CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERNYATAAN CINTA
Menjelang malam, Afu duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
Sementara itu, Awen masih duduk di depan cermin. Dia mulai terampil mengepang rambutnya setelah belajar menata diri dari Ling Ling. Sesekali, dia juga mencoba memoles wajahnya dengan makeup yang diajarkan peri itu.
Awen mengambil lipstik, lalu memutarnya hingga ujungnya yang berwarna merah keluar. Namun, saat hendak mengoleskannya ke bibir, dia mengurungkan niatnya.
“Aduh, kayaknya gue aneh banget kalau pakai lipstik di rumah!”
Dia memasukkan kembali lipstik itu, lalu mengambil parfum dan menyemprotkannya sedikit ke punggung tangan. Setelah menggosoknya perlahan, dia mendekatkan tangan ke hidung.
“Hm, wanginya enak banget. Kayaknya cukup di sini aja, deh. Nggak usah dipakai ke badan.”
Setelah itu, Awen bangkit dan mencoba beberapa pose di depan cermin. Dia memiringkan kepala, merapikan rambut, lalu mengusap wajahnya sambil bergumam dalam hati.
Afu lagi ngapain, ya? Kayaknya penampilan gue nggak berlebihan, deh.
Awen menarik napas, lalu melangkah keluar kamar. Dia berhenti di ambang pintu dan mengamati sekeliling hingga pandangannya tertuju pada Afu yang duduk santai di sofa.
Seketika, wajahnya terasa panas. Dia menyentuh dadanya yang mulai berdebar lebih cepat, lalu buru-buru menenangkan diri.
Tenang, Awen. Biasa aja. Jangan sampai dia curiga.
Dia pun bergegas ke dapur dan membuat dua gelas kopi.
Tak lama kemudian, Awen kembali ke ruang tamu. Setelah menyerahkan segelas kopi kepada Afu, dia duduk di sampingnya. Dia berusaha bersikap senatural mungkin, meskipun jantungnya terus berdebar.
“Ehem, Afu, gue mau tanya sesuatu sama elu.”
Afu meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menggeser duduknya agar menghadap Awen.
“Lu mau nanya apa? Kalau gue bisa jawab, gue jawab.”
Afu meraih gelas kopinya dan meniup permukaannya perlahan, menunggu pertanyaan Awen.
“Waktu elu bawa gue ke klinik, lu bilang ke petugas keamanan dan perawat kalau gue pacar lu. Maksudnya apa?”
Afu langsung membeku. Kopi yang baru saja diminumnya bahkan tersembur keluar.
“Uhuk! Uhuk!”
Awen spontan menepuk-nepuk punggungnya.
“Udah, udah! Pelan-pelan, Fu!”
Setelah batuknya mereda, Afu segera meraih tangan Awen dan menggenggamnya. Dia lalu meletakkan tangan itu di atas kedua paha Awen yang duduk di sampingnya, sebelum buru-buru menggeleng.
“Gue nggak apa-apa, Awen.”
Namun, Awen masih menatapnya penuh rasa ingin tahu.
Afu menarik napas panjang sebelum menjawab, “Sebenarnya waktu itu gue panik. Jadi, gue nggak terlalu sadar sama apa yang gue katakan.”
Jawaban itu justru membuat Awen tersenyum kecil. Dia menggeser duduknya sedikit lebih dekat.
“Fu, apa lu ingat waktu turun salju, lu pernah jemput gue di depan minimarket? Lu bawa payung hitam dan pakai mantel cokelat.”
Afu mendadak menegakkan punggungnya. Gelas kopi di tangannya perlahan dia letakkan kembali di atas meja.
Dia menatap wajah Awen lekat-lekat, seolah sedang memastikan sesuatu yang selama ini hanya berani dia harapkan.
“Awen?”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Lu ... beneran Awen?”
Awen tersenyum sambil mengangguk pelan.
“Salju, lu ingat semua yang gue katakan barusan?”
Afu tak langsung menjawab. Dia justru merengkuh Awen ke dalam pelukannya, mengusap bahunya dengan lembut. Untuk beberapa saat, dia hanya diam, menikmati kehangatan yang selama ini begitu dia rindukan.
Seolah takut jika melepaskan pelukan itu, Awen akan kembali menghilang darinya.
“Awen, gue nggak mau kehilangan elu lagi,” bisiknya.
Pelukan itu membuat dada Awen berdebar semakin kencang. Wajahnya kembali terasa panas, sementara jantungnya seolah ingin melompat keluar.
Afu akhirnya melonggarkan pelukannya. Dia mendorong tubuh Awen sedikit ke belakang agar bisa menatap kedua matanya.
“Awen, dulu gue pernah ingin menyatakan perasaan ini kepada elu, tapi takdir nggak mengizinkannya.”
Afu berhenti sejenak. Tatapannya tetap tertuju pada wajah wanita di hadapannya.
“Sekarang gue nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini lagi. Gue pengin elu tahu kalau gue benar-benar mencintai elu.”
Dia menggenggam kedua tangan Awen.
“Awen, mau nggak elu jadi pacar gue?”
Mendengar pertanyaan itu, tubuh Awen seolah kehilangan tenaga. Lututnya terasa lemas, sementara debaran jantungnya semakin tak terkendali.
Dia ingin menjawab, tetapi kata-kata seperti tertahan di tenggorokan. Akhirnya, dia hanya mampu mengangguk.
Meski begitu, Afu memahami jawaban itu dengan jelas.
Awen membalas genggaman tangannya, lalu tersenyum malu.
“Salju, gue juga suka sama elu. Gue mau jadi pacar elu.”
Senyum Afu mengembang. Dia mengusap punggung tangan Awen dengan ibu jarinya sebelum kembali bertanya.
“Awen, apa gue boleh cium elu?”
Awen mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu, dan tanpa perlu berkata-kata, Awen mengangguk pelan.
Afu mendekat perlahan. Tangan kanannya menyentuh pipi Awen dengan lembut, membimbing wajah wanita itu agar semakin dekat dengannya.
Sesaat kemudian, bibir mereka bertemu.
Keduanya terdiam, menikmati kehangatan ciuman yang telah lama tertunda. Tak ada kata-kata yang mereka ucapkan. Seolah, untuk sesaat, dunia hanya milik mereka berdua.
Tak jauh dari sana, sesosok wanita cantik melayang di dekat dinding. Ling Ling tersenyum puas menyaksikan keduanya akhirnya saling mengungkapkan perasaan.
Beberapa saat kemudian, Awen melepaskan ciuman mereka. Dia masih tersenyum saat menyandarkan punggungnya di sofa.
“Fu, ada sesuatu yang ingin gue ceritakan sama elu. Tapi cerita ini aneh banget dan mungkin kedengarannya nggak masuk akal.”
Afu menatapnya dengan tenang.
“Baiklah, Wen. Gue mau dengerin.”
Awen menarik napas, lalu mulai menceritakan kecelakaan yang dialaminya. Dia juga menjelaskan bagaimana jiwanya bertukar tempat dengan Alu hingga dirinya terbangun dalam tubuh yang berbeda.
“Awalnya, gue sendiri nggak yakin sama apa yang gue rasakan. Gue bahkan belum bisa menerima kenyataan kalau sekarang gue berada dalam tubuh seorang wanita.”
Awen menunduk sesaat, memperhatikan jemarinya sendiri.
“Tapi, semakin hari, gue mulai memahami diri gue. Ingatan tentang masa lalu kita juga perlahan kembali. Sekarang gue tahu siapa diri gue sebenarnya. Gue Awen.”
Dia kembali menatap Afu.
“Dan semakin banyak kenangan kita yang gue ingat, semakin besar keinginan gue buat melanjutkan kisah kita yang belum sempat selesai.”
Awen sempat khawatir Afu akan kesulitan menerima cerita itu. Namun, jawaban pria di hadapannya justru membuatnya terdiam.
“Awen, gue nggak pernah peduli sama apa yang terjadi pada elu sebelumnya.”
Afu menggenggam tangannya lebih erat.
“Bahkan sejak elu masih mengaku sebagai Alu, sebenarnya gue sudah menemukan kembali perasaan gue kepada elu. Walaupun waktu itu gue masih yakin kalau elu adalah saudara kembar gue.”
Dia tersenyum kecil, lalu mengusap punggung tangan Awen.
“Kejadian di klinik dan ingatan elu tentang salju itu semakin meyakinkan gue kalau elu memang Awen yang selama ini gue rindukan.”
Afu mengangkat tangan, membelai wajah Awen dengan lembut. Dia kemudian menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh di kening wanita itu.
“Mulai sekarang, gue nggak mau kehilangan elu lagi. Gue ingin melewati setiap detik, setiap embusan napas, dengan elu selalu berada di samping gue.”
Afu terdiam sesaat sebelum kembali menatap mata Awen.
“Dan seandainya suatu hari ada kesalahan dalam takdir yang menuliskan kisah hidup kita, gue akan meyakinkan takdir kalau elu adalah takdir gue. Gue juga akan melawannya kalau takdir itu terus berusaha menghalangi kita untuk bersama.”
Tanpa disadari Awen, dua bulir air mata mengalir melewati pipinya.
Afu segera mengusap air mata itu dengan ibu jarinya.
“Awen, jangan nangis. Harusnya kita tertawa. Ini kesempatan kedua buat kita.”
Awen tersenyum di sela air matanya, lalu mengangguk pelan.
Afu kembali mendekat dan mencium bibirnya. Kali ini, Awen menyambut ciuman itu dengan lembut dan penuh kehangatan.
Bagi mereka, ini bukan sekadar awal sebuah hubungan. Ini adalah kesempatan kedua untuk menyelesaikan kisah cinta yang pernah terhenti oleh takdir.