NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Telepon dari yayasan itu datang ketika Nadira sedang berusaha menyelamatkan satu paragraf yang sudah ia revisi sebanyak empat kali.

Nomor kantor tertera di layar. Ia segera mengangkatnya.

“Selamat siang, dengan Nadira Prameswari.”

“Selamat siang, Mbak Nadira. Saya Ratna Wibisono dari Yayasan Adhitama Peduli. Kita sempat bertemu di acara gala beberapa hari lalu.”

Nadira langsung menegakkan punggung.

“Tentu, Bu Ratna. Ada perkembangan mengenai permintaan informasi saya?”

“Ada. Kami sudah menemukan arsip program bantuan medis yang bekerja sama dengan rumah sakit tempat ibu Anda menjalani operasi.”

Jantung Nadira berdegup lebih cepat.

“Apakah ada catatan mengenai bantuan untuk beliau?”

“Ada beberapa dokumen yang perlu kami periksa lebih lanjut. Namun, sebelum itu, saya ingin menjelaskan bahwa akses terhadap catatan individual memiliki batasan privasi. Kami tidak bisa memberikan dokumen internal secara langsung tanpa proses verifikasi dan persetujuan yang sesuai.”

“Saya mengerti. Saya tidak meminta informasi mengenai pasien lain. Saya hanya ingin mengetahui informasi yang berkaitan dengan keluarga saya sendiri.”

“Baik. Jika Ibu Ratih bersedia memberikan persetujuan tertulis, kami bisa meninjau informasi yang dapat disampaikan kepada beliau. Kami juga akan memeriksa apakah ada catatan administratif yang bisa menjelaskan sumber bantuan tersebut.”

Nadira buru-buru mencatat.

“Berapa lama prosesnya?”

“Saya belum bisa menjanjikan tanggal pasti. Arsip lama perlu diperiksa oleh tim administrasi.”

“Tidak masalah. Saya akan berbicara dengan ibu saya.”

Setelah panggilan berakhir, Nadira menatap catatannya.

Mereka telah menemukan arsipnya.

Belum tentu berisi jawaban yang ia cari, tetapi setidaknya ia tidak lagi mengejar petunjuk tanpa dasar.

Ia segera menelepon Ratih.

Ibunya mengangkat pada dering ketiga.

“Ibu, aku baru saja bicara dengan pihak yayasan.”

Keheningan singkat terdengar dari seberang.

“Mereka bilang apa?”

“Mereka menemukan arsip program bantuan medis. Mereka membutuhkan persetujuan Ibu untuk memeriksa informasi yang berkaitan dengan operasi waktu itu.”

Ratih tidak langsung menjawab.

“Bu?”

“Ibu dengar.”

“Kalau Ibu bersedia, kita bisa mengurusnya bersama. Aku tidak akan meminta mereka membuka informasi yang bukan hak kita.”

Ratih mengembuskan napas pelan.

“Beri Ibu waktu sampai besok, ya.”

Nadira ingin bertanya mengapa ibunya membutuhkan waktu untuk menyetujui sesuatu yang seharusnya sederhana.

Namun, ia teringat percakapan mereka sebelumnya.

Jangan langsung percaya pada satu cerita.

“Baik,” jawab Nadira akhirnya. “Aku tunggu.”

Setelah telepon ditutup, ia kembali menatap layar laptop.

Untuk pertama kalinya sejak menerima amplop anonim itu, ia merasa pencariannya bergerak ke arah yang nyata.

Dan justru karena itu, ia mulai takut pada apa yang mungkin ditemukannya.

Di markas ASTRAL, Raka baru saja menyelesaikan latihan ketika Arman memanggilnya ke ruang manajemen.

“Ada perubahan jadwal,” kata manajer itu sambil membuka kalender tim. “Minggu depan, kita diminta menghadiri acara yayasan. Keluarga Adhitama ingin kamu mewakili mereka dalam sesi khusus.”

Raka mengambil botol air dari meja.

“Acara apa?”

“Peninjauan program bantuan medis dan peluncuran laporan kegiatan sosial. Detailnya masih disusun.”

Raka berhenti minum.

“Program bantuan medis?”

Arman mengangguk.

“Kenapa? Kamu sudah tahu sesuatu?”

“Belum. Aku hanya baru mempelajari beberapa dokumen yayasan.”

Arman menatapnya dengan rasa ingin tahu, tetapi tidak mendesak.

“Kamu bisa menolak kalau jadwalnya bertabrakan dengan latihan. Aku akan bicara dengan pihak penyelenggara.”

“Tidak perlu. Kirimkan detail acaranya begitu tersedia.”

Arman mengangguk, lalu mengalihkan pembicaraan ke jadwal pertandingan.

Namun, perhatian Raka sudah terpecah.

Ia teringat percakapan singkatnya dengan Nadira setelah konferensi pers. Perempuan itu masih menjaga jarak, tetapi ia juga tahu ada sesuatu yang sedang mengganggunya.

Apakah pencariannya berkaitan dengan Yayasan Adhitama Peduli?

Raka tidak punya cukup informasi untuk menjawab pertanyaan itu.

Ia membuka ponsel, masuk ke percakapan mereka, lalu mengetik.

Raka: Bagaimana pekerjaanmu hari ini?

Ia menatap kalimat itu selama beberapa detik sebelum menghapusnya.

Terlalu umum.

Ia mencoba lagi.

Raka: Aku baru mendapat jadwal acara yayasan untuk minggu depan. Kalau kamu masih mengerjakan liputan yang kemarin, semoga prosesnya lancar.

Kali ini, ia mengirim pesan tersebut.

Tidak ada pertanyaan tentang urusan pribadi Nadira. Tidak ada tuntutan agar perempuan itu bercerita.

Raka meletakkan ponselnya dan kembali ke ruang latihan.

Ia tidak berharap mendapat balasan cepat.

Tetapi beberapa menit kemudian, layar ponselnya menyala.

Nadira: Terima kasih. Aku masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak yayasan.

Raka membaca pesan itu dua kali.

Ia mengetik balasan.

Raka: Semoga kamu mendapat informasi yang kamu butuhkan.

Nadira: Semoga juga tidak ada orang yang menghalangi prosesnya.

Raka mengernyit.

Kalimat itu bisa saja merupakan keluhan biasa. Namun, ada sesuatu di dalamnya yang membuatnya merasa Nadira sedang menghadapi persoalan lebih besar daripada sekadar tugas jurnalistik.

Raka: Kalau ada masalah administratif, kamu bisa mencoba menghubungi bagian komunikasi yayasan. Aku tidak ingin mencampuri pekerjaanmu, tapi mungkin mereka bisa membantu menjelaskan prosedurnya.

Balasan Nadira datang beberapa saat kemudian.

Nadira: Aku sudah menghubungi mereka. Aku akan mengikuti prosedur yang berlaku.

Raka tersenyum tipis.

Bahkan ketika membicarakan sesuatu yang serius, Nadira masih mampu mengingatkannya agar tidak mengambil alih persoalan orang lain.

Raka: Tentu saja. Seharusnya aku tahu kamu sudah memikirkan itu.

Nadira: Akhirnya kamu mengatakan sesuatu yang benar.

Raka tertawa kecil.

Bima yang baru masuk ke ruang latihan langsung menoleh.

“Kenapa?”

“Tidak ada.”

“Kamu tertawa sambil melihat ponsel. Aku tahu ekspresi itu.”

Raka memasukkan ponselnya ke saku.

“Kalau kamu masih punya energi untuk mengurusi ekspresiku, kita tambah satu sesi latihan.”

Bima mengangkat kedua tangan.

“Baik, Kapten. Aku memilih untuk tidak ikut campur dalam kehidupan romantismu yang belum diakui.”

“Bima.”

“Sudah, sudah. Aku diam.”

Bima kembali ke tempatnya, masih menyeringai.

Raka berusaha mengabaikannya, tetapi percakapan singkat dengan Nadira membuat sisa harinya terasa sedikit lebih ringan.

Tidak banyak.

Namun, cukup untuk membuatnya menyadari bahwa ia merindukan percakapan mereka yang tidak selalu berakhir dengan jarak.

Malam itu, Ratih duduk di ruang tengah rumahnya dengan sebuah kotak kecil di pangkuan.

Di dalamnya terdapat dokumen lama, beberapa kuitansi rumah sakit, dan kartu ucapan yang warnanya mulai memudar.

Ia mengeluarkan selembar surat yang sudah beberapa kali ia baca selama lima tahun terakhir.

Surat itu tidak panjang. Isinya hanya penjelasan bahwa bantuan biaya operasi telah disetujui melalui sebuah program sosial, disertai nomor administrasi yang sebagian tulisannya sudah sulit dibaca.

Ratih mengusap permukaan kertas dengan ujung jarinya.

Ia pernah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti ia akan menjelaskan semuanya kepada Nadira.

Namun, setiap kali membayangkan percakapan itu, ia kembali teringat pada hari ketika bantuan tersebut datang.

Hari ketika ia harus memilih antara mempertahankan harga dirinya dan memastikan putrinya tidak kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya.

Ia menutup mata.

Dulu, keputusan itu terasa sederhana.

Sekarang, ia tidak lagi yakin.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak disimpan dalam kontak.

Nomor Tidak Dikenal: Nadira sudah menghubungi yayasan.

Ratih menatap layar, wajahnya mendadak pucat.

Pesan kedua menyusul.

Nomor Tidak Dikenal: Sebaiknya Ibu memastikan dia tidak mengetahui semuanya sekaligus.

Ratih langsung mengetik balasan.

Ratih: Siapa Anda? Apa yang Anda inginkan dari anak saya?

Tidak ada jawaban.

Ia mencoba menelepon nomor tersebut, tetapi panggilannya tidak tersambung.

Ratih meletakkan ponsel dengan tangan gemetar.

Selama bertahun-tahun, ia mengira masa lalu itu sudah tertutup. Ia tidak pernah membicarakannya dengan siapa pun di luar lingkaran kecil yang mengetahui keadaan keluarganya saat itu.

Namun, sekarang seseorang bukan hanya mengetahui rahasia tersebut, melainkan juga memantau langkah Nadira.

Ratih mengambil surat lama dari dalam kotak dan membacanya sekali lagi.

Pada bagian bawah, di samping nomor administrasi, terdapat kode yang ditulis dengan tinta biru.

AP-17.

Ia menutup surat itu cepat-cepat ketika mendengar suara langkah dari arah dapur.

Tidak ada seorang pun di sana.

Hanya rumah yang sunyi dan bunyi jam dinding.

Ratih memegang surat itu erat-erat.

Besok, ia akan menelepon Nadira.

Ia tidak bisa terus membiarkan putrinya mencari jawaban sendirian.

Keesokan paginya, Nadira baru selesai membuat kopi ketika ponselnya berdering.

Nama ibunya muncul di layar.

“Ibu?”

“Dira, Ibu sudah memutuskan.”

Nadira duduk di tepi tempat tidur.

“Ibu bersedia memberikan persetujuan kepada yayasan?”

“Iya. Kita akan mengurusnya bersama.”

Nadira mengembuskan napas lega.

“Terima kasih, Bu.”

“Tapi Ibu punya satu permintaan.”

“Apa?”

“Kalau dokumennya sudah tersedia, jangan membacanya sendirian. Tunggu sampai kita bisa membicarakannya bersama.”

Nadira terdiam.

Permintaan itu terdengar sederhana, tetapi ada kecemasan yang jelas dalam suara ibunya.

“Baik,” jawabnya. “Aku janji.”

“Dan Dira?”

“Iya?”

“Apa pun yang kamu temukan nanti, jangan langsung menyalahkan seseorang sebelum kamu mengetahui seluruh ceritanya.”

Nadira menatap cangkir kopi di tangannya.

Ia teringat pada Raka, pada rahasia yang disimpannya, dan pada luka yang belum sepenuhnya pulih di antara mereka.

“Aku akan berusaha, Bu.”

Setelah panggilan berakhir, Nadira mengirim surel kepada Ratna untuk mengonfirmasi bahwa ibunya bersedia menjalani proses verifikasi.

Kini, ia hanya perlu menunggu.

Namun, saat hendak meletakkan ponsel, sebuah pesan baru muncul dari nomor anonim yang sama.

Nomor Tidak Dikenal: Bagus. Sekarang kamu bisa mengetahui siapa yang menyetujui bantuan itu.

Nadira mengetik dengan cepat.

Nadira: Kalau kamu tahu jawabannya, kenapa tidak mengatakannya langsung?

Balasan itu muncul beberapa detik kemudian.

Nomor Tidak Dikenal: Karena nama yang akan kamu temukan mungkin mengubah caramu memandang seseorang.

Nadira membaca kalimat tersebut berulang kali.

Ia ingin menganggapnya sebagai upaya manipulasi. Ia ingin menutup percakapan itu dan menunggu jawaban resmi dari yayasan.

Namun, sebagian kecil dari dirinya mulai takut bahwa pengirim pesan tersebut memang mengetahui sesuatu yang belum siap ia dengar.

Ia mengambil tangkapan layar, menyimpannya bersama pesan-pesan sebelumnya, lalu memblokir layar ponselnya.

Ia tidak akan membiarkan orang asing menentukan apa yang harus ia percayai.

Jika kebenaran itu memang ada dalam dokumen resmi, ia akan membacanya dengan kepala dingin.

Dan jika nama Raka muncul di sana, ia akan menuntut penjelasan darinya secara langsung.

Bukan melalui pesan anonim.

Bukan melalui dugaan.

Melainkan melalui kebenaran yang bisa dibuktikan.

Untuk pertama kalinya, Nadira menyadari bahwa pencarian ini mungkin bukan sekadar tentang siapa yang membayar operasi ibunya lima tahun lalu.

Mungkin, pencarian ini juga akan menentukan apakah ia masih bisa mempercayai orang-orang yang selama ini berdiri paling dekat dengannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!