NovelToon NovelToon
Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Status: tamat
Genre:Mafia / Rumah Tangga-Anak Genius / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Afrodite 18

Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.

Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.

Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.

Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.

Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

#KEMBALI KE RUMAH RATNA DAN HARYO#

Dimas terbaring telentang di karpet ruang tamu, dikelilingi boneka, mobil-mobilan, balok susun, dan hewan-hewan boneka. Di sampingnya, Vania dan Ayu bermain tanpa beban, sama sekali tak tahu-menahu soal masalah orang dewasa.

Keduanya sudah berteman akrab sejak kecil, dan setiap kali bersama, mereka seperti lupa bahwa tinggal di rumah yang berbeda.

"Siapa yang merobohkan menara duluan, dia kalah," kata Dimas.

"Curang nggak boleh!" seru Ayu.

"Aku yang menang!" kata Vania.

Keduanya mulai menyusun balok dengan segenap konsentrasi yang bisa dikerahkan seorang anak. Dimas memperhatikan sambil tersenyum, menyemangati mereka, pura-pura mengawasi aturan main.

Di sofa, Ratna masih tampak jelas cemas memikirkan putrinya, tapi pandangannya terus berpindah ke putra dan cucu-cucunya.

Mustahil tidak tersenyum melihat Dimas begitu telaten pada anak-anaknya. Putranya boleh punya segudang kekurangan, tapi ia mencintai putri-putrinya.

"Kalian bakal bikin ruangan ini nggak karuan," kata Ratna.

"Nanti kubereskan."

"Kamu selalu janji begitu."

"Pernah nggak aku nggak beresin?"

Ratna tersenyum.

"Lama, tapi selalu beres."

Anak-anak terbahak. Saat itu bel pintu berbunyi, dan pelayan pergi membukanya. Beberapa saat kemudian Mutiara masuk ke ruang tamu dengan wajah serius, yang baru mencair begitu melihat Ayu.

"Halo, Putri kecilku."

"Mama!"

Gadis kecil itu berlari memeluknya. Mutiara mengecup keningnya lama sebelum menoleh pada Dimas.

"Aku mau jemput dia."

"Sekarang?"

"Besok dia sekolah."

"Sebentar lagi saja," pinta Ayu.

"Tinggal dulu," bujuk Vania.

Mutiara memandang kedua gadis kecil itu dan akhirnya luluh.

"Sepuluh menit."

Keduanya bersorak seolah baru menang hadiah. Dimas mengedipkan mata pada Mutiara sebagai tanda terima kasih.

Sebelum percakapan lain sempat berlangsung, bel berbunyi lagi. Pelayan kembali berjalan ke pintu.

Kali ini ia lebih lama kembali, dan ketika muncul di ruang tamu, ia tampak bingung.

"Mas Dimas... ada seorang perempuan muda ingin bicara dengan Mas."

"Denganku?"

"Ya, dan dia membawa bayi."

Dimas mengerutkan kening. Ratna dan Mutiara bertukar pandang diam-diam.

"Silakan suruh masuk," kata Ratna.

Sesaat kemudian seorang perempuan muda melangkah masuk. Usianya tampak baru lewat dua puluh, rambutnya disanggul sederhana, dan wajahnya menyiratkan kelelahan orang yang kerap begadang.

Di gendongannya ada bayi sekitar enam bulan. Si anak laki-laki bermata besar, berambut gelap, dan menggenggam dot di salah satu tangan mungilnya. Begitu masuk, pandangannya langsung jatuh pada Dimas.

"Kamu ingat aku?"

"Sejujurnya, tidak."

"Namaku Kamila, dan ini anakku... Bagaskara." Ia tersenyum pada bayinya. "Aku memanggilnya Bagas. Dan kamu ayahnya."

Waktu seolah berhenti. Dimas membeku. Ratna menutup mulut dengan tangan. Wajah Mutiara langsung mengeras.

"Mustahil."

"Tidak mustahil."

"Aku bahkan tidak kenal kamu."

"Kenal."

"Aku tidak ingat."

"Kita bertemu beberapa bulan lalu. Hanya semalam... tapi itu cukup untuk mengubah hidupku sepenuhnya."

Dimas mengusap rambutnya.

"Aku benar-benar tidak ingat."

"Kamu yakin dengan yang kamu katakan?" tanya Mutiara.

"Aku yakin sepenuhnya."

"Karena tuduhan itu sangat serius."

"Aku tahu."

"Kalau begitu kenapa baru muncul sekarang?" tanya Ratna.

Kamila menunduk.

"Karena aku tidak tahu harus mencarinya ke mana. Aku mencari berbulan-bulan. Baru belakangan aku menemukan alamat ini." Ia memandang anaknya. "Aku ke sini bukan untuk uang."

Bagas mulai merengek. Kamila menegakkan bayinya di bahu dan mengusap punggungnya dengan lembut. Bayi itu kembali tenang.

"Lalu maumu apa?" tanya Mutiara.

"Aku cuma ingin anakku tahu siapa ayahnya."

Dimas masih linglung, pandangannya bergantian antara Kamila dan si bayi. Saat itu pintu utama kembali terbuka dan Haryo masuk membawa tas kerjanya.

"Selamat sore." Ia langsung heran mendapati keheningan. "Ada apa?"

Ratna berdiri.

"Haryo... ada kejadian tak terduga."

Haryo memandang semua orang di ruangan, lalu matanya berhenti pada Kamila dan si bayi.

"Ada yang bisa jelaskan?"

Kamila melangkah maju.

"Bapak ayahnya Dimas?"

"Betul."

"Nama saya Kamila. Ini anak saya, Bagaskara, dan dia juga anak Dimas."

Haryo diam beberapa detik. Sebagai dokter, ia tahu tuduhan seperti itu harus ditangani secara bertanggung jawab. Sebagai ayah, ia juga tahu tak bisa menghukum putranya tanpa bukti. Ia mendekat dengan tenang.

"Boleh saya lihat bayinya?"

"Tentu."

Haryo memeriksa Bagas dengan saksama. Anak itu tersenyum polos, dan Haryo membalas senyumnya sebelum menoleh pada Dimas.

"Kamu kenal perempuan ini?"

"Pa... aku sedang berusaha mengingat, tapi tidak bisa."

Haryo mengangguk.

"Kalau begitu kita tidak usah membuatnya jadi perdebatan." Ia berpaling pada Kamila. "Apakah Anda bersedia menjalani tes DNA?"

"Itu memang alasan saya datang."

"Bagus."

Ia meletakkan tas di meja.

"Saya punya alat pengambilan sampel di mobil, sebentar saya ambil."

Tak seorang pun bicara saat ia keluar. Satu-satunya suara hanya Ayu dan Vania, yang mengamati semuanya tanpa paham apa yang terjadi.

"Siapa bayinya?" tanya Ayu.

"Lucu," kata Vania.

Kamila tersenyum pada kedua gadis kecil itu.

"Namanya Bagaskara."

"Boleh aku pegang?"

"Boleh."

Ayu dengan lembut mengusap kepala Bagas. Vania melakukan hal yang sama. Bayi itu tersenyum pada mereka.

Tak lama Haryo kembali membawa sebuah koper kecil. Ia mengeluarkan dua alat steril dan menaruhnya di meja.

"Pengambilannya sederhana, lewat air liur. Sampelnya akan langsung dikirim ke laboratorium."

Dimas menarik napas panjang.

"Ayo selesaikan ini."

Haryo mengambil sampel putranya lebih dulu, lalu menoleh pada Kamila.

"Boleh saya ambil sampel dari Bagaskara?"

"Silakan."

Prosedurnya hanya berlangsung beberapa detik. Haryo memberi label pada tiap sampel dengan cermat, menyegel amplopnya, lalu menyimpannya.

"Besok pagi ini dikirim ke laboratorium. Begitu hasilnya keluar, kita akan punya jawaban pasti."

Keheningan kembali menguasai ruangan. Dimas memandang Bagas sekali lagi, dan seakan merasakan tatapan itu, bayi itu mengulurkan tangan kecilnya ke arahnya.

Spontan Dimas mendekatkan satu jari. Bagas menggenggamnya kuat-kuat dan melempar senyum begitu tulus, sampai tak seorang pun bisa memalingkan mata.

Saat itu tak ada yang tahu apa hasil tesnya, tapi kemiripan itu tak bisa mereka sangkal.

Namun satu kepastian mulai tumbuh di rumah itu, selagi jari Dimas masih digenggam tangan mungil Bagas: apa pun hasil tesnya, hidup mereka tak akan sama lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!