suara gamelan langit.

Setelah tersenyum untuk terakhir kalinya kepada semua orang, memberikan tatapan cinta yang paling dalam kepada ketujuh istrinya, dengan berat hati dan dengan air mata yang akhirnya menetes di pipi pendekar terkuat itu, Bima pun segera melangkah masuk dengan tegap ke dalam pusaran angin cahaya itu, dan menghilang.

 

BERSAMBUNG

1
Night Watcher
bosen....
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
Night Watcher
berarti, kemanapun bima pergi, mereka selalu ikut dong?🤭🤭🤭
Night Watcher
bima masa ikut disebut?🤭🤭
Night Watcher
ternyata masih terjebak di jaman kerajaan. 😇😇🤭🤦
Night Watcher
padahal yg cerita tadi intan & amel, berarti penjaga gerbangnya intan & amel ya? 🤭🤭
Night Watcher
padahal dr sejak awal bertemu bima, intan bercerita "adiknya sedang sakit parah".
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
fareva: Halo kak Night Watcher, terima kasih banyak sudah sangat jeli, ini mata pembaca Lv20 memang beda 🙏

Untuk ini saya luruskan biar tidak bingung ke depannya ya:

1. Nama yang benar adalah "Amelia Sri Anggrek" itu adalah nama draft lama sebelum revisi besar. Jadi sekarang semua sudah saya ganti konsisten menjadi Amelia.

2. Statusnya Amelia adalah "Adik" dari Intania. Intania itu Kakak Tertua sekaligus Ketua Perguruan Anggrek Putih di Ngargoyoso, dan Amelia adalah adik kandung kesayangannya yang sakit racun dingin itu.

Terima kasih sudah diingatkan, Sehat selalu kak!
total 1 replies
Night Watcher
yg benar namanya "amelia" atau "sari anggrek"?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?
fareva: Wah terima kasih koreksinya kak, jeli banget.

Yang benar Amelia ya kak. Sari Anggrek itu nama lama sebelum revisi, jadi ada beberapa bab awal yang kelewat belum keganti.

Dan Amelia itu statusnya adiknya Intania, bukan kakaknya.

Sudah saya catat, akan saya bereskan biar konsisten ke depan. Thanks kak!
total 1 replies
Night Watcher
ternyata yg bisa hidup di alam ini hanya satu pria, sisanya wanita semua... 😂😂😂😂🤭
Night Watcher
gak s4 pamit / ketemu sama bu guru ya pas mau turun gunung? atau aku yg kelewat bacanya?
fareva: Kakak tidak kelewat baca kok, memang sengaja tidak saya tulis pamitnya.

Perpisahan Bima Samudra dengan Gurunya, Ratu Ayu Kirana, di puncak Gunung Lawu itu bukan perpisahan biasa. Itu akan jadi salah satu misteri besar dan kunci utama di Babak IV nanti, kenapa Guru meninggalkan pesan "Jika berjodoh pasti bertemu lagi".

Jadi bukan dilupakan, tapi memang sengaja saya simpan untuk plot twist besarnya. Tungguin ya, nanti akan dijelaskan kenapa Guru harus pergi diam-diam.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!