Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Suster Nita menatap Kevin dengan tatapan tajam dan dingin.
"Jaga ucapan Anda, Pak."
"Dokter Bima adalah dokter utama kehormatan di rumah sakit ini."
"Beliau baru saja menyelamatkan nyawa donatur terbesar kami."
"Bahkan Direktur Wira sekalipun tidak memiliki wewenang untuk memecat beliau tanpa persetujuan komite."
Mulut Rina terbuka lebar mendengar penjelasan perawat itu.
"Tunggu... penyelamat donatur terbesar?"
"Bima? Si miskin ini?"
"Kamu pasti berbohong, Suster!"
"Dia hanya dokter magang yang tadi malam aku putuskan karena tidak punya uang!" teriak Rina histeris.
Tiba-tiba, suara ketukan hak sepatu tinggi terdengar bergema di lantai lobi.
Tak tak tak.
Seorang wanita cantik dengan aura bangsawan yang kental berjalan menembus kerumunan.
Itu adalah Kiara Pratama.
Dia dikawal oleh dua orang pria berjas hitam berbadan tegap.
"Ada keributan apa ini?" tanya Kiara dengan suara lembut namun mengandung otoritas yang sangat kuat.
Semua orang di lobi langsung terdiam dan menundukkan kepala.
Mereka semua tahu siapa wanita itu.
Dia adalah pewaris tunggal Grup Pratama Nusantara yang menguasai setengah ekonomi kota ini.
Mata Kiara langsung tertuju pada Bima dan dia segera tersenyum hangat.
"Dokter Bima, saya baru saja mencari Anda di lantai atas."
"Kakek sudah sadar dan beliau sangat ingin berterima kasih secara langsung pada Anda."
Bima membalas senyuman Kiara dengan sopan.
"Syukurlah kalau kondisinya sudah membaik, Nona Kiara."
"Saya akan menjenguknya setelah menghabiskan kopi saya."
Kiara kemudian mengalihkan pandangannya pada Kevin dan Rina.
Mata indahnya yang tadinya hangat tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin dan mengintimidasi.
"Lalu, siapa dua orang ini?"
"Apakah mereka mengganggu waktu Anda, Dokter?"
Kevin menelan ludahnya dengan susah payah.
Keringat dingin sebesar biji jagung mulai mengucur di dahinya.
Sebagai seorang pebisnis, dia sangat tahu wajah Kiara Pratama.
Perusahaan alat kesehatannya yang dibanggakan tadi, hanyalah anak perusahaan kecil yang bergantung pada proyek Grup Pratama Nusantara.
Di hadapan Kiara, Kevin hanyalah seekor semut yang bisa diinjak kapan saja.
"Nona... Nona Kiara," gagap Kevin dengan tubuh gemetar.
"Saya Kevin, direktur PT Gemilang Makmur... suplai kami..."
"Aku tidak peduli siapa kamu," potong Kiara dengan nada datar yang mematikan.
"Aku bertanya, apakah kamu mengganggu dokter penyelamat kakekku?"
Rina yang tidak mengerti situasi langsung menarik lengan Kevin.
"Mas Kevin, kenapa kamu takut pada perempuan ini?"
"Dia kan cuma membela mantan pacarku yang miskin ini!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Rina.
Rina menjerit kesakitan dan memegangi pipinya yang memerah.
Yang menamparnya bukanlah Kiara, melainkan Kevin sendiri.
"Tutup mulutmu, wanita bodoh!" bentak Kevin dengan mata melotot marah.
Rina menatap Kevin dengan pandangan tidak percaya.
Matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.
"Mas... kamu menamparku demi Bima?"
Kevin tidak mempedulikan Rina dan langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah Kiara dan Bima.
"Maafkan saya, Nona Kiara."
"Maafkan saya, Dokter Bima."
"Tunangan saya memang bodoh dan tidak tahu aturan."
"Kami tidak bermaksud menyinggung Anda sama sekali."
Kiara melirik cincin berlian di jari Rina dan tersenyum mengejek.
"Jadi ini wanita yang membuang Dokter Bima demi berlian murahan itu?"
Kiara menoleh ke arah Bima.
"Selera mantan kekasih Anda benar-benar buruk, Dokter."
Bima tertawa kecil mendengar sindiran telak dari Kiara.
"Saya akui, saya dulu memang buta, Nona Kiara."
Kiara kembali menatap Kevin dengan tatapan menghina.
"Kamu membanggakan perusahanmu di depan pemegang kartu hitam keluarga Pratama?"
"Dokter Bima memegang akses tanpa batas ke seluruh aset keluarga kami."
"Jika dia mau, dia bisa membuat perusahaanmu bangkrut sebelum matahari terbenam hari ini."
Mendengar kata kartu hitam, lutut Kevin seketika lemas.
Dia jatuh terduduk di lantai lobi dengan wajah pucat pasi.
Kartu hitam Pratama adalah legenda di dunia bisnis.
Hanya orang-orang dengan tingkat kepentingan absolut yang bisa memilikinya.
Bima, dokter magang yang baru saja dia hina, memegang kartu itu di sakunya.
"Ampuni saya, Dokter Bima."
"Saya benar-benar minta maaf, saya tidak tahu."
Kevin memohon dengan suara bergetar dan hampir menangis.
Rina yang melihat Kevin memohon seperti pengemis ikut merasa lemas.
Dunia yang dia banggakan seolah runtuh dalam sekejap mata.
Pria yang baru saja dia hina sebagai orang miskin tanpa masa depan, kini berdiri bagaikan raja di hadapannya.
Dan pria kaya yang dia pilih, malah bersujud meminta ampun pada mantannya.
Bima menatap kedua orang itu tanpa sedikit pun rasa kasihan.
"Aku tidak tertarik untuk menghancurkan perusahaanmu, Kevin."
"Itu hanya akan membuang waktuku."
"Tapi aku tidak ingin melihat wajah kalian berdua lagi di rumah sakit ini."
Bima menoleh pada pengawal Kiara.
"Tolong singkirkan mereka dari sini."
"Mereka mengganggu lalu lintas pasien."
"Baik, Dokter," jawab kedua pengawal itu serempak.
Mereka segera menarik lengan Kevin dan Rina dengan paksa.
"Tidak! Bima, tunggu!"
Rina meronta-ronta sambil menangis menatap Bima.
"Maafkan aku, Bima!"
"Aku khilaf, aku masih mencintaimu!"
"Tolong beri aku kesempatan satu kali lagi!"
Rina terus menjerit histeris saat dia diseret keluar dari lobi oleh pengawal berbadan besar itu.
Suaranya semakin lama semakin menjauh dan akhirnya hilang di luar pintu kaca.
Bima menghela napas panjang dan merasa lega.
Beban masa lalunya akhirnya benar-benar terangkat.
Dia menoleh pada Kiara yang masih berdiri di sampingnya dengan senyum anggun.
"Terima kasih atas bantuan Anda, Nona Kiara."
"Anda tidak perlu repot-repot turun tangan untuk masalah sepele seperti itu."
Kiara menggelengkan kepalanya pelan.
"Siapa pun yang tidak menghormati Anda, sama saja tidak menghormati keluarga Pratama, Dokter."
"Mari, kakek saya sudah menunggu di ruangannya."
Kiara memberikan isyarat agar Bima berjalan bersamanya.
[Misi Sampingan selesai: Membalas penghinaan masa lalu.]
[Hadiah: Peningkatan stamina fisik dan ketajaman mental inang sebesar sepuluh persen.]
Sebuah energi hangat kembali mengalir di dalam tubuh Bima.
Langkah kakinya kini terasa semakin mantap.
Dia berjalan berdampingan dengan Kiara menuju lift VIP.
Meninggalkan kerumunan orang di lobi yang menatapnya dengan pandangan penuh rasa segan dan kekaguman.
Hari ini baru permulaan dari legenda panjang seorang Bima Aditya.