Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.
Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.
Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Hitam
Siang itu, matahari seolah membakar aspal jalanan dengan dendam yang sama membaranya dengan hati Eko. Motor tuanya menderu kasar, membelah debu jalanan Desa Karang Jati. Di balik bajunya, amplop cokelat berisi lima belas juta rupiah dari Ratri terasa menekan dadanya—sebuah beban yang ia anggap sebagai tiket menuju kehidupan mewah, namun sebenarnya adalah pemberat yang akan menenggelamkannya ke dasar neraka.
Eko menghentikan motornya dengan sentakan kasar di depan rumahnya yang sepi. "Rumi! Ruminten!" teriaknya sambil menendang pintu kayu yang tidak terkunci itu.
Hening. Tidak ada sahutan. Bau apak ruang tengah yang biasanya menyambutnya kini terasa lebih pekat, bercampur dengan aroma anyir yang samar namun menusuk. Eko melangkah masuk ke kamar, melihat seprei yang berantakan dengan noda darah kering yang semalam ia tinggalkan begitu saja. Istrinya tidak ada di sana.
"Sialan! Ke mana perempuan itu? Sedang sakit saja masih sempat keluyuran!" maki Eko. Amarahnya memuncak, egonya sebagai suami merasa dilangkahi. Di kepalanya, ia merasa Ruminten sengaja pergi untuk mempermalukannya di depan tetangga.
Baru saja ia hendak keluar untuk mencari, suara deru motor butut yang batuk-batuk terdengar berhenti di depan rumah. Tak lama kemudian, suara gedoran keras menghantam pintu yang sudah terbuka itu.
"Eko! Eko! Kamu di dalam?!" teriak sebuah suara dengan nada panik yang luar biasa.
Eko membuka pintu dengan kasar. Di sana berdiri Kang Hardi, suami Bu Asih, dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin yang membanjiri pelipisnya. Napasnya tersengal-sengal, matanya melotot seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.
"Apa?! Jangan teriak-teriak di rumah orang!" bentak Eko.
"Istrimu, Ko! Ruminten! Dia di tempat Mak Itam, dukun beranak!" Kang Hardi bicara terbata-bata, tangannya gemetar menunjuk ke arah ujung desa. "Tadi... tadi waktu dia mau dipapah pulang setelah dikasih jamu, tiba-tiba dia menjerit. Darah, Ko... darah hitam pekat keluar dari bawah jalannya! Bukan darah segar, tapi hitam seperti aspal mendidih dan baunya... Gusti, baunya busuk sekali!"
Eko tertegun sejenak, namun rasa malunya lebih besar daripada rasa kasihannya. "Darah hitam? Jangan membual kamu!"
"Aku tidak bohong! Bukan cuma darah, ada potongan-potongan daging kecil yang ikut keluar! Mak Itam sampai gemetar. Dia bilang ini bukan urusan medis biasa. Dia menyuruhmu segera datang ke sana untuk 'menyelesaikan' gangguan yang menimpa Rumi. Mak Itam bilang ada sesuatu yang tidak beres denganmu, Ko!"
Mendengar nama Mak Itam dan tuduhan "gangguan", darah Eko mendidih. Ia merasa rahasia kotornya—tentang Ratri dan persetubuhan di gubuk—mulai tercium oleh dukun tua itu. Tanpa sepatah kata pun, ia menyambar kunci motornya dan memacu kendaraannya menuju gubuk Mak Itam dengan kecepatan gila.
Gubuk Mak Itam sudah dikerumuni beberapa warga yang hanya berani melihat dari kejauhan. Aroma kemenyan yang dibakar Mak Itam beradu dengan bau busuk yang keluar dari raga Ruminten. Di dalam, Ruminten tergeletak lemah di atas bale-bale, wajahnya sudah seputih kertas mayat. Air matanya terus mengalir, membasahi bantal yang sudah menghitam terkena noda.
Begitu Eko menerobos masuk, Ruminten mencoba mengulurkan tangan. "Mas... tolong, Mas... anak kita..." tangisnya pecah.
Bukannya pelukan hangat, yang didapat Ruminten adalah tarikan kasar di lengannya. Eko menjambak kain jarik istrinya, melihat ke bawah di mana lantai bambu itu sudah becek oleh cairan hitam kental yang menjijikkan. Potongan daging kecil yang tampak seperti jaringan yang membusuk berserakan di sana.
"Bangun! Malu-maluin saja kamu di sini! Pakai segala urusan dukun!" bentak Eko, suaranya menggelegar memenuhi gubuk kecil itu.
Mak Itam yang duduk di pojok sambil memegang dupa kayu, menatap Eko dengan pandangan tajam yang menghujam jantung. "Eko, lepaskan tanganmu dari istrimu. Dia sedang sekarat karena ulahmu sendiri. Biarkan aku bantu membersihkan 'hawa hitam' yang kamu bawa dari Sukomaju itu, atau anakmu tidak akan selamat!"
Eko menoleh, matanya merah padam. Tatapan tajamnya seolah ingin menelan Mak Itam hidup-hidup. "Diam kamu, tua bangka! Kamu cuma mau memeras uangku, kan? Aku punya uang! Aku bisa bawa istriku ke tempat yang lebih baik dari gubuk reyotmu ini!"
Eko tidak mempedulikan peringatan Mak Itam. Ia mengangkat tubuh Ruminten yang lemas dengan kasar. Darah hitam itu terus menetes di sepanjang kaki Ruminten, mengotori lantai dan baju Eko, namun pria itu seolah buta. Ia hanya ingin menjauhkan Ruminten dari Mak Itam yang ia anggap tahu terlalu banyak.
Eko memaksakan Ruminten naik ke atas motor, mendudukkannya di tengah sambil memeganginya dengan satu tangan sementara tangan lainnya menyetir. Tujuannya adalah Bidan Siti, bidan desa yang tinggal di perbatasan.
Sesampainya di sana, Bidan Siti yang baru saja membuka pintu langsung menutup hidungnya. Ia melihat kondisi Ruminten yang sudah setengah sadar dengan rembesan cairan hitam yang mengerikan. Bidan Siti segera memeriksa detak jantung janin dengan alatnya. Wajahnya seketika berubah horor.
"Mas Eko! Ini tidak bisa ditangani di sini!" suara Bidan Siti meninggi. "Detak jantung bayinya sangat tidak beraturan, seperti sedang dicekik! Dan darah hitam ini... ini tanda pembusukan di dalam rahim. Istrimu bisa mati keracunan kalau tidak segera ditindak!"
"Lakukan sesuatu, Bu Bidan! Saya bayar berapa saja!" seru Eko panik.
"Tidak bisa! Kamu harus bawa dia ke Rumah Sakit sekarang juga! Harus dilakukan tindakan sesar segera untuk mengeluarkan bayinya, entah itu masih selamat atau tidak. Kalau terlambat lima menit saja, rahim istrimu akan hancur!"
Sisa kemarahan Eko kini bercampur dengan ketakutan yang murni. Bukan takut kehilangan istrinya, tapi takut jika rahasia di balik darah hitam itu akan terbongkar oleh tim medis. Dengan napas memburu, ia kembali menaikkan Ruminten ke motor. Ia memacu motornya menuju perbatasan kota, menuju sebuah rumah sakit swasta sederhana yang jaraknya paling dekat dari desa mereka.
Sepanjang perjalanan, Ruminten hanya bisa merintih pelan. Kepalanya terkulai di bahu Eko. Ia bisa merasakan sesuatu yang dingin dan tajam sedang menggerogoti bagian dalam perutnya. Di matanya yang mulai kabur, ia melihat bayangan sosok wanita tinggi berambut panjang duduk di belakang motor mereka, memeluk perutnya dengan kuku-kuku hitam yang panjang.
"Mas... ada wanita... di belakang kita..." bisik Ruminten lirih.
Eko tidak mendengar. Ia hanya fokus pada jalanan di depannya. Di dalam saku bajunya, amplop cokelat dari Ratri mulai terasa panas, seolah-olah uang di dalamnya berubah menjadi bara api.
Suanggi yang dikirim Ratri melalui perantara Eko kini telah mencapai puncak perjamuannya. Makhluk itu telah selesai menyedot saripati kehidupan si jabang bayi dan kini sedang bersiap untuk "keluar" melalui jalan lahir yang paksa. Darah hitam itu adalah sisa-sisa kehidupan yang telah dibusukkan oleh hawa santet Suanggi.
Sesampainya di Unit Gawat Darurat rumah sakit sederhana itu, para perawat segera berlarian membawa brankar. Tubuh Ruminten yang bersimbah darah hitam segera dilarikan ke ruang tindakan.
"Keluarga pasien! Silakan urus administrasi di depan!" teriak seorang perawat.
Eko berdiri mematung di lorong rumah sakit yang berbau karbol. Tangannya yang berlumuran darah hitam tampak gemetar. Ia meraba amplop cokelat di sakunya. Ia punya uang lima belas juta, jumlah yang lebih dari cukup untuk biaya operasi sesar. Namun, ada perasaan dingin yang membisik di telinganya.
Uang itu tidak akan menyelamatkan apa pun, Eko...
Di dalam ruang operasi, lampu merah menyala. Para dokter mulai bekerja cepat. Namun saat sayatan pertama dilakukan di perut Ruminten, mereka semua tertegun. Tidak ada darah merah yang keluar, melainkan gas berbau busuk melati yang menyengat seisi ruangan. Janin di dalam sana tampak bergerak-gerak dengan cara yang mustahil bagi seorang bayi.
Eko terduduk di kursi tunggu, menundukkan kepalanya. Ia tidak menyadari bahwa di ujung lorong rumah sakit yang sepi itu, Ratri sedang berdiri dalam wujud bayangan semu, tersenyum menatap pintu ruang operasi.
"Selamat berjuang dengan anakmu, Eko," gumam Ratri pelan. "Aku harap kamu suka dengan 'hadiah' yang lahir dari benih kesombonganmu."
Malam mulai turun, dan di rumah sakit itu, sebuah tangisan bayi yang tidak terdengar seperti suara manusia bersiap untuk memecah kesunyian, membawa serta kutukan yang akan menghabisi garis keturunan Eko selamanya.
kirain istrinya yg di bacok
dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno