Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 - SUARA RAUNGAN MESIN
Getaran halus di permukaan lantai beton atap Apotek Sentral berganti menjadi rambatan gelombang mekanis yang kian nyata. Suara raungan mesin diesel berkapasitas besar bergema membelah keheningan fajar di Jalan Sudirman, memantul keras di antara dinding-dinding beton gedung tinggi Kota Mati. Kepulan asap hitam pekat mengepul membumbung tinggi dari balik persimpangan lorong timur, menandakan hadirnya sebuah monster besi berkekuatan dahsyat yang meluncur tanpa ragu menembus bahaya.
Luna berdiri paling depan di tepi atap dak beton, memegang erat busur recurve-nya dengan mata kelam yang menyipit tajam. Di sisinya, Steve menyandarkan pipa besi tebal di bahu kanannya seraya menyapu keringat dingin di dahi. Sementara itu, Nancy, Endru, dan Rian merapat rapat di pembatas semen, menengadah menatap ke arah sumber suara yang kian mendekat secara agresif.
"Lihat ke arah persimpangan timur!" seru Rian seraya menunjuk ke lorong jalan bawah.
"Suara mesin itu keras sekali," bisik Endru dengan dahi berkerut cemas.
"Bukan sekadar mesin biasa, itu raungan mesin diesel modifikasi berturbo ganda," kata Nancy seraya membetulkan posisi kacamatanya dengan cermat.
Di bawah sana, ratusan zombie yang tadinya berkerumun padat mengepung pintu depan Apotek Sentral mulai terusik secara serentak. Suara mesin bernada tinggi dan desibel berat itu mendadak menarik perhatian naluriah mereka dari jarak jauh. Makhluk-makhluk terinfeksi Cordyceps dengan kepala berkerak jamur kekuningan itu perlahan memutarkan tubuh kaku mereka, berpaling dari jeruji besi apotek yang jebol menuju ke arah jalan raya utama.
PRANGGG! BRKAKKK!
Dari balik tikungan persimpangan timur, sebuah mobil sedan tua yang melintang memblokir jalan raya seketika terlempar ke udara, hancur berantakan menabrak tiang listrik di tepi trotoar. Dari balik kepulan debu, serpihan karat, dan puing-puing kaca yang terbang melayang, menyeruak sebuah kendaraan berukuran besar yang melaju liar dengan kecepatan penuh tanpa memedulikan rintangan.
Itu adalah sebuah mobil pick-up kabin ganda berukuran raksasa yang telah mengalami modifikasi ekstrem di seluruh permukaan bodinya. Bentuk aslinya yang kusam kini hampir tak mengenali rupa awal, tertutup sepenuhnya oleh gulungan lembaran plat besi tebal yang dilas kasar secara bertingkat di sekeliling sasis. Di bagian depan kendaraan, terpasang sebuah bumper peremuk buatan tangan berbentuk bajak segitiga raksasa dari rel kereta api tua, dilengkapi deretan paku-paku baja panjang yang mengarah lurus ke depan.
Seluruh kaca jendela mobil melamin itu telah diganti dengan kawat ram besi tebal berkisi rapat untuk menahan serangan fisik, sementara dua pipa pembuangan knalpot raksasa menjulang tegak di sisi samping kabin, menyemburkan asap hitam pekat ke udara setiap kali pedal gas diinjak dalam-dalam.
BRRRUMMM! BRRRUMMM!
"Lihat bajak depan mobil itu," puji Steve seraya tersenyum lebar.
"Mobil itu dirancang khusus untuk menerobos barikade massal," analisis Nancy dengan mata berbinar takjub mengamati konstruksi besi tersebut.
Pengemudi mobil pick-up rakitan itu sama sekali tidak mengendurkan kecepatan atau memutar setir saat melihat lautan kerumunan zombie yang memadati Jalan Sudirman. Malah sebaliknya, raungan mesin dieselnya makin memekik tinggi tatkala pengemudinya menancap gas lebih dalam, mengarahkan moncong bajak besinya lurus ke tengah-tengah kerumunan terinfeksi.
Brakkk! BASHHH!
Benturan pertama terjadi dengan destruksi murni yang sangat luar biasa. Bajak besi segitiga di depan pick-up itu menghantam belasan zombie terdepan bagaikan buldozer baja memotong semak belukar. Tubuh-tubuh terinfeksi terlempar melayang ke kiri dan kanan jalan raya, hancur terkena hempasan paku baja dan plat besi tebal yang meluncur kencang.
Darah menghitam bercampur serpihan kerak jamur dan debu spora terpercik hebat membasahi kap mesin baja kendaraan tersebut. Ban-ban raksasa bergerigi tebal berukuran tiga puluh lima inci yang terpasang di empat sudut mobil melindas tanpa ampun setiap halangan di bawahnya, menciptakan suara derit tulang yang patah bercampur retakan aspal yang menyayat hati.
"Astaga... brutal sekali cara mengemudinya," tutur Endru seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan yang gemetaran.
"Tapi cara itu sangat efektif membersihkan lorong jalan," tanggap Luna dengan pandangan taktis yang tajam dan dingin.
Mobil pick-up rakitan itu bergerak laksana binatang besi liar di tengah lautan monster. Pengemudinya tidak sekadar bergerak lurus; ia membanting setir ke kiri dan kanan dengan gaya mengemudi yang amat agresif dan ugal-ugalan, memanfaatkan bobot tonase kendaraan untuk menyapu kerumunan zombie yang menempel di pelataran depan apotek.
Setiap kali massa terinfeksi mencoba merayap memanjat bodi mobil, sasis besi yang dialiri getaran mesin tebal dan plat baja licin membuat cengkeraman jemari zombie tergelincir jatuh, langsung tergilas oleh putaran roda belakang yang berputar buas.
"Pengemudinya punya refleks gila," ujar Steve seraya mengagumi kelincahan manuver kendaraan berat tersebut.
"Sistem suspensinya dimodifikasi pakai per daun ganda, makanya tetap stabil walaupun menabrak beban berat," jelas Nancy menunjuk bagian kolong truk yang memercikkan bunga api.
"Apakah pengemudinya kawan atau lawan?" tanya Endru cemas seraya mengeratkan pelukannya pada ransel medis merahnya.
"Kita lihat dulu niatnya," jawab Luna dengan vokal dingin yang tenang seraya menjaga kewaspadaan.
"Pengemudinya benar-benar tidak punya rasa takut," timpal Rian seraya menggelengkan kepala heran.
Di bawah sana, lautan zombie yang tadinya mengunci rapat seluruh selasar Apotek Sentral kini terpecah belah berantakan. Puluhan bangkai makhluk terinfeksi tergeletak tak berdaya di sepanjang aspal jalan raya, sementara sisanya kocar-kacir terdorong ke tepi trotoar akibat terusan amukan pick-up baja tersebut.
Setelah menyapu bersih area pelataran utama dari tumpukan massa terinfeksi, pengemudi kendaraan rakitan itu menarik rem tangan secara mendadak.
Ssssrttttt! BRUMMM!
Buntut mobil pick-up itu berputar sembilan puluh derajat dalam manuver drift kasar yang sangat presisi, menciptakan hembusan debu dan bau karet ban terbakar yang menyengat di udara. Bodi besi kendaraan itu kini berhenti melintang tepat di depan selasar Apotek Sentral, menutupi celah pelataran dari sisa-sisa kejaran zombie luar secara sempurna.
Mesin dieselnya tetap menyala meraung halus, memancarkan suara getaran tebal yang dominan dan gagah di tengah keheningan pemukiman.
Klakson mobil rakitan itu mendadak dibunyikan dari dalam kabin. Namun, bukannya bunyi klakson tunggal yang monoton dan menakutkan, pengemudinya menekan tombol klakson bernada unik yang memunculkan irama nada konyol berirama riang.
TET-TERET-TET-TET! TET!
"Lagu klaksonnya aneh sekali!" seru Rian terbelalak heran lalu tertawa kecil.
"Siapa pun di dalam mobil itu, dia punya selera humor yang agak gila di tengah kiamat," kata Steve terkekeh pelan seraya memutar pipa besinya.
Kaca kawat ram di pintu samping pengemudi perlahan diturunkan sedikit. Dari balik celah besi tersebut, terlihat lambaian tangan dengan sarung tangan kain berwarna merah menyala yang melambai-lambai riang ke arah atap dak beton tempat Luna dan timnya berdiri.
Pengemudi misterius itu menyalakan lampu tembak LED raksasa yang terpasang di atap kabinnya, mengarahkan pendaran cahaya putih yang sangat terang lurus ke atas atap.
"Woi, Penyintas Tampan dan Cantik di Atas Atap! Butuh jemputan gratis tidak?!" teriak sebuah suara dari balik pintu mobil, terdengar amat ceria, nyaring, dan rada bernada genit.
Luna menyipitkan matanya menahan silau cahaya lampu tembak, sementara Steve dan Nancy saling bertukar pandang heran. Pintu penyelamatan baru telah terbuka di tengah Kota Mati yang mencekam ini, dibawa oleh seorang pengemudi eksentrik dengan mesin bajak besi yang siap membawa kelompok lima penyintas ini melintasi babak takdir selanjutnya.