Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.29
Urat di pelipisku berkedut liar saat jemari dokter keparat itu kembali menyentuh kulitnya. Deklarasi basi soal masa lalu mereka bagai minyak tanah yang menyiram bara murkaku. Tanpa ragu, kupukul telak pergelangan tangan Alex hingga cengkeramannya terlepas, lalu merengkuh pinggang perempuan di depanku dengan satu tarikan mutlak, menyembunyikannya tepat di balik bidang dadaku.
"Pengganggu?"
tawa sinisku lolos, tajam dan merendahkan di hadapan puluhan pasang mata yang terpaku. Sorot mataku menghunus Alex tanpa ampun.
"Siapa cepat dia dapat itu aturan bocah, Dok. Lo yang lamban, jangan mewek waktu kepemilikan lo diambil alih."
Kurasakan jemari perempuan di pelukanku memprotes kegilaan ini, namun genggamanku di pinggangnya justru kian mengunci. Persetan dengan tensi darah atau tatapan syok seisi aula sekolah. Mengabaikan dengung kepanikan di sekitar meja periksa, aku menunduk rendah, membisikkan ancaman tepat di samping telinganya.
"Diam atau gue cium lo di depan dokter pujaan lo sekarang juga,"
desisku dingin, lalu melirik Alex penuh seringai kemenangan.
"Tugas lo di sini selesai. Sekarang ikut gue."
Eca menarik tangannya dan menuju kembali ke meja pemeriksaan, alex yang puas melihat penolakan eca siap memberikan tangannya untuk meraih tangan eca.
"Nggak lo gila ya?"
"Gue di sini dalam pekerjaan bukan perkelahian kayak gini"
"Lo mau nantangin cium gue? Jangan berhayal"
Darahku berdesir panas saat punggung tanganku terlepas dari genggamannya. Penolakan itu menghantam harga diriku tepat di depan puluhan pasang mata murid dan guru yang masih terdiam kaku. Lebih memuakkan lagi ketika kulihat dokter itu mengulurkan tangan dengan senyum penuh kepuasan, seolah merasa memenangkan pertarungan konyol ini.
Sebelum jemari dokter itu sempat menyentuhnya, tubuh tinggiku bergerak cepat memotong celah di antara mereka. Kupukul jatuh lengan Alex ke udara kosong dengan sapuan siku yang keras dan tak berperasaan.
"Singkirkan tangan lo sebelum gue patahin di sini,"
desisku rendah, menatap tajam ke mata pria berjas putih itu dengan sorot membunuh.
Kualihkan pandangan pada perawat keras kepala yang bersikeras duduk kembali di kursinya. Meremehkan ancamanku? Dia benar-benar tidak paham seberapa nekatnya aku saat kesabaranku diuji habis-habisan.
Dengan gerakan kasar, kuraih tepi meja periksa lalu membungkuk condong ke arahnya, mengikis sisa jarak hingga deru napasku menyapu pipinya.
"Lo pikir gue cuma menggertak?"
bisikku serak, mataku terkunci lurus ke bibirnya.
"Kerjain tugas lo sekarang. Tapi kalau tangan dia nyentuh lo sedikit saja, gue nggak segan bikin keributan yang lebih gila dari ini."
Alex berdiri tepat di belakang eca sembari mengatakan ocehan yang semakin membuat theo naik darah
"Eca, theo itu hanya bualan semata dan buat lo theo, lebih baik lo balik aja ke kelas"
Eca yang tidak mau kalah gertakan theo ia mulai menantang theo saat itu juga.
"Lo pikir gue takut gertakan lo? Coba aja kalau lo berani di depan umum cium gue"
"Gue yakin lo nggak akan seberani itu!"
"Sekarang lo duduk,kita lanjut pemeriksaan"
Kata-kata remeh itu meruntuhkan sisa kesabaranku dalam sekejap. Ejekan dokter di belakangnya serta sorot menantang dari manik matanya memicu kobaran amarah yang membakar habis akal sehat. Mengira aku hanya membual? Perempuan ini benar-benar belum tahu batasan kegilaanku saat harga diriku diinjak-injak di hadapan umum.
Tanpa memberi jeda sedetik pun, tanganku melesat mencengkeram tengkuknya, menarik wajahnya mendekat hingga jarak di antara kami lenyap tak bersisa. Di tengah keheningan aula yang mendadak membeku, kudaratkan ciuman keras dan menuntut tepat di bibirnya, membungkam seluruh ocehan angkuhnya di depan tatapan syok Alex dan seisi ruangan.
Deru napasnya yang tertahan menghantam kulitku saat kulipat gandakan tekanan itu selama beberapa detik yang menyesakkan, menegaskan kepemilikan mutlak tanpa tedeng aling-aling.
Ketika akhirnya kulepaskan pagutan itu, ibu jariku mengusap bibir bawahnya yang memerah dengan seringai buas.
"Masih mikir gue cuma omong kosong?"
bisikku serak, lalu melirik dingin ke arah dokter di belakangnya yang mematung pucat.
"Sekarang periksa tensi gue, sebelum gue bikin lo nggak bisa napas lagi."
Sentak eca terdiam dan tak percaya seorang theo yang segila ini benar2 melakukannya di depan umum, eca yang hanya bisa mematung dengan wajah dan bibir yang memerah terasa masih nyeri sisa ciuman theo
"Lo...gila ya lo?"
"Jantung gue mau copot, sepertinya gue aja yang perlu di tensi sekarang"
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊