NovelToon NovelToon
Sebelum Aku Pergi

Sebelum Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Pernikahan Kilat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sanayaa Irany

Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Bab 19

Langkah kaki Arya dan Gendis bersahutan di atas lantai marmer teras depan. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sepanjang perjalanan pulang dari kantor, tak ada percakapan berarti di antara mereka. Gendis sibuk menatap layar ponselnya memeriksa draf jadwal syuting, sementara Arya fokus mengemudi seraya menahan gengsi untuk membuka suara.

Namun, begitu Arya mendorong pintu utama rumahnya, pemandangan di ruang tengah seketika membuat langkahnya terhenti kaku.

Dua koper berukuran besar berwarna merah muda menyala terparkir tegap di dekat sofa. Di atas sofa, Gea sedang duduk menyilangkan kaki seraya menyesap teh hangat dari cangkir porselen.

"Arya! Kamu baru pulang?" Gea menyapa dengan suara melengking gembira, langsung berdiri dan menghampiri Arya.

Namun, senyum manja Gea seketika luntur begitu matanya menangkap sosok Gendis yang melangkah masuk tepat di belakang Arya. Gendis masih mengenakan pakaian kerjanya lengkap dengan hijab segi empat yang terpasang rapi.

Raut wajah Gea berubah drastis. Matanya melotot tajam menatap Arya dan Gendis bergantian.

"Arya, kenapa kamu bisa pulang bareng wanita ini lagi?!" cecar Gea dengan suara meninggi, menunjuk muka Gendis tanpa etika. "Kemarin di rumah sakit kamu bela-belain bawa dia pulang, sekarang kamu malah jalan bareng dia malam-malam begini? Kamu ingat nggak status kita yang baru diumumkan kemarin?!"

Arya menghembuskan napas kasar, mengusap wajahnya yang tampak lelah. "Gea, tolong jangan mulai berteriak-teriak di rumahku. Kami cuma pulang dari tempat yang sama."

"Tempat yang sama?!" Gea terkekeh sumbang, tatapannya menyapu penampilan Gendis dari atas sampai bawah dengan sorot merendahkan. "Oh, astaga... Jadi wanita ini beneran berani keluyuran malam-malam pakai baju rapi begini?"

Gendis tidak menjawab. Wajah cantiknya tetap tenang tanpa ekspresi. Ia hanya memegang tas kerjanya lebih erat, berniat melewati Gea begitu saja menuju tangga.

Melihat kepasifan Gendis, Gea justru makin menjadi-jadi. Ia melangkah cepat menghadang jalan Gendis di depan anak tangga.

"Mau ke mana kamu? Aku belum selesai bicara!" gertak Gea, bersedekap dada dengan dagu terangkat tinggi. "Gaya kamu sok sibuk banget ya dari pagi. Pake baju kantoran, bawa-bawa tas dokumen... Kamu pikir dengan pura-pura sok sibuk begini, Arya bakal kagum sama kamu?"

Arya membelalak. "Gea! Cukup!"

"Nggak bisa, Arya! Aku gemas melihat drama perempuan ini!" potong Gea cepat, lalu kembali menatap Gendis dengan senyum menyindir yang mengerikan. "Heh, Gendis! Kamu itu cuma perempuan dari kampung yang kebetulan dapat keberuntungan dinikahi Arya secara diam-diam. Nggak usah sok akting jadi wanita karir yang sibuk urusan bisnis. Kamu pikir aku nggak tahu? Paling kamu cuma keluyuran atau minta pekerjaan kasar di luaran sana biar kelihatan berguna, iya kan?"

Gendis menghentikan langkahnya tepat satu pijakan di depan Gea. Ia menundukkan kepala sedikit, menatap wanita di hadapannya dengan manik mata yang begitu dingin dan pekat.

"Sudah bicaranya?" tanya Gendis pelan. Nadanya terlalu halus untuk ukuran orang yang baru saja dihina habis-habisan.

Gea tersentak pelan melihat ketenangan itu, namun ego membuatnya makin menantang. "Kenapa? Kamu tersinggung karena ucapanku benar? Mending kamu sadar diri. Tempat kamu itu di dapur, bukan sok-sokan kerja luar rumah! Sebentar lagi aku yang jadi istri sah Arya, kamu cuma istri siri. Cepat atau lambat kau dan Arya akan berpisah. Jadi jangan banyak tingkah!"

Gendis mengulas senyum tipis, membuat Gea tambah geram. Yang dia inginkan Gendis akan menunjukkan kemarahannya seperti yang di film-film. Dengan begitu dia akan mudah untuk akting selanjutnya.

"Aku kerja di mana dan jadi apa, rasanya bukan urusan kamu, Gea," ujar Gendis santai, menatap lurus ke dalam mata Gea. "Tapi satu hal yang harus kamu ingat... orang yang kamu sebut 'sok sibuk' ini kerja untuk dapat uang sendiri, bukan hidup dari menanti belas kasihan pria atau menjual drama di depan media."

Zlap!

Kalimat lugas dari Gendis telak menghantam wajah Gea. Wajah perempuan manja itu seketika merah padam menahan malu dan amarah yang membakar dada.

"Kamu... berani-beraninya kamu ngomong begitu sama aku?!" teriak Gea, mengangkat tangannya hendak menunjuk wajah Gendis lagi.

"Cukup, Gea!" bentak Arya keras. Suaranya menggema hebat di dalam ruang tengah, membuat Gea terlonjak kaget dan menghentikan tangannya di udara.

Arya melangkah maju, menarik lengan Gea dengan cengkeraman tegas namun tidak kasar, menjauhkan wanita itu dari jangkauan Gendis.

"Kamu datang ke rumahku malam-malam cuma mau bikin keributan seperti ini?" tegur Arya dengan napas memburu dan mata menajam. "Dan koper-koper ini... Maksud kamu apa bawa koper ke rumahku?"

Gea mengusap pergelangan tangannya yang dilepas Arya, mencoba mengubah raut wajahnya menjadi memelas. "Arya... Aku kan cuma mau belajar menyesuaikan diri. Sebentar lagi kita kan mau nikah secara resmi, jadi aku pikir—"

"Aku belum menyetujui kamu tinggal di sini sebelum pernikahan dan urusan administrasi selesai!" potong Arya dingin tanpa kompromi. "Rumah ini bukan tempat yang bisa kamu masuki sesuka hati lalu membuat kekacauan. Kamu lupa Gendis ini istri pertama ku. Tolong hormati dia, setidak nya dia tidak pernah mengganggu ku, Gea!"

Gea terbelalak tak percaya. "Arya! Kamu usir aku?! Cuma gara-gara peempuan ini?!"

"Aku tidak membela siapa pun," balas Arya tegas, walau dadanya sendiri terasa panas melihat bagaimana Gea merendahkan Gendis tadi. "Tapi aku capek baru pulang kerja. Sopirku akan antar kamu pulang ke apartemen mu sekarang juga. Bawa koper-koper ini kembali."

Gea mengepalkan tangannya rapat-rapat. Matanya berkaca-kaca menahan malu yang luar biasa. Ia melirik ke arah tangga, di mana Gendis masih berdiri tenang menyaksikan drama itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun bantahan. Tatapan dingin dari Gendis terasa bagaikan tawa ejekan yang tersembunyi bagi Gea.

"Oke! Aku pulang!" jerit Gea histeris. Ia merenggut gagang kopernya dengan kasar. "Tapi ingat ya, Arya! Kamu bakal menyesal karena sudah memperlakukan aku seperti ini demi perempuan kampung itu!"

Dengan menghentakkan kakinya keras, Gea berjalan lebar keluar dari rumah mewah tersebut, disusul oleh ART yang tergesa-gesa membantunya membawakan koper sisanya ke dalam mobil.

Suasana ruang tengah seketika mendadak hening. Hanya terdengar helaan napas berat dari Arya yang berdiri membelakangi tangga.

Arya berdehem pelan, mencoba menetralkan suaranya sebelum berbalik menatap Gendis. Ada rasa canggung dan rasa bersalah yang teramat sangat menyenggol dadanya, namun gengsinya memagari mulutnya rapat-rapat.

"Gea orangnya sedikit emosional," kata Arya kaku, pura-pura merapikan kancing jasnya. "Kamu... tidak usah ambil hati ucapan dia soal pekerjaan kamu."

Gendis menatap Arya datar, lalu melangkah turun satu pijakan tangga hingga tingginya sejajar dengan pria itu.

"Kenapa aku harus ambil hati ucapan orang yang bahkan tidak tahu siapa yang memegang kendali atas hidupnya sendiri?" sahut Gendis dingin.

Ia membetulkan letak tas kerjanya, lalu kembali menatap Arya dengan senyum tipis yang sarat akan dominasi.

"Satu saran saya untuk Anda, Pak Arya... Kalau Anda mau membawa wanita seperti Gea itu ke dalam rumah ini atau publik sebagai istrimu, pastikan dia tahu cara menjaga mulutnya di depan orang yang memegang nasib kariernya di dunia televisi."

Bersambung...

1
Nar Sih
semoga gk berhasil niat jht mu gea🤣
Nar Sih
terkejutt kan kmu gea ,org yg kmu hina dgn sombong nya kmu ternyata dia lah yg berkuasa atas nasib mu
Nar Sih
wah...👍gendis kta,,mu buat arya
Nar Sih
nah lo arya kesindir ngk kmu dgn kta,,gendis
Nar Sih
sebaiknya kmu pergi aja gendis,dan bnr kta alex
Nar Sih
bnr yg dikatakan ibu mu arya kmu pasti nyeseell
Nar Sih
smoga sgra terungkap kasus kecelakaan alm suami mu ya gendis
Nar Sih
gendis sakit parah ,semoga sgra sembuh
Nar Sih
wah...kta,,gendis mantap bikin arya gk bisa ngomong
Nar Sih
kini kmu nyesell arya🤣
Nar Sih
seperti nya gendhis sedang sakit ya kak ,moga ngk parah
Nar Sih
semagat gendhis💪
Nar Sih
maaf kak bru bisa lanjut bca ,sibuk dunia nyata🙏
Nar Sih
lanjutt kak
Nar Sih
hadir kak ,udah lama menghilang kakak hadir lgi karya terbaru nya👍
Sanayaa Irany: hihihi iya kak, doain lancar lancar nulis yang ini ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!